Benci Yang Merindu

Benci Yang Merindu
isi kepala Devano


__ADS_3

Malam dimana ia membawa Yara pulang setelah menghilang karna kata-kata menyakitkan yang ia lontarkan pada gadis itu, Vano nampak termenung, ia berdiri menghadap jendela kaca dekat balkon kamarnya, gadis yang beberapa menit tadi ia curi ciuman pertamanya, baru saja keluar dengan wajah bersemu, meninggalkan jejak debar yang menyenangkan pada dirinya.


Tangannya ia masukan kedalam kantong celana piama tidurnya, matanya lurus menatap langit gelap tanpa bintang di ujung sana, seketika rasa bahagia tadi tergantikan dengan sendu yang berkecamuk dalam dada, ada kesedihan menelusup di sela-sela hatinya, membuat ia resah pada satu titik masalah yang belum ia temukan jalan keluarnya.


Berkali-kali ia menepis rasa itu, rasa berbunga-bunga setiap kali ia mendapatkan semua perhatian dari Yara, tatapan tulus dari gadis yang dulu selalu nampak sendu menatapnya, kini gadis itu berubah, tawa dan senyumnya selalu membuat Vano merasa hangat dan nyaman, ada kerinduan yang teramat besar kala mata itu tak saling bertemu.


Kini ia tak bisa menghindar lagi, bahkan rasanya ia sangat kecanduan dengan wangi tubuh Yara yang ia gendong dan ia kecup barusan, Yara membuat sensasi luar biasa pada tubuhnya, saat bersamanya, tangannya saja refleks ingin menariknya kedalam dekapan hangatnya.


Sentuhan yang terus berulang itu, menjadi rasa dan kenyamanan berbeda pada tubuhnya, gadis itu kini menjadi pusat dunianya.


Ah, sejak kapan itu terjadi? Fikirannya mengerucut pada peristiwa-peristiwa yang melibatkan Yara dalam hidupnya, apa sejak saat itu? Saat tatapan mereka bertemu di belakang sekolah? atau saat Brian menunjuk sosok gadis yang keluar dengan wajah polos dari pintu gerbang sekolahnya, berjalan menuju halte bus sambil menunggu bus langganannya, gadis yang selalu makan cilok di gerobak pinggir jalan dekat halte bus tempat gadis itu duduk atau berdiri sesukanya?.


Entahlah, Vano merasa kehilangan Brian adalah awal mula dari semuanya, kebencian yang tanpa sadar membuatnya memperhatikan Yara lebih dari Brian yang memperhatikannya dulu, apakah sebaiknya ia memberi tahu Yara sekarang? Tentang mengapa ia sangat membencinya sampai saat ini?.


Hatinya berubah, cara ia memandang Yara juga berubah, memperlakukannya yang terkadang membuat Yara menangis dan terharupun di luar kendali fikirannya sendiri, saat ini yang ia rasakan hanyalah ingin melihat gadis itu tersenyum dan tertawa padanya, dan keinginan terbesar di balik hatinya adalah memiliki gadis itu sepenuhnya, haruskah ia mengakhiri dendam dan benci yang dari dulu merasukinya?.


Yah..itulah keputusannya, bukankah mengubur masa lalu menyedihkan itu hal terbaik, yang terpenting baginya kini Yara tetap miliknya, meskipun mimpinya tetang Brian terus menghantui, ia yakin Brian pun akan mengerti keputusannya.


Kau yang paling mengertikan Bri? Karna perasaan seperti ini kau yang duluan merasakannyakan? Tenanglah disana Bri, biar aku yang melanjutkan menjaganya.


sambil menatap kaca, dan satu tangannya terulur menyentuh kaca itu dengan tatapan sendunya, Vano menghela nafas kesedihannya dengan berat, berkali kali isi kepalanya meminta maaf pada sosok kasat mata yang selalu ada dalam fikirannya, Brian adik tersayangnya.

__ADS_1


#


"aku akan melupakannya Gun, sekarang aku ingin menjaganya dan memeluknya dengan hangat. "


Pembicaraan saat Gun mengantarkan susu hangat di pagi harinya sebelum mereka bersiap untuk bermain air.


Gun yang tiba-tiba saja terpaku mendengar keputusan Vano secara tiba-tiba itu merasakan keresahan terdalamnya. Apa akhirnya seperti ini? Apakah ini adil untuk mendiang Brian? Ah.. Entah mengapa ada rasa tidak ikhlas saat mengetahui kenyataan yang seharusnya membuat ia lega akhirnya Vano mengakui perasaannya.


"selamat tuan, aku yakin anda melakukan pilihan terbaik yang sudah anda pertimbangkan dengan matang. "


Senyum semu nampak tak terbaca pada bibir Gun yang bergetar, separuh hatinya,masih tidak rela dengan kenyataan bahwa Vano akhirnya melupakan semuanya.


"Brian akan memaafkanku bukan? ".


" aku yakin Brian tersenyum disana, apa anda masih terus memimpikannya?. "


"hm, dia terus datang padaku. "


matanya terpejam, fikirannya sedikit kacau jika mengingat Brian dalam mimpi itu.


Setidaknya keinginan terbesarnya masih ada

__ADS_1


Tukasan Gun dalam hatinya membuat pria itu tersenyum samar, apa yang di maksud keinginan terbesar itu adalah kebencian Vano yang sampai ingin membunuh gadis itu, apa harusnya ia biarkan saja? Bukankah akhirnya gadis itu akan mendapatkan apa yang harusnya ia dapatkan saat ini.


"aku dan Darren selalu menginginkan yang terbaik untuk anda tuan, semoga anda bahagia dengan keputusan anda. "


Di balik perhatian Gun, ada getir yang tersemat dalam kata-katanya, perasaan yang dulu ia rasakan pada Yara masih sangat ia pendam di relung hatinya, sama seperti Vano, membenci Yara adalah jalan yang ia ambil setelah kejadian kehilangan Brian untuk selama-lamanya, tapi bedanya, Vano lebih memilih menunjukan perasaannya sekarang, sedangkan Gun, masih harus memendam perasaan itu, Yara yang sejak dulu ia kagumi bersama Brian, harus ia bungkus dengan kebencian kekecewaan.


Detik kecelakaan di perahu no. 4,sebagian tali pengikat sengaja terikat dengan longgar oleh Gun, pada akhirnya mendayung perahu berisi angin itu sedikit tak seimbang, sehingga saat melewati arus yang agak deras, mereka nampak oleng dan Vano yang duduk di bagian paling depan harus menahan tekanan arus lebih ekstra, membuat pria itu terlempar dan terbentur.


Yah.. Kecelakaan itu memang nampak tak sengaja , tapi itu sudah di perhitungkan oleh Gun yang sangat tahu tentang Vano, ia tidak bermaksud membuat Vano terluka parah, baginya ini hanya peringatannya karna Vano berani mengakhiri semuanya tanpa merasa bersalah pada Brian dan masa lalunya.


#


Baiklah, mari lupakan semuanya, saat ini aku hanya ingin memilikimu Yara, mendekapmu dengan perasaan yang sejak dulu tidak pernah berani aku ungkapkan, tertawalah di sampingku meski aku sesekali berkata kasar dan menyakitkan padamu.


Andai Brian masih ada, apakah ia merestui ini? Tidak, bukankah jika dia masih ada, aku akan kalah padanya, kau pasti lebih tertarik padanya, karna dia yang lebih dulu memperhatikanmu, dia yang lebih dulu menyukaimu, dia yang selalu bercerita dengan bahagia saat menyebut namamu, apalah aku yang hanya mengenalmu lewat ceritanya, apakah kau masih melihatku jika saat ini Brian masih ada?


Dalam fikiran gelapnya, Vano tersadar disaat air keluar dari dalam mulutnya, ia meringis kesakitan karna luka di pelipisnya, setelah sepenuhnya kesadaran itu kembali, hal yang ia lakukan adalah mengomel pada staf wahana arum jeram yang tidak memperingati akan ada arus deras yang akan datang di sungai tadi, kakinya sedikit kram, dan tubuhnya kedinginan meski selimut kini melilitnya.


Lalu menyuruh semua orang pergi saat ia ingin berbaring dan memejamkan mata sebentar, fikirannya masih mengingat Brian dan Yara bergantian ketika tiba-tiba pintu itu berderik lagi dan sosok yang ia ingin lihat sejak tadi muncul dengan mata sembab dan sendu, semua orang tahu dan bisa melihat kalau gadis itu habis menangis, siapa yang kau tangisi Yara? Apa kau mengkhawatirkan aku?, pertanyaan dalam hati Vano, membuat pria itu tersenyum sendiri sambil bergerak bangun dan duduk dengan tubuh tegak, perasaan yang kini selalu timbul disaat mereka sedang berdua, ah... Aku ingin menciumnya lagi.


Fikir Vano, dan itu akan ia lakukan bukan?.

__ADS_1


Bersambung😊


__ADS_2