
Sudah setengah jam berlalu, diruangan yang namapak tenang tapi sebenarnya bara dalam diri masing-masing sedang menyala, Darren hanya duduk terdiam di sofa yang menghadapkannya pada wanita cantik nan glamour bermata keabu-abuan karna dia memakai softlens, kuku -kuku jemarinya berwana ungu menyala, anting-anting besar bermerk menggantung di telinganya, baju yang dikenakannyapun tak kalah nyentrik dengan riasan wajahnya, hanya rambutnya yang nampak enak di lihat karna surainya bergelombang bak ombak halus di pantai.
Dia adalah Gea Wardani, gadis 24 thn, seorang model sekaligus bintang iklan terkenal yang namanya di kenal karna gaya penampilannya yang sudah nyentrik saat pradebut dulu, sebenarnya aktingnya biasa saja, malah Lisa yang belum lama terjun di dunia periklanan jauh lebih bagus dan natural melalukakannya, kalau Gea seperti dilebay-lebaykan dan sikapnya yang arogan nampak menonjol saat bekerja di industri manapun.
Sebenarnya ini hanyalah iklan produk kecantikan biasa, Lisa juga bukan bintang utamanya, dia hanya bintang pendukung yang akan mendampingi si bintang utama sebagai BA dari prodak tersebut, semua sudah tahu kalau Gea lah yang menjadi bintang utama tersebut,karna syuting yang harusnya di mulai sejak jam 9 pagi harus mundur ke jam 11 siang akibat tim Gea yang tidak tepat waktu.
Saat di tanya oleh produser, asistant pribadinya hanya beralasan kalau Gea sedang tidak enak badan tadi, padahal Lisa tahu kalau gadis itu baru bangun tidur, karna ia tidak sengaja mencuri dengar dari orang make up yang di bawa tim Gea, staf yang bekerja dengan Gea saja mengeluh saat dengan susah payah membujuk Gea hari itu untuk syuting.
Dan yang terjadi hingga adegan berkelahi saling jambak-jambak rambut itu adalah...
Bermula ketika Gea mengoceh ini dan itu saat di make up oleh timnya sendiri, ruangan make up memang besar jadi di satukan oleh artis pendukung lain termasuk Lisa, awalnya Lisa tidak peduli dengan berisiknya mulut Gea yang mengomeli perias wajahnya.
"apa kau buta? Aku tahu wajahmu cacat, tapi setidaknya jangan membuat wajahku juga seperti dirimu, kau sengajakan ingin melukai wajahku?. "
Lisa melirik, saat itu ia sedang di rapikan rambutnya oleh Medi dan amel, staf dari prodak kecantikan yang mengontraknya.
Yang sedang me-make up Gea adalah wanita dengan wajah bertahi lalat sedikit besar yang ada di dekat matanya, sepertinya ia tidak sengaja menggores pensil alis saat sedang menggambar alis Gea, padahal wajahnya tidak terluka sama sekali, tapi ia heboh dan marah karna terasa sedikit perih katanya di bagian wajah.
Si pe make up sudah meminta maaf, tapi Gea yang entah mungkin mood nya sedang jelek hari itu atau apa, masih tidak terima kalau wajahnya di sentuh oleh si wanita tadi.
"aku ingin ganti, jangan biarkan dia menyentuh wajahku. " teriak Gea
"waktunya sudah mepet nona, mencari pe-make up yang lain sudah tidak mungkin, sebaiknya kita selesaikan saja dengan cepat ya. "
Sang asistant yang sejak tadi berdiri di sampingnya sambil mendekap tas majikannya dengan erat nampak takut-takut memberi saran, dan benar saja, belalakan mata Gea menusuk sampai ke pori-pori wajahnya.
"kau sekongkol dengannya ya ingin membunuhku? Aku bilang ganti ya ganti, lagipula siapa sih yang mempekerjakan orang cacat seperti dia menjadi makeup artisku?. "
Matanya menatap si gadis pe-make up yang tertunduk malu karna Gea bicara dengan suara lantang sejak tadi, tatapan jijik sangat jelas ia tunjukan saat memandangi wajah perias itu.
"apa orang tuamu tidak pernah bilang kau itu jelek? Mereka pasti menyesal ya melahirkanmu dengan bentuk buruk rupa seperti ini, bakat merias mu juga akan sia-sia jika bekerja dengan wajah cacat seperti itu tau, sebaiknya kau oprasi plastik dulu sebelum maju kedunia seperti ini, oh.. Apa gajimu tidak mencukupinya? Cih.. Beginilah kalau orang berkasta rendahan seperti mu memaksa untuk hidup lebih tinggi, jangan berangan-angan kasta mu akan naik atau sejajar denganku, mendengarnya saja membuatku mual dan merasa itu lucu. "
Sambil melipat tangannya dan bibir yang di naikkan dengan senyum sinisnya, ditambah tatapan jijik yang tidak pernah hilang setiap memandang perias wajah itu, Gea nampak sombong dan arogan.
Tidak kuat menahan sabar sejak tadi, Lisa yang sekuat tenaga mengepalkan tangannya mendengar kata-kata hinaan dari Gea untuk orang itu nampak memanas hingga wajahnya memerah, ia tiba-tiba berdiri dari duduknya, membuat Medi dan Amel tersentak kaget karna kursi yang di duduki Lisa baru saja jatuh terhempas kedekat kaki mereka.
__ADS_1
Bruk.. suara bangku jatuh, semua mata kini menatap ke arah Lisa yang nampak marah termasuk Gea.
"Waaahhhh.... Aku hampir meledak mendengarnya, bisa-bisanya kau membawa-bawa nama orang tuanya saat menghinanya, memangnya setinggi apa kasta orang tuamu Hah? Dan kau dengan entengnya menyebutnya cacat, aku beri tahu ya, itu tanda lahir, semua orang memilikinya, menandakan kalau kita ini manusia, apa kau tidak punya semacam tanda lahir? Oh... Aku fikir itu yang membedakan kami dengan binatang sepertimu. "
Sambil berkacak pinggang, Lisa menatap Gea dengan tajam dan bengis.
"APAA? Kau bilang aku binatang? Kau yang binatang, untuk apa kau ikut campur urusanku dengn dia, oh.. Apa kalian dari kasta yang sama? Kau tersinggung ya karna merasa dari golongan rendahan juga?. "
Gea maju mendekat ke hadapan Lisa, tidak ada yang berani melerai, Medina sudah terserang panik ingin meraih lengan Lisa tapi di tahan Amel yang juga takut kalau ikut terseret dalam pertengkaran ini, karna biar bagaimanapun, mereka cukup tau betapa berkuasanya keluarga Gea di dunia entertaint ini.
"kau tidak berkaca? Orang rendahan seperti kami saja tau bagaimana bicara dengan sesama manusia, hanya denganmu aku harus bicara bahasa binatang seperti ini karna kau memang tidak mengertikan bahasa kami? Kau bilang kastamu tinggi? Hah.. kalau melihat kasta tinggi sepertimu aku lebih suka berkasta rendah saja, kau juga bilang dia jelek, hey.. lihat kecermin didepanmu, wajahmu saja tidak bisa kau rias sendiri masih mengatai orang yang memperbaiki wajahmu. "
Lisa menunjuk-nunjuk wajah itu, nampak Gea dengan nafas memburu sudah tidak sabar ingin meraih rambut Lisa dan menjambaknya dengan keras.
"dasar kau kasta rendahan, beraninya kau menilai diriku dengan penilaian sampahmu, kau harus membayar kata-katamu, aku akan memenjarakanmu. "
Gea yang kalap meraih lengan Lisa, menorehkan cakaran panjang yang berdarah di sana, Lisa yang tiba-tiba diserang sempat mundur dan berlari ke luar ruangan, karna ia tahu di ruangan itu banyak benda berharga yang bisa saja jadi pelampiasan kemarahan Gea, tapi dengan sigap Lisa yang sudah di luar ruangan menarik gaun yang di pakai Gea hingga lengannya robek, gadis itu semakin kalap dan histeris, semua orang hanya bisa menatap panik, tidak ada yang berani mendekat karna tadi saja salah satu cameraman sudah ingin membantu memisahkan malah kena cakaran dan jambakan dari tangan Gea.
Gadis itu benar-benar seperti orang yang kerasukan, ia sangat tidak terima dengan kata-kata yang di lontarkan Lisa barusan.
" sebaiknya kau meminta maaf lebih dulu, apa kau tidak punya perasaan saat menyinggung orang tua dan fisiknya? kau juga di lahirkan dari kedua orang tuakan? meskipun aku tidak tau orang tua seperti apa yang melahirkan anak sepertimu. "
Aaaaahhh...
Dua teriakan sekaligus, karna Gea juga meraih rambut Lisa dan menariknya lebih keras.
"orang tuamu yang akan mencium kakiku nanti setelah apa yang kau lakukan ini padaku, aku akan membuat orang tuamu ikut membayarnya, dasar kasta rendahan... !. "
Beberapa tangan yang kembali mencoba melerai sudah kewalahan, mereka saling mengikat satu sama lain, tidak bisa di lepaskan, bahkan rambut Lisa sepertinya sudah kusut dan berantakan sekali, hal itu membuat Medi panik dan akhirnya menelfon Nayyara.
#
Dan disinilah sekarang mereka, diruangan mediasi dengan beberapa orang saksi serta bukti-bukti yang sudah ada termasuk rekaman cctv sebagai pendukung, Lisa di temani Medina, Anita sebagai pengacaranya, dan Darren yang menjadi presdir perusahaan yang menaungi Lisa.
Gea di dampingi kuasa hukumnya yang berjumlah lima orang itu nampak duduk sombong melirik ke Lisa yang tidak ingin sama sekali menyapanya, padahal ia tidak terluka sama sekali, tapi entah mengapa ia memakai perban di kepalanya, ditambah hal yang membuat Lisa dan Medi kaget ialah Gea yang menyiapkan hasil fisumnya sendiri ke hadapan kuasa hukumnya.
__ADS_1
Cih.. Dasar gila, dia fikir aku membuatnya geger otak.
Lisa menggeram dalam hati, Medi juga menunjukan ekspresi yang sama, itu artinya fikiran mereka sedang memaki hal yang sama.
"kau menuntutnya setengah milyar? Heuh.. sepertinya kepala anda benar-benar terbentur ya? Belum lagi pinalti yang harus di bayar perusahannya di angka yang fantastis, nona Gea, apa kastamu yang tinggi itu sedang runtuh sampai memeras segini banyak dari kasta rendahan seperti claent kami? ".
Sindiran sarkas terlontar dari mulut Anita dengan senyum sinisnya, ia memandangi kuasa hukum yang berjejer di sebelah Gea satu persatu, sepertinya kalian bekerja sangat keras ya, gumamnya dalam hati.
" aku melakukan ini karna kata-katanya sangat melukai hatiku, anda juga tahu kan kalau luka di dalam lebih rentan dan sulit di obati, belum lagi penyerangan yang dia lakukan terhadapku, ah.. Nilai segini sebenarnya tidak ada apa-apanya buatku, tapi sepertinya sangat berat ya buatmu? aku bisa menurunkan nominalnya kok, asalkan seperti yang aku bilang padamu di perkelahian kita, suruh orang tuamu mencium kakiku. "
Tertawa sinis sambil menatap Lisa dengan kesombongannya, Gea seperti tidak punya rasa malu atau takut pada apapun di hadapannya, Lisa mengepalkan jemarinya, ia sudah ingin menghambur menampar wajah itu kalau saja Medi tidak menahannya dengan kuat.
sialan
Lisa memaki dalam hati, kepalanya memanas sampai seperti membakar rambutnya.
"ini persyaratan damaimukan? jika kami tidak ingin berdamai dan membawanya jauh ke jalur hukum, anda tidak keberatankan? Nona Gea, penyerangan di mulai dengan nona Lisa itu hanya terlihat dari CCTV di bagian ruangan kalian berkelahikan? apa anda tidak tahu? Siapa tahu ada yang merekam kalian dari ponsel di ruang make up, awal pertengkaran kalian dari sanakan?".
Mata Gea membelalak, ia juga baru tahu kalau memang benar ada yang merekam ia dan Lisa berkelahi di mulai dari sana, kembali ia melirik Lisa yang sekarang tersenyum sinis kearahnya, Anita hanya bersikap tenang, sebagai kuasa hukum yang di tunjuk perusahannya ia bersyukur mendapat kasus dari perusahaan Vano, bertemu kembali dengan Vano sedikit membuatnya bersemangat dengan kasus ini, pokoknya dia harus sekuat tenaga memenangkan kasusnya.
"apa kalian yakin tidak ingin berdamai? clayent kami hanya memberi kalian satu kesempatan saja, jika sudah masuk pengadilan, kami tidak akan memberi keringanan apapun pada kalian. "
Ancaman basa basi dari salah satu kuasa hukum Gea, membuat Anita tersenyum kecut tanpa rasa takut, walaupun kalian keroyokan begini tidak akan membuat aku gentar, fikir Anita.
Pada akhirnya Darren yang sejak tadi diam mendengarkan dan membaca situasi angkat bicara.
"nampaknya mediasi ini berjalan alot, kita akan bertemu di pengadilan saja, silahkan tambahkan tuntutan kalian, kami tidak masalah, tapi.. Saya harap kalian bisa memenuhi tuntutan kami jika artis kami terbukti tidak bersalah, selamat bekerja sama, saya harap juga kita bisa sama-sama ko-operatif dalam menangani kasus ini. "
Darren berdiri, diikuti kuasa hukum dari pihak Gea dan Anita yang saling berjabat tangan, senyum dingin nampak terpancar dari masing-masing wajah, namun itu bukanlah hal yang di takuti Darren saat ini, karna yang lebih menakutkan adalah telfon dari Vano beberapa menit yang lalu sebelum mediasi di mulai.
"penjarakan wanita itu, dia melukai Yaraku, kalau kau sampai gagal mengurus ini, aku pastikan kau tidak bisa bertemu ayahmu tahun ini. "
Itu artinya dia tidak dapat ijin untuk libur tahunan, ritual setiap tahun untuk menemui ayahnya di tempat nan jauh disana akan sirna bila ia tidak dapat memenagkan kasus ini, ah... Apa aku mengadu saja pada paman ya?,Gumamnya menjawab kekhawatirannya sendiri, sepertinya itu bisa menjadi alternatif penyelamat diri.
Bersambungâș
__ADS_1