
Mobil yang di kendarai Darren melaju cepat ke lokasi syuting tempat Mario dan Yara beserta staf yang lain berada, untuk memenuhi permintaan ambigu seseorang yang kini duduk di kursi penumpang, dengan wajah masih terlihat kesal membuat Darren sejak tadi bertanya-tanya, apa sih yang di fikirkan Devano saat ini?.
"ada berapa artis laki-laki yang di pegang Yara? ".
Devano tiba-tiba bertanya, Darren lalu mengingat-ingat dengan kernyitan halus di dahinya.
" ada dua, Mario gustav dan Jerry Brown, blasteran jerman yang sudah lama meniti karir di entertaint dengan debut sebagai bintang iklan. "
jawab Darren dengan keyakinannya.
"sisanya Moana dan Lusi, mereka pemain sinetron yang baru debut minggu ini. "
"totalnya 4 artis yang sedang di urus Yara? Cih.. Pantas saja ia terlihat sibuk setiap hari. "
"sebenarnya 5, Desire dari kalangan artis senior, tapi ia sedang fakum karna beberapa masalah pelanggaran kontrak. "
"kenapa kau membuat dia sangat sibuk dengan pekerjaannya? kalau sampai dia kelelahan bagaimana?. "
Bukan dia saja yang sibuk dan kelelahan sialan, kami semua sibuk bekerja dan lelah mengurus artis-artismu.
Tentu saja omelan itu hanya ada dalam kepala Darren, mana berani ia membantah kata-kata tuannya yang setengah gila itu.
Hah.. Devano menarik nafas lelah, sejak pagi fikirannya berputar-putar hanya dengan wajah Nayyara saja.
Apa dia kelelahan?, sepertinya dia sangat tekun mencari uang, apa hidupnya sudah lebih baik? Seharusnya aku tidak boleh terlalu keras padanya bukan? Tapi... Aku masih sangat membencinya saat ini, kau bahkan tidak boleh bahagia Yara, kau harus tetap terlihat menyedihkan, kau pantas mendapatkan itu.
Devano menatap jalan di balik kaca mobil yang melaju, rautnya nampak sedih dan tidak suka dengan keadaan ini, Yara yang selalu hadir dalam mimpinya tidak pernah tersenyum menatapnya, ia selalu nampak sendu dan tak bahagia, kini Devano yang bertanya pada dirinya lagi, benarkan ia menginginkan ini? Tapi kenapa sepertinya ia tidak puas dengan keadaan yang ia ciptakan sendiri seperti ini, benarkah ia ingin benar-benar melihat Yara menderita?
Sampai di lokasi syuting, Darren diberi tahu Risa kalau Yara sedang pergi bersama Mario tidak jauh dari sekitaran tempat ini, karna Risa melihat mereka berjalan kaki saat pergi tadi, beberapa kru masih ada yang merapihkan lokasi syuting dan Darren memberi kabar ini pada Devano.
"aku cari sendiri, kau pergilah bantu-bantu sana atau tlaktir mereka kopi hangat. "
Perintah Devano yang langsung di iyakan oleh si penurut Darren, kalau sedang berdua saja memang mode bossy dari Devano tidak akan pernah luntur di hadapan Darren.
Berjalan menyusuri jalan yang mulai terasa sepi, Devano melihat jejeran pedagang kaki lima yang nampak masih berpenghuni, ada beberapa orang yang memang sepertinya mencari makan malamnya disana, sambil berjalan melihat kiri dan kanan, barangkali ia menemukan Yara disana.
Tepat, ia melihat Yara tengah duduk di salah satu warung tenda yang nampak agak ramai dan sedang duduk bersama pria muda yang tersenyum sumringah di sebelahnya, jadi itu yang namanya Mario? Fikirnya sambil terus berjalan mendekat ingin menghampiri Yara disana.
Tapi... Apa yang barusan ia dengar? Bocah bodoh itu bicara yang menyulut kemarahannya, terlihat sekali kalau laki-laki itu memang sengaja menunjukan ketertarikannya pada Yara, dasar bocah ingusan.
"kak vano? "
"sudah ku bilang tubuhmu itu milikku".
Tatapan menegangkan antara Devano dan Mario membuat Yara gelisah, karna kata-kata Vano pasti membuat siapapun yang mendengarnya akan salah paham mengartikannya.
" siapa dia kak? lalu apa yang barusan dia katakan? Apa maksudnya? ".
Kaannnn.... Aaaaa... Rasanya ingin menghilang saja dari sini, teriakan Yara didalam kepalanya membuat ia akhirnya berdiri dan menghampiri Vano yang masih terlihat kesal.
" kakak sedang apa disini? ".
" kau yang sedang apa disini? Kecan dengan bocah ingusan seperti ini? ".
" siapa yang kau bilang ingusan? ".
Mario ikut berdiri, beberapa mata pengunjung langsung melirik ke arah mereka karna suara Mario yang agak meninggi tadi. Yara terserang panik mendadak.
" aku sedang makan malam kak, dan ini Mario salah satu artis andalan kita, kami tidak berkencan, hanya ingin makan malam setelah selesai syuting tadi. "
__ADS_1
Sebenarnya aku melakukan apa sih, akukan tidak harus menjelaskan semua yang dia lihat ini, kenapa juga dia harus marah?
"katakan siapa dia kak? ". Mario masih kesal dan masih menatap Vano dengan tatapan intens.
" ini ketua team kita, namanya pak Devano, ayo beri salam".
Yara menepuk punggung Mario, menyuruhnya untuk sedikit membungkuk, tapi sepertinya Mario tidak mau melakukannya.
"ikut aku, kau punya urusan denganku".
Tukas Vano, ia mencengkram lengan Yara hendak menyeretnya pergi.
" ta.. Tapi kak...
Hap.. Tangan yang satunya di cengkram Mario, terjadilah tarik menarik antara Vano dan Mario, Yara meringis, menatap Mario dan Vano bergantian.
"kak Nayyara sedang bersama ku, seharusnya anda menunggu dia selesai denganku terlebih dahulu. "
Cih.. Bocah sialan, Vano memaki, lewat tatapannya dan senyum sinisnya yang meremehkan.
"lepaskan dia".
Nada perintah dari mulut Vano yang nampak tidak sabar.
"kau saja yang lepaskan, dari tadi kami bersama, anda yang pergi saja sana. "
Yara memutar bola matanya jengah, melihat tingkah kekanakan dari dua pria dewasa di kiri kanannya, ia menatap tangannya yang sama-sama di genggam erat, Haah... Situasi macam apa ini.
Vano sudah ingin maju mendekat ke arah Mario, sepertinya tangan yang satunya lagi ingin sekali mencengkram kerah baju Mario, tapi sebelum itu terjadi, Yara melakukan gerakan yang memutar tangannya sekuat tenaga hingga akhirnya dua pria itu melepaskan genggamannya dengan terpaksa.
Huh... Sekarang Yara yang berkacak pinggang di depan dua pria yang masih syok tangannya di putar seperti itu.
Yara membuang nafas kesal, ia berjalan meninggalkan pria-pria itu dengan wajah tak bisa di ajak kompromi lagi, Mario meneriaki namanya dan Vano nampak berlari mengejarnya.
#
"kak Darren... ! "
Yara berlari kecil menghampiri Darren yang terlihat sedang berdiri bersandar di mobilnya, laki-laki itu tersenyum menyambutnya, di tangannya dua kopi hangat dalam gelas kertas ia berikan satu pada Yara, padahal itu untuk Devano, tapi sepertinya Devano tertinggal jauh di belakang Yara.
"ada apa? "
Tukas Darren, setelah menatap Yara yang menyesap kopi hangatnya dengan wajah kelihatan sedih.
"kenapa kak Darren kemari? Kenapa juga ketua team ada disni? ". Dengan sedikit cemberut menatap Darren.
" oh.. Devano maksudnya, ada apa? Dia mengganggumu lagi? ".
" kakak taulah, diakan sangat membenciku, jadi sudah tidak aneh kan kalau dia tiba-tiba bersikap tidak jelas padaku. "
"kali ini dia berbuat apa? Aku hanya menuruti permintaannya, sejak pagi dia datang ke kantor dan tidak melihatmu, dia terlihat uring-uringan sendiri, mencari keberadaanmu dan memaksaku untuk mengantarnya kesini. "
Cih.. Uring-uringan hanya karna tidak bisa menggangguku seperti biasanyakan. Fikir Yara, lalu menyesap kopinya lagi, Darren tertawa karna Yara masih cemberut.
"sepertinya dia khawatir denganmu Nayy, waktu tau kau pergi dengan Mario. "
"memang kenapa? Aku kan pergi bekerja mengurus artisnya juga. "
"hm, mungkin dia takut kau berpaling darinya".
__ADS_1
Hahaha, tawa Darren semakin kencang, Yara menyenggol lengan Darren dengan bahunya nampak kesal.
" kakak... ".
Darren masih menjahili Yara dengan kata-kata meledeknya, mereka sering melakukan itu, mengobrol hal-hal yang ringan dan tertawa bersama agar menghilangkan sedikit penat saat bekerja.
Situasi itu dilihat oleh Vano, laki-laki itu terpaku di tempatnya berdiri, tawa Yara disana sangat memukaunya, gadis itu tidak pernah senyaman itu saat bersamannya, sejak dulu, hanya Darren yang bisa membuat Yara merasa nyaman jika bicara dan tersenyum jika bercanda, Vano tersadar, hanya kata-kata menyakitkan yang selalu keluar dari mulutnya, hal itulah yang membuat hubungannya dengan Yara seperti tidak ada kemajuan, gadis itu hanya menurut dan menerima apapun ucapan yang ia keluarkan.
"kalian sedang bergosip tentangku? ".
suara Vano membuat tawa di bibir Yara menghilang, gadis itu menatap Vano agak takut dan pura-pura sibuk menyesap kopinya.
" kau kembali? Lalu bagaimana perkenalanmu dengan Mario? Berjalan lancar? ".
Mode berpura-pura sebagai atasan, Darren sedikit melirik Yara, lalu menatap Vano lagi dengan isyarat mata yang hanya mereka sepertinya yang tahu.
" hm, sepertinya kami tidak akan akur, jadi mohon jangan pertemukan aku dengannya lagi. "
"mana bisa begitu".
Vano mendekat kehadapan Yara, gadis itu nampak salah tingkah, kedua tangan vano melipat di dada, menatap Yara dengan intens.
" kau bilang tidak akan melakukan hal kasar padaku, yang tadi itu apa? ".
Teringat lagi kejadian Yara memutar tangannya untuk melepaskan diri darinya.
" aku hanya melepaskan diri kak, gerakan seperti itu tidak akan melukai kakak. " sedikit membela diri, yara tersenyum takut.
Cih..
" berikan bocah itu manager yang lain, kau jangan dekat-dekat lagi dengannya. "
Yara mengernyit, seketika ia mendesah kesal, Darren masih hanya memperhatikan arah pembicaraan dua orang di dekatnya.
"Mario artisku sejak dulu, kami melewati semuanya bersama-sama, atas dasar apa kakak ingin aku meninggalkannya?. "
"aku tidak suka dengannya".
" kakak juga tidak suka denganku, lalu kenapa kakak masuk dalam divisi ku? Kita akan sering bertemu dan aku akan selalu membuat kakak kesal, kenapa bukan kakak saja yang pergi?. "
Devano membelalak, sepertinya Yara memang sudah mulai memberontak padanya.
"bukan kau yang mengaturku, tapi aku yang mengaturmu, dengar Yara, kau belum terbebas dari nerakaku, jadi jangan coba-coba kau berharap pada orang lain agar mengeluarkanmu dari duniaku, aku sudah bilangkan, kau tidak pantas mendapatkan ketulusan apapun dan dari siapapun, hanya kesedihan dan kepedihan yang harus kau rasakan sampai saat ini. "
Mata itu memicing, Darren menyentuh lengan Vano mengingatkan agar dia tidak berlebih-lebihan dalam berkata-kata, ia lirik Yara yang terpaku berwajah sendu, ada genangan air mata di sudut-sudut matanya.
"aku sudah menerimanya, dan aku menyimpan seluruh kesedihanku sejak dulu, apa kakak tidak melihatnya? Berapa banyak yang kakak ingin tambah atas kepedihanku?. "
Yara menyeka sudut matanya, tidak ingin membiarkan setetespun jatuh kepipinya.
"Hey.. Aku rasa sudah cukup, kalian bukan di masa remaja lagi, tolong hentikan. "
Darren mencoba menengahi, tapi tatapan Yara dan Vano masih nampak membara kemarahan.
"kau ingin tau, berapa banyak yang ingin aku lakukan untuk membuatmu sangat menyedihkan? Sampai kau kehilangan orang yang sangat kau sayangi Yara, aku ingin kau merasakan sampai di titik itu. "
"tuan.. "
Darren mencengkram lengan Vano, seketika Yara tersentak, iris matanya membesar, ada denyut luka dihatinya yang nampak tersinggung dengan kata-kata Devano barusan, sekelebat kesedihan atas kehilangan ibunya di masa itu kembali tergambar di kepala.
__ADS_1
Bersambung😊