
Kali ini Vano duduk dengan tegak di kursinya, sebuah kaca mata hitam ia pakai agar menghalau terik yang nampak semakin naik, dari arah depannya Yara sedang berjalan mendekatinya, membawa sebotol minuman yang telah habis ia bagi-bagikan tadi, sepertinya sisa satu akan ia berikan pada Vano.
"minum dulu kak". Benarkan, Vano menyungging senyum sinis saat menerima botol minuman itu dari tangan Yara yang terulur.
"bagaimana gadis itu? ".
Tukas Vano, membuka tutup botol dan meminumnya dengan keren, ah.. Entahlah, di mata Yara laki-laki itu memang selalu keren meski sedang menarik nafas sekalipun.
" namanya Moana kak, dia sepertinya sedang berusaha membuat dirinya lebih baik dari yang kita lihat tadi. "
terlihat dari tempat Vano dan Yara sekarang, Moana baru saja keluar dari tempatnya, ditangannya sebuah skrip naskah di pegang erat.
Yara masih melihat wajah Moana yang nampak ragu, gadis itu sekilas menoleh kearahnya, entah siapa yang ia lihat, Yara atau Vano, yang pasti tatapannya tidak lebih dari 5 detik.
Para kru nampak sibuk menyiapkan syuting yang akan di mulai kembali, sutradara yang terihat pongah itu pun seperti tidak menghiraukan Moana disana, mungkin ia sudah kepalang kesal karna ulah Moana si artis baru yang tidak menghormati waktunya.
Yara merasa kasiahan pada Moana, semua mata menatap gadis itu dengan tatapan meremehkan, ya.. Yara tau sikap Moanalah yang memicu itu semua, kini Yara hanya berharap kalau gadis itu bertahan sebentar saja untuk hari ini.
"keluarkan ponselmu Yara".
Suara Vano terdengar memerintah, Yara yang terkejut karna Vano tiba-tiba berdiri dari duduknya.
" hah? Untuk apa kak?".
"rekam semua yang ada disini, terutama saat gadis itu sedang berakting. "
Vano menunjuk kearah Moana, membuat Yara sedikit kebingungan namun tidak berani membantah, ia melakukan apa yang disuruh Vano tadi.
Syuting mulai berlanjut lagi, dari jarak yang tidak mengganggu, Yara mengambil rekam gambar pada ponselnya, Vano memperhatikan gadis itu dengan senyum samar di bibirnya karna melihat Yara sangat mendalami perannya seperti cameramen beneran.
Dari ponsel itu Vano melihat Moana berakting dengan serius, tapi... Matanya menangkap sesuatu, seketika tatapannya memicing pada Moana disana yang sedang beradu peran dengan lawan mainnya.
"eh kak, mau kemana? ".
Yara kebingungan karna Vano tiba-tiba melangkah mendekati tempat Moana syuting, tanpa sadar Yara mengikutinya dan sedikit ragu saat tau Vano malah masuk kedalam area syuting Moana yang sedang berlanjut.
KAATTT
Suara nyaring dari sutradara memecah telinga siapa saja yang mendengar karna lewat megafone si sutradara berteriak, ia pasti sangat kesal karna tiba-tiba Vano masuk dalam pengambilan gambarnya.
Yara meringis agak panik, ia ingin menarik Vano tapi sudah terlanjur pria itu mengacau disana, entah apa yang Vano lakukan tapi seketika sebelum sutradara itu berdiri menghampirinya...
PLAAKK..
suara tamparan keras menghantam pipi lawan main Moana, Yara membelalak, ia tidak percaya kalau Vano baru saja menampar aktor pria yang kini sedang meringis kesakitan memegangi pipinya.
Sutradara dan kru yang melihatnya otomatis terpaku, sekejap sunyi sebentar lalu riuh suara orang-orang yang menatapnya nampak bertanya-tanya apa yang baru saja mereka lihat, Vano berdiri menatap dengan sangat marah pada laki-laki di hadapannya.
"APA YANG ANDA LAKUKAN, MENGAPA TIBA-TIBA MEMUKUL SAYA?. "
Suara si aktor yang nampak marah juga memelototi Vano dengan kesal.
"harusnya aku yang bertanya, APA YANG KAU LAKUKAN PADA ARTISKU?". Suara yang tak kalah nyaring dari Vano sedikit membuat si aktor itu nampak sedikit takut, kakinya sampai tak terasa mundur sendiri beberapa langkah.
Sutradara menghampiri, ia berkacak pinggang menatap Vano dengan tingkah pongahnya, tatapannya seperti berkata, berani sekali kau berulah di wilayahku.
"apa yang anda lakukan? kami sedang mengejar waktu, sedari tadi masalah yang ada hanya datang dari pihak anda, jika ingin memutuskan kontrak series ini silahkan saja, saya akan ajukan tuntutan pinaltinya. "
pak sutradara buka suara, dengan tatapan yang tidak mau kalah dengan tatapan Vano yang nampak sangar dan marah, mereka saling berhadapan, Moana di belakang Vano dan si aktor yang tadi di tampar berada di belakang pak sutradara.
"ajukan saja, kau fikir aku takut berhadapan dengan orang sepertimu, apa di layarmu tidak kelihatan kalau aktormu melecehkan artisku?. "
Yara membelalak, tidak hanya dia, semua orang dan kru yang mendengarnya nampak kaget dan syok atas pernyataan dari Vano barusan, wajah Moana pias lagi, tangannya bergetar, seketika sebuah tangan menggenggamnya, ia melihat Yara disebelahnya sudah merangkulnya untuk menenangkan.
"anda jangan mengada-ada ya, memangnya anda punya bukti apa? Pelecehan apa? Sejak tadi kita hanya sedang beradegan. "
kilahan sutradara membuat Vano menyungging senyum sinis yang mencemoohnya, jadi sejak tadi kecurigaannya ini benar.
__ADS_1
"Yara, apa kau merekamnya?. "
Agak terkejut Yara saat namanya di panggil, ia sedikit mendekat ke punggung Vano tanpa melepaskan dekapannya pada Moana.
"iya kak, aku merekam semuanya. "
Tukasnya, dan terlihat si sutradara agak terkejut lagi.
"bagus, aku punya rekamannya, apa tadi kau merekamnya di layarmu pak produser? Kalau kau tidak melihatnya akan aku beri tahu bagian mana yang memperlihatkan artisku di lecehkan, mungkin kau tidak sadar, jadi mari kita lihat bersama di layarmu. "
"kau jangan meremehkan pekerjaanku ya, kau fikir aku amatiran sepertimu. "
Pak sutradara marah, wajahnya nampak memerah dan kesal menatap Vano.
"kalau begitu kita tanya juga cameramenmu, apa mereka juga tidak melihatnya? Atau... Mereka sudah dapat bagian dari uang suapanmu? ".
" kurang ajar kau ya".
Tangan itu sudah melayang di udara saat tiba-tiba sebuah tangan menangkapnya dengan cengkraman kuat.
Yara yang melakukannya, Vano sedikit terkejut tadi, matanya bersitatap pada mata milik Yara yang kini tepat di hadapannya, semua orang melihat itu, tapi mereka hanya diam terpaku tak berani ikut bersuara dan hanya berbisik-bisik takut ikut campur.
"maafkan saya pak, saya harap anda berfikir ulang, sebaiknya kita perlihatkan dulu rekaman yang ada, mencocokan rekaman saya dan rekaman camera anda. "
tangan pak sutradara terhempas sendiri, pria paruh baya itu sepertinya semakin di buat jengkel oleh Yara karna mempermalukannya, siapapun yang melihatnya pasti berfikiran remeh tentangnya, karna dengan mudahnya tangannya di tahan oleh hanya dengan genggaman seorang perempuan yang nampak lemah.
#
sebuah adegan gambar menunjukan sesuatu yang nampak tidak senonoh di lakukan si aktor pria pada Moana, Yara yang melihatnyapun menganga sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya seketika, disana, tangan si aktor menelusup masuk ke bagian bawah dress yang panjangnya hanya satu centi di bwah lutut yang Moana pakai, terlihat juga dia meremas bokong Moana dengan halus tanpa pergerakan yang menimbulkan kekacauan pada gerak geriknya saat sedang berdialog.
Pantas saja Moana nampak sedikit kaku saat berakting tadi, wajahnya juga pucat dan pelipisnya berkeringat menahan ketakutan yang membuat tubuhnya secara refleks bergetar, semua itu karna lawan mainnya adalah monster di matanya.
Terpaku, semua mata hanya terpaku dan membelalak melihat adegan menjijikan itu, Yara memeluk Moana, gadis itu menangis kembali.
"apa pembelaan mu pak sutradara? Kau bilang kau bukan seorang yang amatirankan?. "
Nampak pak sutradara terpaku terdiam membisu sejenak, ia menarik nafas karna rasa malunya yang tertangkap basah di hadapan semua mata yag melihat.
Si aktor yang jadi tersangka sejak tadi duduk diam tidak berkutik, tangannya bergetar, kepalanya tertunduk, ingin rasanya ia masuk ke lubang semut sekalipun untuk menutupi wajahnya saat ini.
"bicaralah Moana, sekarang banyak yang mendengarkanmu, jangan takut, aku dan ketua team akan membantumu. "
Yara mengurai pelukannya, mencoba menyalurkan keyakinan pada tatapan matanya terhadap Moana, gadis yang tadi dipeluknya itu menatapnya dengan sedih, sisa-sisa air matanya nampak jelas dan sangat membekas.
"aku sudah mengatakannya kak, sejak kemarin di syuting pertama, aku mengadukannya pada pak sutradara kalau kak Rafael menyentuhku di daerah yang tidak ada di skrip, tapi... Hhuuu... ". Moana tergugu, air matanya nampak menderas lagi, kembali Yara menggenggam erat jemari Moana menguatkan.
" waahhh... Sutradara kita yang tidak amatiran ini jadi bekerjanya seperti ini ya?. "
Vano menatap tajam pada sutradara yang gelisah di hadapannya.
"kau sengaja menekan artisku karna dia baru debut di dunia entertain kan? kau tau dia dilecehkan oleh aktormu tapi kau diam saja, apa kau menerimanya? Uang suap yang aku sebut tadi?. "
Vano menghela nafas, kemarahannya kembali terlihat,yang sejak tadi smpat ia tahan.
"sebaiknya kita tidak membicarakannya disini, mari keruangan saya. "
pak sutradara agak melembut, dengan gestur tubuh yang canggung dan tatapan yang tak lagi berani menatap langsung Vano, ia sudah ingin melangkah membawa Vano menuju ruangan sutradara tempat biasa ia beristirahat.
Cih, Vano membuang pandangan kesegala arah, ia jengkel sekali dengan pria paruh baya ini, dia fikir apa lagi yang akan di bahasnya kalau sudah terbukti bersalah.
sebelum Vano mengikuti langkah sutradara itu, ponsel di saku celananya berdering, membuat pak sutradara yang tadi sudah ingin bergerak nampak menghentikan langkahnya, di depan pria itu, Vano mengangkat panggilan dari ponselnya dengan wajah tak bisa di tebak siapapun.
"kau sudah datang, baguslah, karna aku sudah tidak betah disini. "
Vano mematikan sambungan ponselnya, tatapan yang tidak putus pada sutradara di hadapannya, ia bangkit dari duduknya, berjalan mendekat tepat di wajah sutradara itu, wajah sombong nan angkuh ia perlihatkan dengan jelas pada si tua tak tahu malu ini, fikirnya.
"satu orang polisi untuk membawa berandalan ini agar di periksa, satu lagi pengacara yang akan mendampingi artisku yang menjadi korban pelecehannya, dan satu lagi seorang wartawan, temanku dari media gosip, silahkan selesaikan dengan mereka. "
__ADS_1
Helaan nafas dari siapapun yang mendengarnya nampak kisruh, beberapa cameraman yang sepertinya terlibat juga ikut gelisah saat tahu ada polisi disni.
"kak.. Kenapa ada wartawan? Kalau orang tuaku tahu bagaimana? Aku takut ...
Moana ikut panik, ia memohon pada Yara yang menggenggamnya sejak tadi.
" kau tenanglah Moana, percaya saja pada ketua team ya. "
Yara tau ketakutan Moana, ia baru saja debut dan orang tuanya bukan dari kalangan orang berada seperti artis lainnya, ia pasti takut kalau orang tuanya tahu ia dilecehkan seperti ini akan membuat orang tuanya khawatir dan tidak membiarkan dia kembali kedunia yang ingin ia geluti sebagai mata pencariannya.
#
Lokasi syuting kali ini jadi sedikit ramai, karna kericuhan yang baru saja terjadi, Yara berjalan menghampiri Vano yang sudah berdiri di samping mobilnya, seprtinya laki-laki itu memang sengaja menunggunya.
"sudah beres? ".
Tukas Vano, sambil menatap Yara yang nampak raut kelelahan di wajahnya, rambut gadis itu sedikit berantakan meski mengenakan bandana, ia pasti sangat kelelahan mengurus artis-artisnya.
" hm, kakak pulanglah duluan, aku akan menemani Moana ke kantor polisi sebagai saksi. "
"tidak perlu, kau pulang saja denganku, ada saksi yang lain yang bisa mereka tanyai. "
"tapi kak, Moana sangat ketakutan sepertinya. "
"ada pengacaraku, dia juga kan wanita, dia akan lebih nyaman dengan pengacara kita, kau pulang saja denganku. "
"soal Moana, dia takut orang tuanya...
" shhh... Kau ini kenapa mengirusi hal-hal di luar pekerjaanmu sih, biarkan saja dia dengan masalahnya, anggap saja ini batu loncatannya sebagai artis, kalau segini saja dia kapok bagaimana kedepannya dia menghadapi hal yang lebih menakutkan di dunia seperti ini. "
Yara menghela nafasnya, benar yang Vano katakan, tapi tetap saja rasanya Moana sangat kasihan menghadapinya sendirian.
Vano menatap Yara lagi, ia tahu gadis itu berfikiran apa, setelah banyak yang ia lewati selama ini, Yara pasti berfikir Moana sama seperti dirinya yang dulu.
"masuk"
Pintu mobil di buka, Yara di dorong halus oleh Vano, mau tak mau gadis itu masuk kedalam mobil dan duduk tepat di sebelah Vano yang mengemudi.
"terimakasih kak, sudah mendampingi hari ini, aku pikir kakak tidak akan mau bekerja denganku lagi "
"cih, kau fikir aku begini karna dirimu? Jangan ge-er ya, itu karna aku bertanggung jawab sebagai ketua team, memangnya aku sebodoh itu apa. "
Yara tersenyum, membuat Vano agak sedikit gugup saat melihat senyuman itu yang nampak tulus.
mobil berjalan perlahan meninggalkan lokasi syuting yang membuat penat Vano seharian ini.
"apa kakak mau aku menemani kakak makan malam ini?."
Ciiiittt... Mobil mengerem mendadak, untung saja jalannya sedang tidak begitu ramai, Vano menatap Yara yang menatapnya gugup.
"kau bilang apa barusan? "
"makan malam, aku hanya bertanya apa kakak mau aku temani makan malam hari ini. "
Hah, sepertinya itu pemutaran kalimat ajakan, seolah-olah dia menawarkan diri padahal dia yang ingin mengajaknya makan malam.
"heuh.. Kau, sudah berani sekali ya mengajakku makan malam segala, jangan coba-coba berani berfikir kau istimewa untukku Yara. "
"aku tau". Yara mengalihkan tatapannya, ia menunduk menatap jemarinya sendiri.
" aku tau kak, aku tidak pantas berharap seperti itu, kalau kakak tidak suka dan tidak mau tidak apa-apa, aku...
"ayo makan, ditempat biasa saja, lagi pula aku memang lapar. "
Setelah momotong kalimat Yara,sambil menyalakan kembali mesin mobilnya, Vano menyetir dengan degupan aneh di dadanya, Yara hanya sebentar melongo dan terdiam karna terkejut tadi, selanjutnya ia menyembunyikan senyuman dibibirnya.
Nampaknya keputusannya untuk lebih dekat dengan Vano seperti yang disarankan Darren menjadi keputusan akhir yang Yara fikirkan saat ini, tidak ada salahnya di coba kan, toh dia juga tidak akan jatuh hati pada pria ini, Vano adalah pria pertama yang ia coret namanya dalam daftar laki-laki yang mungkin akan dia sukai, sekarang ia hanya akan mencoba dekat saja, masuk kedunia kak Vano, lalu mencari tahu sumber kebencian pria itu padanya, semoga ia bisa memperbaikinya jika sudah mengetahuinya nanti.
__ADS_1
Bersambung😊