
Ada yang uring-uringan di dalam kamar, gelisah tidak bisa tidur namun juga enggan melakukan sesuatu, alhasil sejak tadi ia hanya mondar mandir antara kamar mandi dan kamarnya saja, sekarang ia tengah terbangun dan duduk di sofa dekat jendela balkon, lampu kamarnya memang sudah redup, tapi lampu mejanya masih menyala temaram.
Sayup-sayup ia dengar celoteh dan suara tertawa rekan yang lain yang sedang berada di bawah sana, tepatnya di halaman belakang villa yang mana balkon kamarnya berada di sana, ia menghela nafas kesal, mengingat lagi bagaimana Devano dengan sok kerennya menggendong Yara ke kamarnya.
Mario, si cowok menggemaskan milik Yara ini memang agak berbeda mengekspresikan rasanya pada Yara, ia akan sangat manja dan terus menempel kalau sudah dekat dengan Yara, membuat dirinya selalu paling menonjol dari artis didikan Yara yang lainnya.
Sebenarnya ia juga tidak tahu perasaan apa yang sebenarnya ia rasakan pada Yara ini, ia hanya merasa kalau berada didekat Yara hatinya sangat nyaman, bicara pada Yara seperti bicara pada ibunya yang selalu mengerti dan memahami bagaimana jalan kehidupannya, padahala Yara begitu karna memang ia lebih tau tentang pahitnya dunia kehidupan yang keras, makanya ia sangat menjaga Mario agar tidak terjerat pada hal-hal yang dapat membelokkan jalannya.
Ting..
Suara pesan dalam ponsel masuk, Mario nampak malas melihatnya, tapi dengan uluran tangannya yang malas dan lemas, ia raih juga benda pipih itu di atas nakas.
turunlah, aku tau kau belum tidur
Dari Lisa, artis pendatang baru yang belum lama debut setelah Moana, rambutnya pirang panjang sebahu, tubuhnya kecil tapi sangat lincah kalau berjalan, dari gestur tubuhnya yang seperti itu pasti semua bisa menebak kalau Lisa tipikal wanita periang dan aktif.
Turunlah, ada banyak sisa daging disini, aku baru saja memanggangnya dengan sepenuh hati, rasanya juga lumayan, setidaknya kau **t**idak kelaparan walau sedang patah hati.
Pesan lain dari nama yang sama, sedikit membuat Mario kesal, sejak mengenal Lisa memang mereka agak kurang akur karna Lisa selalu mencari masalah dengannya, sebenarnya bukan disebut cari masalah juga, Lisa yang selalu blak-blakan kalau mengutarakan sesuatu, seperti kata-kata yang tadi contohnya, patah hati apanya?
Cih.. Mario membuang nafasnya kesal.
Wanita itu selalu saja sok tahu dan ikut campur urusan orang. Fikir Mario
Tok.. Tok.. Tok
Suara pintu di ketuk, Mario menatap ke arah pintu, ia malas bangkit tapi akhirnya berjalan juga menuju pintu karna suara ketukan itu sangat mengganggunya, pintu baru di buka sedikit tapi orang di luar sana sudah menerobos masuk, membuat Mario membelalakan matanya, kekesalannya sudah hampir naik ke ubun-ubunnya.
Lisa tersenyum sumringah, ia membawa sepiring daging yang harum masih hangat, ada saus barbekyu di atasnya, membuat siapapun yang mencium aroma itu terasa lapar di buatnya.
Tapi Mario tidak tergoda dengan itu, ia sudah di buat kesal atas terobosan Lisa yang ia fikir tidak sopan masuk tanpa seijin yang punya kamar, ia tatap Lisa yang santai saja berjalan masuk dan meletakkan piring dagingnya di meja kecil dekat sofa.
"keluar". suara perintah Mario yang terdengar pelan tapi dengan intonasi penekanan menahan kesal.
" kenapa? Aku kan sudah baik mengantarkanmu makanan, dan bonusnya aku akan menemanimu selagi kau makan daging panggangku. "
Si tidak tahu malu itu malah duduk dengan santai di sofa, masih tersenyum seperti tidak menghiraukan wajah Mario yang juteknya sudah di level ingin mencongkel bola mata siapa saja yang menatapnya.
"keluarlah, selagi aku bicara baik-baik".
" harusnya kau berterimakasih, bukan malah mengusirku. " melipat satu tangannya di dada dan yang satu lagi menekuk sambil jari-jarinya ia gerak-gerakkan di depan wajahnya, Lisa berpura-pura mengamati cat kukunya dengan wajah tak pedulinya.
Mario menghela nafas jengkel, ia melangkah hendak mendekat dan menyeret tubuh kecil mungil itu dengan satu tangannya.
__ADS_1
Tapi sebelum ia menyentuh lengan Lisa, gadis itu sudah tiba-tiba bangun dan berdiri tegak dihadapannya dengan mata saling menatap tajam.
"marah saja, kau butuh pelampiasankan untuk menenangkan hatimu yang kau fikir terluka itu? ".
Cih, senyum miring Lisa seolah mengejek sikap Mario yang kekanak-kanakkan.
" jangan ikut campur urusanku. "
Mario menantang galak
"memangnya kau punya urusan apa yang harus aku ikut campuri?, dengar Mario, aku malah lebih senang kalau sekarang kita bertengkar saling menjambak rambut, jika aku ingin berurusan denganmu, akan aku rekam semua adegan itu dan kita akan terkenal setelah aku meng-uploadnya di pencarian daring, bukankah kita sama-sama di untungkan? Akan banyak tawaran endors atau iklan Tv untuku dan juga kau, mungkin kalau kau lebih banyak undangan poadcase atau wawancara media gosip. "
Masih dengan santainya Lisa bicara tanpa takut Mario benar-benar akan menjambaknya, karna tatapan itu sudah sangat menyeramkan untuk ukuran seseorang yang kenal dengan Mario.
"sebenarnya apa maumu? ".
Hahah, Lisa tertawa, entah apa yang ia tertawakan, gadis itu kembali duduk di sofa yang tadi di belakangnya.
" memangnya apa?, aku kan cuma mengantar daging, dan anggap saja aku sedang ingin mengganggumu. "
"aku sedang ingin sendiri, jadi tolong pergilah. "
"kau butuh orang seperti aku Mario, tidak baik sendirian kalau sedang patah hati, aku takut kau bunuh diri didalam bathtub kamar mandi. "
"aku bilang jangan sok tau, siapa yang patah hati? Lagi pula, aku tidak sebodoh itu sampai harus bunuh diri. "
"hah, kau ini benar-benar transparant sekali Mario, kau benar-benar seperti yang di bicarakan orang-orang yang mengenalmu. "
"apa? Memangnya mereka bicara apa?. "
"kau terlalu jelas menunjukan perasaanmu pada kak Nayyara. "
"hah, omong kosong apa itu. "
Seketika wajahnya berubah salting, ia membuang pandangannya kesembarang arah, seperti malu di tatap Lisa dengan intens.
"menempel terus dengannya jika bertemu, selalu cari perhatian dan sorot matamu selalu nampak mengagumi kak Nayy yang kau pandangi setiap kali kau bisa melihatnya, hah.. Aku saja mau muntah melihatnya. "
"cih, muntah saja sana,orang sepertimu mana tahu arti perasaan seperti itu. "
akhirnya Mario bergerak mendekat ke sofa dan duduk di sebelah Lisa, dengan masih menekuk wajahnya ia mencomot irisan daging di piring dan menyuapnya dengan lahap.
Hmm, enak juga, fikirnya, tanpa menghiraukan Lisa ia terus mencomot dan memakan lembaran demi lembaran daging panggang yang Lisa bawakan untuknya.
__ADS_1
Sepertinya benar kata Lisa, Mario membutuhkan orang sepertinya agar dapat meredam keresahan perasaannya saat ini. Terkadang sikap sok tahu dan tak tahu malu itu di perlukan disaat-saat tertentu ya.
Lisa tersenyum miring, melihat Mario yang sepertinya sudah sedikit lebih baik.
"walau aku tidak handal dengan perasaan, tapi aku tidak bodoh, untuk tahu sikapmu itu benar karna suka yang berarti ingin mengasihi kak Nayy, atau hanya ingin memilikinya saja. "
"apa maksudmu? Berbelit-belit sekali. "
Kunyah-kunyah tanpa melirik dan hanya mendengarkan gadis di sebelahnya sudah duduk menghadapnya.
"obsesi, kau hanya ingin kak Nayy bersamamu tanpa berfikir atau melihat kalau dia terlihat bahagia dengan siapa. "
"tidak mengerti. "
"cih, tetrnyata kau memang sebodoh itu ya. "
"hey, kau mau aku lempar dari balkon itu agar langsung jatuh ke panggangan dagingmu. "
Hahaha, tertawa, karna Mario mengatakannya dengan wajah menggemaskan sambil pipinya menggelembung karna banyak daging yang masuk ke mulutnya.
Tanpa sadar sepertinya pria itu kelaparan sejak tadi.
"hah, biar bagaimanapun, rileks sedikitlah pada hatimu, pertimbangkan kebahagian kak Nayy juga, mungkin sekarang ia tidak sadar karna melihatmu seperti adik sendiri atau artis yang berada dibawah tanggung jawabnya sebagai managermu, entah hanya aku atau yang lain juga menyadarinya, hubungan kak Nayy dan ketua team memang nampaknya sedalam itu, kau juga melihatnyakan?. "
Mario mengunyah halus, menatap daging di piring yang setengahnya sudah ia makan, ia hanya diam menanggapi kata-kata Lisa barusan, padahal di kepalanya sedang memutar semua ingatan senyuman kak Nayy saat bersamanya, dan benar, ia menyadari memang, kak Nayy hanya sekedar tersenyum padanya, karna mungkin ia menganggap dirinya hanyalah adik atau artis kesayangan yang ia miliki saat ini, benarkan, karna aku sudah banyak menghasilkan banyak uang untuk perusahaan tempatnya bekerja juga. Fikirnya.
Tapi meski jarang tersenyum didepan kak Vano, kak Nayy nampak menatap tulus pada laki-laki itu, ahh.. Menyebalkan sekali, harus menyadari kenyataan seperti itu.
Mario bersandar di punggung sofa, sambil masih mengunyah sisa daging di mulutnya.
"hey, kau datang tidak bawa minum? Kau ingin aku mati tersedak dagingmu ya? ".
" aku punya bir kaleng, kau mau? ".
" sialan kau".
Lalu lisa tertawa, walau samar ada senyum mengembang sedikit di bibir Mario, yah.. Sepertinya Lisa tidak semenyebalkan yang ia bayangkan, gadis ini berguna juga rupanya, walau sedikit bikin kesal dengan pembawaanya yang suka ikut campur dan sok-soan menilai orang dari sudut pandangnya, tapi kata-kata Lisa banyak benarnya juga, mungkin ia memang terlalu keras pada hatinya sendiri.
Mereka larut dalam obrolan ringan, saling mengejek dan saling bertukar cerita pengalamannya di dunia entertaint yang sekarang mereka geluti,setidaknya malam ini Mario tidak sendirian, ia sedikit melupakan patah hatinya yang ia buat-buat sendiri.
Sesekali lisa tertawa dan tersenyum, jiwanya yang bebas sekarang seperti terkunci pada wajah Mario yang ada di hadapannya, sedang mengeluh dan memakinya kalau ada tanggapan yang bikin ia kesal, ah.. Ternyata benar kata kak Nayy, dia terlihat menggemaskan jika kau mengenalnya lebih dekat.
Bersambung😊
__ADS_1