Benci Yang Merindu

Benci Yang Merindu
liburan terpaksa


__ADS_3

Tiga lelaki tampan duduk dengan masing-masing gayanya, nampak dua diantara mereka saling menatap sinis dan tidak ingin kalah, tangan di lipat di dada dengan wajah pongah, sedangkan satu kakinya bertumpu pada satu kaki di bawahnya, siapa lagi kalau bukan Devano, hari ini ia sengaja memakai jass ke banggaannya untuk menunjukan siapa yang di sebut lelaki sebenarnya.


Sedangkan Mario memang hanya dengan gayanya yang nampak simple tapi tetap saja terlihat elegant, kemeja hitam dengan dua kancing teratasnya yang di biarkan terbuka dan lengan panjangnya yang di gulung sampai ke siku, jangan lupakan topi sport dengan merk sponsor utama musicnya nampak membuatnya sangat muda dan rapih, bau parfum mewah menyengat di tubuhnya.


"apa kau mau melakukannya?. "


tukas Darren, ia duduk di sisi kanan Vano, pertanyaan itu ia tujukan pada Mario yang kini tersenyum sumringah.


Yahh.. Kabar bahwa lagunya di lirik oleh sponsor sepertinya memang cukup membahagiakan dia, apa lagi ini pertama kalinya ia akan launching dengan konser bersma album mininya.


"tentu, memangnya siapa yang akan menolak, bukankah kita akan dapat pundi-pundi uang yang berlipat-lipat? Ini akan jadi berita gembira untuk semua staf bukan? . "


Mario nampak antusias, ia bahkan sampai membusungkan dada membanggakan dirinya, ditambah bayangan wajah Nayyara yang pastinya sangat bangga dan bahagia dirinya bisa naik sejauh ini, aku akan ajak kakak makan malam romantis setelah konser nanti, fikirannya sudah melayang kemana-mana.


"dengan syarat jangan libatkan Yara di pekerjaanmu kali ini. "


Vano membuyarkan angan-angan Mario sekejap mata, laki-laki itu kini saling menatap, yang satu menyatakan ketidak sukaannya pada bocah ingusan di hadapannya dan yang satu membelalak marah.


"Yara? Kak Nayyara? Kenapa? Diakan managerku, dia harus terlibat disegala urusanku. "


protes Mario


"tidak, aku tidak ingin dia kelelahan, konsermu walaupun tidak di tempat terbuka dan tidak sebesar artis papan atas lainnya, tetap saja menguras tenaga staf dan kru yang akan bekerja, jadi jangan libatkan Yara, dia akan bekerja denganku di tempat yang nyaman. "


Vano tersenyum mengejek, Darren berdehem kecil, melihat dua pria merebutkan Yara yang tidak tahu apa-apa.


" Nayyara akan keluar kota, ada beberapa pekerjaan yang harus dia urus bersama ketua teamnya, Medina dan Alfian akan membantu pelaksanaan konsermu. "


"kalau aku tidak mau bagaimana? Aku ingin Kak Nayy yang tetap mendampingiku".


merajuk adalah sikap handal Mario pada presdirnya, karna ia tahu Darren type laki-laki penyayang seperti kak Nayy.


" cih.. Dasar bocah...


"aku bukan bocah. " protes Mario yang membelalak lagi menatap Vano.

__ADS_1


"tidak apa-apa Mar, selain Medi dan Alfian, aku akan datang untuk memantaumu, aku fikir ini tidak akan memakan waktu lama. "


Masih dengan senyum Darren memberi penjelasan pada dua laki-laki yang beberapa hari ini membuatnya pusing.


"bagaimana kalau di ganti, biar kak Nayy di konserku, kak Medi saja yang pergi dengan dia. "


Aahh, dasar bocah ingusan, apa aku beri tahu saja ya kalau aku presdir yang sebenarnya disini.


Devano mulai jengkel dan kesal, ia membuang nafasnya dengan kasar beberapa kali sambil melirik Darren untuk cepat menyelesaikan ini.


Darren yang sepertinya terjebak dilema, ia juga ingin memaki dalam hatinya tapi tidak bisa karna focus mencari alasan di kepalanya.


"kau lebih membutuhkan Medi, karna dia akan mengurus soal keuangan sponsor yang masuk agar kita tidak rugi dan kecolongan seperti sebelumnya, ingatkan pradebutmu dulu, ada beberapa iklan yang tidak terdaftar masuk kedalam postermu. "


Mario terdiam, membenarkan kata-kata Darren yang tidak bisa ia pungkiri, pada akhirnya ia hanya menghela nafas pasrah dan kecewa karna ia tidak bisa mewujudkan rencananya dengan Yara.


#


Darren tidak habis fikir dengan tuannya, yah.. Kalau bukan karna dia memaksa Yara ikut dengannya keluar kota, tidak, soal pergi dinas keluar kota sepertinya hanya alasan saja, entah kenapa tiba-tiba Vano punya pekerjaan yang mengharuskannya pergi keluar kota, bukankah sangat mendadak dan ini tentu saja tidak diketahui Darren.


Tukasan Vano yang kesal karna ditanya-tanya terus perihal pekerjaannya keluar kota.


dih, menjual nama paman di depanku, kau tau kan mana aku berani melakukan itu.


Hanya hati Darren yang menjawab, aslinya dia hanya mengangguk saja dan tersenyum percaya.


Benar memang soal pekerjaan keluar kota itu, Devano memang di suruh bertemu dengan rekan kerja papahnya yang lumayan petinggi penting di daerah tersebut, soal kerja sama di perusahaan pembangunan yang di ketuai papahnya.


Ia harus mewakili sang papah untuk meeting masalah kontrak, sekalian saja pergi menikmati perjalanan yang pastinya akan seru bila ia mengajak Yara, tiba-tiba saja ide itu muncul saat melihat wajah Mario tadi di kantornya, makanya ia buru-buru menyampaikannya pada Darren.


"saya akan memberi tahu Nayyara secepatnya. "


"hm, cepatlah, bilang juga padanya aku akan menjemputnya saat keberangkatan nanti. "


Apa itu? Darren agak mengerutkan kedua matanya, ia tidak salah lihatkan? barusan Devano tersenyum dan menunjukan wajahnya yang memerah sesaat, sepertinya ia sangat bahagia bisa pergi berduaan dengan gadis yang memang di incarnya sejak dulu.

__ADS_1


Yah... Vano memang sangat ketus dan agak membenci Yara kelihatannya, sejak dulu siapapun orang yang melihat sikap Devano terhadap Yara akan tahu bagaimana Vano terlihat sangat mengganggunya dan menyakitinya, tapi.. Hanya Darren yang sadar sikap Vano terhadap Yara, membencinya tapi juga sering sekali merindukannya, bukankah itu aneh untuk orang yang hanya ingin membuat wanita itu menderita.


Sejujurnya, setiap kali Vano menyakiti Yara, gadis itu akan menangis atau terlihat agak sedih, tanpa berfikir dua kali Vano akan memerintahkannya untuk segera pergi menemui Yara, menghibur gadis itu dengan cara apapun, yang penting Vano bisa dengar dari mulut Darren kalau Yara masih terlihat baik-baik saja.


Awalnya Darren bingung dengan sikap Vano, tapi saat Vano menjawab pertanyaannya dengan jawaban bimbang juga, Darren menarik kesimpulan kalau Vano sebenarnya, jauh di lubuk hati terdalamnya, sudah jatuh dalam dunia Yara, tanpa sadar, laki-laki itu mengasihinya dengan tulus, hanya Yara yang memenuhi keoala dan isi hatinya saat ini.


"entahlah, aku juga tidak tahu perasaan apa ini, tapi, meski aku membencinya, aku tidak ingin dia bersama siapapun kecuali aku. "


Itulah yang Vano katakan dulu, makanya, Darren sangat menjaga Yara saat Vano tidak ada, saat pria itu harus meneruskan sekolahnya ke luar negri, Darren diperintahkannya untuk selau memonitor Yara dari jarak yang dekat, Darren masuk kefakultas yang sama dengan Yara meski gadis itu tidak menyadarinya, lalu melaporkan setiap pergerakan Yara pada Vano disana.


Darren menjadi jembatan antara Yara dan Vano yang saling terikat benang kasat mata itu, meski mereka berdua tidak menyadarinya, Darren sudah tahu akhir dari perselisihan hati mereka masing-masing.


Dan kini harapan Darren hanya satu, semoga dua anak manusia itu dapat segera menyadari perasaan mereka masing-masing.


#


"hah? Keluar kota? Apa tidak salah kak? Akukan bukan sekertaris kak Vano,itu bukan pekerjaankukan?"


Darren menghela nafas, rasanya lemas dan lelah sekali harus menjadi jembatan seperti ini, kenapa Vano lebih merepotkan dirinya seperti ini ya? Tapi... Bukankah ini bukan apa-apa di banding pertolongan keluarga Vano padanya.


"iya, aku mohon ikuti saja kemauannya Nayy, lagi pula kau juga belum pernah berliburkan? Anggap saja ini liburan gratis. "


Yara berkernyit menatap Darren yang tersenyum lebar, sepertinya mereka berdua sekongkol untuk menjebak aku masuk kedalam Neraka yang di siapkan Kak Vano kali ini. Fikirnya


"yah.. Memangnya aku bisa menolak? Baiklah, anggap saja aku sedang liburan membawa harimau."


Akhirnya pasrah, Darren terkekeh mendengar Yara yang nampak tidak bisa protes dengan keputusan mutlak yang diberikan Vano padanya.


"bersenang-senanglah disana, jangan hiraukan Devano, anggap saja dia tidak ada. "


Saran yang sepertinya tidak bisa menjamin keadaan sesungguhnya dari Darren, Yara menghela lagi, mana bisa menganggap orang yang selalu menyuruh-nyuruh itu tidak ada, belum pergi saja rasanya suara memerintahnya sudah terdengar ditelinga.


ayo Nayyara semangat, kan mau liburan


Hihihi

__ADS_1


Bersambung😊


__ADS_2