
Nayyara nampak melamun, ia duduk di sofa yang berada dekat jendela kaca besar di sampingnya, Vano membawanya ke restoran cepat saji yang sedang ramai di gandrungi remaja-remaja beberapa tahun ini, tapi entah apa maksud Vano membawanya kesini, sejak tadi Yara sudah menyadari ada hal aneh, karna ruangan yang sedang ada mereka sekarang nampak sepi tanpa pengunjung, dan Yara tahu ini semua ulah Vano.
Kepalanya menoleh menatap jalan yang nampak lengang di sore hari lewat jendela kaca itu, ada helaan nafas halus keluar dari mulutnya, sambil menunggu Vano yang entah kemana , Yara kembali mengingat Anita, wanita cantik dari masa putih abu-abunya dulu.
adegan saat ia disiram dengan sekeranjang sampah didekat lapangan sekolah, meski bukan Anita yang melakukannya, tapi gadis itu ada diantara gerombolan para pembully itu, hanya menatap tanpa ekspresi.
Tidak hanya itu, saat semua ancaman yang bertubi-tubi datang pada Yara, tas sekolah yang di gantung di loteng atap gedung, sepatu yang di siram dengan air kotor bekas mengepel, dan kursi duduknya yang di beri permen karet, semua itu di lakukan dengan sengaja oleh teman-teman Anita, yah.. Dulu mereka bergerombol seperti lebah, karna jika mereka hanya sendirian, kekuatan mereka hanya sebatas ancaman omong kosong saja.
Dan dalam setiap kejadian itu, ada Anita yang selalu tanpa ekspresi menatapnya, hanya helaan nafas kesal dan kerisihan saat teman-temannya melakukan itu, meski sepertinya ia menolak untuk membully Yara kala itu, tapi posisinya memilih ia tidak bisa melakukan apa-apa, dan Yara tahu itu.
"maafkan aku. "
Suatu kala di lorong toilet sekolah yang sepi, saat Yara membersihkan wajah dan rambutnya yang basah tersiram air minum di kantin, Anita menyodorkan sapu tangannya, dengan wajah yang tidak ingin menatap Yara langsung, karna mungkin ia takut ketahuan oleh teman-temannya.
Yara tidak berkata-kata apapun, ia juga tidak berniat untuk meraih sapu tangan itu, tapi dengan gerakan cepat Anita menaruh sapu tangannya di tangan Yara dan segera pergi, sejak saat itu, didalam loker sekolah Yara selalu menemukan benda-benda pemberian Anita.
Coklat, susu kotak, snack, handuk kecil, plester, obat luka, salep dan lain-lain yang bisa Yara gunakan sehari-hari, selalu ada memo kecil terselip disana dengan tulisan tangan Anita dengan kata "Maaf".
Dan selama itu pun mereka tidak pernah bicara sepatah kata pun, saling menghindar satu sama lain meski berpapasan di sekolah ataupun di jalan, Yara yang juga tidak ingin dekat dengan siapapun, dan Anita yang cuek namun perhatian setiap kali Yara dapat bullyan dari temannya,dalam diam, mungkin mereka berteman, tapi Yara tidak bisa menerima masa lalu itu, melihat Anita akan mengingatkannya kembali pada jaman kebodohannya dulu.
"sedang lihat apa ? ".
Suara Vano menyadarkan kembali Yara yang tadi menatap jalan dengan tatapan kosong, kini kepalanya menoleh pada Vano yang sudah duduk di sebelahnya.
" kakak, tidak ada, aku hanya sedang melamun, kakak dari mana saja?. "
Senyum Yara sedikit menghipnotis Vano, entah kenapa akhir-akhir ini matanya selalu silau dengan wajah gadis di hadapannya, selalu merona dan kadang hanya memikirkannya saja ia merasa hawa panas perlahan menghangat menguasai wajahnya, ehem, untuk mengalihkan grogi di tatap begitu dalam oleh Yara, ia berdehem dan langsung menyentuh tangan Yara, sejak tadi ia sudah sadar ada goresan luka di dekat telapak tangan gadis itu.
Tanpa berkata-kata, sebuah salep luka dan plester menjawab pertanyaan Yara tadi, gadis itu semakin tersenyum haru melihat Vano yang sangat perhatian padanya, ia saja tidak tahu ada luka disana, mungkin bekas melerai perkelahian tadi, tangannya tergores kuku milik Gea.
Vano meniup lukanya dengan lembut, tatapan Yara menajam menatap wajah itu, ada debar halus di dadanya, seketika ia merasa ini seperti mimpi, benarkah orang ini kekasihnya? Apa tidak apa-apa menginginkan pria sebaik ini untuknya? Ah, rasanya Yara sangat mengharu biru, ia tidak tahan ingin menagis, namun ia harus menahannya jika tidak ingin ditanya panjang lebar oleh Vano nanti.
"terimakasih kak".
Ucapnya saat Vano selesai menempelkan plester di tangannya, mata mereka bertemu, tanpa aba-aba Vano memajukan wajahnya, dan..
Cup
Kecupan singkat di bibirnya membuat wajah Yara merona, seketika tubuhnya menghangat dan menegang, dengan tidak sadar ia menahan nafas sejak tadi.
__ADS_1
" berterimaksih dengan benar padaku. "
tawa kecil itu menyadarkan Yara, ia lalu melipat bibirnya menjadi satu garis, menyembunyikan senyum kebahagiaan yang timbul di wajahnya, tapi Vano melihatnya, wajah malau-malu gadisnya sangat lucu dan imut di matanya.
"apa kakak mengenali Anita? ".
Daripada malu-malu begini lebih baik mengalihkan pembicaraan saja, fikir Yara, helaan nafas malas keluar dari mulut Vano.
" tidak, dan aku juga tidak mau tau, kenapa kau memikirkannya? Dia bukan orang yang penting dalam hidupmu, hanya aku yang boleh ada di fikiranmu, jadi fikirkan aku saja, mengerti?. "
Itu perintah, Vano selalu bicara tegas dan blak-blakkan, sepertinya yang dibilang Darren benar adanya, kalau pria ini hanya mau melakukan apa yang ada difikirannya saja.
"tapi dia sangat cantik sekarang, dulu juga begitu, dia semakin cantik di usia matang seperti saat ini. "
Bibirnya di majukan sedikit, matanya ia alihkan pada menu di meja makannya, wajahnya sedikit di buat murung karna penasaran respon apa yang akan keluar dari mulut Vano.
"kau bicara begitu agar aku memujimu lebih cantikkan? Cih.. Sedang cari perhatian? . "
Kekehan Vano membuat Yara salah tingkah, ia menatap lagi Vano dengan kerutan matanya yang di buat sipit.
"jujur saja, didalam hati kakak juga mengakui dia lebih cantikkan? Aku tidak masalah, aku juga tahu diri kok. "
"bagus, sudah seharusnya memang kau berfikir begitu, jika kau merasa dirimu cantik, masih ada yang lebih cantik di atasmu. "
Vano terbahak, melihat Yara yang langsung merengut mendengar kata-katanya.
"kakak..!. "
"kenapa? Kau takut aku berpaling darimu karna melihat wanita lain lebih cantik? Lalu di atas yang kau bilang cantik itu masih banyak yang lebih lebih lebih dan lebih cantik lagikan? Kalau begitu aku tidak akan pernah merasa puas terhadap wanita, apa sebatas itu penilaianmu terhadapku?".
Sambil meraih tangan Yara lagi, Vano menggenggamnya erat, bagaimana mungkin aku berpaling dari wanita yang sudah bertahun-tahun menjadi pusat duniaku, ucapannya dalam hati, membawanya pada genggaman hangat di tangan gadis itu.
Dan rasa itu menular pada Yara, dadanya menghangat dalam debaran nikmat, ia menyukai sensasi ini, merasa sangat ingin di miliki dan di sayangi dengan tulus, oleh orang yang juga sangat ingin dimilikinya.
"Anita menyukai kakak dari dulu, apa kakak tidak bisa melihatnya?. "
Yang di katakan Yara benar adanya, Anita memang menyukai Vano sejak dulu, ia pernah menulis memo dan menitipkan beberapa batang coklat untuk diberikan pada Vano lewat Yara, dulu Yara memberikan coklat itu pada Vano, tapi ia tidak berani bilang kalau coklat itu dari Anita, pokoknya yang penting amanatnya sudah disampaikan fikir Yara kala itu.
"tidak, aku juga tidak peduli. "
__ADS_1
mulai jutek lagi, ia menyuap kentang goreng di hadapannya dan mengunyah dengan kasar.
"padahal kakak pernah menerima coklat darinya. "
Yara kembali pura-pura cemberut.
"kapan? ".
" ingat tidak aku pernah memberi kakak dua batang coklat dulu, Anita menitipkannya padaku untuk diberikan ke kakak. "
Sedikit mengingat masa lalu itu, Vano tersenyum miring, coklat yang diberi Yara waktu itu, ia ingat, karna benda itu ia sampai berkelahi dengan Gun dan Darren yang tidak tahu menahu memakan coklat itu di malam hari saat mereka begadang nonton final sepak bola, karna Vano fikir itu pemberian Yara, ia tidak ingin memakannya, hanya ingin menyimpannya saja, karna takut lumer makanya ia taruh di kulkas kamarnya, yang ternyata ada dua tikus yang memang sudah biasa memakan apa saja yang ada di dalam kulkas itu, tikus itu bernama Gun dan Darren, paginya saat tahu coklatnya raib, ia menendang lutut Gun samapai memar dan Menginjak kaki Darren dengan sepatu gunung tanpa ampun, alhasi dua bocah itu berteriak kesakitan, bahkan Darren sampai di perban jempol kakinya.
Sekarang mengetahui itu bukan dari Yara, ia cukup senang karna tidak memakan pemberian coklat sial itu.
"kenapa malah tersenyum? apa kakak sekarang tersadar kalau kakak menyukai Anita?. "
Yara menghempaskan genggaman di tangannya pelan, Vano semakin terkekeh melihatnya.
"bodoh". Tukas Vano, hanya itu.
" mengaku saja, aku tidak akan marah. "
"aku hanya mengakui kalau dia wanita cantik seperti katamu. "
"tuh kan, kakak... Ah, aku juga tidak kaget, memang selera pria-pria kaya seperti itu kan, si cantik Anita dan si buruk rupa Yara mana bisa di bandingkan. "
Mengoceh yang tidak jelas karna mengekspresikan rasa cemburunya, Yara semakin di tertawakan Vano.
"jangan tertawa kak, aku sudah terlalu insecure pada keadaanku. " menutup dengan helaan nafas putus asa.
"kemari." tangan Vano meraih pinggang Yara dan menariknya sampai menempel pada tubuhnya, wajah mereka semakin mendekat,bahkan nafas halus Vano terasa kepipi Yara.
"berhenti menilai dirimu kurang menarik, kurang cantik, atau kurang apapun dari wanita lain, jangan bandingkan dirimu dengan orang-orang yang tidak mengenalmu lebih dari dirimu sendiri, aku saja sangat menyukaimu, kenapa kau tidak menyukai dirimu sendiri?, menilaimu dengan membandingkan dirimu dengan orang lain tidak akan ada hal bagus yang akan ditemukan kepalamu, kau akan terus berfikir dan menilai dirimu banyak kekurangan, memangnya manusia mana yang sempurna?. "
"lagi pula berani sekali kau menilai dirimu sendiri tidak baik dari wanita lain? Ingat ya, tubuhmu itu milikku, kau harus fahami itu mulai sekarang, jangan menghina gadis ini, dia milikku. "
Vano menempelkan kepalanya di pundak Yara, tangannya mengerat melingkar di pinggang gadis itu, memeluk dengan sangat kencang, membuat Yara tidak bisa lagi menyembunyikan senyum tulus di wajahnya, tangannya melingkar di leher Vano, seketika kepala Vano tegak dan saling menatap satu sama lain, senyum merekah di kedua bibir mereka, ciuman perlahan mendarat tepat di bibir Yara yang menerima dengan terbuka, kali ini lebih panjang dari sekedar kecupan tadi, mata yang saling terpejam menikmati sentuhan hangat dari mulut Vano, membawa pada debaran yang memabukkan.
Mungkin mereka lupa kalau mereka masih di dalam restoran, tapi untungnya tidak ada pelayan yang berani masuk, karna Vano sudah berpesan jangan ada yang masuk jika mereka tidak di panggil.
__ADS_1
Debaran dan ciuman panjang itu menutup senja di luar sana.
Bersambung ☺