
Hari berjalan seperti tidak kenal lelah, begitupun para pekerja di gedung entertaint milik Devano yang presdirnya sendiri nampak kelelahan mengatur pekerjaannya sendiri, tapi yang menjadi pekerjaan utamanya memang bukanlah hal yang mudah, ia hanya di jadikan tameng oleh si pemilik asli agar jika kalau ada hal-hal yang kurang mengenakkan bisa langsung ia bereskan tanpa melibatkan Devano langsung.
Jujur, bukan Darren mengeluh untuk soal posisinya, hanya saja, terkadang Devano memang luar biasa sibuknya, ia harus bolak balik mengatur dua perusahaan sekaligus, perusahaan utama yang presdirnya adalah papahnya sendiri, di sana Vano punya jabatan penting sebagai CEO, dan untuk gedung ini, gedung yang dimana ia beli dengan tanpa fikir panjang hanya untuk memenuhu mimpi gadis yang selama ini ia perhatikan dan ingin ia kuasai hidupnya.
Jadi jika Darren sekarang merasa kelelahan karna kesibukkannya, ia lebih kasihan lagi pada Vano yang mungkin tidak terbayang kelelahannya, sesekali bisa datang untuk berperan jadi ketua team saja sudah syukur, itu berarti Vano sedang senggang di perusahaan papahnya.
Hari ini Vano tidak datang ke kantor entertainnya, itu berarti Darren sudah akan standbay di posisinya, sejak Darren melapor, Yara akan di undang makan malam oleh papah dan mamanya, membuat Vano sedikit kalang kabut karna merasa belum siap untuk mengenalkan gadis itu pada orang tuanya.
Nah, yang jadi beban Darren adalah, perintah paman yang tidak bisa ia bilang "Tidak", lelaki paruh baya itu terus mendesak agar Yara tetap di perkenalkan pada mereka dan bagaimanapun caranya ia ingin Vano setuju dengan langkah makan malam itu.
Dan Darrenlah yang harus mengatur semuanya, ia hanya di beri waktu seminggu untuk mempersiapkan hal seperti itu, entah sudah berapa kali helaan nafas terdengar di mulutnya, pasalnya sejak tadi pagi ia melihat Yara masih dengan sikapnya yang biasa dan tidak menunjukkan tanda-tanda kalau ia dan Vano sedang ada sesuatu.
" Nayy, sudah jam istirahat, mau makan dimana?".
Medina menghampirinya, ia melihat Yara yang masih mengetik sesuatu di layar laptopnya.
"di kantin saja, aku ada janji dengan Lisa, mau membahas soal kontrak iklan yang di tawarkan."
Menyelesaikan ketikan terakhirnya, Yara lalu menutup laptopnya dan bergegas berdiri untuk meninggalkan tempat kerjanya sementara.
"aku saja belum beres soal mini konsernya Mario, ck.. Sibuk sekali ya, ayo makan yang pedas-pedas di luar, sebentar saja, aku butuh energi untuk mengisi daya semangatku lagi. "
"aku sudah kepalang janji dengan Lisa med. "
"aku tlaktir, ajak Lisa juga, bagaimana?. "
Yara nampak berfikir, sebentar langsung menggeleng tidak setuju.
"walau Lisa baru pradebut, aku tidak ingin dia terkena masalah sekecil apapun, dia pernah muncul di acara TV dan pasti sedikit orang sudah ada yang mengenalinya, kalau kita ajak dia keluar bisa jadi ada yang memotretnya, aku tidak mau di tegur presdir. "
Yara tersenyum sambil melangkah meninggalkan Medi yang menghela nafas, tapi pada akhirnya wanita itu ikut melangkah bersama Yara, mereka memasuki lift untuk turun ke lantai bawah dimana kantin kantor berada.
Medi masih mengeluhkan bagaimana lelahnya mengurusi Mario yang seperti tidak semangat menjalani konsernya lantaran terus menanyai keberadaan Yara waktu itu, padahal sudah sangat jelas Darren dan Medina bilang kalau Yara sedang dalam pekerjaan lain.
Mendengar itu, Yara hanya bisa mengusap-usap bahu Medi sambil tersenyum menyemangati, karna ia sudah tidak kaget lagi kalau mendengar keluhan tentang Mario, pasalnya saat Yara yang di posisi Medipun Mario akan lima kali lipat manja dan cari perhatiannya.
Tapi, bagi Yara itu lucu, Mario yang ia rawat dari polosnya sampai sekarang sudah besar namun masih sering kekanak-kanakkan jika mengeluhkan sesutu padanya, yah.. bagi Yara Mario salah satu prestasinya di dunia ini.
__ADS_1
ting..
lift terbuka, tiba-tiba muncul Darren tepat di depan pintu, Medi dan Yara langsung mengangguk, pria yang selalu nampak rapih, wangi dan juga bersinar itu kini membalas senyuman pada dua gadis dalam lift itu, ia masuk bergabung dengan Yara dan Medi.
"mau makan siang juga pak? ".
Tukas Medi, membuat Darren menatapnya dan menjawabnya bersama anggukkan.
" iya, kalian makan dimana? ".
" di kantin pak, Nayy tidak mau saya ajak makan di luar. "
"kenapa? ". Darren menatap Yara yang hanya tersenyum malu.
" katanya sudah janjian dengan Lisa, mau membahas soal kontrak iklan. "
Lagi-lagi Medi yang menjawab, Yara nampak tidak enak karna Darren seperti menunggunya bicara.
"eumm..hari ini kantin menunya favorit saya pak, jadi sekalian saja buat janji dengan Lisa, kebetulan dia ada di asrama karna mau latihan katanya. "
Yara memperjelas, Darren sedikit berfikir, apa sebaiknya ia tanyakan langsung saja ya?
Yara dan Medi saling lihat-lihatan sebentar, Yara yang berfikir tidak biasanya kak Darren mau bergabung membahas pekerjaan di jam makan siangnya, karna dia pernah mengeluh tidak ingin membahas pekerjaan jika di luar jam kantornya, itu menyesakkan dan menurunkan selera makannya katanya.
Sedangkan Medi berfikiran curiga kalau mungkin saja pak Darren sedang berusaha pendekatan babak kesekiannya pada Yara, karna sejak dulu memang agak mencolok sekali kalau pria itu nampak akrab dan perhatian sekali pada Yara.
"tentu boleh donk pak, apa lagi kalau sampai di tlaktir di restoran enak, kan tidak masalah ya kalau presdir makan bersama artisnya dan rekan kerjanya?. "
Yara mendelikkan matanya pada Medi yang nyengir tanpa rasa bersalah, ia tahu ini hanyalah akal-akalannya Medi memanfaatkan kak Darren untuk mengajaknya bisa makan di luar, sedangkan Medi tahu betul kalau presdirnya adalah orang yang dermawan dan murah hati kalau hanya sekedar makan siang saja mana mungkin Darren akan menolaknya bukan?
"baiklah, kalau begitu Medi yang tentukan tempatnya ya, ajak Lisa juga, sesekali makan di tempat yang enak tidak akan bikin aku bangkrutkan?. " Darren terkekeh sambil melirik Yara.
"ajak Alfian boleh juga pak?. "
"boleh, mau ajak yang lain juga boleh, anggap saya tlaktir karna kerja keras kalian sudah lelah mengurusi Mario bulan ini. "
"waahhh... Pak Darren emang yang paling oke. "
__ADS_1
Tepat saat Medi sudah sangat bahagia dapat makan gratis, pintu lift terbuka, Medi yang paling duluan melangkah keluar, diikuti Yara dan Darren yang melihat tingkah Medi tanpa malu berlarian seperti bocah saja.
"bapak dan Nyyara bisa berangkat duluan, biar aku menyusul dengan yang lainnya, aku kirim alamatnya ke nomor kamu ya Nayy. "
Medi melambaikan tangan langsung berlari, Yara yang tadinya mau membuka mulutnya jadi tidak jadi karna cepat sekali si Medi itu melesatnya, akhirnya, tinggal mereka berdua, Yara tersenyum kecil melirik Darren di sebelahnya.
#
"aku dan kak Vano? ".
Kernyitan di dahi Yara sepertinya sudah menjawab rasa penasaran Darren, yah.. Mana mungkin si Vano bodoh itu tiba-tiba mengungkapkan perasaannya, dia kan bukan makhluk peka yang bisa mengartikan bencinya selama ini pada Yara adalah garis tipis antara cinta, Vano itu hanya melakukan apa yang ingin dia lakukan saja, balas dendam pada Yara yang tidak tahu kesalahannya apa.
" iya, tidak terjadi apa-apa kan saat kalian pergi? aku takut dia bicara yang menyakitkan lagi padamu. "
Darren melihat lagi reaksi Yara yang agak terdiam, kali ini gadis itu malah hanya menatapi minuman dingin di gelasnya yang sudah setengahnya di hisap dengan sedotan, ia nampak sedang berfikir, harus bercerita apa pada Darren kali ini, tentang situasinya bersama Vano.
"kenapa kakak tidak tanya sendiri pada kak Vano? Aku tidak bisa menjelaskan apa-apa kalau kak Vano saja tidak bicara apa-apa. "
Gantian, malah Darren yang akhirnya berkernyit setelah Yara menjawab demikian.
"maksudmu? Jadi sebenarnya Vano bagaimana? Dia bilang sesuatu yang membuatmu bingung atau menyakitkan lagi?. "
"entahlah kak, kak Vano kan memang bersikap begitu padaku, benci tapi aku terus yang dia cari, terkadang marah-marah tidak jelas hanya karna masalah sepele, dia bilang aku tidak boleh mengurusi Mario lagi, padahal semua juga tau kalau Mario sudah bersamaku semenjak pradebut dulu. " sambil cemberut dan sedikit kesal Yara mengingat lagi bagaimana Vano melarangnya untuk tidak dekat-dekat lagi dengan Mario.
"hah.. Vano memang begitukan, dari dulu dia juga begitu, aku saja dilarangnya untuk tidak terlalu dekat denganmu, tapi dia terus menyuruhku untuk mendatangimu kalau dia habis berbuat jahat padamu. "
"iya kan? Menyusahkan orang saja. "
Yara dan Darren tertawa, lalu terdengar suara Medi dan beberapa teman yang lain memasuki restoran tempat mereka akan bersantap ria di jam makan siang ini, akhirnya yang di inginkan Medi terkabul, ia bisa makan makanan yang dia inginkan dan dapat bonus makan gratis dari presdirnya yang baik hati, setelah ini ia akan berterima kasih pada Yara, fikirnya.
Karna menurut Medi, pak Darren bisa seperti ini hanya karna dia dekat dan sedang pendekatan lebih dalam lagi pada Yara, semoga harapannya benar adanya.
Sedangkan Darren sedang berfikir kembali untuk menimbang-nimbang bagaimana kelanjutannya dari undangan makan malam itu, apa kah harus ia sampaikan pada Yara atau nanti saja menunggu keputusan dari Vano.
terlihat Yara tersenyum tapi menghela nafasnya pelan, dikepalanya kini berputar lagi kejadian di dalam mobil itu, saat kak Vano bersikap manis mengingatkannya bahwa praktek pernikhan beberapa tahun lalu itu, dia bilang kita belum bercerai, sambil mengusap pipinya dan tersenyum tulus, kak Vano hari itu seperti memberi ketulusan yang katanya tidak pernah pantas ia dapatkan.
"jangan terlalu dekat dengan pria lain Yara, atau aku akan mengikatmu lebih dari ini. "
__ADS_1
Ada genggaman kuat saat Vano mengatakan itu, ia mencengkram jemari Yara, seperti tidak akan pernah melepaskannya sampai dia sendiri yang mungkin akan mengurai cengkraman pada dirinya.
Bersambung😊