Benci Yang Merindu

Benci Yang Merindu
lelaki pembully


__ADS_3

Satu jam sebelum bunyi bell pulang sekolah, Devano dan Darren sudah ngacir keluar kelas dan stay di belakang gedung sekolah, tepatnya di balkon kecil dekat dengan lantai dua gedung sekolah, balkon itu mengarah ke belakang sekolah, banyak yang tidak tahu tempat tersembunyi ini karna memang sudah jarang di gunakan dan banyak debu kotor tumpukan barang2 rusak sekolah seperti rak dan beberapa kursi milik sekolah.


Devan dan Darren sering duduk-duduk menikmati angin yang masuk dari balkon ini, sejuk karna belakang sekolah masih di tumbuhi banyak pohon besar seperti pohon pisang dan beberapa pohon rambutan yang menjulang tinggi melewati tinggi balkon.


Disini mereka sering melihat siswa yang diam-diam merokok atau sekedar bertemu dengan pasangan rahasianya, bahkan terakhir kali mereka melihat beberapa siswa yang membully adik kelas atau teman sendiri, tapi.. Devan tidak pernah mau terlibat, ia hanya menonton dan bahkan hanya menertawakan saja, karna ia fikir pembullyan seperti itu masih sangat wajar jika hanya sekedar mengancam saja.


Darren, laki-laki yang selalu bersamanya, selalu terlihat bersama meski di jam kosong sekalipun, banyak yang bilang kalau mereka mirip, tapi sebenarnya tidak, darren punya karakter yang sedikit lemah jika melihat kekerasan, sifat ingin menolongnya selalu ada, dia type pria yang disenangi para gadis2.


Berbeda dengan Devano, karakternya kuat dan keras, terlalu manly dan jarang sekali peduli dengan lingkungan sekitar, jika ia terobsesi dengan sesuatu, maka ia tidak akan melepaskannya sampai ia merasa terpuaskan dengan obsesinya.


Seperti kali ini, sebenarnya ia sudah sangat bosan dengan semester pertamanya di sekolah barunya, tidak ada yang menarik perhatiannya selain Nayyara, tapi.. Ia juga tidak akan gegabah dengan tiba-tiba datang mendekati gadis itu, ia ingin tahu kepribadian gadis itu lewat analisanya, sambil menyusun rencana bagaimana dengan alaminya nanti ia menjerat perempuan itu dalam dekapannya, jika sudah di genggam,ia tidak akan melepaskannya sampai ia sendiri merasa puas melihatnya hancur berkeping keping.


Membayangkan kapan itu bisa terjadi membuat Devan sedikit frustasi, terlebih hampir 6 bulan terlewat sia sia, saat ini ia masih hanya terus memperhatikannya dan diam melihat pekembangan yang terjadi di sekitar wanita itu.


Bukan ia tak tahu soal gadis itu di tembak 3 pria sekaligus, terlebih pria pria idiot itu berasal dari kebanggaan2 sekolahnya, saat itu semua terjadi, Devan hanya tersenyum sinis menatap Nayyara dari jauh, menerka nerka apa yang di fikirkan gadis itu sampai menolak semua pria berprestasi itu.


Tapi kalau memang di lihat-lihat dan di perhatikan, Nayyara hanya berfokus pada sekolahnya, ia tidak pernah kedapatan melirik laki-laki manapun, di jam istirahat saja ia hanya sibuk membuka buku sambil memakan camilannya dan sedikit di kerjai teman2nya yang merasa ia sangat kaku dan mudah di manfaatkan.


Namun, belum pernah sekalipun Nayyara berontak atas perlakuan temannya, ia tetap sendiri dan tidak ingin terlibat lebih jauh pada apapun yang mendekat dengannya.


Sampai pada akhirnya, Devano melihat ini, tiba-tiba terdengar suara di bawah sana, seseorang yang menggertak dan sok menjadi yang paling oke jika soal membully, terkadang Devan dan Darren pun bingung melihatnya, memangnya mereka fikir mereka terlihat hebat dan keren apa melakukan itu?


"mereka melakukannya lagi, Di tempat ini, kali ini korbannya perempuan. " tukas Darren yang mengintip duluan dari atas sini ke bawah sana nampak tidak mencurigakan bagi mereka akan ada orang ditempat seperti ini karna terlihat tersembunyi.


Devano bangkit dari duduknya, mengantongi lagi ponsel genggamnya, ia berjalan perlahan menghampiri Darren yang masih asik melihat pemandangan di bawah sana.


"siapa mereka?".


sambil matanya menajam melihat kebawah, ia langsung terfokus pada satu sosok yang terjerembab karna di dorong oleh salah satu dari 5 pembully itu. Butuh beberapa detik Devan mengenali sosok itu, saat manik matanya menangkap wajah yang tak asing itu, jemari tangannya mengepal keras dan rahang wajahnya menggeretak di dalam.


"apa kita harus turun ? "


Ucap Darren yang tahu situasinya karna ia juga mengenal wanita yang di bully itu, wanita yang selalu di perhatikan tuannya.


"tunggu saja, kita lihat seberapa jauh ini? "


mata Devan masih memicing ke sosok itu


Semenit, lima menit dan sampai 10 menit terlewat, tarikan nafas Devano memburu melihat dan mendengar kejadian di bawah sana, seketika emosinya memuncak pada laki-laki yang mencengkram wajah Nayyara dengan paksa.


"ayo kita turun" sambil menepuk bahu Devan, Darren sudah ingin melangkah menuju tangga yang ada, namun tanpa aba2 Devano melompat dari atas tempatnya berada, Darren yang kaget dan agak syok tapi tanpa fikir panjang ia pun ikut melompat bersama Devan, ia tidak tahu mengapa mereka mendarat dengan cepat dan tanpa oleng sedikitpun.


Terlihat keterkejutan dari para mata yang melihatnya disana, Darren hanya sibuk mengatur nafasnya dan dadanya yang sedikit berdebar tadi, tapi ia bisa menguasai dirinya lagi, lalu melihat Devan yang menendang laki2 yang sejak tadi berbuat memalukan terhadap Nayyara.


Darren cepat-cepat mengambil ponselnya sebelum mereka semua sadar, berpura2 sedang memvideokan adegan memalukan itu yang padahal ia sendiri lupa dari awal memegang ponsel tidak memencet apapun untuk merekam.


"kau merekamnyakan? Darren".


Seketika semua mata tertuju padanya, ia tersenyum lebar, melambaikan sebelah tangannya yg tidak memegang ponsel, berakting sedang merekam sesuatu.


" kalian harus tersenyum agar terlihat lebih natural. "

__ADS_1


Wajah pias dan pucat mengembang pada wajah-wajah disana, Devano tidak pedyli pada yang lain, ia terus menatap wajah yang nampak menyedihkan disana, saat itu Nayyara mengangkat kepalanya, untuk pertama kalinya tatapan mereka bertemu.


Akhirnya, akhirnya aku bisa melihat wajahmu dari dekat, jangan lepaskan tatapanmu, kau harus mengingat wajahku ini, karna aku akan mengikat kau mulai dari sini.


Devano tersenyum smirk jahat yang hanya dia dan tuhan yang tahu artinya.


#


Sejak saat itu, hari-hari Nayyara seperti di neraka yang diciptakan Devano sendiri, di mulai dari pagi yang cerah disekolah saat hari senin tiba, saat itu Nayyara baru saja masuk ke dalam pintu gerbang sekolah dan ingin berjalan menuju kelasnya.


Bruk


Sebuah tas jatuh melayang dihadapannya dan berhenti terseret di bawah kakinya, ia yang kaget dan langsung menunduk menatap benda di dekat kakinya itu, lalu sebuah suara memerintah di depannya.


"tugas pertama sebagai bentuk rasa terimakasih kamu terhadap penolong kamu ini, bawain tas aku sampai kedalam kelas ya. "


Devano tersenyum sinis, mengayunkan satu jarinya menyuruh Nayyara segera memungut tasnya dan mengikutinya kekelas.


"ayo semangat". Suara dari balik punggungnya yang ternyat Darren tersenyum sambil tangannya terangkat mengepal ke udara, Nayyara yang masih terkejut dan sedikit syok refleks mengambil tas itu dan melangkah beriringan dengan Darren.


Tugas itu terus berlanjut setiap hari, setiap pagi saat mereka bertemu disekolah, Darren yang akan selalu memberinya roti beraneka macam rasa jika tugas menaruh tas itu selesai, awal awal Nayyara merasa Devano sama saja dengan pembully yang lain, namun dengan adanya Darren yang ramah dan selalu menenangkannya membuat Nayyara terbiasa melakuka itu.


Sebenarnya bukan hanya membawakan tas kedalam kelas, Devano juga menyuruhnya membelikan makanan di kantin saat jam istirahat, jika bel berbunyi untuk istirahat, nayyara harus langsung datang kekelasnya di lantai 3 untuk menanyakan makanan apa yang harus ia beli untuk Devan, sesekali Devan akan menyuruhnya menggantikan jadwal piketnya untuk bersih2 toilet laki-laki, membantunya membereskan property alat olahraga di gedung basket atau lapangan olah raga.


Waktu jam kosong akan selalu di manfaatkan Devan untuk mengganggu Nayyara di kelasnya, menyuruhnya ini dan itu sampai terlihat wajah kesal Nayyara yang hampir meledak padanya, itulah yang Devan tunggu, menunggu gadis itu meluapkan emosinya padanya.


Namu semakin lama menunggu, Devan tidak mendapatkan apa2, gadis itu masih bertahan, menyimpan semua kemarahannya sendiri, paling yang terlihat hanya bola matanya yang membelalak keluar menatap Devano seperti ingin menggigitnya dan mengunyahnya.


#


"oopss sorry, gak sengaja, aku kira gak ada orang tadi. "


Suara meledek siswi2 yang bergerombol tadi mendekat kearah Nayyara yang berdiri menghela nafas sesak.


"gak usah di perpanjang ya, toh Devano juga gak berbuat special sama kamu, cuma dijadiin kacungnya kesana kemari disuruh ini itu gak ada bedanya sama perlakuan kita-kita ke kamu. "


Setelah mendorong bahu Nayy dengan jarinya, segerombol wanita2 itu pergi meninggalkannya dengan sampah yang berserak.


Ia menghela nafas panjang, menahan rasa sakit hatinya, sambil berjongkok memunguti sampah2 itu dan menaruh kembali ketempatnya. Saat melakukan itu, sebuah tangan menggenggam sebotol air isotonik terulur padanya, Nayyara mendongak, Darren tersenyum padanya.


"thanks" Nayy meraihnya, ia berdiri dan membuka tutup botol itu lalu meminumnya dengan lahap.


Darren nampak tetkekeh kecil, ia lalu menyelesaikan sisa sampah di dekatnya dan duduk di pingir lapangan bersama dengan Nayy yang nampak kelelahan.


"kenapa tidak melawan? Kalau kamu diam terus mereka semakin menjadi2. "


Heuh, senyum kecut nan acuh timbul di wajah yang nampak sedih itu, Darren sedikit terkejut, ekspresi itu sangat kontras dengan wajah Nayy yang namapk kalem selama ini.


"kalau melawan aku dapat apa? Aku gak butuh rasa hormat mereka, kalo memang dari awal mereka punya sikap hormat terhadap sesama, dan saling mengharagai , mereka gak akan melakukan itu sama aku, jadi aku dapat apa kalau melawan. "


"paling gak mereka tau kamu berani dan gak selemah itu. "

__ADS_1


"nyatanya aku memang lemah kak, aku gk bisa melawan mereka yang punya uang, intinya aku lebih menghindari masalah. "


"kenapa? Kan mereka yang buat masalah kekamu".


" aku gak mau ayahku terkena masalah, tiba-tiba di panggil kesekolah karna anaknya berantem,lalu beasiswa aku di cabut, menyusahkan ayah aku nanti. "


Keterkejutan lagi bagi Darren, kini ia tahu alasan kenapa Nayyara terlihat lemah dan nampak menyedihkan, membiarkan orang lain menyakitinya dan membullynya tanpa perlawanan, sesaat ia yang tidak suka dengan sikap lemahnya Nayy selama ini jadi terkikis, ia merasa kasihan dan jadi ingin melindunginya.


"kalau begitu, kalau ada yang berbuat seperti tadi terhadap kamu, tolong bilang ke aku ya Nayy, aku bakal nolongin kamu, janji. "


Darren tersenyum lebar, membuat Nayy nampak menatapnya dengan dalam, mereka terkekeh bersama sambil sesekali mengobrol hal aneh dan lucu menghibur diri.


Sedangkan di tempat berbeda, Devano yang baru saja selesai menguping pembicaraan Darren dan Nayyara di lapangan tadi, niat hati ingin mengerjai Nayy sampai kesal malah mendengar sesuatu yang membuatnya terenyuh, setelah mendengar itu semua, Devano hanya bergumam kecil. Bodoh.


Sambil berjalan entah mau kemana ia bertemu para gadis2 yang tadi melempar tempat sampah pada Nayy, seketika ia meraih tempat sampah yang paling terjangkau di dekatnya, lalu berjalan cepat mendekat pada gadis2 bergerumul itu dan...


Brugh..


AaaaaaaaAAAaaa......


"ops.. Sorry, dikiranya disini tempat pembuangan sampah akhir, abis kalian bergerombol begini sih, kayak SAMPAH tau gak. "


Mata Devano memicing pada satu gadis yang mengancam Nayyara tadi, beberapa detik ia lakukan untuk mengancam dengan tatapannya, gadis itu nampak mengalihkan pandangannya ketakutan, setelah Devano merasa itu sudah cukup untuk membungkam wanita itu, ia melangkah pergi dan menghilang di telan dinding yang berkelok.


Setelahnya, hari2 penyiksaan untuk Nayyara memang belum Juga berhenti,ia masih harus membawakan tas Devano, membereskan ini itu, terkadang mereka selalu terlihat bertiga saat di kantin, Devan juga membawanya ke balkon tempat ia dan Darren beristirahat dari sekolah, sedikit banyak Nayyara mulai banyak bicara meski hanya kepada Darren.


Sampai di suatu waktu, Nayyara disuruh Darren ke balkon tempat peristirhatan mereka duluan karena Devano sakit, katanya badannya agak demam dan Darren pergi keluar sekolah sebentar karna ingin membeli obat, Nayy sudah berteriak untuk mengambil obat di UKS saja, tapi sepertinya Darren tak mendengar, karna laki-laki itu terus saja berlari melewatinya.


Nayyara menatap Devano yang nampak sakit, wajahnya memerah tapi matanya terpejam, apa dia tertidur? Fikir nayy, karena laki2 itu hanya bersandar di kursi saja terlihat tidak nyaman.


Nayyara memberanikan diri untuk mrenyentuh tangan Devano, rasa hangat digenggamnya, sesekali matanya menatap Devano yang takut terbangun, karna jujur, laki-laki ini masih menjadi sumber sebagian rasa takutnya.


"sudah berani menyentuh ya? ".


suara Devano mengagetkan Nayy yang refleks menarik tangannya namun terlambat karna digenggam cepat oleh jemari milik si tangan besar itu.


" maaf" Nayy menggoyang2kan tangannya sebagai bentuk meronta iya ingin dilepaskan.


"apa hanya kata-kata itu yang selalu kau ingin ucapkan jika bicara denganku? ". Mulutnya bersuara tapi matanya tetap memejam, sejujurnya itu karna ia sedang menahan pusing dikepala.


" maaf, tadinya aku hanya ingin mengecek suhu tubuh saja, tapi aku gak tau kalau itu sampai membangunkanmu, sekali lagi maaf, aku..


Devano membuka matanya, jemarinya masih menggenggam tangan Nayyara yang terasa hangat, ia menggerakkan tubuhnya untuk duduk dengan tegak, lalu menatap Nayy sangat intens.


"Yarra". Seketika mulut itu memanggil nama Nayy dengan tidak biasanya, Nayy sedikit kaget dan bingung.


" mulai sekarang aku akan panggil nama kamu seperti itu, tidak boleh ada orang lain yang memanggil dengan sebutan itu selain aku, jadi jangan izinkan siapapun memanggil nama itu terhadap kamu, termasuk Darren, mengerti? ".


" i-iya"


karna memanggil namamu dengan Nayy atau Nayyara, mengingtkanku pada Brian yang membuat aku sangat membencimu.

__ADS_1


Bersambung😊


__ADS_2