Benci Yang Merindu

Benci Yang Merindu
rindu


__ADS_3

Darren menatap Vano yang sejak tadi mondar mandir di ruangannya, dia hanya diam saja tanpa berkata-kata, wajahnya sebentar berkerut sebentar cerah sebentar juga mendung, seperti sedang memikirkan hal yang berat, padahal Darren tahu yang dari tadi di kepalanya hanya nama Yara sebagai bahan pertimbangannya kalau gadis itu akan ia ajak makan malam romantis seperti yang di rencanakannya.


"kenapa dia keras kepala sekali, aku kan hanya ingin memberinya kejutan. "


Nah, akhirnya orang itu bersuara, fikir Darren, hal yang membuatnya gelisah sejak tadi hanya karna Yara di sibukkan dengan persidangan Lisa yang harus mendampingi sebagai managernya, dan Vano mengajaknya pergi di saat Yara sibuk mengurus ini itu, Darren sangat tau betapa bertanggung jawabnya Yara jika soal pekerjaannya, ditambah lagi sejak kejadian itu Vano dan Yara sudah dua hari tidak bertemu karna kesibukkan masing-masing.


"dia bahkan tidak membalas pesanku. " berkata dengan geram sambil masih bolak balik jalan melangkah di ruangan Darren tanpa melihat yang sedang duduk mengerjakan tugasnya sebagai presdir. "aku menelfonnya dan dengan cepat dia bilang dia masih sibuk, lalu dia matikan sepihak".


Matanya kini melihat ke arah Darren yang kini sibuk menandatangani sesuatu di mejanya.


" kau mendengarkankukan? Aku sedang frustasi tau, seharusnya kau membantuku mencari solusi".


Marah-marah, pada akhirnya Darren tetap menjadi pelampiasannya, kasihan sekali, laki-laki itu sampai mendesah saat meletakkan pulpennya di atas tumpukan berkasnya, dan menatap Vano dengan sorot menyedihkan.


"tuankan tahu, Nayy sangat profesional dalam pekerjaannya, dan lagi tanggung jawabnya sangat besar sebagai managernya. "


"cih, aku suruh kau membereskan ini kenapa malah Yaraku yang kau libatkan, dia sangat sibuk sampai lupa kalau dia punya kekasih. "


Vano membanting tubuhnya ke sofa, menyentak bantal yang ada disana sampai jatuh.


"kalian bisa bertemu setelah jam makan malam tuan. " Darren mencoba memberi tahu sekedar mengingatkan, langsung dapat plototan.


"dia akan beralasan kalau dia kelelahan dan langsung tidur, ah.. Memang harusnya dari dulu aku menutup perusahan ini, kenapa artis-artismu selalu saja membuat masalah, membuat Yaraku sibuk dan kelelahan saja, aku akan benar-benar menutup tempat ini. "


"tapi ini hadiah anda untuknyakan? Nayy akan sangat sedih jika tempat cita-cita keduanya anda singkirkan, bukankah tuan yang bilang kalau nanti tempat ini akan menjadi miliknya?. "


Haahh...


Devano terduduk tegak, ia menarik nafas dan membuangnya kasar, lalu berdiri dan mendekat pada meja Darren dengan mata memicing.


"tidak usah mengajariku bodoh, lagipula apa yang ku katakan belum tentu akan aku lakukan tau. "


Bohong, anda itu selalu melakukan apa yang anda fikirkan tuan.


menjawab dalam hati saja, dari pada nanti tuannya mengamuk karna masih kesal.


"jadi bagaimana perkembangan sidangnya? Apa kita akan menang? ".


" hm, Anita melakukan tugasnya dengan rapih dan baik, selain terbukti awal mula pertengkaran di picu dari pihak lawan, sepertinya gadis itu juga akan jadi tersangka untuk kasus lain. "


Darren menjelaskan dengan antusias.


"apa yang kalian temukan? ".


Vano berkernyit


" beberapa obat-obatan ilegal yang tidak seharusnya di konsumsi tanpa resep dokter ahli, dan juga keterangan hasil pemeriksaan dari tiga bulan ini, bahwa gadis itu di vonis depresi tingkat dua, mereka menyembunyikannya karna takut akan di ketahui publik dan merusak karirnya. "


"kerjakan dengan rapih, aku tidak mau Yara kesusahan mengurus ini. "


"tentu tuan".


Lalu helaan nafas Vano nampak kembali karna kepalanya terisi lagi dengan wajah Yara yang belum ia lihat dua hari ini.


" apa papahku masih menanyakan makan malam itu? ".

__ADS_1


" masih tuan, tapi nyonya yang nampaknya selalu antusias, dia malah pernah menanyakan Nayyara kerja dimana. "


"cih..mama memang si paling tidak sabaran, aku juga kan ingin menikmati masa-masa percintaanku dengan penuh debaran. "


Tanpa rasa malau sedikitpun bicara begitu di hadapan si jomblo yang peka tapi menutup diri soal wanita, Darren hanya tersenyum sedikit menanggapi kelakuan tuannya yang memang agak beda dari yang lain.


Vano masih terkekeh menertawakan khayalannya dengan Yara, ketika pintu di ketuk, sekertaris Darren masuk sambil mengangguk pelan menyapa Vano dan Darren sekaligus.


" Pengacara Anita sudah datang tuan. "


tukas Tiko, sekertaris Darren yang masih nampak muda dan pintar itu.


"baiklah, suruh dia masuk. "


Devano menaikkan alisnya, itu artinya Yara juga sudah kembalikan?


Darren bangkit dari duduknya dan berjalan menuju sofa.


Anita masuk sambil menganggukkan kepala, ia tersenyum saat tahu ada Vano di sana.


"apa kalian sengaja menungguku? ".


wajah sumringah yang terpancar dari Anita menular pada Darren yang memang lebih ramah dari Vano, sementara Vano cuek saja duduk dengan sombong.


" silahkan, jadi bagaimana hasilnya? ".


Tangan Darren terulur menyuruh Anita duduk, gadis itu duduk tepat berhadapan dengan Vano, senyumnya belum hilang meski Vano tak membalasnya.


Darren duduk di sebelah Vano yang pastinya juga ingin mendengar hasil akhir persidangan ini.


"soal obat-obatan yang di konsumsi ilegal itu bagaimana?. "


"kami hampir membongkarnya, tapi pihak ibu korban menangis dan berlutut di hadapan Lisa, kalian tau siapa orang yang akhirnya mengasihani adegan mengharukan itu? Tentu saja Nayyara sebagai managernya, dia yang meminta Lisa untuk tidak memperpanjang lagi kasus ini, alhasil meski kita menang tapi gadis itu tidak di hukum apa-apa, hanya diberi sanksi dan denda yang pihak kita ajukan, tapi kita memegang surat perjanjian sah secara hukumnya kalau gadis itu akan di tangani secara medis soal depresinya, agar tidak merugikan rekan-rekan kerjanya lagi. "


Segaris senyum miring terlukis di bibir Vano, entah ia kecewa atau tidak, tapi baginya Yara selalu seperti itu, kenapa? Kenapa dia terlihat baik tapi mengingat kesalahan sendiri tidak bisa? Dia melupakan Brian, dengan hati yang nampak tulus itu.


Kesal, yah... Vano kesal, rasanya gemas sekali ingin mencengkram Yara di tangannya, ingin bertanya kenapa dia bisa setega itu terhadap Brian tapi menunjukan hati lembut seperti itu di hadapan orang lain? Yara... Apa kau mempunyai banyak sisi yang tidak aku ketahui?. Ucapnya dalam hati


#


Devano berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di sisi mobil miliknya yang terpakir tak jauh dari gang masuk rumah Yara, wajahnya mendung sejak tadi, tapi ia tidak bisa menahan ingin bertemu gadis itu, kedua tangannya di masukan ke saku celana, nampak berselisih fikiran dan hatinya yang kini bertengkar saling memberi asumsi.


Dari seberang jalan, Vano melihat gadis berambut kusut yang di kuncir berantakan itu berjalan lelah dengan tas gemblok di bahunya, gadis itu memakai celana jins dan kemeja polos berwarna putih yang namapak ngepas di badannya, kacamata kerjanya masih menempel di hidungnya, sesekali gadisnya menguap tanda ia kelelahan dan mengantuk, padahal ini baru pukul 21.00 malam.


Senyum kecut tapi terlihat manis di bibir Vano seperti menertawakan Yara disana, ia berfikir kenapa masih ada gadis yang tidak peduli soal penampilan seperti itu, ia juga tidak habis fikir bagaimana bisa dia yang setampan ini menyukai gadis sepolos dan sembrono begitu.


"kakak..!. "


Suara Yara seperti angin yang menyejukkan ke wajah dan telinganya, dengan sendirinya wajah Vano mengembang menyambuat wanita itu mendekatinya, tangannya langsung terulur, sakit hati yang sempat hinggap tadi seperti menguap entah kemana, percayalah, Vano melakukan itu dengan sekuat tenaga agar ia nampak baik-baik saja di hadapan wanitanya.


"kau lelah?. "


Tukasnya, sembari tangan yang terulur tadi menarik tubuh Yara kedekatnya.


"hm, tapi saat melihat kakak lelahku hilang. "

__ADS_1


Senyum menggoda dan mata yang berbinar malu-malu itu membuat Vano tak bisa menahan hasrat ingin mengecup gadisnya.


Cup..


Kecupan ringan mendarat di pipi Yara, lagi-lagi serangan tiba-tiba dari Vano membuatnya terkejut sesaat dan langsung meronakan wajahnya, ia malu tapi juga seperti ingin di perlakukan begitu lagi.


"kakak..! ". Rengeknya sambil memukul kecil dada Vano, laki-laki itu malah semakin gemas di buatnya.


" ayo makan mie ayam kesukaanmu, kau kan selalu makan bersama Darren selama ini, sekarang aku yang akan selalu menemanimu makan makanan kesukaanmu. "


"tapi aku belum mandi. "


"kau mau mandi?. "


"lima menit. " Yara mengangkat satu tangannya dan menunjukan jari-jarinya.


"eumm.. Baiklah, cepatlah, aku tunggu di sini. "


"tidak ikut kerumah saja?. "


"apa tidak apa-apa? Ayahmu mungkin sudah tidur dan kita akan mengganggunya nanti. "


Yara nampak berfikir, yang di bilang Vano benar juga, meski ayahnya tidak pernah keluar kamar setelah masuk kamarnya, tapi dia akan selalu ijin jika harus keluar malam, dan itu hanya di lakukan Yara lewat ponselnya tanpa balasan.


"baiklah, aku akan cepat kak, kakak tunggu sebentar ya. "


Dia berlari menuju rumahnya, Vano menatapnya tersenyum, ia sendiri masih berdiri di sisi mobilnya, memeriksa ponselnya sebentar, beberapa panggilan dari mamanya dan satu nomor baru yang ia tidak tahu punya siapa, saat memeriksa pesan, nomor baru itu ternyata milik Anita, gadis itu menyapanya dengan emoticon lambaian tangan, Vano berfikir pasti Darren yang memberitahu nomornya ke wanita itu.


Selanjutnya suara langkah kaki berlari-lari kecil membuatnya menoleh ke arah suara, Yara yang sudah berganti baju dengan piama tidur bercelana panjang gambar bonka teddy bear coklat itu nampak imut dengan rambutnya tergerai namun di pakaikan bandana ciri khasnya dari dulu.


"ayo.. ".


Serunya, meraih tangan Vano yang sudah tersenyum menyambutnya, mereka bergandengan tangan berjalan menyusuri jalan, Vano sudah tau letak resto langganan mie ayam Yara dan Darren, makanya tidak memakai mobil, mereka sudah terbiasa berjalan ketempat tujuan yang tidak jauh dari sana.


Sambil melangkah pelan, kepala Yara menyender di pundak Vano, mereka bercengkrama sambil menikmati waktu yang baru saja mereka bersamai setelah dua hari ini tidak bertemu.


"apa kakak makan dengan baik? Kakakkan sibuk sekali bekerja di dua tempat sekaligus, yah... Walau sebenarnya di tempat kita kakak selalu di bantu denganku. "


"itu hanya alasan bodoh. " tangannya mencengkram bahu Yara yang meringis tapi juga tertawa.


"kenapa kakak sampai kesini? besokkan kita bertemu di kantor. "


"tidak boleh? Hanya ingin melihatmu saja. "


"apa kakak merindukanku? ". Mulai menggoda


"kau tidak rindu padaku?. "


"kakak selalu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. "


"kalau begitu aku jawab dengan ini saja. "


Cup..


Mencuri ciuman singkat di bibir, Vano dapat cubitan di pinggangnya, ia terkekeh, semakin mengeratkan dekapannya di bahu Yara.

__ADS_1


Bersambung😊


__ADS_2