
Yara berjuang dengan keras untuk hidupnya, bahkan ia tidak peduli jika itu harus lewat neraka sekalipun, kehilangan ibunya disaat ia masih sangat membutuhkan sosok itu membuatnya benar-benar terpuruk dalam kesedihan.
Ayahnya yang dulu hangat dan penuh senyum saat menyambutnya pulang sekolah,berubah menjadi laki-laki yang keras demi melindungi dirinya dari segala ancaman yang mungkin membuat Yara nampak menyedihkan.
Ia harus banting tulang bekerja menjadi buruh pabrik konfeksi yang letaknya cukup jauh dari rumah, itu sebabnya ia tidak bisa mengantar jemput Yara saat bersekolah.
Yara harus mandiri, harus bisa mengurus diri sendiri selagi ayah tidak ada, terkadang Yara juga harus sendirian didalam rumah sampai malam karna ayahnya yang lembur bekerja.
Demi Yara bisa sekolah sampai lulus sekolah menengah, ayahnya harus sibuk mencari nafkah agar bisa memenuhi semua kebutuhan hidup mereka.
Meski harus mengorbankan waktu, Yara tahu ayahnya sedang berjuang untuknya, demi membantu ayahnya, ia belajar mati-matian agar dapat mengejar beasiswa disekolahnya.
Hal itulah yang membuatnya menjadi sedikit pendiam dan penyendiri, ia tidak ingin mengecewakan ayahnya dan membuat susah ayahnya, ia ingin ayahnya tidak menganggapnya sebagai beban di hidupnya.
Lalu bagaimana Nayyara yang sebenarnya?, Nayyara yang dulu masih sering tertawa dan tersenyum saat keluarganya utuh, saat ibu yang sangat menyayanginya masih ada.
Nayyara yang ramah pada siapapun, selalu menolong siapapun, mudah akrab dengan orang lain yang bahkan baru dikenalnya, Nayyara yang manis dan nampak semangat jika pergi kesekolah dengan kuncir kudanya.
7 hari setelah kehilangan ibunya, ia mendapatkan ayahnya lelah sepulang bekerja, dengan wajah yang nampak lesu dan tangan yang nampak gemetar, Yara tahu ayahnya melewatkan makan siang dan malamnya, tapi.. Senyum palsu itu membungkam Yara untuk menangis menatap ayahnya, laki-laki yang dulu hangat itu berubah menjadi dingin, bicara seperlunya dan tidak pernah benar-benar tertawa lagi bersamanya.
Apakah aku hanya beban bagimu? Apakah aku begitu membuatmu menderita? Apakah aku sangat menyusahkan?, Dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan tidak terjawab oleh kepalanya sendiri.
__ADS_1
Ayahnya menangis di suatu malam setelah bekerja, sambil memeluk pigura ibunya dengan erat, laki-laki paruh baya itu tertidur di lantai kamarnya yang dingin, masih terlihat sisa-sisa bekas air mata di sudut matanya yang tertutup rapat, nafasnya yang halus dan raut kelelahan yang teramat sangat, Yara menyaksikan betapa cinta membutakan semuanya, membuat perih dan luka yang tidak berujung.
Apa kau tidak melihatku? Apakah wajahku tidak bisa membuatmu sembuh? Atau paling tidak jangan mengabaikanku. Itulah yang Yara ingin katakan saat melihat hari-hari ayahnya berlalu dengan sepi, laki-laki hangat itu benar-benar terpuruk kehilangan wanita yang dicintainya, meski ada Yara disampingnya, ia lupa dengan kasih sayang anaknya, hingga memilih hanya untuk sendiri.
Ayah, sebenarnya tidak benar-benar melupakan Yara, ia tahu ada buah cintanya di dekatnya, hanya saja, ia punya pemikiran lain terhadap Yara, wajah istri tercintanya ada disana, Yara mewarisi setiap sudut wajah wanitanya, sehingga jika ia melihat Yara,senyum Yara mengingatkannya dengan mendiang istrinya yang selalu mendekapnya dengan hangat.
Untuk itu, ia tidak ingin Yara melihat tatapannya yang selalu nampak sedih saat melihatnya, ayah selalu sedikit tersenyum, memberikan kebutuhan Yara seperlunya, bahkan saat tahu Yara mendapatkan beasiswa di sekolah menengahnya, hanya sedikit ekspresinya untuk ia tunjukan, padahal dalam hatinya terus berkata.
Jangan belajar terlalu keras, pergilah bermain dengan teman-teman sebayamu, kau tidak harus khawatir tentang uang jajanmu nak.
Namun, rasa bersalah yang cukup besar, dan khilangan kekasih yang sangat dicintainya, masih menutup egonya untuk bisa terbuka dengan anak gadisnya satu itu, ia tidak ingin Yara merasakan kesedihannya, ia ingin Yara tidak berfikiran sempit seperti dirinya.
Begitulah akhirnya hubungan antar ayah dan anak itu sampai saat ini, mereka tinggal bersama namun hanya sedikit bertemu, terkadang hanya saling menunggu saat salah satu dari mereka pulang terlambat, setelah salah satu sudah terlihat, mereka tenggelam di kamar mereka yang sunyi dan sepi, hanya menunjukan kalau mereka masih saling peduli.
"mereka membully ku yah, itu karna aku yang tidak peduli pada siapapun saat ini, aku yang jadi cuek terlihat sombong di mata mereka, jadi tidak ada yang mau berteman denganku. "
Suatu waktu, saat pulang sekolah dengan sepatu basah karna tersiram air pel di jam piket kala itu, Yara ingin bercerita pada ayahnya saat itu, tapi.. Di meja makan yang hanya terdengar kunyahan halus dari mulut mereka masing-masing, Yara hanya tenggelam dengan suara batinnya, ia takut tak di respon ayahnya.
"Yah, seniorku menolongku tadi, aku fikir mereka baik, mereka berdua juga terlihat tampan, tapi aku takut dengan yang satunya, terlihat membenciku saat kami bertatapan. "
"Yah... Ternyata senior itu tidak sebaik yang aku fikirkan, dia jahat, suaranya ketus dan selalu berkata menyakitkan, aku takut yah pergi kesekolah, bisa tidak besok-besok ayah mengantarku kesekolah, supaya mereka melihat, kalau aku juga punya ayah yang melindungiku setiap saat. "
__ADS_1
"Eh, yah.. Ternyata mereka tidak jahat, sudah tau belum namanya Kak Darren dan Kak Devano, yang ketus dan nampak jahat itu kak Devano, sampai sekarang dia masih kelihatan jahat sih kalau menatapku, tapi entah mengapa aku merasa dia sebenarnya baik, melindungiku dari siswa-siswa yang dulu membullyku, sekarang mereka tidak ada yang berani mendekatiku dan menggangguku, kini aku punya teman yah, aku sedikit senang meski kak Devano suka menyuruh ini itu , aku tidak apa-apa yah, aku ingin berterimakasih pada mereka, terutama kak Darren, dia baik sekali padaku, selalu tersenyum dan memberikan aku makanan disekolah. "
"Ayah... Ayah... Aku dan seniorku sebentar lagi akan berpisah... Bisa tidak yah memelukku sebentar saja, karna aku sedang sedih sekarang. "
hari-hari berlalu dengan begitu saja, Yara hanya bisa bicara dalam hatinya sendiri, tidak ada yang bisa ia lakukan selain hanya meratapi kesepiannya meski bersama ayah yang dikasihinya.
Dibalik wajah yang namapak terlihat sedih itu, adalah rasa kesepiannya pada kehidupannya yang terlihat jahat dan menyedihkan, terkadang Yara berfikir, kenapa dia? Kenapa harus dia orangnya? Yang mendapatkan kemalangan kehilangan ibu dan istri yang sangat di cintai ayahnya, padahal mereka bukan dari keluarga berada, padahal mereka tidak pernah meminta kebahagiaan yang lebih dari sekedar hanya berkumpul bersama keluarga kecilnya, kenapa?
Tak pernah ada jawaban atas pertanyaan Yara hingga saat ini, yang ia tahu, ia hanya harus kuat, tidak boleh runtuh meski sangat tidak adil jika ia juga dapat kesunyian ini padahal ia masih mempunyai ayahnya yang nyata.
Untuk itu, ia tidak lagi peduli pada dirinya, mau monster terkejam lebih dari Devano sekalipun, Yara akan kuat, ia tidak ingin lagi terlihat lemah, ia hanya ingin tunjukan kalu dirinya hanya menerima dengan hati yang mati, tidak ingin ada rasa apapun yang timbul pada dirinya nanti, ia akan menutupnya, kebaikan orang padanya hanyalah ilusi baginya.
Ia tidak ingin seperti sang ayah, mencintai raga dengan sangat sepenuh jiwanya, hingga menjadikannya hanya seonggok raga yang kini nampak kosong tidak bercahaya dalam kehidupannya.
Yara memutuskan untuk mati rasa, tidak ingin jatuh cinta ataupun dicintai siapapun, karna ia tahu, itu hanya akan membuatnya sakit terlalu dalam, berharap cinta ayahnya saja sepertinya mustahil terjadi, apa lagi berharap pada orang lain, itu hal yang konyol baginya.
Ia membiarkan dirinya nampak kosong, tidak akan menerima hati siapapun,itulah yang terjadi di masa-masa sekolahnya, focus belajar, dapat beasiswa agar tidak terlalu membebani ayahnya, lalu mendapatkan pekerjaan yang layak untuk hidup yang lebih baik lagi, supaya mereka semua sedikit menghormatinya, pembullyian dimasa itu memang sedikit membuatnya trouma pada orang berada, Yara menghapus daftar laki-laki berharta pada kamusnya, bahkan jika memang ia bisa memilih, sampai mati ia tidak ingin membuka hati pada siapapun.
Tapi... Hatinya pernah berdebar pada satu laki-laki, yaitu Darren, meski begitu, Darren juga bukan pria yang akan masuk pengecualian Yara, ia memilih mengubur debaran itu sebelum memenuhi rongga-rongga di hatinya, kini haya sekedar kagum dan rasa terimakasihnyalah yang ia sematkan untuk Darren, tidak akan ada cinta dalam kamusnya.
Tapi kita tidak tahukan bagaimana perjalanan Yara selanjutnya, mungkin saja seseorang membawa sebilah senjata apa saja yang akan meruntuhka hati Yara yang membatu itu, tidak ada yang tahu takdir seseorang selain Tuhan yang merencanakannya.
__ADS_1
Bersambung😊