Benci Yang Merindu

Benci Yang Merindu
awal mula kebencian


__ADS_3

"lihatkan? Dia cantikkan? Kemarin dia yang nolongin aku waktu aku di bully sama kakak kakak yang suka ada di gank sana "


Brian, bocah 11 thn itu sedang menunjukan kekagumannya pada seorang gadis berseragam SMP pada kakaknya, Devano menatap gadis berkuncir kuda, sedang jajan di pinggir jalan tepat dekat halte bus sekolah menengah pertama yang ia sendiri tidak tahu kalau ternyata ada gedung sekolah seperti itu di dekat daerah perumahannya yang elite.


Saat itu Devano baru kelas 1 sekolah menengah atas, sekolahnya yang elite dan terkenal hanya di kalangan orang2 berada tidak pernah tau ada sekolah yang seragamnya seperti yang ia lihat saat ini,wajahnya berkernyit bukan karna penasaran tapi karna ia heran kenapa adiknya malah menunjukan gadis aneh seperti itu padanya.


"terus yang bully kamu kemarin yang mana orangnya? ".


Tukas Devano tidak sabar karna sang adik hanya senyum senyum menatap gadis berkuncir pemakan cilok gerobakan disana.


" mana aku tau, lagian sepeda aku juga kan gk jadi di ambil sama kakak2 premannya, karna kakak itu udah nolongin aku kak. "


"jadi kenapa kita kesini kalo orangnya udah pada gak ada? Ayo pulang. "


Devano menarik lengan sang adik, tapi di tepis oleh Brian dengan wajah mengiba.


"ayo kenalan sama dia kak, kakakkan harus berterimakasih karna dia udah nyelametin adik kakak ini. "


"cih.. Bilang saja kau yang mau berkenalan dengannya, lagian lihat dia, dia itu pantes kamu panggil kakak, dari seragam sekolah kalian saja sudah beda."


"memang kenapa kalau menyukai orang lebih tua dari usia kita? Aku rasa tidak masalah kalau dia mau menerima aku apa adanya. "


Menerima apa adanya palamu, bocah ingusan ini kenapa sih pake segala suka-sukaan segala, memangnya dia mengerti arti dari kata-katanya.


Mungkin Brian mengerti, mengerti hanya sebatas kalau dia mengagumi gadis yang menolongnya dengan tulus, sejak saat itu, Brian terus bercerita tentang gadis itu.


Gadis yang ternyata bernama Nayyara, baru kelas 2 SMP, gadis yang diam-diam dilihatnya dijalan saat pulng sekolah karna sekolah Nayy yang terletak dekat pintu gerbang perumahan elite tempatnya dan keluarganya tinggal.


Malam itu Brian sedang memutar2 tubuhnya di depan cermin, porsi badannya yang tinggi dapat menipu siapapun yang baru melihatnya, mungkin mereka tidak akan menyangka kalau Brian baru kelas 5 sekolah dasar, karna tinggi badannya sudah sebahu kakaknya Devano yang terbilang tinggi juga.


"kak, pinjam jaketnya ya. "


Brian meraih jaket milik kakaknya, Devano yang tadinya sedang bermain game kini menatap Brian yang sibuk mengikat tali sepatunya.


"mau kemana? ".


" ke pasar malam".


"apa itu? Ngapain kepasar malam-malam, biasanyakan bibi yang kepasar kalau pagi-pagi, kamu ngapain juga mau ke pasar? Mau bantuin bibi? ".


Sibodoh


Tentunya hanya Brian ucapkan di dalam hati sambil menghela nafas malas didepan kakaknya.


" pasar malam ini tempat hiburan kak, untuk anak-anak, ada banyak permainan disana".


"oohh timezone, kayak di mall itukan".


Hhfff... Brian menarik nafas lagi, akhirnya karna malas berdebat dengan kakaknya nanti lebih baik ia mengiyakan yang kakaknya maksud, sebodoamat kalau menjadi salah paham sekalipun.


" aku pergi ya".


"eh tunggu, naik sepeda? Malam-malam begini? biar aku antar, pak Min pasti sudah pulangkan, aku antar kamu biar nanti gak di marahin mamah. "


"gak usah, aku sudah bilang sama mamah katanya boleh, tempatnya dekat kok. "


"dekat dimana? "


"dekat dengan gerbang masuk perumahan kita, kakak lanjut saja main gamenya, aku pergi dulu ya, dadah... ".


" jangan pulang terlalu malam".


Namun, ternyata Brian tidak pernah pulang malam itu, Devano masih sangat mengingat dengan jelas kejadian malam itu, mama dan papahnya berlarian di lorong rumah sakit, tepatnya di pusat unit gawat darurat, dini hari, mereka mendapatakan laporan bahwa terjadi kecelakaan di jalan besar jauh dari tempat mereka tinggal, Brian yang di kabarkan tertabrak bus karna salah menyebrang jalan dengan sepedanya.


Tujuh hari setelah pemakaman Brian, Devano nampak sangat terpukul dengan keadaan yang terjadi, kepalanya trus berfikir jika saja malam itu ia ikut mengantar Brian pergi keluar, jika saja ia bersamanya, jika saja ia tidak membiarkan Brian bersepeda sendiri, jika saja ia tau kalau Brian akan pergi secepat ini, mungkin ia akan menjadi kakak yang lebih baik lagi untuk adik satu-satunya itu.


Devano menangis sambil memeluk jaket miliknya yang dikenakan Brian terakhir kali, bagian tangannya sedikit koyak, namun Devano tidak ingin membuangnya, ia ingin mengenang adiknya lewat jaket ini.

__ADS_1


Didalam kamar Brian, ia duduk di kursi belajar adiknya yang selalu rapih, tidak seperti dirinya yang selalu nampak berantakan, tersadar kalau kepribadian mereka memang sangat berbanding terbalik meski mereka bersaudara, Devano menyentuh laci di meja belajar adiknya, setumpuk kertas ia raih karna nampak berantakan dan menarik matanya karna di salah satu kertas terlihat coretan tangan adiknya, lalu, saat kertas kertas itu terburai keluar dari tempatnya, selembar foto terjatuh, gambar seorang gadis berdiri di sebuah halte yang nampak tak asing baginya, Devano mengenali seragam itu, kuncir kuda itu dan... Gedung sekolah yang menjadi latar belakang dalam foto itu.


#


Hingga akhirnya Devano mulai memperhatikan gadis itu, karna dalam laci belajar adiknya itu bukan hanya selembar foto saja yang ia temukan, puluhan, Devano bahkan melihat foto gadis itu saat tidak pakai seragam, itu berarti Brian memotretnya tidak hanya pada saat di sekolah, mungkin Brian juga tahu rumah gadis itu.


"kak Nayyara?. "


Jadi namanya Nayyara, tukas Devano saat ia mencoba mencari tahu tentang gadis itu, ia bertanya pada salah satu anak yang berseragam sama dengan Nayyara, mereka menginformasikan kalau Nayyara adalah kakak kelas mereka tepatnya Nayyara di kelas 2 dan mereka di kelas satu. Mereka juga bilang Nayyara termasuk anak yang pintar namun tidak banyak bergaul dengan teman-teman sepantarannya, belum lama ini mereka memang melihat Nayyara suka ngobrol dengan anak berseragam sekolah dasar entah dimana sekolahnya, tapi mereka selalu melihat Nayy dan anak sekolah bersepeda itu makan cilok dekat halte.


Devano langsung tau kalau adiknyalah yang di maksud itu, tapi itu saja tidak cukup untuk mencari tahu hubungan apa yang terjadi antara Brian dengan gadis itu, apakah gadis itu tahu jika adiknya sudah tiada?


Sampai pada informasi seorang anak berkata padanya.


"kayaknya kak Nayy sering deh ketemu sma anak SD itu, aku pernah melihat mereka di pasar malam belum lama ini. "


Devano semakin ingin tahu tentang gadis itu, sampai pada titik ia ingin memastikan kalau gadis itu benar bertemu adiknya di malam terakhir itu, ia ingin bertanya, benarkah Brian bertemu dengannya, dan apakah gadis itu tahu bagaimana Brian bisa mengalami kecelakaan pada malam itu.


Dan suatu siang setelah pulang sekolah, Devano duduk di halte tempat dimana ia selalu melihat gadis berkuncir itu membeli cilok yang mangkal dekat halte itu sambil menunggu bus yang mungkin akan ia tumpangi, ia ingin mencoba memberanikan diri bertanya langsung dengan gadis itu, bagaimana ia mengenal adiknya Brian dan apakah ia tahu kalau Brian mengalami kecelakaan.


Tapi... Seorang bocah bersepeda tiba-tiba menghampirinya dan duduk tepat di sebelahnya sebelum gadis itu keluar dari sekolahnya.


"kakaknya Brian ya?. "


Devano menatap bocah yang ternyata berseragam sama dengan almarhum adiknya.


"kamu temannya Brian? "


"iya, waktu pemakamannya Brian saya juga datang kok kak sama teman-teman yang lain. "


"iya terimakasih ya, mohon doakan Brian ya. "


"kakak sedang nunggu kak Nayy ya? ".


" kamu kenal yang namanya Nayy? ".


" kenal, saya kan teman dekat Brian juga, dia banyak cerita soal kak Nayy sama saya. "


Lalu mengalirlah cerita dari mulut bocah itu bagaimana Brian yang minta ditemani berkenalan dengan kak Nayyara, Brian yang selalu terburu-buru pulang dari sekolah dengan sepedanya hanya untuk sekedar bisa melihat kak Nayyara di depan halte, makan cilok bersama, sampai pada akhirnya mereka akrab.


Dan diakhir cerita bocah itu, ia bilang kalau Brian sempat cerita jika ia menyukai kak Nayy, meski tidak bermaksud mau mengajaknya berpacaran seperti orang dewasa pada umumnya tapi Brian bertekad ingin mengatakannya sendiri pada Nayyara, malam dimana Brian kecelakaan, bocah itu bilang kalau Brian sempat menelfonnya untuk menemaninya ke pasar malam dekat rumahnya, katanya kak Nayy mau datang lewat pesan surat yang ia kirim pada Nayy sebelumnya.


Devano mengingat2 lagi surat2 yang ia temukan di laci adiknya, sepertinya memang ada surat balasan Nayyara yang mengatakan kalau Nayy akan datang menemuinya di pasar malam tersebut.


"tapi kak Nayy tidak datang, makanya aku suruh Brian pulang saja, aku tidak tahu kalau ternyata dia ingin mendatngi rumah kak Nayy, mungkin saat itulah terjadi kecelakaan itu kak, andai saja waktu itu aku gak pulang duluan dan tetap menemani Brian, mungkin kecelakaan itu tidak akan terjadi. "


Bocah itu menunduk dalam, mengenang kembali apa yang ia ingat tentang kebersamaan dirinya dengan Brian, Devano mengusap bahu anak itu.


"siapa namamu? ".


" Gun kak, aku kesini juga ingin bertemu dengan kak Nayy, aku mau bertanya soal kematian Brian kenapa dia tidak datang padahal dia tau kalau Brian kecelakaan malam itu".


"Dia tau? ". Devano membelalak, tangannya mengepal, lalu bunyi bel dari gedung sekolah itu berdering kencang, matanya menatap pintu gerbang dari sekolah itu, ia mencari sosok gadis yang kini sangat ia hafal bentuk dan wajahnya, seketika lubang kebencian mengorek hatinya, entah kenapa, apa lagi saat melihat gadis berkuncir itu tersenyum ataupun tertawa lepas yang di tangkap matanya.


Mulai saat itu, Devano berbeda, ia memang tidak ramah pada perempuan, namun ia akan menjadi lebih dingin jika berurusan dengan Nayyara.


dalam hati Devano sudah bertekad membalas setiap getir yang menyayat hatinya saat mengingat nama adiknya, karna jika ia mengingat nama Brian maka nama gadis itupun ikut terseret dalam kubangan kebenciannya.


Nayyara mengabaikan adiknya, Nayyara berbohong pada adiknya hingga menyebabkan Brian kecelakaan, Nayyara gadis tak punya hati sampai kepergian Brianpun ia berpura2 tidak terjadi apa2, begitulah yang Devano fikirkan sampai sekarang.


#


Dan masa-masa penyiksaan itupun di mulai


Devano bersih kukuh meminta pindah kesekolah yang dimana Nayyara bersekolah, awalnya mama papahnya menentang karna ia sudah di kelas akhir, tapi kekeras kepalaan Devano dan janji untuk menjadi penerus perusahaan papahnya membuat orang tuanya menuruti keinginan anak yang sekarang semata wayangnya.


Awal-awal Nayyara masuk kesekolah favoritnya berjalan baik di semester awal, ia seperti layaknya siswa yang lain, meski tidak pandai bergaul tapi ia juga tidak di jauhi teman-temannya, hingga pada satu peristiwa.

__ADS_1


"maaf kak, tapi saya tidak mau punya hubungan apapun saat di sekolah, maaf. "


Nayyara sudah menunduk dan membungkuk sangat dalam di hadapan laki2 yang baru saja menyatakan cinta di hadapan teman2nya, disebuah lapangan basket milik sekolah dan saat itu sedang pertandingan antar kakak kelas dan adik kelas, sudah santer sebelumnya kalau kak Arga kapten basket andalan kelas 3 ini menyukai Nayyara sejak ospek anak baru, nayyara yang pintar dan manis terlihat kalem di mata laki laki manapun yang senang dengan gadis2 berprestasi, belum lagi di semester awal Nayyara menyabet medali juara satu seluruh kelas awal.


Arga adalah laki laki ke tiga yang Nayyara tolak setelah dua laki laki sebelumnya juga dari kalangan kakak kelas, namun dari kelas yang berbeda, tidak tanggung tanggung, dua lelaki sebelumnya pun jago dan populer di bidangnya masing masing, seperti kak Fano yang jago Sains, dan kak Rico anak band andalan sekolah.


Tapi Nayyara menolak semua dengan alasan yang sama, tidak ingin berpacaran di masa sekolahnya, tentu hal ini mengundang kebencian di beberapa kalangan siswi2 perempuan yang sirik dengan prestasi Nayy, mereka menggunjing Nayy yang sombong dan tidak tahu diri, belagu dan kampungan, belum lagi di kalangan siswi populer kakak kelas, Nayy sudah dalam masalah sejak saat itu.


Di mulai dari kelas olahraga yang tidak pernah dapat kelompok, teman sekelas yang hanya mendekatinya kalau ada PR atau sekedar minta titipan jajanan di waktu istirahat, Nayy tersudut di pojok kelas, meski ia duduk di kursi paling depan dekat jendela, ia selalu sendirian dan tidak ingin berniat membaur dengan yang lain, semakin membuat prasangka teman-temannya jika sifat sombong Nayy lah yang membuat ia pantas menerima perlakuan itu dari orang-orang sekitarnya.


brugh


terjadi di belakang sekolah, Nayyara di seret dan di dorong oleh beberapa siswa yang nampaknya sudah tidak bisa memendam kemarahannya pada sikap Nayy, siswa itu terdiri dari dua wanita kakak kelasnya yang nampak cantik dan juga populer, satu teman sekelasnya yang selalu merasa keren karna ia bisa dekat dengan kakak kelas dan dua pria yang Nayy tau kalau mereka masih anak basket temannya kak Arga.


Nayyara masih terduduk karna tadi ia di dorong dan terbentur tembok pagar sekolah, siku tangannya sepertinya lecet karna ia merasa perih di bagian sana.


"gimana? Senang ya, sudah di tembak sama 3 cowok populer di sekolah? Dan kamu menolaknya dengan merasa kamu sok pinter, dan sok cantik kayak artis gitu? Berani-beraninya nolak kak Arga, jangan belagu deh, kamu pikir kamu siapa? Anak pejabat aja bukan. "


Kepala Nayyara di toyor oleh kakak kelas yang kelihatan modis dan paling cantik, sesekali yang lain menendang pelan ke arah kaki Nayy.


"kirain selera Arga tinggi, ternyata cuma segini doank. "


Satu laki-laki bersuara, dengan gaya sok tampan dan gestur tubuh sok cool, sepertinya dia salah satu orang yang iri dengan prestasi Arga di lapangan.


"ini peringatan ya buat kamu, kenalin wajah kita satu-satu, supaya kalau ketemu kita di manapun, jangan sok belagu dan sok cantik. "


Timpal siswa cantik satu lagi yang juga kakak kelas.


"minta maaf sama kita"


Pria kedua bersuara, menatap Nayy dengan lekat sambil meraih tas Nayyara yang tergeletak di sudut dekat dengan kakinya, lalu mengeluarkan buku-buku di dalamnya berhamburan, Nayy nampak syok, karna ada beberapa PR yang belum ia kerjakan ada dalam materi buku itu.


Seperti tau gelagat Nayy yang namapak takut buku-bukunya jadi sasaran, si pria itu merobek satu buku di tangannya.


Sreek


Suara buku di robek, Nayy langsung berdiri, ia juga membungkuk dengan dalam dan dengan cepat ia berkata.


"Maaf" dengan suara keras


Seketika suara tawa dari mulut mereka terdengar mengiris telinga Nayyara yang nampak putus asa dalam diam.


Sreek.. Sreek..


Lagi, suara tawa dan sobekan buku terdengar, kali ini Nayyara berlutut, ia memegang kaki kakak kelasnya yang menyobek bukunya.


"saya mohon, maafkan saya"


Sambil mencengkram kuat, laki-laki yang merobek bukunya tiba2 berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan Nayy yang nampak bergetar ketakutan.


"kalau begitu beri kecupan sedikit, menghilangkan rasa penasaran aku pada wanita yang disukai Arga, tolong di rekam ya, supaya Arga tau kalau gadis incarannya ternyata semurahan ini. "


Tawa lepas dari orang-orang itu sambil mengeluarkan ponsel mereka satu persatu,Nayyara bergetar ketakutan, namun ia masih dapat menahan tangisnya, wajahnya semakin tertunduk saat wajah laki2 di hadapannya mendekat, lalu meraih dagunya dan hampir menyentuhkan bibirnya ke bibir Nayy yang berusaha menjauh tapi di cengkram erat.


"Wah.. Wah.. Wah...., apa guru kedisiplinan kalian tau kalau kalian se ekstrim ini membully orang? dari tadi mendengar dan melihat kelakuan kalian seperti bukan anak sekolahan ya, dan kau tau kan, ini sudah masuk kategori pelecehan seksual bukan?. "


dugh


Serangan tendangan tiba2 dari pemilik suara itu yang menendang jatuh laki2 yang mencengkram Nayy tadi, pria itu tersungkur membentur tembok.


Seketika yang lain hanya menganga dan kaget sejak cara kedatangan pria itu meloncat dari atas, ada dua pria meloncat dari atas kepala mereka yang mereka lihat lagi jarak dari atas sana cukup tinggi untuk ukuran remaja seperti mereka.


Mereka saling tatap, berkernyit mengingat2 siapa dua sosok laki-laki yang terbang dari atas sana.


"kau merekamnyakan? Darren. "


Tukas Devano dengan sinis dan senyum mencemoohnya pada semua mata yang menatapnya saat ini.

__ADS_1


Bersambung😊


__ADS_2