
Apa yang Nayyara alami saat ini adalah pertentangan dari fikirannya,untuk pertama kalinya, ia menahan nafasnya karna tidak bisa berfikir jernih, apa yang baru saja terjadi di luar kendalinya.
Devano menciumnya, benar memang, ada debar yang aneh seperti menggelitik di tubuhnya, lalu perasaan seperti sesuatu yang menghangat muncul atas reaksi itu, takut tapi juga ingin, jadi satu, Yara pun tidak tahu harus melakukan apa, otaknya terus berfikir realistis tapi hatinya ingin menerima ini dengan bahagia.
Apa akhirnya aku mengakuinya kalau aku jatuh hati padanya?
Itulah yang Yara pertanyakan pada dirinya sendiri, rasa nyaman yang sejak dulu ia rasakan jika didekat Vano kini mencuat menegaskan bahwa hatinya memang ingin di miliki Vano secara utuh, kini... Laki-laki yang selalu myadarkannya akan kata-katanya yang sangat menyakitkan, dimana ia tidak boleh berharap pada ketulusan siapapun termasuk dirinya.
Lalu sekarang apa? Menjilat ludah sendiri sepertinya bukan gaya Vano, tapi laki-laki itu baru saja mengatakannya dan menciumnya, apa orang bisa berubah seiring berjalannya waktu?
Dan bagaimana perasaan Yara saat ini? Dirinya sendiripun tidak tahu, deretan nama laki-laki dalam hidupnya hanya ada Vano dan Darren dari segi kedekatan yang lumayan dekat, dan ia tidak bisa pungkiri kalau mereka berdua yang paling Yara hindari sejak dulu.
Karna dikepalanya tertanam bagaimana kasta dan derajat kehidupan seseorang sangat berpengaruh di dunia nyata, ia tidak ingin mengambil resiko patah hati dan di buang seperti sampah oleh para lelaki konglongmerat seperti mereka.
tapi kini kenapa Vano menjadi pengecualian?
Aku juga tidak tahu....!
Teriak Yara dalam kepalanya sendiri, hari-harinya yang kini sangat terbiasa dengan laki-laki itu membuatnya ingin selalu bersapa meski dengan kata-kata ketus dari mulut Vano, pria yang ternyata diam-diam masuk menelusup ke hatinya yang terdalam.
Dia baik sedari dulu, meski dia sering megatakan hal yang menyakitiku, dia pernah tersenyum dan menertawakanku, walau sampai saat ini kebenciannya padaku masih belum bisa ku raba, tapi aku merasa sangat meyakini hatinya, apa tidak apa-apa kalau aku sedikit serakah ingin memilikinya?
Itulah yang menjadi pertanyaan panjang Yara pada dirinya sendiri, meragukan sikap Vano yang seperti berubah seratus delapan puluh derajat padanya.
Namun hati tidak bisa berbohong, ia ingin menggenggam tangan yang hangat itu, ia ingin memeluk bahu yang jenjang itu, megelus dada bidang milik pria itu, dan melukis semua senyum Vano dalam hidupnya, apakah itu mungkin? Dan apa yang akan menjadi pegangannya untuk jaminan jika Vano tidak lagi membencinya?.
Itu sebabnya mengapa ia mempertanyakan apakah ia akan di buang nantinya?
#
__ADS_1
" apa yang harus aku lakukan kak? Bagaimana ini? Bukankah aku tidak boleh memiliki perasaan ini? Harusnya aku tahu dirikan?. "
Dengan wajah murung, Yara menatap lesu Darren di hadapannya, mereka sedang minum kopi berdua di jam makan siang kantor, rutinitas setelah liburan mengharuskannya kembali kedunia nyata yang penuh tekanan.
Pria itu hanya tersenyum melihat Yara yang namapk kacau dengan perasaanya, padahal seharusnya semua sudah berjalan mulus, Devano yang sudah membuka diri harusnya lebih mudah menjalani semua kedepannya, hanya tinggal menutup masa lalu yang penuh dendam itu, bagi Darren ini semua sudah masuk kejalan yang benar.
Tapi sepertinya benar kata orang-orang, perasaan wanita memang serumit itu, mereka akan terus berfikir jika semua yang dialaminya tidak masuk dalam rumus kepalanya, mereka akan benar-benar mencari jalan yang real yang bisa diterima kepala dan hatinya, semua itu harus sinkron seperti maunya.
"dia cemburu kalau aku dekat denganmu Nayy, tapi selalu marah dan menyuruhku segera pergi menemuimu jika dia habis membuatmu menangis, dari awal perlakuan tidak masuk akal itu sudah ada, jadi apa yang kau khawatirkan? Vano memang seaneh itu,dia laki-laki yang bertindak sesuai pemikirannya sendiri. "
nasihat Darren yang selalu menjelaskan dengan hati-hati dan lembut, Yara selalu nampak nyaman saat bicara padanya.
"aku hanya takut kalau sekarang aku sedang bermimpi, semua perlakuan kak Vano dan perasaan ini akan hilang saat aku bangun nanti. "
Aaaaa...
seketika cubitan di tangan Yara terasa, gadis itu meringis kesakitan.
"sakit kakak. " masih usap-usap tangannya yang tadi kena cubit.
"sudah percaya kalau ini bukan mimpi?. "
Darren terkekeh lembut.
"kak Darren !, apa kak Vano tidak bicara apa-apa tentangku pada kakak? Aku ingin tahu apakah dia secara sadar sedang menerimaku dengan tulus atau tidak?. "
"kau masih ragu ya? Apa aku harus mencubitmu lagi? ".
" kakak hanya jawab saja apa susahnya sih. "
__ADS_1
Helaan nafas lembut Darren dan senyum hangat pria itu kembali terlihat, ia memang harus bekerja keras rupanya untuk meyakinkan Yara.
"tidak ada yang Vano katakan, tapi dia mengancamku dengan beberapa kalimat, mulai sekarang berhenti mendekati yaraku, tugasmu sudah selesai untuk selalu datang padanya di saat dia sedih, mulai sekarang hanya aku yang boleh menghiburnya atau pun menemaninya jika ia menangis. Hanya itu yang dia katakan, lalu dia pergi begitu saja. "
"ish, kenapa drama sekali sih, orang yang sering membuatku menangiskan dia, lalu aku harus bagaimana kalau dia juga yang datang untuk menghiburku?. "
Sambil menahan senyum malunya Yara berpura-pura sibuk dengan kopi dingin di gelasnya.
"kalian bisa saling berpelukan atau saling bergandengan tangan jika itu terjadi. "
Darren memberi saran lebih mendekati ejekan menggoda, membuat wajah Yara semakin merah jambu.
Mulut Yara sudah akan membuka saat tiba-tiba ponsel di atas mejanya bergetar, matanya beralih kelayar mini itu, dari Medi, ia segera mengangkatnya.
"ya Med? ada apa? ".
Wajah Yara seketika berubah, yang tadinya merona merah jambu jadi pias dengan kernyitan halus di dahinya, membuat Darren menebak ada yang tidak beres dengan pekerjaannya, karna yang menelfon Medina, gadis itu sedang kerja di luar menemani Lisa bukan?
" ada apa? "
Todong Darren langsung pada saat Yara menutup telfonnya.
"aku harus pergi kak, tolong control media online yang menaikan berita beberapa menit lagi, Medi bilang Lisa membuat masalah dengan salah satu model bintang iklan yang sedang bekerjasama dengannya saat ini, aku akan langsung ke lokasi studio, gedung itu tidak jauh dari sini. "
Tangannya sibuk memasukan apapun miliknya yang ada di atas meja, tanpa menunggu jawaban Darren, gadis itu setengah berlari meninggalkan cafe tempat mereka ngopi hari ini.
Ah.. Sepertinya hari yang sibuk mulai kembali.
Tukasan Darren dalam hati, walau bibirnya tersenyum, mulutnya menghela nafas halus, ia segera membuka ponselnya dan berseluncur di dunia maya yang selalu sibuk dengan up date berita terbaru, situs daring miliknya di banjiri beberapa komentar setelah foto Lisa dan satu wanita bergaun anggun itu sedang sama-sama menarik rambut masing-masing, bahkan ada yang mengunggah Video Lisa yang sedang memukul wajah wanita itu, seketika Darren memegang belakang kepalanya.
__ADS_1
Bersambung😊