Benci Yang Merindu

Benci Yang Merindu
sikap dingin


__ADS_3

Malam datang bersama bintang yang kecil berkilau di atas langit, bulan yang tidak begitu bulat tapi sinarnya mampu menghias malam yang nampak berangin sejuk.


Pepohonan bergoyang lamban membagi hidupnya pada hari yang melelahkan,anak-anak masih bermain di teras rumah bahkan ada yang masih di taman terbuka untuk sekedar berkejaran bersama teman dekat rumahnya.


Di satu sudut, dekat taman, ada kursi melingkar di bawah pohon yang rindang, daunnya nampak banyak berguguran membuat sekitar taman berserak dengan daun kering yang jatuh dari pohon itu.


Nayyara melamun sendirian, pada akhirnya ia kabur dari teman-temannya disana, makan malam yang harusnya bisa ia nikmati dengan senang bersama Mario si bayi besarnya yang sedang berbahagia kini, ia memilih untuk tidak hadir dengan alasan kalau ayahnya mendadak sakit.


Tapi, ia tahu Mario tidak percaya alasan itu, ia bisa melihat bocah besar itu menghela nafas menatapnya tadi, walau sepertinya enggan melepas Yara, ia pun mengalah membiarkan Yara pergi dengan fikirannya yang tak karuan hari ini.


Di lain tempat, di sebuah apartemen yang biasa Gun dan Darren tempati, Devano juga jauh menatap langit malam dari jendela kaca balkon lantai 15 apartementnya, pria itu sedang berfikir keras, haruskah ia seperti ini?


Pembicaraannya dengan Darren tadi di kantor setelah pertengkaran kecilnya dengan Yara, membuatnya semakin gelisah menata hatinya.


"tuan minum kopi dengan Anita, bisa jadi itu pemicunya. "


Tukas Darren, si manusia paling peka dengan perasaan tuannya dan orang disekitarnya.


"kenapa? ". Yang kelihatannya tahu segalanya malah nampak bodoh jika sudah di hadapkan dengan maslah seperti ini, siapa lagi kalau bukan Devano.


"perasaan saat tuan melihat Mario dan Nayy sedang bersama, itulah yang dirasakan Nayy juga pada saat melihat anda dengan wanita lain. "


Hahahaha...


Tawa Vano memenuhi ruangan kerja Darren, ia hanya melihat Vano yang namapak sumringah setelah tadi kusut menghiasi wajahnya.


"cemburu? Kau yakin itu cemburu? Wah... Harusnya aku sadar ya, ah.. Dia lucu sekali kalau benar merasakan cemburu seperti itu. "


"tapi tuan, apa kemarin tidak terjadi apa-apa pada anda dan Nayy? Setelah Nyonya bertemu kalian langsung dan membahas soal makan malam?. "


Degh..


Ia melupakan satu itu, kemarin, ia berpisah dengan Nayy dengan dingin, tidak ada percakapan apapun di antara mereka sampai pada saat Vano mengantarkan gadis itu pulang kerumahnya.


Biasanya setelah bertemu, malam dimana mereka akan tidur, Vano akan selalu menelfonnya dengan memberinya pesan terlebih dahulu, tapi kemarin itu semua tidak terjadi, perasaan yang tidak bisa dijelaskan kemarin membawa mereka berdua ke alam mimpi masing-masing tanpa mengingat satu sama lain, karna kemarin, Yara hanya ingin tidur untuk melupakan rasa sakit yang ada di hatinya.


Sedangkan Vano, ia sempat ingin menelfon Yara, tapi fikirannya yang sedang kusut ditambah mamanya yang langsung memberondong pertanyaan kapan Yara akan di bawa kerumahnya membuat Vano bersembunyi dalam kamarnya, dengan fikiran yang masih runyam, ia tertidur melupakan Yara malam itu.


Kini, setelah kembali bertemu Yara di kantor tadi, semuanya seolah mengusik hati dan fikirannya, ia merasa telah menyakiti Yara lagi, gadis yang katanya akan ia raih dan ia kasihi seumur hidupnya, padahal ia sudah berjanji pada Brian akan menjaganya, tapi... Kenapa? Kenapa ketika Yara sudah harusnya semakin dekat dengannya, dirinya seolah tidak siap jika harus kecewa dengan segala yang mungkin saja akan terjadi nanti.


Devano menghela nafas, ia menatap ponselnya yang berlayar gelap, apakah ia harus menelfon Yara malam ini? Darren bilang Yara tidak ikut makan malam karna beralasan ayahnya sakit.


"masih memikirkan sesuatu? ".


Suara dari balik punggungnya, membuat ia menoleh dan melihat Gun yang sedang tersenyum padanya.


" hm, dari mana kau?. "


Vano berjalan menghampiri Gun yang kini duduk di sofa, Vano juga akhirnya ikut duduk, ia melirik kantong kresek yang tadi di bawa Gun dan diletakkan di atas meja.


"malam ini sepertinya aku ingin minum, tapi aku hanya beli 2 kaleng bir saja, kakak tidak akan mabuk jika hanya minum satu kan?. "


"kau juga beli camilan?. "

__ADS_1


sambil melihat isi kresek yang di penuhi minuman kaleng soda dan dua bir yang di bilang Gun tadi, ada beberapa camilan juga dengan kantong besar.


Gun meraih kaleng birnya, yang satu ia sodorkan pada Vano, terlihat Gun membuka birnya dan langsung meminumnya dengan kernyitan di dahi merasakan sensasi aneh dari cairan yang melewati tenggorokannya.


"aku soda saja. "


Vano mengganti minumannya, membukanya dan langsung meminumnya tanpa ekspresi.


"apa yang kakak fikirkan? Apa kak Nayy?. "


Gun bertanya dengan senyum miring di bibirnya.


belum ada jawaban, tapi diamnya Vano membuat Gun yakin kalau tebakannya benar.


"aku mencintainya. " hanya itu yang Vano katakan dengan wajah sedikit tertunduk sambil memegangi kaleng minumannya, wajah Yara langsung terbayang di kepalanya.


"apa kakak sudah melupakan kesalahannya pada Brian dulu? Kakak sudah menerima itu semua?. "


"harusnya sudah, tapi.. Entah mengapa akhir-akhir ini hal itu mengusikku, ada sesuatu yang tidak nyaman di hatiku jika menatap Yara berbarengan dengan fikiran itu. "


"itu artinya, alam bawah sadarmu belum menerima itu semua kak, apa kakak tidak berfikir kalau bisa saja Brian belum tenang disana? Kak, kakak ingatkan di depan makam Brian dulu, kakak masih ingatkan sumpah untuk membalas semuanya pada kak Nay, kakak bahkan bilang tidak ingin melihat kak Nayy tersenyum sekecil apapun, itu sebabnya mimpi itu masih sering mendatangi kakak, karna kakak malah jadi orang yang membawa senyum pada kak Nay. "


Ada nyala api di mata Gun saat berbicara, dan Vano tidak sadar akan hal itu, kebencian Gun pada Nayy semakin membesar saat tahu Vano dan gadis itu menjalin hubungan, makanya segala cara apapun termasuk menghasut atau menyulut kembali kebencian itu akan Gun lakukan dengan senang hati, baginya melihat Vano menatap benci pada Yara saja sudah membuatnya senang dan menghilangkan rasa bersalahnya pada almarhum sahabatnya Brian.


"mimpi itu, sepertinya sedikit demi sedikit memudar Gun, aku bahkan belum bermimpi lagi saat perasaanku bahagia setelah bersama Yara, tapi... Kemarin Brian datang dalam mimpiku lagi setelah lama aku tak memimpikan dia, dengan wajahnya yang selalu nampak sedih, seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan padaku. "


"pasti rasa kecewanya pada kakak. "


Lagi, Gun sangat meyakini, ia menenggak minumannya dengan kesal.


"kakak lihat aku, aku ini sahabat dekat Brian, jika Brian ada, bukankah seharusnya dia sudah sebesar aku? Aku saja kecewa pada kak Nayy sampai detik ini, tapi kakak malah menyukainya. "


Harusnya aku yang dia sukai, kami bertemu lebih dulu dan dia sangat mengenalku lebih dari adikmu, harusnya kak Nayy lebih punya perasaan padaku dibanding padamukan?


Sepertinya Gun sudah sedikit mabuk, ia memang tidak bisa minum lebih dari beberapa teguk, itu sebabnya kini hatinya berkata-kata kejujuran seperti itu, begitu kecewanya ia dengan Vano dan Yara.


Disisi lain, apa yang dikatakan Gun terasa benar di fikiran Vano, apa benar di lubuk hati terdalamnya masih belum menerima Yara dengan segala perbuatannya di masa lalunya yang dulu, apa benar Brian kecewa padanya?


Dengan perasan berkecamuk seperti kemarin, ia hanya diam meneguk soda kaleng yang sudah sedikit lagi habis di tangannya.


#


"menangis lagi? ".


Darren duduk dengan senyuman di bibirnya, disampingnya Yara menatapnya dengan wajah sendu dan nampak sedih.


Darren menyusulnya, seperti biasa ia akan datang dikala Yara sedang merasa tersakiti oleh perbuatan Vano, dimakan malam yang sebenarnya sangat ramai itu akhirnya Darren harus berhenti saat makanan penutup baru tersaji, ia berpamitan dengan alasan ada janji bertemu seseorang.


Dan benar saja, ia bertemu Yara di sini, termenung sendirian dibangku taman yang semakin sedikit anak-anak bermain karna malam sudah hampir larut, sebenarnya tadi Darren sudah kerumah Yara, tapi melihat rumah itu nampak gelap dan lampu kamar Yara tidak menyala dengan gorden jendelanya yang masih terbuka, menandakan kalau gadis itu belum pulang kerumah, makanya Darren berkeliling mencari Yara disekitaran daerahnya, ternyata benar dugaannya, gadis itu sedang menyendiri.


"dari mana kakak tahu aku disni?. "


"aku melihatmu saat mau kerumahmu. "

__ADS_1


Walau bohong, Darren rasa tidak apa-apa karna menghidari perasaan tidak enakan wanita itu.


"apa kak Vano yang menyuruh, kakak menemuiku? . " wajahnya cemberut dan kecewa "padahal dia sendiri yang bilang katanya tidak akan menyuruh kakak lagi, katanya dia sendiri yang akan datang jika aku bersedih karnanya. "


Senyum Darren yang merasa gemas melihat raut cemberut di wajah Yara.


"mungkin tuan Vano sedang butuh berfikir juga, kau harus memberinya waktu, aku datang karna kemauanku sendiri, setidaknya kau tidak sendirian saat kau merasa ingin menangis, kalaupun kau menangis, setidaknya menangis didepanku bukan hal yang memalukan karna sudah sering kau lakukan kan?. "


"cih.. Kakak..!. "


Senyum getir sambil menyebikkan sedikit bibir, Yara membuang pandangannya pada jalan di depannya.


"jadi kau tidak ingin menagis? ".


ledek Darren lagi


" kenapa harus menangis? Aku harusnya menertawai kebodohanku. "


"kebodohan apa?. "


"soal aku yang mencintai kak Vano dengan seluruh hatiku. " Yara tersenyum getir lagi


"kenapa itu menjadi kebodohan?. " Darren berkernyit, menatap Yara bingung.


"bukankah itu bodoh, aku bahkan berharap kak Vano menikahiku, tapi melihat dia marah saat aku bertemu dengan mamanya, aku tersadar kalau hanya aku yang mengharapkan itu, ah.. Lagipula kak Vano memang tidak berjanji apa-apa padaku kok, aku saja yang melewati batasannya, berkali-kali dia mengingatkan ku soal jangan berharap mendapatkan ketulusan dari siapapun. "


Darren langsung paham arah pembicaraan ini, sudah di bilang ia adalah orang yang paling peka, jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk bisa memahami fikiran Yara saat ini.


"jadi itu yang kau fikirkan?. " ucap Darren pelan sambil terus menatap Yara yang sedang meluapkan isi kepalanya.


"melihat aku yang sebenarnya di benci kak Vano dari awal, bukan hal yang mustahilkan kalau ia memang bersikap begitu, kebaikannya saat melindungiku disekolah dulu, banyak membantuku sampai aku bisa melindungi diriku sendiri, aku berhutang banyak padanya, jadi jika ia ingin menagihnya dengan cara seperti ini bukankah sudah sewajarnya, tapi dengan tidak sopannya aku mengharapkan hati kak Vano padaku, kalaupun iya, rasanya tidak pantas kami bersisian sekalipun, aku siapa? Hanya gadis miskin menyedihkan yang berharap bertemu pangeran, sepertinya aku terlalu terbuai dengan cerita dongeng. "


Ada air mata mengembang di sudut matanya, meski tidak jatuh tapi Yara berusaha menyembunyikannya dari tatapan Darren, namun ia tau itu tidak bisa, jadi dengan pura-pura tersenyum ia menyeka sudut matanya.


Darren masih terdiam, meski sebenarnya ia ingin menyangkal persepsi yang ia dengar dari mulut Yara itu,dan seperti biasanya ia hanya akan menjadi pendengar yang baik untuk gadis pujaan tuannya.


"kau berharga Nayy. " ucap Darren saat melihat Yara terdiam lama menatap dedaunan yang berserak di kakinya, gadis itu mendengarnya dengan jelas, tapi responnya hanya tersenyum kecut, apapun kata-kata yang ia dengar kini hanya sebatas penghiburan untuknya, tapi ya... Memang dia sedang butuh dihiburkan? "kau tidak tau apa yang Vano alami, mungkin saatnya kau tau nanti kau akan jauh berfikir lebih baik lagi. "


"katakan kak, seharusnya aku bagaimana? Rasanya malu sekali jika harus berharap yang indah-indah yang akan terjadi di antara kami, saat Anita berjalan di sebelah kak Vano tadi, mereka nampak serasi sekali, ah.. Bagaimana ini? Aku kan tidak boleh merasakan rasa itu padanya, tapi... Sepertinya aku tidak bisa. "


Akhirnya sebulir air mata jatuh, langsung tangan Yara menyekanya, tapi semakin ia menghilangkan jejak dari sapuan tangannya, air mata itu semakin jatuh lagi, membuatnya sedikit terisak.


Tangan Darren terangkat satu menyentuh punggung wanita itu, puk-puk yang lembut ia berikan pada Yara, membiarkan gadis itu meluapkan kesedihan yang ia tahan hari ini.


Devano menatap dua punggung itu dari jarak yang tidak terlalu jauh dari tempatnya berdiri saat ini, pembicaraan mereka tidak terdengar olehnya, tapi samar senyum yang Darren berikan pada Yara mampu membuatnya mengepalkan tangan karna cemburu.


Ia sudah ingin melangkah dengan amarahnya, tapi kata-kata Gun yang tadi teringat lagi, sebelum ia pergi memutuskan untuk menemui Yara.


"bukankah kak Darren yang selalu kakak suruh menghibur kak Nayy jika kalian sedang bertengkar begini? Aku rasa kak Nayy tidak mungkin tidak punya perasaan pada kak Darren, terlebih selalu dia yang ada untuknya, jadi kalaupun kakak melepaskan dia, aku yakin kak Darren bisa jadi pilihan berikutnya. "


Vano menahan langkahnya, benarkah? Benarkah Yara lebih memilih Darren daripada dirinya?


"kalau di suruh memilih, aku akan memilih kak Darren ketimbang kakak yang selalu berkata menyakitkan padaku. "

__ADS_1


Kata-kata Nayyara terngiang lagi, membuat Vano akhirnya hanya bisa menatapi dua orang dari balik punggung itu dengan tangan mengepal kuat, wajah dingin dan kecewa tapi tidak bisa berbuat apa-apa, karna dalam hatinya pun membenarkan apa yang Gun katakan, sepertinya memang Darren lebih baik dari pada dirinya.


bersambung😊


__ADS_2