Benci Yang Merindu

Benci Yang Merindu
Bekerja bersama


__ADS_3

"bagaimana keadaannya? Apa dia menagis semalaman? ".


Pagi di kantor, tepatnya di ruangan presdir abal-abal yang sudah di ketahui rahasianya oleh Yara, Vano duduk di sofa dengan tatapan menyelidik pada Darren yang duduk di hadapannya, ada dua cangkir kopi panas yang masih mengepul di atas meja.


Lihat dia, pagi-pagi masuk kesini hanya untuk bertanya keadaan gadis yang dia sakiti kemarin.


"sepertinya dia sedikit menangis, lagi-lagi anda agak keterlaluan tuan. "


Cih.. Vano menyungging senyum sinis tidak suka, ia tahu kalau ia keterlaluan kemarin, tapi Darren kan tidak perlu terang-terangan untuk menudingnya begitu.


Terlebih selalu laki-laki itu yang pergi menemui Yara setiap kali Vano menyinggung hatinya, ia selalu memerintahkan Darren untuk cepat-cepat menemui Yara dan menghibur gadis itu dengan apa saja.


"tuan, apa tidak sebaiknya kita bertukar posisi saja?. "


"apa maksud mu? ".


" Nayyara sudah tau kalau kita membodohinya dengan main rumah-rumahan seperti ini. "


"hah? Apa? Dia tau soal apa?. "


Wajah Vano yang terkejut menatap Darren dengan tampak bingung.


"tau kalau anda pemilik perusahaan ini. "


"ck, kau.. Sudah ku bilang berakting dengan benar, dia tau pasti karna kau tidak bisa bersikap seperti atasan padaku. "


Lihatlah dia, padahal dia yang selalu menerobos masuk dan menyuruhku melakukan ini itu di depan siapa saja, belum lagi kinerja kerjanya yang di bilang Nayy bodoh.


Hah.. Sudahlah, Darren hanya menghela nafas pasrah untuk di salahkan, biarkan saja yang agak waras mengalah.


"maafkan saya tuan. "


"sudahlah, biarkan saja seperti biasa, sekarang bagaimana dengan keadaannya?. "


"Nayyara cukup baik tuan, hari ini dia bekerja seperti biasa. "


"heuh, sepertinya kau menghiburnya dengan sangat baik ya. "


Sambil berdiri, merapihkan pakaiannya sebentar dan berjalan menuju pintu keluar, ekspresi wajahnya tidak bisa di tebak Darren.


"hari ini anda harus kesuatu tempat bersama Nayyara. "

__ADS_1


Kata-kata Darren menghentikan langkah Vano yang sudah memegang hendel pintu, laki-laki itu menoleh lagi menatap Darren yang juga sudah berdiri tegak di tempatnya.


"kemana?. "


"mengurus salah satu artis anda, sedikit bermasalah di lokasi syuting. "


#


" aku tidak ingin melanjutkan ini kak, aku ingin mundur saja. "


Moana mengusap air matanya yang sejak tadi jatuh tak tertahankan sejak Yara datang bersama ketua teamnya ke lokasi syuting.


Mereka sedang bicara berdua di ruangan yang disediakan memang untuk Moana saat istirahat jika break syuting.


"Moana, kau tahu kan jika kau mundur akan bertentangan dengan kontrak, kita bisa kena denda pinalti yang cukup merugikan perusahaan. "


Yara menjelaskan garis besarnya agar Moana bisa mempertimbangkan apa yang akan menjadi keputusannya nanti.


"tapi kak, aku... Rasanya tidak bisa melanjutkan syuting series ini, aku tidak bisa memerankan karakternya. "


Ada keraguan dalam kata-kata Moana dan Yara menyadari itu, ia yakin bukan alsan itu yang sebenarnya menjadi kendala Moana, Yara harus mengoreknya, tapi sepertinya tidak bisa sekarang karna Moana nampak sedang terguncang.


"saat menanda tangani kontrak series ini kau sangat bersemangat dan antusias Moana, kau bilang kau sangat menantikan karakter pemeran kedua dari lawan mainmu, kau bahkan berlatih seblum syutingnya di mulai, kenapa sekarang kau menjadikan ketidak mampuanmu menjadi alasan?, itu tidak seperti apa yang aku lihat Moana, katakan... Ada alasan yang lain kan? . "


Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, makeupnya telah luntur oleh tangisnya, tapi Yara masih menemaninya dengan elusan halus di punggung gadis itu, ia tahu ada yang tidak beres dengan Moana saat ini, karna syutingnya baru di mulai kemarin dan ini hari keduanya, seketika Yara mendapat kabar Moana tidak ingin melanjutkan syuting.


Kak Vano sampai harus ikut datang sebagai ketua teamnya karna complaint dari sutradaranya, sekarang Vano sedang berdiskusi dengan sutradara series ini, dan Yara harus berhasil membujuk Moana jika tidak ingin syuting ini tertunda berlarut-larut.


Tuk.. Tuk.. Tuk..


suara pintu di ketuk


"apa kalian sudah selesai? ".


Suara Vano di sana, Yara berdiri untuk membuka pintu, sedangkan Moana masih duduk menyusut air matanya dengan tisyu.


Wajah Vano menatap Yara di ambang pintu, gelengan halus Yara membuat Vano nampak paham akan bujukan Yara yang tak berhasil, laki-laki itu melangkah masuk, mendekat dan menatap Moana dengan tatapan memerintah.


"keluarlah, jangan membuat orang lain menunggu, kau itu hanya artis baru kenapa membuat semua orang kesusahan, keluar dan lakukan pekerjaanmu. "


Yara sedikit mengepalkan tangannya, ia sedikit takut jika Moana tersinggung dengan kata-kata Kak Vano barusan, tapi... Ia juga tidak bisa menyangkal kebenaran yang ada pada kata-kata Vano barusan, Moana baru saja debut, dan ini series pertamanya untuk menaikan namanya di dunia entertaint.

__ADS_1


"apa aku boleh mundur saja kak, aku mohon, aku akan bayar pinaltinya, aku akan jual apapun yang aku punya asal aku bisa keluar dari peran ini. "


"setengah milyar, kau sanggup? Apa hartamu sekarang mencangkup nominal itu?. "


Moana terperanjat mendengar jumlah yang di katakan Vano, ia tertunduk menahan tangis yang sebentar lagi akan pecah.


Yara menyentuh lengan Vano, memberi peringatan kalau jangan terlalu keras dengan Moana yang belum paham betul dengan dunia yang baru saja gadis itu masuki.


"kak..


" suruh saja dia keluar, lakukan apa yang harus menjadi kewajibannya. "


"tidak bisakah kita minta waktu sehari saja untuk membiarkan Moana istirahat dulu, mungkin ia agak kaget dengan jadwal syuting atau...


Kata-kata Yara terputus saat Vano kembali menatap Moana yang terduduk dengan kepala semakin dalam menunduk sedih.


"dengar, dari awal saat kau memutuskan jadi artis, apa tujuanmu? Katanya kau ingin mengangkat derajat keluargamu, sekarang kau malah akan memiskinkan keluargamu agar mereka ikut menanggung beban bayaran pinalti itu?. "


"Tidak kak, aku mohon jangan beri tahu orang tuaku, aku akan lakukan, aku akan bersiap-siap, tapi aku mohon jangan beri tahu mereka. "


Yara menatap Moana yang nampak pucat, rasa takutnya pada ancaman tentang keluarganya sepertinya sangat berpengaruh padanya, Vano menatapnya, seketika mata mereka bertemu.


"urus dia".


Vano keluar ruangan meninggalkan Moana dan Yara yang nampak frustrasi dengan keadaan ini.


Hah.. helaan nafas Vano mengisyaratkan kalau ia juga kesal, belum lagi sutradara yang di ajaknya bicara tadi sedikit angkuh dan mengancam banyak sekali point-point penting yang harus ia terima jika Moana tidak lagi bekerja sama, termasuk hukuman tuntutan yang akan membawanya ke pengadilan jika artisnya berulah kali ini.


Meski begitu, Vano tidak ingin ini berlarut-larut dengan maslah Moana, ia tidak peduli jika memang harus batal kontrak, tapi.. Yang semakin membuatnya kesal adalah apa yang ia lihat sekarang.


Yara keluar terlebih dahulu dari ruangan Moana, karna makeup Moana yang harus di rapihkan kembali, jadi beberapa tata rias masuk untuk melakukan tugasnya, setiap langkah Yara sejak tadi ia keluar dari dalam ruangan itu hanyalah bungkukan kepala dan bahunya pada setiap orang disana, semua kru yang ia lewati, dengan beberapa botol air minum berisotonik yang di bawanya, Yara meminta maaf atas waktu yang terbuang beberapa jam karna Moana.


Devano melihat dengan sangat kesal, jemari tangannya sampai mengepal hingga memutih.


sial, kenapa dia harus melakukan hal rendahan seperti itu demi pekerjaannya.


"sepertinya kau sangat keras untuk pekerjaanmu Yara, dan kenapa aku sangat terganggu dengan kelakuanmu itu. "


Vano bicara sendiri, sambil duduk di kursi yang disiapkan salah satu kru tadi, ia memperhatikan seluruh kondisi lokasi syuting didepan matanya, dengan tangan melipat di dada, matanya tak henti menatap Yara yang masih mondar mandir memberi minuman dan membungkuk dengan senyum permintaan maaf itu.


Cih.. Kesal sekali melihatnya.

__ADS_1


Bersambung😊


__ADS_2