Benci Yang Merindu

Benci Yang Merindu
mimpi Devano


__ADS_3

Terasa gelap dan dingin, tirai tebal yang menggelantung menutupi jendela kaca yang nampak besar seolah menyelimuti kesepian disetiap detak jarum jam yang bergerak, di ruangan yang dimana selalu ada dirinya terasa sangat sunyi, sendirian menderita pada mimpi mencekik tanpa henti.


Devano selalu berdiri di dekat jendela kaca bertirai tebal itu, tatapannya yang kosong seolah mencari sesuatu yang tidak bisa ia genggam, lalu tangannya akan bergerak melingkari tubuhnya sendiri, memeluk dengan erat, memeluk udara yang senyap dan sesak.


"dia cantikkan? ".


Senyum itu mengembang, senyuman Brian yang tampak tulus dan mengagumi hal yang ia sukai, dikepalanya berputar lagi gambar wajah ekspresif Brian yang selalu ceria, membagi setiap hal yang ia dapatkan pada kakak satu-satunya.


" kakak! Lihat ini, aku mengantri mendapatkannya untuk kakak, kakak suka makanan ini kan?. "


Brian berlari dengan satu tangannya terulur menggenggam kantong kertas coklat yang masih hangat, seragam sekolah yang selalu terlihat sedikit kotor karna ia bersepeda dan selalu berkeringat saat pulang sekolah, kantung kertas itu berisikan burger murahan yang di jual di depan sekolahnya.


Padahal sekolahnya cukup tertutup, anak-anak tidak di perbolehkan jajan di luar kantin sekolah, tapi Vano pernah menjemput adiknya saat tukang Burger gerobakan sedang di kerumuni anak-anak pulang sekolah yang nampak antusias membeli dagangannya, tanpa pertimbangan Vano ikut mengantri dan mendapatkan dua burger enak yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Padahal makan burger dan sejenisnya sudah pernah ia rasakan saat jajan di resto yang punya merk ternama itu, burgernya enak dengan daging tebal dan saus yang nampak menggugah selera.


Lain dengan burger murah satu ini, enak, tapi rasanya seperti ingin memakannya lagi dan lagi, ditambah ekspresi anak-anak yang habis memakannya terpancar kegembiraan yang tidak bisa ia dapatakan saat makan di resto mewah itu.


Sejak saat itu, Brian dan Vano selalu ikut mengantri jika ada kesempatan untuk mendapatkan burger gerobak murah meriah itu.


"kakak harus menjagaku, kakakkan kakakku. "


Waktu Brian pulang dengan keluhan kalau dia dijahili oleh beberapa anak jalanan yang suka memintainya uang beberapa hari ini.


"kak, kakak sudah punya pacar? Punya gebetan tidak? mau aku kenalkan tidak dengan seseorang? Dia cantik, jika kakak tidak mau biar dia buat aku saja, rasanya tidak rela kalau dia jadi milik orang lain, makanya kalau tidak untukku dia harus untuk kakak saja ya?. "


"aku akan mengenalkannya dengan kakak kalau aku sudah mendapatkan namanya. "


Senyum lebar dengan gigi putih yang nampak rapih itu menatap mata Vano dengan ketulusan dan ambisi yang kuat untuk menjodohkan kakaknya dengan gadis yang ia sukai, saat itu Vano hanya menganggapnya omong kosong belaka, karna usia Brian yang masih sangat kanak-kanak saat itu, ia hanya menjawab adiknya dengan ejekan dan sedikit ledekan menggoda adiknya yang ia anggap sedang puber dini.


Namun kata-kata Barian yang semuanya kini hanya jadi kenangan di ingatannya, segala hal indah dulu bersamanya terasa sangat sebentar berkelebat di memorynya, ia merasa bersalah karna tidak lebih dekat lagi dengan Brian dulu, kini luka yang nampak menyedihkan dihatiny sudah meneteskan banyak darah kerinduan pada hal yang tidak bisa ia gapai lagi.


"tolong aku kak".


Brian mencengkram lengan bajunya, tangannya bergetar berlumur darah bekas sekaan dari kening dan hidungnya, matanya sendu menangis pilu, wajah itu sesekali meringis menahan luka yang menganga lebar di balik kepalanya.


" sakit".


Ucapnya lirih, Vano berusaha meraihnya, tapi Brian seperti semakin menjauh dan melepaskan cengkramannya, di balik punggungnya suara tawa seorang gadis berlari menghampirinya.


"kakak! " Brian menjerit pilu, Vano ingin berteriak memanggil nama Brian tapi suaranya tidak terdengar, ia bisu dalam kegelapan, menyaksikan tubuh Brian yang semakin mengecil dan menghilang, air mata Vano merembas turun ke pipi, sedangkan suara tawa di balik punggungnya semakin jelas, Vano berbalik ingin menatap, dan yang tepat di hadapannya adalah wajah Yara tersenyum lebar lalu tertawa riang, gadis itu mengulurkan tangannya, seolah meminta Vano untuk menggenggamnya.

__ADS_1


"Kakak!! Kak Devan...


Suara Brian terekam jelas memanggilnya entah dari arah mana, Vano ingin meraih uluran tangan Yara, matanya menangis, tubuhnya terasa naik turun karna bernafas dengan sesak, ia menatap wajah tersenyum Yara di hadapannya dengan marah, tangan yang tadinya terulur untuk meraih tangan Yara kini mencengkram leher gadis itu dengan kuat dan bergetar.


" jangan tersenyum, jangan tertawa, kau tidak boleh bahagia sedikitpun sebelum kau merasakan sakitnya luka adikku, kembalikan Brian padaku. "


Cekikan di leher itu menguat, membuat wajah Yara nampak kesakitan dan sulit bernafas, tangan Yara menggenggam pergelangan tangan Vano di lehernya, mencoba melepaskan jerat jemarinya yang semakin mencengkram erat, ia sulit bernafas.


"kkkekk.. Ka.. Kak".


" aakkhhh... Aah".


Suara itu, suara yang nampak nyata, genggaman itu nampak nyata, Vano kembali mengencangkan cengkraman jemarinya pada leher kecil di hadapannya, dengan mata yang masih berkobar amarah dan dendam, ia tidak ingin melepasnya sebelum Yara kehabisan nafas.


"kakak.. sa.. Kkitt".


sleb,netra mata itu terbuka, saat ia menyadari kalau suara itu benar berada dihadapannya, matanya berair membawanya kedunia nyata,ia masih tersengal saat melihat Yara di hadapannya duduk dengan nafas yang terlihat sesak dan suara batuk kecil keluar dari tenggorokannya.


Vano membelalak, kaget dengan apa yang baru saja ia sadari, seketika ia meraih pundak Yara dan mencengkramnya kuat, padahal Yara juga sedang mencoba bernafas dan mengembalikan kesadarannya.


"APA? Apa yang terjadi? Apa yang aku lakukan padamu? ".


Fikiran Yara berkelebat penasaran tapi juga seram melihat Vano dengan mata menyalak seperti itu.


#


saat itu terasa sangat lelah, aktifitas di dalam Villa belum bisa mereka nikmati karna masih jet lag naik pesawat tadi, alhasil mereka hanya ingin beristirahat sebentar karna sebentar lagi sore dan makan malam akan segera disiapkan oleh beberapa pelayan yang sudah Vano siapkan katanya.


rencananya mereka akan makan di area pinggir kolam renang dengan pemandangan malam yang sepertinya bagus karna agak cerah tadi.


Yara, Medina, Moana, dan Lisa sepakat masuk kedalam kamar untuk merapihkan barang-barang didalam koper yang mereka bawa masuk kedalam lemari yang sudah ada di kamar, kamar yang luas memang membuat mereka berada dalam satu kamar, bagi mereka ini sangat seru dan asik.


Tempat tidur yang besar ada dua, di sudut kiri dekat jendela dan kanan dekat lorong pintu masuk, Medina akan tidur dengan Lisa sedangkan Yara akan satu tempat tidur dengan Moana, tentu saja itu setelah mereka berebutan memilih tempat tidur, hanya Yara yang menerima tidur dimana saja tanpa perdebatan sengit antar para gadis.


Makan malam yang terlihat mewah nampak indah dengan meja panjang yang sudah rapih bertaplak kain putih gradasi pink menjuntai sampai menutup seluruh kaki meja, lilin dan ornamen penghias meja seperti vas bunga dan beberapa bunga mawar putih terlihat sangat cantik bagai di dunia dongeng.


Membuat mata siapa saja yang melihatnya akan membelalak takjub dan merasa menjadi putri atau pangeran dalam semalam, suara musik dari piringan hitam clasik yang di putar Darren mengalunkan musik jazz yang halus dan sedikit mellow, kursi makan yang jumlahnya telah di hitung sesuai orang yang akan makan disana sudah nampak rapih, orang yang sudah duduk disana adalah Alfian yang sudah tidak sabar ingin mencicipi menu yang tercium mewah dan mahal, ia memang paling suka mendapatkan service mewah tanpa biaya apapun.


Selanjutnya Medi dan Moana berlari memilih kursi, Moana mengambil kursi dekat dengan kepala kursi yg biasanya akan di duduki oleh si pemilik tempat atau orang yang jabatannya paling tinggi di antara mereka, wajahnya sumringah membayangkan siapa yang akan duduk didekatnya nanti.


Hingga akhirnya mereka berkumpul, makan malam mewah dengan suasana romantis elegant menemani mereka sepanjang malam, beberapa minuman mahal dan buah segar tersedia di atas meja yang sudah di tata cantik, mereka menikmati sambil berceloteh bincang-bincang sedikit bergosip dan membahas bebeberapa pekerjaan, beberapa projek yang langsung di tanggapi oleh Darren.

__ADS_1


Dan di sela-sela itu semua, wajah Yara nampak sendu karna tak menemukan sosok Vano di meja makan malam kali ini, meski mereka sudah diberi tahu kalau Vano ada urusan penting dulu yang mengharuskan pria itu keluar dan melewatkan makan malam bersama, Darren menyampaikannya saat mereka sudah berkumpul di meja makan tadi, dan wajah Moana sketika berubah murung sedikit kecewa, rencananya tidak berjalan sesuai keinginannya.


Tapi Yara yang nampak terdiam saja malah bingung sendiri menyelami perasaannya saat ini, ada apa? Kenapa ia sepertinya kecewa saat Darren memberitahu kalau Vano tidak ada disini.


"kakak! ".panggilan Yara pada Darren saat makan malam sudah berakhir, yang lain sedang di ruang karoke melanjutkan pesta yang mereka buat dadakan sendiri, Darren sedang duduk mengecek beberapa kerjaan di laptopnya saat di ruang tamu dengan sofa mewah nan besar-besar berjejer disana, Yara menghampirinya dan duduk di sofa yang berhadapan dengan Darren.


"ada apa? ". Darren tersenyum, menatap Yara dan menangkap gelisah di mata lentik itu.


" apa kak Vano kembali kesini lagi? Dia tetap ikut berlibur bersama kitakan? ".


bertanya seperti inipun Yara sampai mengumpulkan keberaniannya, tapi tetap saja akhirnya rona wajah malunya yang muncul membuat ia menunduk sebentar.


" tentu, dia yang mengajak kalian berlibur masa dia yang tidak ada, dia hanya keluar sebentar dengan Gun untuk mengurus pekerjaannya yang mendesak. "


Senyum samar terlihat di bibir manis milik Yara, Darren sampai malu sendiri melihat gadis itu bereaksi seimut itu.


"jika lelah kau boleh istirahat duluan, biarkan mereka bersenang-senang sampai mereka puas. "


"apa boleh?. "


"tentu, tidurlah lebih awal, besok kau akan melihat Vano sudah disini untuk mengganggumu. "


"kakak, siapa yang menunggunya? Akukan cuma bertanya. "


Rona malu-malu itu masih ada bersama senyum salah tingkahnya di depan Darren yang sudah sangat mengerti sekali rupanya, Yara bangun dan langsung ngacir menuju kamarnya karna ia tidak mau lagi Darren melihat wajah memerahnya karna tersipu di goda begtu.


Sampai pada malam yang sunyi Yara terbangun, ia kehausan, mencari air di atas nakas dekat lampu meja yang temaram tidak ia temukan, teko kaca itu kosong, ia beranjak dan ingin mengambilnya turun kedapur, sebelum keluar kamar ia melihat Medi dan Moana sudah tidur pulas, Lisa entah kemana, mungkin masih di ruang karoke.


Yara berjalan dengan wajah setengah mengantuk, rambutnya yang di ikat ngasal nampak berantakan dan berlarian kedepan wajahnya, saat ia ingin menuruni tangga, melewati satu pintu kamar yang agak terbuka sedikit, ia berfikir kamar siapa? Samar-samar terdengar gumaman yang membuat bulu kuduknya merinding, namun karna penasaran Yara memberanikan diri mendekat, membuka sedikit lagi pintu yang memang sudah bercelah, ia kaget melihat Vano tertidur dengan kening berkeringat, padahal ruangan itu namapk dingin karna AC nya dinyalakan.


tanpa terasa langkahnya sudah di dekat tepi tempat tidur Vano, pria itu bergumam sesuatu yang tak jelas, dan yang membuatnya lebih kaget lagi ada air mata jatuh di sudut mata laki-laki itu, Yara terduduk bingung, ia meraih bahu Vano dan mengguncang pria itu agar terbangun, ia fikir Vano pasti mimpi sangat buruk, ia harus segera membangunkannya.


Tapi, selanjutnya yang ia dapatkan adalah uluran tangan yang melayang cepat mencekik lehernya, seketika Yara tak bisa bernafas, Vano mencengkramnya kuat.


"kakak... sakk.. Kkiitt".


mencoba bersuara di anatara nafasnya yang menipis dan tersendat, ia meronta dan memegang tangan Vano kuat-kuat, seketika Vano tersadar dengan nafas berkejaran memburu,Yara terbatuk-batuk memegangi lehernya mengatur nafasnya.


" APA? Apa yang terjadi? Apa yang aku lakukan padamu? ".


Bersambung😊

__ADS_1


__ADS_2