Benci Yang Merindu

Benci Yang Merindu
memilih Darren


__ADS_3

srek..


Yara terkejut karna tiba-tiba sebuket bunga jatuh di atas meja kerjanya, ia mendongak melihat pelakunya adalah Vano yang sedang menatapnya sedikit kesal.


Gara-gara gadis itu aku jadi kehilangan moment untuk menggoda Yara.


Dengan wajah bingung, Yara tidak tahu harus bicara apa, alhasil agak lama ia menatap Vano dan bunga di atas mejanya secara bergantian.


"untukmu saja".


Tukas Vano akhirnya, Yara langsung menyentuh buket bunga itu dan mendekapnya, tapi raut wajahnya tidak suka dengan sikap Vano.


" inikan pemberian Moana kak, kenapa diberikan lagi ke orang lain?. "


Yara memanggil dengan kata "Kak" karna hanya dia dan Vano ditempat kerjanya, Alfian dan Medi sedang membeli kopi di luar.


"kau bukan orang lain. " ketus Vano


"kalau aku jadi Moana, aku akan sedih mengetahui pemberianku yang tulus di berikan keorang lain. "


"cih, apa-apaan sih, itukan cuma bunga. "


Dengan wajah malas Vano membuang pandangannya kesegala arah, merasa Yara tidak mengerti maksudnya kalau ia tidak ingin pemberian dari gadis manapun kecuali dia, makanya ia tunjukan itu pada Yara, hanya untuk memberi tahunya kalau ia tidak menerima apapun dari gadis manapun.


Kalau seperti itu memangnya dia fikir Yara akan mengerti? Tentu tidakkan, sepertinya julukan Vano bodoh dari Darren memang benar adanya.


Melihat wajah Vano yang sudah bete dan sedikit kesal membuat Yara agak takut kalau ia jadi sasaran kemarahan Vano yang gak jelas, alih-alih menyudutkannya lagi Yara sebaiknya mengambil situasi aman untuknya.


"lagi pula, kalau kakak ingin memberiku bunga, kenapa harus pemberian dari orang lain, kakakkan bisa membeli sendiri dan memberikannya padaku".


Pancingan Yara berhasil, lihatlah, wajah Vano mengembangkan senyum yang nampak tersipu dan bahagia mendengar kalimat dari Yara barusan.


" jadi kau ingin bunga dariku? ".


Kedua tangannya menyangga tubuhnya di atas meja kerja Yara, tatapannya lurus menatap Yara yang masih memeluk buket bunga.


Gadis itu termakan kata-katanya sendiri, tersadar kalau ternyata bicara begitu malah membuatnya jadi malu menatap wajah Vano.


" aku hanya... Memberi saran kak, aku bilangkan kalau, jika tidak mau juga tidak apa-apa. "


Ia menutupi wajahnya dengan bunga, itu semakin membuat Vano tersenyum, ah... Dia lucu sekali.


Fikirnya.


"aku akan berikan, tapi dengan syarat, temani aku sampai malam ini. "


Mata Yara langsung membelalak, karna ia menangkap sinyal nakal dari kedipan mata Vano terhadapnya, mulutnya sudah ingin terbuka tapi tertahan karna suara Medi dan Alfian sedang berjalan sambil mengobrol mengarah ketempatnya.


Vano berdiri tegak, memiringkan senyumannya, ia menikmati kegelisahan Yara yang menatapnya panik, ia berbalik, ingin masuk ke ruangannya, melambai kecil pada Yara sebelum akhirnya tubuhnya tenggelam di balik pintu yang tertutup rapat.


"bunga dari Moana? Kok sama kamu? Bukannya buat presdir atau ketua team ya?. "


Medina menyadarkan Yara yang tadi terpaku sebentar, segelas kopi diberikannya pada Yara dengan wajah berkernyit halus menunggu jawaban.


"em oh ini, ini buat ketua team, aku disuruh mencari vas bunga untuk di letakkan di mejanya nanti. "


Alasan yang bagus, fikir Yara, Medina mengangguk mempercayai kata-kata Yara, akhirnya mereka kembali duduk di kursi kerja mereka masing-masing, tapi Yara masih sedikit melamun memikirkan kata-kata Vano barusan.


Menemaninya sampai malam ini


Aaaaa.... Aku berfikiran apa sih


Dengan cepat kepalanya menggeleng-geleng, berharap fikiran aneh yang bermunculan di kepalanya hilang terbang entah kemana.


#


"kami duluan ya Nayy, ah.. Lelah sekali, rasanya ingin berendam air hangt di cuaca seperti ini. "


Medina dan Alfian berpamitan, memang jam pulang kerja sudah lewat dua menit, mereka biasanya akan pulang satu persatu jika meja kerja mereka sudah rapih dan pekerjaan yang di targetkan sudah masuk ke berkas.


Yara mengangguk dan melambaikan tangan, karna ia juga sebentar lagi akan selesai, Alfian memberikan berkas yang akan di bahas untuk meeting besok, itu artinya ia harus menemui Vano dulu sebelum meninggalkan kantornya.

__ADS_1


"sampai besok Nayy. "


Alfian melambai, menggemblok tasnya dan segera melangkah menyusul Medi.


Tinggal Yara sendiri, ia menatap pintu yang masih rapat disana, sejak tadi orangnya belum keluar, itu artinya ia harus mengetuk pintu itu agar dapat memberikan berkas di tangannya.


Dengan keberanian yang sudah terkumpul, Yara bangun dari duduknya, ia melangkah ke dekat pintu, memegang hendel dan mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali.


"apa aku boleh masuk kak?. "


Suaranya perlahan, lalu secara tiba-tiba pintu itu tertarik terbuka kedalam, membuat Yara yang tangannya tadi di hendel pintu refleks ikut tertarik kedalam, tubuhnya limbung dan hampir terjatuh tersungkur jika tidak cepat-cepat sebuah tangan menggapainya, ia menabrak sebuah dada bidang dengan harum maskulin, dua tangan mendekap bahunya erat, hidungnya kini menempel di dada bidang itu.


Vano tersenyum, hidungnya sedikit menyentuh pucuk kepala Yara,wangi shampo murahan nampak membius penciuman Vano, beberapa detik ia terhipnotis pada bau itu, bau Yara yang menenangkan, tanpa sadar ia mengeratkan pelukan tangannya di bahu Yara.


"kak ! ".


Suara Yara menyadarkan, lalu tangan itu mengurai dengan sendirinya, wajah salah tingkah nampak terpancar pada keduanya, Yara sampai pura-pura menyelipkan rambutnya ketelinga, sedangkan Vano menggoyangkan bahunya sebentar mempersiapkan diri untuk terlihat cool lagi di mata Yara.


" aku menunggu sejak tadi. "


kata-kata pertama yang Vano ucapkan malah membuat Yara semakin salah tingkah.


"hah? ". Penuh tanya dan bingung


" berkasnya, kau mau memberikan inikan?. "


Tangan Vano meraih berkas di tangan Yara tadi, gadis itu tergagap sebentar dan langsung mengguk-ngangguk mengiyakan.


Dan yang terjadi selanjutnya adalah salah tingkah mereka berdua yang entah akan berujung kemana.


"masuklah".


Vano berjalan kembali memasuki ruangannya yang selalu rapih dan kinclong, saat Yara menatap meja kerja disana, ia jadi ingat sesuatu.


" sebentar kak"


Yara berlari menghampiri meja kerjanya dan kembali secepat yang ia bisa kedalam ruangan Vano lagi sambil membawa sebuah vas bunga yang tadi sudah ia isi dengan bunga anyelir pemberian Moana.


"mereka akan mati, tidak akan bertahan lama. "


Tukasnya, sambil berjalan menuju sofa minimalis yang ada di dalam ruangan itu, Vano duduk menyilangkan kakinya yang jenjang, sambil matanya tetap focus pada Yara.


"setidaknya mereka masih cantik menghiasi ruangan ini, sampai saatnya tiba mereka layu, aku akan berusaha merawatnya untuk kakak. "


Berjalan ikut duduk di sebelah Vano, karna sofa minimalisnya bisa di gunakan dua orang, dan masih menyisakan sedikit jarak antara mereka.


"cih, tidak usah terlalu keras bekerja, kau akan lelah nanti. "


"tidak apa-apa, aku senang melakukannya. "


Yara tersenyum, ia mencoba mengungkapkan kalau ia benar bahagia melakukan pekerjaannya meski hanya sekedar merawat bunga.


"senang melakukannya karna itu di tempatkukan?".


Senyuman menggoda dan mata yang nampak jenaka itu mulai menjalankan aksinya pada Yara yang kini nampak terkejut atas prasangka Vano.


" bukan begitu kak, aku hanya senang merawat bunga. "


Hahah, suara tawa mengejek keluar begitu renyah dari mulut Vano, seolah-olah ia tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari seorang Yara.


"senang merawat bunga? Sejak kapan? Kalau aku tau kau senang merawat bunga, sudahku suruh Darren membuat kebun bunga buatan di atas balkon kantor kita. "


Benar, fikir Yara, sepertinya memang sangat jelas kalau ia sedang membuat alasan.


Dengan masih bertahan memasang wajah meyakinkan, Yara menatap Vano yang masih mengejeknya dengan sisa-sisa tawa di bibirnya.


"apa karna aku juga kakak akhirnya membeli perusahaan ini? ".


Tawa itu pudar, berganti dengan tatapan dingin yang entah bisa datang secepat itu dari mana, sepertinya Yara si perusak mod memang benar adanya.


" kau fikir kau se-special itu? Heuh.. Jangan bermimpi terlalu tinggi Yara, kau bukan...

__ADS_1


"bukan type kakak? ".


Kali ini Yara nampak berani menjawab dengan suara yang tegas, sepertinya ia juga lelah dengan sikap Vano padanya.


Vano terdiam, ia menelan air liurnya yang sepertinya serat sekali lewat ketenggorokannya.


" kakak selalu saja mengingatkan aku begitu, tapi kakak melarang aku untuk dekat dengan pria lain, sekarang hutang kebaikan kakak padaku sejak dulu itu harus aku bayar dengan apa? kakak benci tapi tidak mau melepas, aku dekat dengan pria lain tidak boleh, kakak ingin aku jadi perawan tua ya? ".


" apa? Memangnya kau sudah memikirkan untuk menikah? ". Mata Vano jadi berkedip-kedip tak percaya menatap Yara yang berani.


Yara menarik nafas dan membuangnya kesal.


" kakak tau, orang-orang seusiaku sudah ada yang menimang bayi atau sedang bermain dengan anaknya, jujur aku ingin menyelesaikan urusanku dengan kakak secepatnya agar aku bisa focus mencari pasangan hidupku. "


"SIAPA PASANGAN HIDUP YANG KAU BICARAKAN? ".


Tiba-tiba intonasi meninggi, Yara terkejut dan sedikit bergeser mundur dari duduknya, bagaimana ini? Dia marah sekali.


padahal Vano juga kaget dengan suara dari mulutnya sendiri, ia jadi merasa bersalah saat melihat Yara nampak agak takut menggeser duduknya.


" maksudku... memangnya siapa laki-laki yang akan serius denganmu? Mario? Bocah ingusan itu saja terlihat tidak bisa mengurus dirinya sendiri, kau berharap dia serius denganmu? Lagipula kau dan dia seperti tante dan keponakan tau. "


Yara menganga, ia tidak menyangka Vano bisa berkata begitu pada dirinya dan Mario, lagian di bilang seperti adik dan kakak kan lebih manusiawi ketimbang tante dan keponakan.


Kau fikir aku setua apa?


gumam Yara dalam hatinya menahan kesal.


"kalau aku mau serius aku juga bisa menemukan laki-laki yang mungkin akan tulus padaku, targetku memang bukan Mario, tapi kan banyak pria dewasa diluaran sana yang bisa...


Hahahaha....


Tiba-tiba tawa Vano meledak, membuat kata-kata yang sedang di ucapkan Yara berhenti dan semakin kesal menatap Vano di hadapannya yang sedang menertawainya.


" pria? di hidupmu mana ada pria Yara? Selain aku dan Darren, sejak dulu, kau hanya ada di lingkaran yang aku buat sendiri. "


"benar, kalau begitu aku akan lebih memilih kak Darren jika aku memang harus mengakhiri kehidupan lajangku ketimbang kakak. "


Lagi-lagi Yara membungkam tawa Vano, laki-laki itu menatap Yara dengan tatapan yang entah harus diartikan apa.


"kenapa Darren? ".


" kalau harus memilih antara kakak dan kak Darren aku pilih kak Darren, sejak dulu hanya kak Darren yang datang padaku meski hanya untuk menghiburku, setidaknya dia baik padaku sejak dulu, tunggu.. Kakak juga baik, hanya saja kak Darren lebih lembut dan menjagaku dengan hati-hati, tidak seperti kakak, baik tapi juga jahat padaku. "


"kalau aku yang kali ini datang menghiburmu? Bagaimana?. "


Degh..


Apa ini? Kenapa dia keliatan serius, akukan hanya asal bicara.


Yara panik sendiri dalam fikirannya.


"jangan Darren". Lanjut Vano, ia membuang nafas perlahan, suaranya sudah kembali normal dan malah terdengar sedih.


" kenapa?. "


"dia tidak menyukaimu".


" akan aku buat dia menyukaiku. "


Yara masih ngeyel dengan kata-kata asbunnya.


"AKU BILANG JANGAN".


Kali ini mereka yang kaget bersamaan karna intonasi suara Vano yang tiba-tiba meninggi lagi.


Yara sudah ingin kembali menggeser mundur lagi tubuhnya saat tiba-tiba Vano menggenggam lengannya dengan panik.


" jangan Darren, karna aku tidak bisa bersaing dengannya, kau dan dia, sama-sama milikku. "


Bersambung😊

__ADS_1


__ADS_2