
Tujuh hari terlewat, berjalan sebagaimana mestinya, Yara bekerja sesuai yang biasa ia kerjakan, tapi entah mengapa semua yang ia rasakan terasa aneh, Devano tidak seperti ketua team pada umumnya, di hari pertamanya mereka meeting bersama, Yara melihat gelagat mencurigakan Devano yang selalu berkernyit atau bertanya padanya tentang apapun yang ia tidak mengerti dalam berkas.
Lalu istilah-istilah dalam dunia pekerjaan entertain yang selalu digunakan untuk kata-kata sehari-hari saja Devano masih terlihat kesulitan, sampai pada akhirnya laki-laki itu terus menerus bertanya pada Yara, gadis itu jadi berfikiran, apakah Devano sedang kembali mengganggunya atau memang ternyata laki-laki itu memaksakan bekerja yang bukan keahliannya.
"sekarang kau hebat ya, sepertinya sudah tidak membutuhkan perlindungan lagi seperti dulu. "
Tukas Devano, ia sedang berada di kursi kerjanya sedangkan Yara tengah memberikan ulasan pada berkas yang sedang mereka lihat di notebook.
"hm, semuanya berkat kakak, terimakasih karena sudah memberi banyak bantuan padaku dulu. "
"cih, ternyata kau bukan orang yang kacang lupa kulitnya ya, baguslah, setidaknya aku tidak perlu repot-repot mengingatkanmu jika aku ingin menagih hutang-hutangmu padaku. "
"iya kak, aku siap kapanpun kakak menagihnya. "
Yara menunduk dengan dalam, menghindari tatapan mata itu, wajah mereka agak terlalu dekat jadinya, karna Devano terus memajukan wajahnya mencari tatapan menyedihkan milik Yara.
"wow, sombong sekali ya kau, kau fikir aku akan menagih semua itu dengan uang yang kau miliki saat ini. "
Tatapan mereka bertemu, Yara sedikit terkejut dengan kalimat Devano barusan, laki-laki itu akhirnya menarik senyum jahatnya.
"apa yang harus aku lakukan kak? sebenarnya apa yang kaka mau dariku? Aku harus memberikan apa agar hutang-hutang ini lunas menurut kakak?"
"tubuhmu"
Seketika Yara menarik wajahnya dari hadapan Devano, pria itu tiba-tiba terkekeh karna melihat wajah Yara yang langsung pucat pasi dibuatnya.
Hahaha...
"apa yang kau fikirkan? Kau fikir kau menarik buatku? Dengar Yara, bahkan kau telanjang sekalipun dihadapanku, tak pernah ada minat aku untuk menyentuhmu. "
aku juga tidak berharap kau menyukaiku kak, apa lagi samapai mau menyentuhku.
"tolong.. Bicaralah yang jelas kak, aku tidak ingin kakak terus membenciku tanpa aku tau apa salahku padamu selama ini. "
Senyum mengejek itu hilang, berganti dengan tatapan kebencian yang mematikan.
"aku sudah bilang, teruslah ingat itu, aku yang membencimu, dan.. Harusnya itu tugasmu untuk mencari tahu bukan?. "
Devano bersandar pada kursinya, melihat gadis itu langsung terdiam nampak berfikir keras membuatnya senang, ekspresi menyedihkan itu sangat menghibur hatinya.
Teruslah terlihat menyedihkan yara, akan aku buat kau berada dalam nerakaku seperti dulu.
#
Pulang bekerja adalah hari-hari yang sangat menyenangkan selama ini yang Yara rasakan, karna dia akan berjalan kaki dari lobi gedung perusahaannya sampai ke halte bus yang tak begitu jauh jaraknya.
Ia akan menikmati setiap hembusan angin atau tetesan gerimis yang akan menyambutnya di sore hari, dan ia juga akan sedikit berkhayal tentang segala keinginannya yang masih didalam isi kepalanya.
__ADS_1
Begitula cara ia menikmati hari-harinya selama ini, dia akan dapat bonus kalau-kalau Darren menghampirinya dan mengajaknya untuk pulang bersama.
Yaahh.. Kekagumannya terhadap laki-laki itu memang hanya sebatas pengagum biasa, Yara tidak ingin memikirkannya untuk menjadi lebih, karna kalau itu terjadi, betapa sangat tidak tahu dirinya aku. Fikirnya
"harusnya kau sudah bisa membeli kendaraan, setidaknya untuk dirimu sendiri. "
Suara seseorang yang tiba-tiba berada disebelahnya berdiri membuat Yara kaget setengah mati, ia memang sedang menunggu bus datang di halte seperti biasanya.
"kak vano? ".
Refleks Yara menyebut nama yang hanya ada dalam fikirannya, ia langsung mengalihkan wajahnya tidak berani menatap Devano, takut laki-laki itu mendengarnya.
Tapi Devano memang sudah mendengarnya, untuk hal itulah ia menatap Yara yang nampak salah tingkah, bibir pria itu melipat menahan senyum.
"vano? Jadi kau punya panggilan khusus untukku?".
itu bukan panggilan khusus tau, itu hanya penyebutan namamu secara pendek agar lebih memudahkan ku
" euu.. Kakak kenapa disini? Tidak bawa mobil atau kendaraan lainnya? Atau kenapa kakak tidak pulang bareng presdir?. "
Menghindari pertanyaan Devano yang akan mengarah pada kalimat panjang nanti, Yara tersenyum saja pura-pura tak mendengar.
"mana ada bawahan sepertiku pulang bareng presdir? Kau sendiri saja berjalan kaki sampai ke sini. "
Seperti biasa, jawabannya selalu ketus dan mengundang kekesalan, dari awal Yara memang sudah curiga pada dua pria yang selalu kemana-mana berdua itu, tiba-tiba datang yang satu menjadi boss diperusahaannya padahal Yara sangat tahu dulu Darren lebih ke ajudannya Devano, dan yang satu tiba-tiba jadi ketua team manager, padahal dari dulu ia terlihat bossy dan sangat menonjol kalau soal harta kekayaan.
"apa aku boleh bertanya? ".
tukas yara akhirnya, ini hanya untuk sekedar memastikan kalau ia lagi-lagi memang sedang masuk dalam permainan konyol laki-laki ini, walaupun Yara sudah tau jawabannya.
" kenapa? Penasaran ya kenapa sekarang aku setampan ini?. "
Senyum kesombongannya tak pernah lupa ia perlihatkan.
"apa kakak bangkrut?. "
"apa? Kenapa kau berfikir begitu? Oh, hanya karna aku terlihat tidak membawa kendaraan kau fikir aku jatuh miskin? Dengar Yara, walaupun aku jatuh miskin sekalipun, aku tidak akan menjadi stau level denganmu, kau harus tau batasanmu. "
Justru karna aku menjaga batasanku, seharusnya kakak tidak melewati batasanku, padahal aku juga tidak ingin masuk ke perbatasanmu.
"yah, aku mohon maaf jika aku melewati batasan kakak, maka dari itu, aku mohon jangan menyapaku jika kita bertemu di luar pekerjaan seperti ini. "
Seketika Devano memelototi Yara, gadis itu nampak serius dengan ucapannya dan itu membuat ia sangat kesal.
"Hey, kau, sombong sekali ya, apa karna kau merasa kini kau punya banyak uang yang kau hasilkan? Sampai-sampai berani sekali berkata seperti itu. "
"karna aku sedang menjaga batasanku, aku kan tidak tahu batasan kakak sampai dimana, daripada aku membuat kakak kesal bukankah lebih baik kita hanya menyapa saat sedang bekerja saja. "
__ADS_1
"tidak usah sombong membuat batasan padaku, kau tidak dengar ucapanku di kantor tadi, tubuhmu itu milikku, jangan memberi batasan padaku, aku yang akan selalu memerintahmu, mengerti?. "
Devano berkacak pinggang, ia nampak menantang Yara dengan kata-katanya yang selalu mengintimidasi, akhirnya Yara hanya bisa terdiam, ingin membantahpun pastinya tidak akan semudah itu, karna laki-laki ini hanya ingin di dengar saja.
"kenapa tidak menjawabku? Bukankah sekarang ini kau senang menjawabku?. "
Memangnya aku bisa selamat kalau menjawabmu?
"tidak kak, maafkan aku". Yara membungkuk dan kembali terdiam, ia mengalihkan matanya melihat ke arah bus yang sudah nampak, sebentar lagi busnya datang, ia bisa menghindari laki-laki inikan?
Tapi saat bus itu hampir mendekat dan berhenti di hadapannya, seketika tangannya di raih oleh Devano, pria itu mencengkramnya kuat-kuat, membuat si pemilik tangan kaget dan menatapnya kesal.
" tunggu kak, itu bus aku, kita mau kemana? ".
Pria itu hanya menarik Yara menjauhi halte, sedangkan Yara menatap sedih busnya Berhenti dan pergi lagi saat sudah tidak ada orang lagi yang naik dan turun disana.
#
Kenapa dia membawaku kesini
Yara duduk dengan lesu, ia melirik jam ditangannya, sudah malam, ayahnya pasti menunggunya pulang, tapi orang yang baru saja menarik tangannya dengan paksa ini malah duduk tenang di hadapannnya sambil mengunyah semua makanan yang ada di atas meja.
" kenapa menatapku? kau takut aku meracuni makananmu? ".
Kunyah-kunyah lagi, sepertinya Devano sangat menikmati makanannya.
Hah.. Akhirnya Yara mau tak mau meraih sendok garpunya, ia menyuap makanannya sedikit demi sedikit, dengan perasaan kesal dan sedikit ingin marah sebenarnya, tapi bukankah ia tidak boleh begitu pada laki-laki ini.
" padahal kakak tinggal bilang kalau ingin mengajakku makan malam, tidak usah menarikku seperti tadi. "
"cih, kemana kekuatan bela dirimu selama latihan, aku menarikmu saja kau tidak ada perlawanan sama sekali, bagaimana kalau orang lain yang melakukan itu? Apa kau akan diam saja? ".
mengomel dengan mulut penuh makanan, lalu mengunyah lagi dan lagi, itu membuat Yara tersenyum menahan tawanya.
" karna yang melakukannya kak Devano makanya aku biarkan. "
Devano jadi menatapnya hangat, tapi hanya sebentar, pria itu lalu membuang wajahnya menatap makanan di depannya, takut Yara menyadari kelemahan tatapan matanya.
"kau fikir aku akan tersentuh? Lalu menjadi baik padamu? ".
" tidak, aku memang tidak akan melakukan sesuatu yang kasar pada kakak, seperti membanting kakak atau memiting leher kakak jika aku tau itu kakak, sebaliknya aku akan melakukannya kalau itu orang lain. "
"heuh, terdengar patuh ya, sepertinya kau mulai sadar dengan posisimu. " devano tersenyum sinis
"benar, aku akan patuh dan akan bersikap seperti anjing peliharaanmu kak, jadi.. Lakukanlah apapun yang ingin kau lakukan padaku,aku tahu, karna aku memang harus masuk ke Nerakamu. "
Penyerahan diri, Devano terpaku mendengarnya, gadis itu bukan Nayyara yang ia kenal dulu, kini Yara menatapnya dengan tegas, matanya membalas setiap picingan mata yang Devano berikan, kenapa? Kenapa gadis itu berubah, ini seperti melenceng dari perkiraan Devano selama ini.
__ADS_1
Bersambung😊