Benci Yang Merindu

Benci Yang Merindu
ungkapan terimakasih dari Moana


__ADS_3

Berganti hari yang membuat semua orang kembali sibuk, ditambah hujan yang tiba-tiba datang di pagi hari membuat Yara dan teamnya nampak sangat tidak bersemangat karna membayangkan cuaca yang lebih mendukung untuk enak rebahan ketimbang bekerja.


Tapi kenyataan hidup yang banyak tuntutan ini menampar mereka agar tersadar dari kemalasan yang ada.


Yara,Medina,dan Alfian nampak sibuk di depan komputernya masing-masing, ada yang mengecek keuangan para artis yang masuk beberapa bulan ini, ada yang mengatur job yang datang dan beberapa jadwal yang mungkin saja bisa urgent di saat-saat tertentu, yang satu lagi sedang online melihat berita-berita terkini dari para artis bawahannya.


"akhirnya kasus Moana selesai ya, putusannya cukup memuaskan, sutradaranya juga kena denda dan pastinya nama baiknya yang selama ini dia banggakan sudah tercoreng, wah.. Kuasa hukum kita lumayan jago nih. "


Alfian memberi informasi, membuat Medi dan Yara nampak menoleh padanya, lalu melihat ke komputer mereka masing-masing mencari berita yang barusan Alfian bicarakan.


"untungnya wajah Moana di blur dan namanya di samarkan ya, tapi tetap saja netizen sekarangkan pinter-pinter, mereka langsung tahu saat gambar reka adegan di putar. "


Medina menatap layarnya lesu, sedangkan Yara menghela nafas dalam, terbayang lagi saat Moana menatapnya dengan wajah memohon supaya orang tuanya jangan sampai tahu, namun ia merasa kalau Moana juga sedang kesulitan sekarang menghadapi orang tuanya.


"ah.. si sialan itu, aku ingin sekali memukulnya jika bisa bertemu. "


Yara dan Medi tahu yang di maksud Alfian adalah pelaku utama dari kasus Moana, meski begitu Yara sempat lega pada akhirnya aktor itu di tahan dengan denda yang cukup besar.


Lalu ingatannya kembali pada kejadian Vano menampar wajah aktor itu, terlihat sekali kalau Vano membantu dengan tulus dan sangat kesal saat artisnya di perlakukan begitu, ia juga menantang sutradara tanpa rasa takut dan minder, padahalkan soal pekerjaan seperti ini ia tidak menguasai sama sekali dunia entertaintnya.


Yara tersenyum samar, merasa bangga pada kak Vano yang sekarang nampak bersinar di matanya, entah kenapa pria itu terlihat keren saat itu.


"katanya ketua team kita sempat memukulnya ya Nayy?, kau kan ada disana, pasti kau juga melihatnyakan?. "


Tiba-tiba Medi masuk ke kubikelnya dengan menyeret kursi berodanya dan menodong Yara dengan pertanyaan tiba-tiba.


"kuasa hukum kita juga di utus atas koneksinyakan? sepertinya dia kenal dengan orang-orang hebat ya?. "


Alfian menambahi pertanyaan, tatapan mereka nampak antusias pada Yara yang sekarang agak bingung harus menanggapi apa.


"emm.. Iya, aku melihatnya, dia memukul wajah aktor itu tanpa merasa bersalah sedikitpun, dia juga menentang pak sutradara tanpa takut, sepertinya dia memang punya banyak koneksi orang-orang hebat, bukankah kita harus bangga punya ketua team yang keren?. "


Senyum lebar menghiasi bibir Yara saat menceritakan Vano pada dua temannya, matanya sampai berbinar saat nama Vano disebut.


"jadi aku keren?. "


Degh..


Suara dari arah ruangan dekat Yara duduk membuat Yara terkejut, Medina yang ternyata sejak tadi memberi kode pada Yara lewat matanya kini sumringah menatap Vano yang sedang bersender di sisi pintu ruangannya yang terbuka dengan melipat tangannya di dada.


Mata Vano bertemu dengan tatapan Yara yang salah tingkah, itu membuatnya tersenyum dan sedikit merasa gemas pada gadis yang sekarang memakai kaca mata kerjanya.


aku lupa kalau dia ada di dalam ruangannya tadi.


Yara melipat bibirnya menjadi satu garis lurus, wajahnya nampak malu dan ia kini mennunduk menghindari tatapan dari Vano.


"ketua team kita memang keren, selamat atas kemenangan utuk kubu kita pak. "


Medina berdiri sambil bertepuk tangan, alfian ikut-ikutan menyemangati dengan tepukan juga, Vano semakin membusungkan dadanya, nampak pongah dengan pujian-pujian yang datang padanya.

__ADS_1


"yah.. Itu hal kecil saja, aku bahkan pernah melakukan sesuatu yang lebih keren dari itu, iyakan Yara?. "


Sambil berjalan mendekat ke meja Yara, Vano tidak putus menatap gadis itu dengan tatapan bangga pada diri sendiri.


Entah apa yang di maksud hal keren itu, tapi Yara akhirnya mengangkat kepalanya dan tersenyum seperti Medi untuk menghormati Vano yang saat ini sebagai atasan teamnya.


"iya ketua team, pak Vano memang keren, terimakasih sudah bekerja keras membantu Moana pak. "


Ucapan yang nampak tulus, tapi Vano sedikit kecewa karna lagi-lagi harus gadis itu duluan yang selalu membungkuk padanya atas nama orang lain, cih.. Dia selalu bekerja keras untuk orang lain.


"apa kita akan makan-makan untuk merayakannya?. "


Alfian antusias mengingatkan, karna ia dan Medi memang sangat suka dengan makanan gratis yang mereka dapat, maklumlah, mereka berdua tinggal di kos-an karna mereka anak-anak perantau yang mengais rezeki di kota orang.


"bukan makan-makan, tapi kita akan berlibur. "


"Apa! Yang benar pak? Woowww...ketua team kita memang yang paling kereeennn. "


Sorak Alfian lebih kencang.


"maksud ketua team? Kita pergi berlibur bersama team?. " Medi menambahi tidak kalah antusiasnya


"pantai atau villa? Oh... Sepertinya keluargaku punya beberapa bunga low di beberapa tempat, nanti aku konfirmasi tempatnya, jadi tolong catat jadwalnya. "


Semakin membelalakkan mata Medina dan Alfian, sepertinya dugaan mereka pada Vano yang membeli jabatan di sini adalah hal yang benar, meski begitu mereka akan pura-pura saja tidak tahu menahu, lagi pula presdir kitapun nampak dekat dengan ketua team mereka. Fikirnya


Hanya Yara yang nampak kikuk, ia bingung untuk merespon, pasalnya Vano sedang mode pamer kekayaannya yang dapat membuat siapa saja curiga, tapi ia juga tidak berani menyela karna takut mod bahagia orang itu mendadak berubah, ia tidak ingin kena kata-kata menyakitkan di hari berhujan yang dapat membuatnya nampak semakin menyedihkan nantinya.


Yara menyadari kedatangan gadis berhag merah nan anggun itu, semakin langkahnya mendekat, semakin jelas senyum terlihat merekah dibibir pich nan mungil itu, Yara tersenyum menyambutnya.


" selamat siang kak Nayyara, selamat siang semua, dan apa kabar ketua team?. "


Rona malu-malu saat ia menatap ketua team Vano di hadapannya, gadis itu tersipu dan nampak memerah semu ketika ia berdiri tepat di hadapan Vano.


"selamat datang Moana. "


Yara menghampiri dan memeluk tubuh Moana dengan hangat, eratan pelukannya menunjukan ketulusan Yara pada gadis cantik yang saat ini sedang di dekapnya.


#


Sekarang mereka sedang di ruang presdir, Darren nampak tersenyum setelah memeluk Moana yang kini sudah terlihat bahgia kembali.


Vano seperti biasa, bersikap biasa dan tidak melakukan apa-apa duduk di sofa, ia hanya sedikit kesal karna tidak bisa menggoda Yara karna ketahuan membicarakannya tadi.


"aku senang kau kembali Mo, bagaimana orang tuamu? Mereka bisa memaklumikan? ".


Tukas Darren yang kini duduk di sebelah Vano, Moana ikut duduk di sofa yang berhadapan dengan mereka, senyumnya masih merekah di bibirnya.


" hm, mereka bahkan berterimakasih banyak pada ketua team yang sudah mau membantuku sampai penuntutan akhir, aku senang putusannya tidak begitu mengecewakan. "

__ADS_1


"apa tidak apa-apa? Sebagian orang banyak yang menebak itu kau di kolom daring. "


"tidak apa-apa presdir, aku yang seharusnya berterimakasih karna dengan itu banyak dukungan yang datang padaku, kak Nayy bilang beberapa brand terkenal juga menelfon untuk mengkontrakku, bukankah itu langkah yang bagus untuk comeback ku. "


"kau benar, itu bagus, iya kan ketua team?. "


Vano di tatap Darren dan Moana secara bersama, pria itu nampak membenarkan duduknya karna sempat gugup tertangkap basah tidak focus dengan pembicaraan mereka tadi.


Dikepalanya hanya wajah Yara yang tadi tersipu-sipu karna tertangkap membicarakannya dengan bangga pada temannya tadi, Vano nampak senang dan merasa Yara sangat menggemaskan dengan wajah begitu.


Ah.. dia bangga padaku, dia memujiku keren


Itulah yang sejak tadi dikepalanya, saking senangnya ia sampai ingin memeluk Darren tadi.


"benar, itu bagus, teruslah percaya diri seperti ini, itu bagus untuk masa depan kariermu, jangan diam saja jika ada orang yang melecehkanmu seperti kemarin, kau harus ingat, kau punya agensi terbaik untuk membelamu. "


Sebenarnya Vano menyampaikan itu dengan biasa saja, ia juga tidak memikirkannya lebih dulu, mengalir begitu saja lewat mulutnya agar pembicaraan mereka cepat berakhir dan ia bisa bertemu kembali dengan Yara.


Aku ingin makan siang dengannya


Tapi, yang sampai pada telinga Moana adalah kata-kata yang nampak tulus, sebuah perhatian dan rasa peduli dari seorang pria dewasa berkarisma dan bersinar di matanya.


Sepertinya kata-kata yang seharusnya nasehat dari Vano itu berakhir salah arti oleh Moana, gadis itu nampak senang tersipu dan wajahnya kembali sedikit memerah.


"bunga dan cake itu untuk ketua team,sebagai ungkapan terimakasihku pada kak Vano, apa boleh aku memanggil anda kak Vano?. "


"apa? Kenapa?. " Vano terkejut sedikit, karna Moana tiba-tiba memanggilnya begitu.


"hanya untuk mengakrabkan diri, bukankah baik jika kita saling dekat seperti aku memanggil kak Nayy, kak medi dan kak Al?. "


"tidak! Tidak usah, panggil aku ketua team atau pak Vano, itu untuk mengingatkanmu kalau aku jauh di atasmu. "


Seketika Moana terdiam, Darren yang akhirnya tidak enak dengan situasi yang di buat canggung oleh Vano nampak gelisah memikirkan kata-kata penghiburan untuk Moana.


"hey.. Mo, jangan kau ambil hati, ketua team memang begitu, dia bersikap begitu bukan hanya padamu tapi pada semua stafnya, kau boleh tanya pada Nayyara nanti. "


Senyum samar terlihat meski ada setitik kecewa terbaca, namun Vano tidak bereaksi apa-apa atas kata-katanya.


"kau itu seperti adik perempuan, jadi jangan berharap aku memandangmu seperti wanita, berkarier saja dengan benar, selama kau disini, kau harus menghasilkan banyak uang untuk ku, mengerti?. "


Darren membelalak menatap Vano yang menatap Moana dengan tajam, tidak ada penyesalan dan kelembutan di dalam kata-kata itu, tapi enatah mengapa Moana malah tersenyum lebar membalas tatapan Vano penuh semangat.


"aku akan bekerja dengan baik ketua team, terimakasih karna sudah percaya pada kemampuanku. "


Tiba-tiba Moana berdiri dan membungkuk pada Darren dan Vano, ungkapan terimaksih yang sangat menggebu dan rasa senang di perhatikan, dianggapnya adik perempuan,bagi Moana, itu sudah cukup membalas rasa kagumnya pada Vano saat ini.


Aa.. Vano bodoh itu, kenapa mudah sekali membuat orang salah faham.


Suara hati Darren yang terlalu peka.

__ADS_1


Bersambung😊


__ADS_2