
Beberapa jam sebelum kejadian
"katamu kak Nayyara akan datangkan, kenapa sampai jam segini dia belum terlihat?. "
Gun menghela nafas, sebenarnya ia tidak mau datang saat Brian terus menelfonnya, tapi karna ulahnya yang mengganti pesan Nayy untuk Brian ia jadi kesal sendiri, hal yang ia fikirkan setelah ini adalah hanya menunggu Brian bosan dan putus asa, lalu membenci Nayy yang di anggapnya tukang bohong, lalu Brian akan membenci gadis itu, berhenti menyukainya sehingga ia bisa sendirian mendekati kak Nayy tanpa harus bersaing dengan bocah ini, itulah fikiran Gun saat ini.
"aku akan mendatangi rumahnya saja kalau begitu. "
Brian yang tiba-tiba berdiri dan melangkah menuju parkiran sepedahnya, membuat Gun terperanjat kaget, ia lalu mengejar langkah Brian dengan panik.
"kita tunggu saja sebentar lagi, mungkin kak Nayy sedang sibuk sesuatu. "
"tidak bisa, karna dia tidak bisa di hubungi dengan ponsel, kau taukan dia tidak diberi ponsel karna masih sekolah, ayahnya cukup tegas mendidiknya, ia hanya bisa menggunakan ponsel ibunya, sedangkan sekarang ibunya pasti belum pulang dari bekerja, aku harus kerumahnya untuk memastikan. "
"eh tunggu Bri.. ".
Gun menahan Brian yang sudah ingin naik kesepedanya.
" tunggu saja, mungkin kak Nayy sedang menunggu ibunya pulang kerja. "
"jika itu alasannya dia tidak akan berjanji akan datang, aku tau hari ini ulang tahun ibunya, aku ingin memberikan sesuatu padanya, makanya aku memintanya bertemu sebelum ibunya pulang, kau menyampaikan pesanku dengan benarkan? ".
Brian menatap tanya pada Gun yang langsung salah tingkah, bocah itu terlihat sedikit terkejut tadi.
" tentu saja Bri, kau kan langsung menerima balasannya dariku kan?. "
"makanya Gun, aku takut dia kesulitan mendapat ijin dari ayahnya, lebih baik aku kerumahnya, memastikan kalau dia baik-baik saja, tidak jadi bertemu di sini juga tidak apa-apa, aku bisa bertemu dirumahnya barang sebentar, memberikan sesuatu yang sudah aku siapkan untuknya. "
__ADS_1
"memangnya kau mau memberinya apa?. "
Brian tersenyum malu,tapi dengan semangat ia merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah liontin dengan gantungan berbentuk bintang yang dapat di buka,ia membuka bintang itu, ada foto berukuran kecil disana, Brian terkekeh melihatnya, padahal ia sendiri yang meletakkan foto itu disana.
"kau bilang kau menyukai kak Nayy, kenapa malah foto kakakmu yang kau pasang disana? ".
Gun bertanya-tanya dengan kernyitan di dahinya saat melihat foto kakaknya Brianlah yang malah mengisi liontin itu.
" itu karna aku ingin kak Nayy menyukai kakakku jika dia tau perasaanku, kitakan masih sangat kecil untuk pacaran Gun, aku juga sadar diri jika mungkin nanti perasaanku bisa berubah pada kak Nayy, nah.. Kalau kakakkukan sudah dewasa, aku akan mengarahkannya pada wanita baik-baik seperti kak Nayy. "
"jadi maksudmu bagaimana? Kau mau menjodohkan mereka gitu?. "
"benar, jadi ayo antar aku kerumah kak Nayy, sebelum malam semakin larut. "
"kalau kakakmu tidak suka dengan kak Nayy bagaimana? ".
Percaya diri Brian membuat Gun nampak kesal, itu sebabnya ia tadi sudah menjahili Brian dengan memotong tali rem sepedanya agar Brian setidaknya kesulitan jika melewati jalan menurun, biar dia merasakan sakitnya terjatuh di kecewakan oleh barang yang disayanginya sendiri.
Gun menolak pergi dengan Brian kerumah Nayy, tapi diam-diam ia mengikuti Brian dari belakang untuk memastikan apakah bocah itu bisa bertemu Nayy atau tidak, hingga di persimpangan jalan, Gun melihat Brian yang berpapasan dengan ibu Nayy yang baru saja pulang bekerja.
#
"jadi kau Brian yang suka di ceritakan Nayyara ya?".
wanita berlesung pipi itu tersenyum pada Brian, sambil berjalan menuntun sepedanya Brian tersenyum, ia tersipu karna Nayy yang ternyata menceritakan soal dirinya pada ibunya.
" maaf tante, aku mengganggu malam-malam, aku janji akan segera pulang jika urusanku dengan kak Nayy sudah selesai. "
__ADS_1
Sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menyimpan rasa malu dan sungkan saat di tatap oleh wanita yang harumnya sama seperti mamanya itu, Brian tersipu, karna ibu Nayyara membalasnya dengan senyuman.
"tidak apa-apa, kau juga boleh datang kerumah kami kapan saja, terimakasih ya sudah mau jadi temannya Nayyara, dia agak tertutup, makanya tidak banyak temannya di sekolah ataupun di luar rumah, dia bilang kalau dia punya teman dekat saja rasanya membuat tante senang. "
Bahu Brian di sentuh hangat oleh tangan itu, sambil berjalan menyusuri jalan yang mengantarkannya pada rumah yang selalu menyambutnya dengan senyum hangat disana, rumah yang membawanya pada dua orang yang sangat ia cintai.
Mereka berhenti di pinggir jalan, menunggu untuk menyebrang jalan, karna di seberang sanalah jalan menuju rumah Nayyara berada, ibu Nayyara masih mendekap bahu Brian yang menyeret sepedanya di sebelah tangan satunya, mereka saling membalas tawa kecil saat obrolan ringan menyertai mereka, setelah tengok kiri kanan sepertinya sudah tidak ada kendaraan yang lewat, Brian melangkah dengan riang, mendorong sepedanya di ikuti langkah ibu Nayyara yang terus tersenyum menatap Brian yang sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan anaknya.
Sampai beberapa detik kemudian, ibu Nayyara menyadari lampu sorot dari sebuah bus nampak aneh dari kejauhan sana, Brian tepat di tengah jalan, anak itu berhenti karna sedang melihat ban sepedanya yang nampak macet, ia memeriksa apa yang aneh dari sepedanya hingga tidak menyadari sebuah bus melaju ke arahnya, ibu Nayyara berlari meraih tubuh Brian, tapi decitan ban dan klakson yang bersahutan nampak memekakan telinga, teriakannya yang memanggil nama Brian tidak di dengar oleh anak itu, seketika dua tubuh itu melayang dan terlempar jauh ke sudut jalan, bus yang menabrak pun oleng menghantam tiang lampu jalan, dua tubuh itu merintih sesaat, sambil memeluk tubuh Brian yang sama-sama terluka dan mengeluarkan banyak darah di bagian kepala, ibu Nayyara menutup matanya terlebih dahulu, sedangkan Brian yang menahan rasa sakitnya, sampai rintihannya tak terdengar, sambil menatap wajah yang tepat berada di hadapannya, ia menangis, lalu gelap, sunyi dan dingin menelingkupi kepalanya.
"maafkan aku kak Nayy, maaf. "
malam itu, angin berhembus sangat lembut, sunyi yang sesaat di ciptakan oleh alam seketika gaduh banyak suara menerpa datang, mengerumuni setiap sudut jalan, di antara orang-orang yang berlarian dan berkerumun di sana, satu sosok termangu dengan debar bersalah di dada, ditangannya menggenggam liontin yang sempat ia ambil tadi dari saku jaket milik Brian.
Gun nampak gemetaran, ia berlari menghindari tempat kejadian, sudut matanya berair, ia ingin menahan tangisnya tapi tidak bisa, sambil menggoes sepedanya menuju tempat dimana orang lain tidak bisa menemukannya, ialah rumah yang siapapun tidak bisa menyangka kalau malam ini ia menjadi saksi atas tragedi yang menimpa sahabatnya, tidak... Dalam fikirannya kini, ia akan menhapus Brian dari kata sahabatnya, dia cuma teman, ya... Teman sekolah dan teman bermain saja.
#
Masa kini
Dalam kamar apartement, Gun menatap dirinya di cermin, raut wajahnya mendung dan gelap, dua bir kaleng yang tadi di habiskannya ternyata tidak bisa menghapus ingatan yang sudah sangat melekat dikepalanya.
Mimpi, ternyata bukan hanya Vano yang di hantui mimpi kedatangan wajah tangis Brian di alam bawah sadarnya, ia juga mendapatkan siksaan seperti itu, tapi dalam mimpinya, Brian hanya sedang menatapnya dengan mata kemarahan dan kepala tangan yang nampak penuh dendam, semenjak kejadian itu, tidurnya tak lagi nyenyak seperti masa dulu.
Di genggamnya kalung dengan liontin bentuk bintang di telapak tangannya, rasa bersalah yang brtahun tahun ia pendam kini semakin terkuak kepermukaan, rasa takut dan rasa ingin mengakhiri semua ini nampak membuatnya putus asa, wajah Nayyara terus berkelebat di kepalanya, dan wajah Vano yang juga sekarang menjadi keresahannya, akan mengambil semua yang ingin di milikinya, Gun menggenggam lagi kalung itu, dengan rasa marah dan sorot mata memerah, ia kini tidak punya jalan untuk kembali.
Bersambung😊
__ADS_1