
Medina nampak kewalahan saat memisahkan Lisa dari Gea, salah satu model utama bintang iklan produk kecantikan yang sekarang sedang mereka jalani bersama, produser sudah berkacak pinggang sambil teriak-teriak untuk menghentikan dua gadis yang tengah bergelut itu, bahkan beberapa kru membantu memegangi tubuh Lisa yang sekarang naik ketubuh Gea yang sudah terjerembab tapi masih meraung-raung berusaha mencakar tubuh Lisa di atasnya.
"ya tuhan aku mohon Lisa hentikan. "
Medi mulai pasrah, ia hampir menangis, wajahnya kena tangkis dari tangan Lisa, tenaga gadis itu benar-benar di luar nalar wanita bertubuh kecil mungil seperti dia.
"Lisaaaa... ".
Suara Yara berlari, membuat Medi sedikit lega, saat mulutnya sudah ingin terbuka mau menjelaskan ia terkejut karna Yara langsung menyambar tubuh Lisa, tangannya menarik tubuh gadis itu dan memisahkannya dari tubuh Gea yang sedang berada di bawah, kru yang tadi membantu sekuat tenaga untuk memisahkan ikut terkejut melihat reaksi Yara yang nampak lebih kuat dari Lisa, padahal tubuh dua gadis itu sama-sama terlihat kecil, hanya beda di tinggi badan saja.
Sekarang Lisa dan Gea saling menarik rambut lagi, dengan deru nafas menggebu dan mata memicing amarah, Yara berdiri di tengah-tengah mereka mencoba memisahkan.
"lepaskan Lisa. "
perintah Yara tak di gubris Lisa yang sudah nampak berantakan dengan rambut macam singa di padang ilalang.
"mana aku sudi, suruh dia minta maaf lebih dulu. "
Suara Lisa menggelegar ke ruang satu studio
"cuh.. ".
Dengan mulut yang nampak membuang ludah, Gea tidak mau kalah, cengkraman di rambutnya semakin kencang seiring tatapan matanya yang nampak nyalang.
" heuh, kau fikir kau siapa berani menyuruhku meminta maaf, salahkan nasibmu yang memang terlahir dari kasta terendah, jangan bermimpi untuk bersaing apa lagi bersanding denganku yang lebih dulu ada didunia impian seperti ini, kau hanya samapah dalam cameraku. "
"kalau aku sampah kau itu tempatnya sampah, sini, biar aku beri tahu gunanya tempat sampah sepertimu harus bagaimana. "
Haaaaahhhh..
Tarik menarik sudah akan terjadi saat dengan sigap Yara memelintir tangan Lisa yang satunya kebelakang tubuhnya, dengan pergerakan kaki secepat kilat Yara mendorong tubuh Gea, dua gadis di tanganya terpisah dengan cara melepaskan jeratan di kepala mereka masing-masing, sambil meringis kesakitan, Lisa dan Gea masih saling menatap kebencian dan amarah yang masih menyala.
"aku mohon, ayo selesaikan ini dengan bicara baik-baik". Lanjut Yara, ia mengendurkan cengkramannya pada tangan Lisa, sedangkan kakinya masih menahan tubuh Gea disana.
__ADS_1
" sampai matipun aku tidak ingin berdamai dengannya kak. " ujar Lisa dengan rahang yang mengeras.
"laporkan ini atas tindakan penyerangan dan percobaan pembunuhan, aku akan tuntut siapapun yang berusaha melindunginya, kau dengar. "
Gea menatap asistent pribadinya yang berdiri ketakutan di dekat Medi sejak tadi, tangannya menepis kaki Yara yang menahannya tadi, lalu ia melangkah pergi dengan kesal, memukul apa saja benda yang ia lewati dengan teriakan yang memekakkan telinga siapa saja yang mendengar, dibelakangnya si asistent berlari kecil mengikuti.
Yara sudah berdiri di hadapan Lisa, menghembuskan nafas kecewa sambil tangannya berkacak pinggang menatap Lisa yang sangat berantakan, ada luka goresan panjang di lengan gadis itu, nafas Lisa masih memburu, meski di pandang Yara dengan lekat, ia sudah siap jika Yara marah dan memakinya.
"apa itu sakit? Kau baik-baik sajakan? apa kepalamu terbentur?".
Kata-kata yang tak terduga dari Yara memadamkan amarah Lisa yang tadi masih tersisa, matanya berair tapi ia menahannya, sekuat tenaga.
" kak, apa kau percaya padaku?, aku akan mematahkan lehernya kalau saja kakak tidak datang memisahkan tadi. "
tukasnya denga nada ketus dan senyum tinggi yang sinis.
"tentu, seharusnya kau juga memotong lidahnya sampai dia berhenti bicara. "
Lisa semakin ingin menangis, sekuat tenaga ia menahannya samapai tangannya mengepal keras.
" memakilah sesuka hatimu Lis, sumpahi dia sebagaimana dia memakimu tadi, tapi aku akan tetap mencari tahu apa yang terjadi dan siapa yang benar atau salah, siapa yang memulai atau mengompori, saat ini aku akan bicara dengan produser dan sutradara terlebih dahulu, pergilah dengan Medi untuk mengobati lukamu, kita bicara lagi nanti, ok. "
Lisa menatap punggung Yara yang menjauh, di ujung sana produser sudah berkacak pinggang memelototinya, terlihat Yara membungkukkan tubuhnya untuk menyapa sang produser.
Helaan nafas yang keluar dari mulut Lisa terasa berat dan sesak, ia baru tersadar saat Medi menghampirinya dan menarik tangannya untuk pergi dari tempat ini, seperti yang di perintahkan Yara, Medi harus membawa Lisa untuk di obati, bahkan Medi berniat melakukan visum sekalian, untuk jaga-jaga kalau-kalau nanti di butuhkan.
#
berita perkelahian Lisa sampai juga di telinga Vano, laki-laki itu langsung menelfon Darren dan memaki dengan lantang karna lagi-lagi Yara yang di buat repot oleh para artis tidak berguna itu.
"sebenarnya apa yang kau kerjakan bodoh? para artismu terus saja membuat masalah dan merepotkan Yaraku tahu, memang sebaiknya aku tutup saja perusahan konyol ini ya?. "
Darren hanya menghela nafasnya, ia tahu tingkat kebucinan seseorang kalau sedang jatuh cinta memang akan lewat dari nalar orang normal, untuk itu ia hanya bisa meminta maaf pada tuannya yang sangat percaya padanya itu.
__ADS_1
"maafkan saya tuan, segera akan saya bereskan secepat mungkin. "
Tukas Darren mengalah saja, fikirnya
"aku tidak ingin dia membungkuk terus pada orang-orang bodoh itu, kenapa dia memilih pekerjaan konyol ini sih? Beri saja pesangon pada orang-orangmu dan suruh mereka pindah bekerja di perusahaan papahku. "
Sebenarnya itu terdengar asal bicara saja di telinga Darren, tapi ia tahu Vano akan serius merealisasikannya kalau ia mengiyakan saran yang nampak mudah itu, yah... Darren cukup tahu diri kalau ia hanya bawahan yang di angkat derajatnya oleh seorang CEO baik hati dari seorang presdir murah hati.
"tapi Nayyara terlihat bahagia dengan pekerjaannya sekarang tuan, bukankah itu yang selalu anda lihat dan katakan?. "
Sialnya apa yang dikatakan Darren benar adanya, ia membuang nafasnya kasar dan melipat bibirnya menjadi satu garis lurus, ekspresi tidak bisa membantah kata-kata Darren namun ia juga gelisah dengan kenyataan.
"urus sampai tuntas, aku tidak ingin Yara kelelahan melakukan tugasnya, dan sebaiknya kau bersiap saat bertemu denganku nanti. "
Akhirnya hanya ancaman yang keluar dari mulutnya, ponsel di tangannya langsung mati tanpa kata-kata pamit, Darren di seberang sana juga mematikan ponselnya dengan lesu, mengurus ini dan itu nampaknya membuat ia kelelahan juga, belum lagi teror telfon dari presdir dan Nyonya yang selalu menanyakan kapan pertemuan dengan Yara di realisasikan, ah.... Apa sebaiknya ia juga mencari pasangan ya agar bisa mengadu ini dan itu di saat-saat seperti ini?
Lintasan pemikiran yang membuatnya tersenyum getir sendiri, wanita dalam hidupnya tidak pernah ada, akan aneh bukan rasanya jika tiba-tiba ia menjalin hubungan intens pada makhluk bersifat aneh seperti itu, Yara saja hanya di anggapnya seseorang yang harus ia lindungi demi kesetiaannya pada tuannya, bagaimana bisa ia ingin memiliki wanita dalam hidupnya, sedangkan kelembutan seorang wanita tidak pernah ia merasakannya.
Fikirannya kembali pada Lisa, ah.. Si gila itu, sebenarnya saat debut dulu Darren sudah punya firasat kalau wanita itu akan membuat masalah seperti ini, dilihat dari sifat Lisa yang nampak bebas dan suka dengan tantangan, kali ini apa yang terjadi sebenarnya dengan gadis itu? Sambil menunggu kabar dari Yara, Darren memilih menyibukkan diri dengan berkas di atas mejanya, mulai focus kembali dengan pkerjaan yang selaku datang silih berganti.
Tok.. Tok.. Tok
Suara pintu di ketuk, Darren menyuruh masuk, sekertarisnya menyambulkan kepala dari balik pintu.
"maaf pak, seorang pengacara datang ingin menemui bapak. "
"oh, salah satu staf pengacara rupanya, benar aku sedang menunggunya, suruh dia masuk. "
Darren berjalan menuju sofa di dalam ruangannya, meninggalkan kursi kerja yang tadi sempat membuatnya penat, lalu matanya menangkap sosok tubuh tinggi semampai dengan sepatu berhag tinggi warna maroon menghiasi kaki jenjangnya.
Wanita itu tersenyum, menyapa Darren dengan tundukan kecil kepalanya, rambut bob yang rapih itu nampak hitam dan indah, langkahnya maju mendekat pada Darren yang berdiri menyambutnya.
"saya Anita, dari staf pengacara yang di tunjuk perusahaan untuk kasus nona Lisa, senang bertemu dengan anda. "
__ADS_1
Uluran tangan itu nampak hangat, Darren menyambutnya dan menjabatnya dengan senyuman khasnya yang selalu tampak mempesona dimata siapapun yang melihatnya.
Bersambung😊