
Pagi datang di hari yang sibuk, di gedung management milik Devano terlihat wara wiri beberapa wartawan dari beberapa media nampak
Mengejar-ngejar Mario dan Lisa yang datang berlarian bersama memasuki gedung, padahal mereka tidak satu mobil, tapi akibat beberapa media gosip yang merilis kedekatan mereka menjadi buah bibir di dunia maya dan sekitarnya.
Hari ini Mario dan Lisa memang di panggil presdir dan ketua team mereka yang akan menanyakan langsung atas gosip yang beredar itu, meeting dadakan yang menyibukkan Yara beserta teamnya untuk menekan gelombang berita yang mungkin akan mencemari dua nama artisnya yang tengah naik daun itu.
Di ruang meeting, dengan meja panjang yang di ketuai oleh Darren, sebagai presdir ia duduk di paling ujung agar bisa melihat dan memperhatikan ekspresi setiap wajah yang akan ada di ruangan itu, termasuk Yara dan Vano, dua anak manusia yang Darren syukuri kini sudah saling mencuri pandang dengan senyum merona setiap kali mereka tertangkap basah sedang bertemu muka.
"itu tidak benar, kalian bisa menuntut media penyebar hoax itu, aku akan menjaminnya kalau aku dan Mario tidak terlibat hubungan apapun. "
Lisa bersuara paling keras, disebelahnya Vano duduk santai tidak menghiraukan siapapun yang ada disana.
"kau yakin?. "
Suara Mario membuat Lisa dan Yara nampak terkejut, Yara yang di sebelah Mario kini terserang sengatan panik menatap Mario dengan bingung.
"apa maksudmu? ". Lisa membelalak, seperti ingin me-lu-mat tubuh Mario di sana.
" tunggu, Mario sebaiknya kau mengatakan hal yang benar, jangan membuat Lisa salah faham atas sikapmu yang ambigu begini. "
Yara mencoba menasehati, bayi laki-laki yang ia rawat dari kepolosan tanpa noda kini sorot matanya menantang pada siapa saja yang menatapnya tidak percaya.
"aku dan dia sudah bersciuman, sekarang dia malah bilang kita tidak punya hubungan apa-apa?".
bibirnya di naikkan miring ke atas, bicara sinis tanpa menghiraukan reaksi orang-orang yang berada disana,mendengar pengakuan Mario yang tanpa malu-malu mengakui satu aibnya, itu membuat Lisa terserang rona merah di wajah seketika, hanya Vano yang tidak merespon apa-apa, sesekali ia hanya menghela nafas lelah dengan drama dua artisnya kini.
"kau mau mati ya?. "
"apa? Kita memang berciuman, ingat ya berciuman, bukan mengecup atau sekedar menempelkan bibir."
"YAA..! Mario, apa kau tidak punya malu? kita di depan orang banyak bodoh. "
Lisa mengumpat dengan kata-kata kasar yang harus kita sensor, sambil masih menyalak pada Mario yang semakin berani menantangnya.
"memangnya kenapa, apa kau malu kalau orang lain tau kita berciuman?. "
"itu bukan ciuman bagiku. "
"lalu apa? Apa kau fikir aku ini sejenis tumbuhan tidak bisa dibilang berciuman kalau kau menempelkan bibirmu padaku. "
"Mario brengsek ! . "
__ADS_1
"kalian berdua aku mohon tenanglah. "
Suara nyaring Yara menghentikan Lisa yang sudah ingin naik keatas meja dan meraih kerah baju Mario yang nampak mengejeknya disana, kepalan tangan akhirnya menahan Lisa untuk melakukan hal yang tidak akan sopan jika di lakukan di hadapan presdirnya saat ini, ia duduk kembali meski dengan nafas tersengal dan mata yang berkerut sinis ke arah Mario si tidak tahu malu itu.
"kak Nayy, memangnya kenapa kalau aku punya pacar? Apa kak Nayy akan patah hati? . "
sesumbar Mario langsung membuat Vano bereaksi.
"heh bocah, jangan sepercaya diri itu ya? Memangnya siapa yang peduli dengan kau punya pacar atau tidak, Yara tidak akan patah hati karna kau bukan apa-apa baginya. "
Cepat sekali menjawabnya, Mario sampai membuang nafas mendengarnya.
"jadi tidak apa-apa kan kalau aku dan Lisa berpacaran?. "
"aku yang tidak mau jadi pacarmu bodoh. "
"kenapa?. "
"kau fikir wanita mana yang suka dengan pria yang menciumnya saat dia mabuk. "
Lisa menelan liurnya yang terasa serat turun ketenggorokannya, Mario menatapnya, lalu seulas senyum merekah dibibirnya.
"aku lupa bilang ya? Maaf, saat itu aku tidak mabuk. "
Devano menopang dagunya di atas meja dengan kedua tangannya, menatap Yara dengan lega karna tahu si Mario pengganggu itu akhirnya akan punya kekasih dan tidak akan mengganggu hubungannya dengan Yara, padahal siapa yang mengganggu sih? Mario bahkan tidak menyatakan apa-apa pada Yara, jadi sudah jelas ya, kalau itu hanya ketakutan halusinasi Vano saja.
Sedangkan Darren, yang sejak memulai meeting tadi dengan rekan-rekannya saat ini nampak diam, tidak bisa menjawab atau bertanya sedikit saja tentang masalah ini, manusia paling peka itu sudah membaca jalan cerita yang sejak tadi ia analisis, praduga sementara adalah Mario yang belum menyatakan apa-apa pada Lisa, alhasil membuat Lisa tidak percaya pada laki-laki yang hanya menganggap sebuah ciuman adalah hal yang di anggap sepele oleh Mario.
Yang ada dalam fikirannya saat ini adalah bagaimana merilis hubungan yang masih sebelah pihak ini di hadapan para wartawan nanti, sedangkan Lisa tidak ingin ada hubungan apapun, tapi Mario ingin mengumumkan kalau ia sudah berpacaran dengan Lisa, hah... Sepertinya mereka akan banyak menyita waktu.
#
di lain tempat, tidak jauh dari seputar gedung management, tepatnya di lobi bawah yang terdapat cafe kopi kecil yang masih menjadi bagian dari gedung management, dua wanita cantik sedang minum kopi hangat sambil menebar aura dingin persaingan yang nampak alot, sepertinya pembicaraan mereka sejak bertemu tadi sudah mengundang aroma persaingan yang ketat, sehingga pancaran dari wajah kedua wanita cantik itu nampak gelap dan sinis.
Anita si cantik nan elegant, dengan rambut bob sebahunya yang lurus-lurus berkilau kecoklatan karna ia mewarnainya sesuai dengan gayanya, jadi terlihat cantik natural namun tidak membuang kesan glamour pada makeup di wajahnya.
Moana yang sekarang di sulap seperti barbie oleh managementnya karna ada beberapa kontrak series yang mengharuskan ia bergaya sesuai peran yang di dapatnya, rambutnya kini sangat panjang melewati bahu, hampir sepantatnya tapi ujung-ujungnya di buat kringkel yang nampak manis dengan warna abu-abu blasteran berkilau dengan siluet kehijauan, menjadikan ia nampak manis dalam balutan dress selututnya dengan lengan buntung memperlihatkan lengannya yang putih dan ramping.
Kedua mata mereka saling menatap, dibarengi dengan senyum tinggi membuat batasan yang sangat kontras pada lawan bicaranya, Anita terlihat meminum kopi hangatnya dengan santai, sedangkan Moana melipat tangannya di dada dengan bahu menyender di kepala kursi.
"bukankah urusanmu sudah selesai? Kenapa sering sekali kesini jika tidak ada yang di kerjakan? Kau itu pengacara atau pengangguran sih?. " Moana menyerang, dibalas kekehan kecil dari mulut Anita yang menatapnya melemahkan.
__ADS_1
"aku punya kontrak disini, jadi aku hanya menerima kasus dari perusahaan yang mengkontrakku sekarang, lagipula banyak yang aku kerjakan, terutama mendampingi presdir di beberapa pertemuan bisnis untuk perusahaan kita, pengacara itu bukan bekerja hanya di balik meja nona, begitu saja kau tidak tau. "
ish.. Lihat betapa sombongnya dia, memangnya yang punya pekerjaan hebat dia saja, dia tidak tau saja kalau aku juga keren kalau sedang berakting.
Menggerutu dalam hati, tapi menatap dengan sinis pada Anita yang nampak arogan dihadapannya.
"presdir pasti sedang sibuk, sebaiknya kau pulang saja. "
"itu bukan urusanmu nona muda. " Anita semakin menyeringai, ia akan menunjukan kekuatannya untuk bertahan dalam persaingan ini.
"tidak percaya? Kau hanya akan mengganggunya nanti, dua orang bodoh sedang membuat masalah yang membuatnya pusing, jadi aku harap kau tidak mengganggunya untuk saat ini. "
"aku tau, justru aku adalah kunci untuk membantu kepusingan presdir saat ini, dimana ada pekerjaan presdir yang menyangkut tentang bisnis ataupun artisnya, disitu aku selalu berada di sisinya, karna memang tempatku disana. "
Cih.. Percaya diri sekali, gumam Moana lagi tanpa suara, hanya senyum sinisnya yang menyungging disana.
"Mo..!. "
Medina berlari menghampiri Moana dan Anita yang menoleh berbarengan, ia nampak kelelahan karna berlari dengan hils yang cukup tinggi.
"kenapa berlarian kak? Tidak sakit kakinya?. "
ucap Moana sambil melihat Medi yang sudah didekatnya dari atas hingga bawah kaki.
"maafkan aku, aku takut kau terlambat, ayo... Sutradara sudah menelfon tadi. "
"hm, baiklah, terimakasih sudah mau mengantar. "
Moana berdiri, ia melirik Anita yang tersenyum melambaikan tangannya di tempat duduknya.
"sampai bertemu lagi, aku harap sih kita tidak sering bertemu disini, bukankah akan sangat membosankan bertemu seseorang setiap hari, seperti tidak ada yang akan dirindukan nantinya loh. "
Ucap Moana sambil meraih tasnya dan sudah ingin berjalan meninggalkan tempat itu dengan gaya yang menurutnya keren.
"justru seseorang yang nampak jauh atau jarang bertemu akan kalah dengan yang setiap hari ada, bukankah menemani lebih baik di banding tidak terlihat sama sekali?. "
Anita membalas, membuat Moana yang tadinya sudah membuang pandangan kedepan jadi menoleh lagi padanya dengan picingan mata yang galak, ia mendengus kesal, Medina yang sejak tadi di sampingnya nampak berkernyit bingung memandang Anita dan Moana secara bergantian.
Ada apa dengan mereka?
Tukasnya dalam hati, lalu mengejar langkah Moana yang di percepat setelah tadi gadis itu sempat mengibaskan rambutnya dengan kasar pada Anita disana.
__ADS_1
Diruangan presdir, Darren menggaruk sebelah telinganya yang agak gatal dan berdenging, ia bergidik sendiri, sepertinya seseorang sedang membicarakan hal jelek tentangnya. Fikirnya, lalu sibuk lagi dengan berkas yang tidak habis-hiabis setiap harinya.
Bersambung😊