
Malam yang sepi di kamar Lisa, ia masih tinggal di asrama yang di fasilitasi agensi karna Lisa anak rantau dari daerah yang cukup jauh dari ibu kota, karna perjuangan Yara akhirnya ia di izinkan tinggal di tempat yang cukup layak seperti ini, kamarnya memang tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman untuk tempat beristirahat, disini Lisa bisa mengembangkan bakatnya untuk latihan berakting atau sekedar belajar menari, sambil menggali bakat terpendamnya yang mungkin akan membawanya nanti kedunia yang lebih bersinar.
Dua tahun sudah ia disini, dan belum ada kemajuan baginya untuk bisa memanjat lebih tinggi lagi, sebenarnya ia merasa malu pada Yara yang sudah bersusah payah membantunya dalam segi semangat ataupun tenaganya, bahkan Yara satu-satunya orang yang membawakannya makan malam saat semua orang tidak peduli dengannya saat pra debut dulu.
Teringat pesan Yara yang selalu menyemangatinya saat ia masih bertahan di tahun pertama, tapi belum ada kontrak satupun yang ia tanda tangani, Yara menyuruhnya ikuti semua casting yang ada sampai ia benar-benar mendapatkan peran apa yang cocok dengannya, hingga pada saat satu kontrak iklan ia dapatkan, Yara datang dengan sebuket bunga yang cantik ke lokasi syutingnya, wanita itu sangat antusias dan mengucapkan selamat paling kencang, ia juga membagikan sebotol air minum isotonik untuk para kru dan produser disana atas namanya, Lisa tersenyum haru setiap mengingat itu.
Sekarang aku hanya menyusahkan dia saja, dasar wanita gila
Ucapnya pada diri sendiri sambil menatap bayangnya dalam cermin, ia baru saja selesai membersihkan badan, kaos kebesaran dan celana pendek bertali di depan itu sudah menjadi gaya ternyamannya saat di dalam kamar, waktunya istirahat, tapi ia tidak yakin kalau matanya bisa terpejam, mengingat nominal-nominal angka yang harus perusahaan keluarkan atas kasus yang ia buat dan kata-kata Darren sebagai presdir tadi.
"kau di hukum karna bisa jadi merugikan perusahaan Lis, samapai kasus mu ini selesai, kau tidak akan di ijinkan menandatangani kontrak apapun yang datang padamu nanti, tinggallah di asrama sampai aku mencabut hukumanmu, karna kau tidak ada pekerjaan, berhematlah, aku tidak memberikan kamar di asrama itu gratiskan. "
Tukasan Darren tidak bisa di bantah, ia juga tidak ada pilihan, pasrah, hanya itu yang ia lakukan sekarang.
malam sudah larut, saat terdengar suara bell di pintu milik Lisa, ia melihat dari lubang pintu yang sengaja di buat untuk mengintip siapa yang ada di depan sana, pria bertopi serba gelap, menunduk tak memperlihatkan wajahnya, tapi dari postur tubuhnya, Lisa tau siapa dia.
"ada apa kau kemari? Ini sudah larut malam".
Ucapnya saat membuka pintu, wajah yang tadinya tersembunyi di balik topi kini terangkat menatap Lisa, ia menghela nafas lega saat melihat Lisa ternyata baik-baik saja.
" hah, kak Nayy pasti sangat mengkhawatirkanmu, dia sampai menelfonku untuk menyuruhku datang menemuimu hanya untuk mengecek apa kau baik-baik saja saat ini?. "
Tukas Mario, wajah khawatirnya menghilang perlahan, membuat Lisa tersenyum kaku karna tak tahu harus merespon apa.
"kau kan bisa menelfonku, tidak perlu sampai datang kesini, apartementmu cukup jauh jika harus datang selarut ini. "
"kalau kau bisa di hubungi pun aku mana mau kesini, kak Nayy terus menelfonmu tapi ponselmu tidak aktif tau. "
Lisa berkernyit sebentar dan langsung tersadar kalau ia lupa mengisi daya ponselnya.
"aku lupa ngecas hp".
Berlari masuk kedalam, meraih ponselnya, mecharger dengan cepat dan lampu di layarnya menyala, mengaktifkan benda pipih itu yang sejak tadi padam, benar saja, ada banyak panggilan dan pesan dari kak Nayy dan beberapa teman lainnya, termasuk Mario yang orangnya masih berdiri di depan pintu kamarnya.
" masuklah".
Ajakan Lisa yang santai tapi agak aneh untuk Mario yang berkernyit keheranan, dia mengajak pria masuk ke kamarnya dengan sangat santai begitu? Dasar wanita gila. Fikir Mario yang masih tidak bergerak di tempatnya berdiri.
"keluarlah". Ucap Mario akhirnya, Lisa yang tadi sibuk menatap hp nya kini kembali menoleh melihat Mario dengan kernyitan halus di dahinya.
" aku menyuruhmu masuk, kau menyuruhku keluar?. "
__ADS_1
"iya, keluarlah, ayo naik ke atap, rooftop di sini sejuk kalau malam hari. "
Dengan kepala di miringkan Mario menyuruh Lisa keluar dari kamarnya, wanita itu juga baru sadar kalau Mario menenteng sekantong plastik di tangannya.
"apa yang kau bawa? Apa bir kaleng? ".
Lisa sudah berlari mengejar Mario sambil menutup pintu dengan cepat, wajahnya sumringah saat mengatakan bir kaleng yang tadi ia pertanyakan.
" jangan gila, aku tidak minum-minuman keras seperti itu, kak Nayy hanya membolehkan kita mencicipi anggur, itupun dengan takaran minimum".
"cih, taat sekali, aku tau kau bersikap baik di depan kak Nayy hanya karna pencitraan kan agar dia memujimu. "
Sambil berjalan menaiki tangga, Lisa dan Mario mengobrol tentang Nayyara.
"itu bukan pencitraan, tapi aku memang ingin membuat kak Nayy merasa bangga padaku, dia orang yang sangat berjasa sepanjang aku meniti karirku, aku tidak ingin mengecewakannya. "
Kata-kata Mario membuat Lisa terdiam, entah bermaksud menyindir atau bukan, tapi memang kata-kata itu sedikit banyak menamparnya agar tersadar dengan apa yang dia lakukan terhadap Nayy saat ini, membuat kak Nayy susah dan bekerja lebih keras karna ulahnya.
"kau pasti sedang merasa bersalah ya? Tenang saja, kau tidak sendirian, aku juga pernah di posisimu, saat itu kak Nayy hanya percaya kata-kataku. "
Mereka sampai di atas, benar saja, pemadangannya sangat indah, Mario tau karna ia dulu juga cukup lama tinggal disini, pradebutnya dulu ia sering makan hanya dengan mie instant di atap sini, ia tersenyum haru mengingatnya, bahkan kursi lebar yang sengaja di letakkan di atas ini pun masih ada sampai sekarang.
Mario yang duduk duluan menyuruh Lisa duduk di sebelahnya, ia mengeluarkan beberapa kaleng minuman bersoda dan camilan yang ia beli tadi di supermarket saat di jalan.
Gadis yang sejak tadi terdiam itu kini menatapnya dengan helaan nafas lesu, iapun duduk disebelah Mario dan mengambil kaleng soda yang tadi di sodorkan laki-laki itu padanya.
Berdua menatap langit malam, dengan kaki di naikkan ke kursi lebar yang mereka duduki, Mario sesekali tersenyum melirik Lisa disebelahnya.
"dulu aku diremehkan, tapi Kak Nayy membantuku untuk tidak berkecil hati, dia selalu menghiburku dan menyemangatiku, dia selalu ada di saat aku gagal ataupun berhasil, mungkin itu yang membuatku jatuh hati padanya, walau dia tetap bersi kukuh menganggapku adik baginya. "
"dia wanita yang hangat, rajin bekerja dan suka sekali dengan uang, tapi dia bukan orang yang serakah, dia hanya mengambil mana yang menurutnya haknya dan memberikan apa yang mau dia berikan pada orang lain, bukankah dia terlalu baik jadi orang?. "
Ada binar kekaguman di sorot mata Mario saat menceritakan sosok Nayy bagi dirinya, Lisa tersenyum kecut, sial, ia pun sebagai wanita merasa Nayy itu sangat sempurna untuk jadi manusia.
Meneguk minumannya bersamaan, Mario dan Lisa masih memandangi langit disana.
"sejak kapan menyukai kak Nayy? ".
bertanya karna penasaran
" entahlah, mungkin sejak kami bertemu pertama kali, waktu itu dia menolongku saat mengikuti audisi, aku yang seharusnya gagal di berikan kesempatan lagi oleh juri karna kak Nayy ngotot bilang aku berbakat dan suaraku merdu katanya, dia sampai rela mempertaruhkan jabatan pekerjaannya untukku yang baru ia kenal. "
__ADS_1
"wow.. Aku saja yang mendengarnya terkesan apa lagi kau yang mengalaminya, pantas kau begitu menempel padanya. "
"terserah orang mau bilang apa, tapi aku suka saat kak Nayy terlihat bangga dan tersenyum padaku, sekarang aku hanya ingin membuatnya bahagia dengan prestasi-prestasiku. "
"kau benar, aku saja yang bodoh karna bertindak tidak memikirkan orang-orang yang juga bekerja untukku, membuat susah orang saja. "
Dengan getir Lisa meneguk sodanya, lalu menyuap snack kentang yang sejak tadi di makannya.
"aku mendengar ceritanya dari kak Medi, kalau aku jadi kau, aku pun akan bertindak sama, dunia ini memang keras untuk orang-orang seperti kita Lis, dan cukup memuakkan untuk mereka yang berada di atas, lagi pula aku kecewa padamu, kenapa kau tidak menampar wajahnya dengan keras atau meninju hidungnya sampai patah, kalau aku yang disana, aku akan menyumpal mulutnya dengan sepatuku. "
Hahaha...
Mario dan Lisa tertawa, mereka nampak senang menggunjing wanita yang nampak sombong itu.
"benar, aku pun ingin merobek mulutnya sampai melebar ke bagian leher, atau meninju rahangnya sampai bergeser. "
Lanjut Lisa dengan bersemangat, membayangkan wajah Gea di hadapannya.
"kalau itu agak seram. "
"apa kau takut"
Hahaha...
"apa itu sakit? ". Mario menunjuk luka yang di perban memanjang di lengan Lisa, gadis itu menggeleng.
" tidak, aku malah tidak merasa sedang terluka. "
"kau hebat Lis, aku iri karna kau berani melakukan hal yang benar. "
mario menatpnya dengan senyuman, Lisa yang tersanjung membalas senyum itu penuh haru.
"terimakasih karna kau dan kak Nayy, dan seluruh orang-orang disini mempercayaiku sepenuhnya, maaf kalau kali ini aku mengecewakan kalian. "
Tiba-tiba satu tangan Mario terangkat, mengusap puncak kepala Lisa dengan lembut.
"it's ok Lis, kau sudah bertindak benar, teruslah melakukan itu karna tidak semua orang bisa melakukannya. "
Lisa terpaku, sedetik tadi ada debar aneh menelusup ke dadanya, ia tatap Mario yang tersenyum padanya, sorot ketulusan terpancar di wajah itu, ah.. Perasaan aneh apa ini?
Bersambung😊
__ADS_1