Benci Yang Merindu

Benci Yang Merindu
bermain air


__ADS_3

Darren berkacak pinggang memandangi arus air yang mengalir sedikit deras, ia lalu memandang langit yang biru meski matahari sembunyi di balik awan-awan yang masih sedikit menggelap, tidak akan terjadi hujan untuk saat ini, prediksinya mungkin hujan akan turun di sore atau malam hari seperti kemarin.


Untuk itu ia memilih memainkan arum jeram terlebih dahulu ketimbang permainan yang lain, mereka semua sudah memakai atribut lengkap untuk sevety, kali ini Lisa paling bersemangat karna ia menemukan permainan yang cocok dengan stayle nya.


"berhati-hati ya, tolong saling menjaga satu sama lain. "


Ucap Darren mengkomandoi para staf dan kru yang ikut terlibat dalam permainan ini, termasuk Yara, sebenarnya ia masih tidak nyaman dengan PMS nya yang masih membuat perutnya sedikit nyeri, tapi karna ia juga ingin mencoba, makanya ia mempersiapkan segalanya dengan rapih dan matang termasuk pakai celana yang anti tembus-tembus dan bikin lepek.


Ada yang baru dari suasana hari ini, semua menyadari itu, Vano yang selalu nampak tersenyum senang sejak keluar kamarnya pagi tadi, Medina nampak melihat antara Darren dan Vano,ia nampak kasihan pada Darren karna Yara sepertinya di suaki juga oleh ketua teamnya itu.


Ah.. Cinta segi tiga rupanya, fikirnya.


" Al..! " bisik Medi yang memang berdiri paling dekat dengan Alfian.


laki-laki itu menoleh, padahal tangannya sedang sibuk mengaitkan baju savety.


"hm? ".alisnya naik satu, melihat Medi memanggil namanya dengan pelan tapi matanya terus menatap ke arah lain.


" menurutmu siapa pemenangnya? ".


" hah? ". Alfian makin bingung


Medi menyenggol lengannya dengan sikunya, lalu bibirnya agak di maju-majukan sedikit, membuat Alfian mengikuti arahan pandangan mata Medi yang nampak intens.


Oh, jadi ia sedang menatapi Yara dan Darren yang sedang memeriksa kelengkapan atribut di badan Yara, dibelakang Darren ada Vano yang nampak merecoki dan sesekali terlihat tertawa saat menjahili Yara dengan menarik helm penutup kepala yang Yara sedang gunakan.


Kembali ke soal pertanyaan Medi tadi, pria itu menghela nafas sambil geleng-geleng kepala melihat Medi yang nampak penasaran.


"bukannya sudah jelas".


sambil memeriksa lagi baju pelampungnya terikat dengan baik di tubuhnya, Medina melirik Alfian yang nampak sibuk sendiri.


" padahal presdir kita lebih dulu tertangkap basah sedang menatap Nayy dengan lembut, tapi di lihat dari kepribadiannya bukankan ketua team kita agak menyebalkan? aku sering melihat Nayy di suruh ini itu jika di kantor. "


"siapa yang tau?, itu semua hanya Nayy yang bisa merasakannya. "


"jadi menurutmu siapa? ". Medi misuh-misuh kesal


"memangnya kau mau taruhan apa? Mau Nayy dengan siapapun aku yakin itu pilihan hatinya. "


"aku kan hanya bertanya, menebak-nebak apa terkaan kita sama, dilihat dari perjuangannya selama ini yang menemani Nayy kan presdir, aku harap dia tidak patah hati. "


Alfian hanya menghela nafas, lalu meninggikan punggungnya, ia melengos pergi berkumpul dengan yang lain, sedangkan Medi masih nampak kasihan menatap Darren disana.


yang sedang di pandangi malah asik bercengkrama ria beraama Yara dan Vano yang sejak tadi tidak bisa diam, entah apa yang terjadi semalam, tapi Darren harapa dua temannya itu sudah baikkan, karana melihat Yara keluar dari kamar Vano cukup larut semalam.


"kak Nayy, duduk dekatku ya".

__ADS_1


Mario menyelak tempat duduk di perahu arum jeram yang sudah Nayy duduki, gadis itu tersenyum lalu memeriksa helm milik Mario untuk memastikan artisnya mendapatkan perlindungan yang lengkap.


wajah Mario langsung sumringah, diperlakukan tetap sama oleh Nayyara yang ia kenal, itu artinya tidak terjadi apa-apa semalam tadi, iya kan? fikiran Mario mengibati rasa penasarannya hari ini.


"berhati-hati ya, jangan sampai jatuh. "


pesan Yara pada Mario, si pria menggemaskan itu mengangguk-angguk lucu, Yara jadi tertawa melihatnya.


"pegang tanganku kalau kak Nayy ketakutan nanti ya".


" kita harus mendayung bodoh".


tiba-tiba Lisa datang langsung duduk di sebelah Mario, laki-laki itu mendengus kesal, mengganggu saja, yang dapat dengusan kesal hanya nyengir.


"pakai pengaman yang lengkapkan Lis? Hati-hati ya. "


Kembali Yara berpesan karna tidak ingin artisnya dapat luka sekecil apapun, ia takut mereka melukai tubuh mereka sendiri.


"siap kak. " lisa berkeling sebelah mata sambil mengangkat satu jempol tangannya.


"pindah sana, ini perahuku dan kak Nayy. "


Protes Mario


"dih.. gak lihat satu perahu muat lima orang".


" mengganggu saja. "


Lisa tidak takut meski Mario membelalak sekalipun, ia malah sudah bersiap dengan dayung di tangannya, Yara hanya menggeleng pelan melihat dua orang yang ia sayangi sedang adu tatap-tatapan.


Di perahu yang lain Vano yang kesal sudah ingin turun lagi di tahan oleh Darren, ia tahu Vano pasti kesal karna Mario duduk di perahu Yara, ditambah memang Yara yang minta tidak mau satu perahu dengan Vano karna tidak ingin menimbulkan gosip atas kejadian kemarin, karna malam saat Yara masuk kekamarnya ia di todong Moana pertanyaan-pertanyaan yang namapak menyudutkannya.


"tidak ada yang terjadikan, antara kakak dan ketua team?. "


"apa kakak sedekat itu dengan ketua team? ".


" kak Nayy cukup profesionalkan, aku harap kakak tidak mengotori kepercayaan kami. "


"bukankah kak Nayy pernah bilang type kakak bukan dari kalangan orang berada? Kak Nayy suka pria sederhanakan? Seperti yang kak Nayy pernah katakan ke kami. "


Itulah yang Yara dengar dari ucapan-ucapan yang keluar dari mulut Moana semalam, sepertinya gadis itu habis minum anggur, karna wajahnya nampak memerah dan sedikit mabuk.


Tapi meski begitu, ia telah membuat Yara tersadar, bahwa ia dan Kak Vano bukanlah hal yang cocok untuk jalan beriringan.


Kembali ke perahu Vano yang sejak tadi kesal karna ditahan oleh Darren dengan alasan yang sama,sebenarnya ia tidak peduli ada gosip atau tidak antara ia dan Yara, tapi Darren bilang ia harus mengerti posisi Yara yang mungkin tidak nyaman saat berada dengan teman-temannya.


"kalian kan bisa bicara saat kalian sedang berdua saja, anda juga bisa menyentuh tangannya sebebas yang anda mau tuan. "

__ADS_1


Mendengar hal itu mengingatkan Vano atas ciuman yang ia curi dari bibir Yara semalam, membangkitkan perasaan senang yang menggelitik sampai ke perutnya, seperti ada kupu-kupu berjalan dan mendebarkan hatinya.


Ah.. Ia menyukai perasaan ini, rasanya ingin mengulang lagi apa yang ia lakukan pada Yara, gadis itu manis sekali dengan wajah malu-malu yang memerah.


baiklah, kali ini ku biarkan bocah itu bertingkah di depanmu, tapi kau harus menerima hukuman dariku nanti.


Habis berfikir begitu akhirnya Vano duduk tenang dan bersiap untuk petualangannya hari ini, bermain arum jeram dan permainan air lainnya, mereka akan berendam di air terjun juga sepertinya.


#


perahu Yara telah kembali terlebih dahulu, mereka turun dengan perasaan gembira dan tawa yang nampak seru karna menceritakan perjalanan tadi saat di arum jeram, Lisa seperti biasa paling antusias, ia tidak berhenti bercerita dan tawanya menular pada siapa saja yang mendengarnya.


saat Yara dan yang lain masih melepas tawa, tiba-tiba ada dua orang berlari sambil terus bicara lewat walky talky yang membuat siapa saja yang melihatnya ikut panik.


"perahu nomor 4 terbalik, air menderas tiba-tiba, penumpangnya ada yang terbawa arus. "


Lisa, Mario dan Yara berhenti tertawa mendengar petugas yang berlari melewatinya, dahinya berkernyit untuk mengingat-ingat ada siapa di perahu nomor 4.


"perahu nomor 4,bukannya presdir dan ketua team disana?. "


Tukasan Lisa membuat mata Yara membelalak menatapnya, seketika ia pias dan nafasnya menderu dengan keras, dadanya bergemuruh berdebar tak karuan, darah yang mengalir ke otaknya seperti tiba-tiba berhenti, membuatnya tidak bisa berfikir jernih.


"kak Vano dan kak Darren? ".


tanpa berfikir lagi Yara berlari mengikuti dua petugas yang tadi juga berlari, Mario dan Lisa ikut refleks berlari mengejar Yara, Medina dan Alfian yang baru saja melepas atributnya kebingungan melihat tiga orang itu berlarian.


" ada apa?. "


Tukas Medi dengan wajah bingung


"entahlah". Jawab Alfian yang juga kebingungan.


Sedangkan Yara berlari menerobos apa saja yang ia lewati, ia hanya memikirkan Vano dan Darren secara bersamaan, meski hatinya lebih besar khawatir pada Vano, semoga dua lelaki itu baik-baik saja. Doanya dalam setiap derap kaki yang menuju tempat kejadian.


Nafasnya terengah saat dua petugas yang lebih dulu berlari tadi sampai di tempat kejadian dan langsung membantu korban yang ternyata sudah bearada di pinggiran sungai, air memang sedikit menderas, syukurlah tidak sampai membawa mereka ke tempat yang jauh karna arus kencang.


Yara menatap kesekeliling, ia mencari sosok yang ia ingin lihat saat ini, dari balik bebatuan besar, seseorang datang tergopoh-gopoh sedang di pobong seseorang, Yara langsung mengenali tubuh tegap tinggi itu, ia berlari menghampiri dua lelaki yang nampak kesulitan berjalan dengan pakaian basah dan baju pelampung yang sudah terlepas.


"Kakak! ". Teriaknya dengan penuh khawatir, Gun dan Darren menatap gadis yang berlari menghampiri mereka.


" kak Nayy". Tukas Gun


"Vano tidak disini, dia di bawa terlebih dahulu dengan tandu, sedikit kecelakaan tadi karna kepalanya terbentur bebatuan dan dia pingsan. "


Darren menjelaskan karna ia tahu Yara mengkhawatirkan Vano.


Benar saja, gadis itu langsung membelalak terkejut,tangisnya nampak sendu memanggil-manggil nama Vano.

__ADS_1


"kak Vano". isaknya


Bersambung😊


__ADS_2