
Sekian tahun berlalu tidak membuat Gun melupakan wajah Nayyara yang semakin cantik dan cerdas, ditambah ia memang menjadi pengagum kedua setelah Brian dulu mengenalkan Nayyara padanya.
Dari balik pintu yang setengah terbuka itu memang membuat Gun terpaku cukup lama, melihat sosok Nayyara yang duduk menatap Vano yang tengah bermimpi buruk tentang adiknya lagi.
Gun terdiam dan hanya melihat saja saat tangan Vano mencekik leher kecil milik Nayyara, gadis itu sesak nafas dan meronta-ronta minta di lepaskan, tapi... Entah kenapa Gun sama sekali tak ingin menolongnya, kebenciannya pada Nayyara dulu menahannya untuk bergerak.
sebenci itu kah ia? Tapi rasanya tidak, karna Nayyara pernah tersenyum tulus padanya, pertemuan di masa kecil dulu, memantik lagi debaran yang kini hanya tersisa kekecewaan pada gadis malang itu.
Ia melihat Devano telah sadar dari mimpinya, buru-buru ia bergegas pergi tak ada niatan untuk menghampiri Nayyara yang masih berada disana, padahal tadinya ia akan masuk ke kamar Devano untuk meletakkan susu hangat seperti yang ia lakukan setiap malamnya, karna Gun tau Vano sulit tidur di malam hari.
Kini Gun hanya terpaku di kamarnya, duduk menatap kosong ke layar besar yang menempel di dinding kamar, tapi fikirannya terus berkelebat wajah Nayyara saat ia kenal dulu, saat pertama kali mereka dipertemukan oleh Brian, teman baiknya di kala masih kanak-kanak.
"ada apa? ".
Suara itu mengejutkan Gun yang segera tersadar dari lamunannya, ia menatap Darren yang baru saja keluar dari kamar mandi, lelaki itu pasti sadar kalau ia sedang bengong didepan tv yang menyala, dan memang kebiasaan dia yang selalu mengaitkan jika tatapan mata terasa kosong itu artinya sedang memikirkan sesuatu.
"ah, kakak sudah selesai,seharusnya kakak sudah tidur kan? Ini sudah lewat tengah malam. "
Gun tersenyum, Darren duduk di sebelahnya, ia lalu menghela nafas pelan.
"kau bertemu dengan Nayya? ".
Tatapan Darren membuat Gun tetdiam seketika, senyumnya juga hilang yang sempat tadi terlukis di wajahnya, kini ia hanya menundukkan mata, seperti tidak suka harus ketahuan seperti ini.
" hm, dia masih seperti dulu, terlihat polos dan lugu, tapi tetap saja aku berfikir dia naif, aku harap dia tidak mengenaliku. "
"kenapa? Bukankah kau harusnya berharap sebaliknya agar Nayy cepat sadar dengan kesalahannya di masa lalu. "
"entahlah, hanya saja sepertinya aku belum puas melihat dia menderita seperti itu. "
Yang di maksud Gun adalah kebencian yang Nayy dapatkan dari Vano, sepertinya apa yang Vano lakukan belum cukup membuat Nayy menerima balasan setimpal atas kepergian Brian sahabat terbaiknya.
"jangan terlalu membencinya, kau tau kan Vano bagaimana dengan Nayyara, aku tidak ingin kalian melakukan hal yang sama. "
Apa yang Darren fikirkan sebenarnya sudah terjadi sejak dulu, sudah di bilang ia cukup peka untuk soal urusan seperti ini, Gun yang mungkin saja sudah jatuh hati terlebih dahulu pada Nayyara jauh sebelum Vano menemukannya.
"aku tau kak, aku akan jaga batasanku. "
"tidurlah, kau lelahkan sejak tadi menemani Vano".
Darren bangun dari duduknya menuju tempat tidurnya yang jaraknya tidak jauh dari tempat tidur Gun, ia melepas jam tangannya, meletakkannya di nakas dekat lampu meja,ia akan bersiap untuk tidur karna esok ia akan sangat sibuk mengurus orang-orangnya yang mejadwalkan diri mereka sendiri untuk bersama-sama bermain golf, terbayang lagi wajah-wajah antusias mereka yang bilang tidak bisa bermain golfbtapi keukeuh minta di ajarkan oleh Darren, satu-satunya orang yang berbakat di semua cabang olah raga.
Ahh, mereka kompak sekali jika soal mengerjaiku.
Darren tenggelam dalam selimut, sedangkan Gun masih melamun tentang Nayyara, apa besok mereka akan saling bertatapan? Apa dia mengenaliku? Kalau iya, apa yang harus aku katakan padanya?.
fikir Gun yang terus bicara dalam hati.
#
Pagi menjelang, matahari nampak indah naik keperaduan, Yara dan beberapa staf sudah ada di dapur membuat kopi dan coklat panas untuk diri mereka masing-masing, sarapan sudah tersaji, entah kapan para pelayan menyiapkannya yang pasti pelayanan mereka cukup membuat Medina dan gadis lainnya senang karna mereka tidak akan repot-repot membuat makanan sendiri.
Coklat panas mengepul di cangkir yang Yara genggam, sejak tadi ia hanya bengong melamuni kejadian semalam di kamar Vano, belum sempat ia berkata-kata, Vano mendorongnya keluar, dengan wajah marah dan juga kesal.
Ah, entah mimpi apa yang membuat lelaki itu sangat marah padanya,bukankah harusnya Yara yang berhak marah karna ia hampir mati semalam oleh jerat tangan kekar itu.
"termasuk dengan nyawamu?. "
Terngiang lagi percakapannya dengan Vano kala itu di kolam renang, Yara terkesiap, janga-jangan itu serius, apa benar kebencian Vano sampai seperti itu? Samapai ingin membunuhnya?.
Ada rasa takut di benak Yara, ia tidak bisa membayangkan kesalahan apa yang ia perbuat sampai Vano harus menginginkan kematiannya, ia mengurai lagi cerita lamanya, sepertinya tidak ada kesalahannya yang fatal pada Vano, mereka saja berkenalan saat masih pakai putih abu-abu, itu pun mereka dekat saat Vano sudah membencinya.
__ADS_1
Yara mengingat lagi, mundur ke waktu sebelum ia mengenal Vano, itu artinya di masa sekolah menengah pertama, tapi sekeras apapun Yara mengingatnya, ia yakin kalau ia dan Vano belum pernah bertemu sebelumnya.
"sedang apa? ".
Suara di balik punggung Yara membuat gadis itu sedikit terkejut, refleks ia menoleh, dan wajah Darren dengan stelan baju olah raganya yang nampak sporty membuatnya dua kali lipat lebih tampan dari biasanya.
" kakak, ah.. maaf, aku sedikit melamun".
Yara nyengir, mereka sedang berdiri di pinggiran kolam renang saat ini.
"apa kakak akan berolah raga? ".
lanjut Yara.
" tentu, apa kau tidak ikut? Aku di paksa jadi pelatih dadakan oleh teman-teman satu teammu. "
Pura-pura menghela nafas lesu, Darren tertawa setelah melakukannya.
"oh,bermain golf ya? Aku tidak ikut kak, Medi dan Lisa sangat antusias sejak tadi, tapi maaf, ini hari pertama PMS ku, rasanya sangat tidak nyaman. "
Bibir Yara mengerucut, menggambarkan kalau itu benar-benar membuatnya nyeri sambil sebelah tangannya memegang perutnya, lalu ia menyesap coklat panasnya dari cangkir di sebelah tanganya yang lain.
"istirahatlah, makan sesuatu yang enak atau pedas, bukankah biasanya kau suka melakukan itu. "
"kakak benar, aku jadi terbayang-bayang mau makan seblak atau ramen kuah pedas, hihihi".
" aku akan suruh salah satu pelayan disini membelinya. "
"tidak usah kak, nanti aku jadi bosan, sementara kaka dan yang lain bermain golf, aku akan jalan-jalan mencari sesuatu yang aku mau disekitar sini, bolehkan?. "
Darren berkernyit, ia menatap Yara sambil berfikir apakah akan aman jika Yara pergi keluar Villa sendirian? bukankah ia harus ditemani seseorang.
"pergilah bersama Vano, aku akan menyuruhnya untuk menemanimu. "
Sambil tersenyum Darren melangkah untuk menghampiri Vano disana, ia tidak melihat Yara yang membelalak, mulutnya sudah ingin terbuka namun saat tubuhnya berputar mengikuti langkah Dareen, matanya menangkap sosok Vano disana, sekarang ia tahu kemana langkah Darren tertuju.
"eh kak ja.. Jangan. "
Terlambat, Vano sudah melihatnya, ia ketahuan sedang di belakang Darren yang kini sedang menatapnya, refleks Yara menyembunyikan wajahnya di bahu Darren.
"Nayyara sedang PMS hari pertama, dia biasa makan-makanan pedas, bisa tolong antar dia kan keluar Villa, sekalian kalian jalan-jalan. "
Cih, bahkan kau tau kebiasaan dia disaat -saat seperti ini.
Devano memiringkan senyum sinisnya, ia melirik Yara yang masih belum mau menunjukan wajahnya. Apa dia masih takut denganku?
"sebaiknya tidak usah kak, aku bisa pergi sendiri, akukan bukan anak kecil lagi. "
Yara bicara dengan suara sedikit pelan pada Darren, tapi percuma saja karna masih terdengar jelas di telinga Vano.
Seketika saja Vano berdiri menghampiri Darren dan Yara yang masih sembunyi di balik punggungnya.
"tunjukan wajahmu. " suara perintah dari Vano, membuat Yara semakin canggung dan meringis agak takut.
Darren berkernyit, ada apa dengan mereka? Ia mencoba melirik Yara yang pelan-pelan menunjukan wajahnya walau sambil tertunduk.
Vano sedang menatapnya, kedua tangannya ia masukan ke kantong celananya, bersikap angkuh dan memicing jahat walau tetap dengan wajah tampan paripurnanya, padahal ia baru bangun tidur.
"setelah mengendap-endap masuk ke kamarku semalam, kau bersikap malu atau takut padaku?, sampai harus bersembunyi di balik punggung lelaki pilihanmu. "
Sarkas, Yara sampai melonjak kaget membelalak mendengar kata-kata Vano, Darren semakin berkernyit tidak mengerti arah pembicaraan ini.
__ADS_1
"ka.. Kakak, bukan begitu, semalam aku hanya tidak sengaja mendengar kakak gelisah saat tidur, pintunya terbuka sedikit makanya aku mengintip, aku hendak membangunkan kakak semalam karna kakak sepertinya mimpi buruk. "
Dengan panik Yara menjelaskan, takut terjadi kesalah pahaman pada Darren dan juga Vano, semoga kak Darren tidak sadar dengan kata-kata lelaki pilihan yang baru saja di lontarkan kak Vano. Diam-diam Yara berdoa, karna kalau sampai Darren mempertanyakannya, tidak tahu mau taruh dimana wajahnya ini.
"apa setiap melihat pintu terbuka sedikit kau selalu masuk dengan sembarang tanpa permisi? Kalau aku tidur dengan telanjang bagaimana? ".
Yara semakin membelalak
" kakak, aku... Ah pokoknya aku tidak sengaja dan..
Bingung untuk membela diri lagi Yara kehabisan kata-katanya.
Sedangkan Vano nampak tersenyum samar di bibirnya, sikap Yara yang panik dan salah tingkah begitu baginya terlihat sangat lucu.
"kalau begitu kunci pintu kamar tidurmu."
Darren menengahi, ia kasihan melihat Yara yang panik sendiri.
Ada helaan nafas dari mulut Vano.
"aku harus pergi, mereka sudah menungguku. "
lanjut Darren, ia melangkah sebelumnya melirik Yara dan melambai dengan senyuman.
Akhirnya Yara terjebak kecanggungan dengan Vano yang masih menatapnya sinis.
"Yara! ". Panggilnya dengan suara halus, membuat Yara mau tak mau menatapnya, ia tidak sadar kalau jarak antara tatapan mereka sangat intens, Vano memang melangkah pelan dan berdiri tepat di jadapan gadis itu.
" apa kau baik-baik saja,apa aku melukaimu? ".
Degh..
Yara tak siap, saat tiba-tiba tangan Vano terulur menyentuh lehernya, sentuhan itu sangat lembut, membuat tubuh Yara menegang tak bergerak saking kagetnya Vano menatapnya lembut begitu.
"maafkan aku".
Lagi, semakin membuat Yara membeku, apa ia tak salah dengar?, seorang Devano mengucapkan maaf dengan selembut itu padanya.
" kak..sebenarnya kakak bermimpi apa? Sampai-sampai kakak ingin membunuhku. "
Sekarang gantian, Vano yang terpaku dengan pertanyaan Yara yang ia belum persiapkan jawabannya, Vano melepaskan tangannya dari leher Yara, ia membuang pandangannya kemanapun asal tidak bertatapan dengan gadis itu, namun belum sempat ia bergerak ingin mundur, seakan tahu kalau Vano tidak ingin menjawabnya, Yara menarik lengan Vano tiba-tiba dan langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang lelaki itu, Yara menelusupkan wajahnya di dada Vano, memeluk dengan erat, matanya sendu dan berair, ia ingin menangis.
"maafkan aku kak, tidak bisakah kakak tidak membenciku sebesar itu? Aku takut sekali melihat kakak semalam, apa kesalahanku sangat besar? aku mohon maafkan aku kak, aku akan menjadi pelayan kakak seumur hidupku kalau kakak mau, asalkan kakak tidak membenciku lagi. "
Meski tidak terisak, tapi tetesan air mata itu jatuh juga ke pipi, Vano membalas pelukan erat itu, memeluk kepala Yara tanpa kata-kata dan fikiran yang berkecamuk, bagaimana ini, sepertinya aku sudah tidak bisa lagi membohongi perasaanku.
Dalam hati Vano terus bicara, bernegosiasi dengan fikirannya yang masih mengingatkannya pada tangisan pilu Brian dalam mimpi semalam.
"kak Nayyara? ".
Suara itu menyadarkan Yara dan Vano, seketika pelukan itu terurai, Yara menatap seseorang yang sedang berjalan menuruni tangga, pria berjubah kimono itu tersenyum padanya sambil terus mendekat, kernyitan halus di dahi Yara seolah sedang berfikir keras mengingat wajah itu, wajah familiar yang tersenyum itu nampak tidak asing, tapi siapa?
Yara memutar memorynya, mencoba mencari keberadaan sosok itu di kehidupan yang ia ingat, dan saat pria itu telah dekat berdiri di hadapannya, seulas senyum di wajah lelaki itu mengingatkannya pada bocah berusia 10 tahun saat masa-masa di sekolah menengah pertamanya dahulu.
"Gunazel? ".
Vano membelalak, ia menatap Yara yang menatap Gun di hadapannya, dia mengingat Gun, fikirnya, apa itu artinya dia masih ingat dengan Brian?.
" hallo kak, lama tidak bertemu, terimakasih kakak masih mengenaliku. " senyum aneh menghiasi bibir Gun yang kini mengulurkan tangannya pada Yara, gadis itu terpaku, menatap Gun dengan tatapan yang tak terbaca.
Bersambung😊
__ADS_1