
Rumah sakit
setelah insident Lisa dan Gea yang kini telah jadi heboh di pemberitaan dunia online ataupun TV, Medina nampak menghela nafas kesal saat melihat Lisa yang keluar dari ruang dokter ke ruang perawatan, ia kesal karna melihat lengan artisnya itu di perban dengan ukuran luka memanjang.
"Lisa, kau baik-baik saja? ".
Medina menyentuh lengan Lisa untuk memeriksa apakah luka itu akan membekas atau tidak, dilihat dari perbannya sih sepertinya akan cukup lama bisa hilang, tapi baginya yang terpnting sekarang adalah keadaan Lisa, apakah gadis itu mengalami guncangan atau tidak dalam psikisnya, karna yang ia lawan bukanlah artis sembarangan, Gea wardani salah satu artis dan model yang memang tersohor karna debut dengan harta kekayaan yang sudah di milikinya sejak lahir, gosipnya ia bahkan bisa dapat pemeran utama di salah satu film ternama karna sumbangsih keluarganya yang kaya raya itu pada satu produser ternama yang katanya lagi masih kerabat dekat keluarganya.
Tapi Medi tau kronologinya, sebagian malah ia sudah ceritakan pada Yara yang kini tengah mengurusnya di lokasi syuting, saat ini mereka sedang menunggu Yara untuk datang dan bicara langsung pada Lisa.
"tenanglah, semua akan baik-baik saja. "
"aku tau kak, terimakasih sudah menemaniku sejak tadi, aku akan bayar kalian dua kali lipat jika aku lebih terkenal lagi nanti. "
Lisa nyengir, Medi tahu gadis itu punya jiwa yang bebas, ia bahkan tidak mengeluh soal luka itu, padahal untuk seorang model dan bintang iklan sepertinya, tubuh adalah modal utamanya dalam berkarir.
Tak lama Yara datang memasuki ruang perawatan Lisa, wajahnya tak bisa di tebak, tapi sorot matanya yang menatap Lisa nampak putus asa dan mengeluh kepayahan dalam nego tadi ke pihak lawan.
"minta maaflah Lis, semua bukti bahkan CCTV di sana menunjukmu sebagai tersangka utama penyerangan. "
"kakak tidak percaya padaku?. "
Lisa bangkit dari duduknya, ia menyalak pada Yara yang masih mnatapnya dengan sorot mlelahkan.
"aku lebih percaya padamu ketimbang mulut-mulut penjilat disana. "
Lisa terdiam, ia tahu situasinya, para kru dan staf termasuk produser pasti lebih memihak pada kubu gadis itu karna mulut mereka bisa di sumpal dengan uangnya.
Sedangkan kubu Lisa, mereka hanya memiliki orang-orang yang jujur dan tulus, bahkan Medina tidak bisa jadi penguat saksi karna ia berada di pihak Lisa sendirian di tempat kejadian, bisa saja Medi malah jadi bumerang memihak Lisa karna memang dia salah satu managernya, sedangkan seluruh kru dan staf yang menjadi saksi di sana sudah kompak memihak Gea, yah.. Mereka kalah jumlah.
"ah.. Sial, seharusnya sekalian saja aku merobek mulutnya tadi, penjara bukan hal buruk bagiku jika aku puas mengoyaknya."
Yara menyeka anak rambut yang jatuh di wajahnya, bibirnya melipat membentuk garis keras karna berfikir bagaimana caranya menyelesaikan ini tanpa harus melibatkan kata maaf dari mulut Lisa, karna jujur di hati yang paling dalam pun, Yara tak terima jika hanya Lisa yang meminta maaf, bahkan jika di lihat dari sisi permaslahannya, Gealah yang harus lebih dulu meminta maaf, karna kata-katanyalah yangenjadi pemicu pertengkaran mereka.
"apa mereka meminta denda yang tidak masuk akal? Sejenis uang damai yang harus kita berikan?. " Medi yang sudah tau banyak kasus-kasus yang mirip seperti ini nampak sinis bicara, karna kepalanya kuat memikirkan kemana arah jalan permasalahan ini akan di bawa.
__ADS_1
Benar saja, Yara mengangguk, seketika saja tawa sarkas Medi yang pelan dari mulutnya nampak kesal sambil menghela nafas kesal.
"mereka meminta permintaan maafmu Lis, dengan resiko kau di keluarkan dari projek iklan ini, membayar pinalti yang nominalnya berubah tidak sesuai kontrak karna kau melanggar di luar batasan mereka, lalu mereka meminta uang damai dengan angka tiga digit dari rekening pribadimu. "
"waaaahhhh, mereka itu lintah darat atau apa? Mereka sengaja mengolok-olok Lisa kan, karna mereka tahu Lisa baru terjun di dunia seperti ini, ya Tuhan, mereka benar-benar ingin menjatuhkanmu Lis. "
Medina nampak syok dan semakin geram, ia gemas sekali ingin mencakar wajah Gea jika wajah itu ada di hadapannya, namun Lisa hanya terdiam, ia juga harus berfikir bagaimana menyelesaikan ini tanpa melibatkan perusahaan entertainment tempatnya bernaung.
Yara juga sedang berat berfikir, tidak mungkin perusahaan mau mengeluarkan uang sebesar itu untuk Lisa yang belum melakukan kontribusi besar untuk agensinya, mungkin jika Mario yang ada di posisinya hal ini tidak membuat Yara berfikir keras, karna dengan mudah ia akan mengklaim sepak terjang Mario dan apa saja yang sudah Mario berikan untuk perusahaan atas kerja kerasnya.
Yah.. Mario cukup mengalirkan pundi-pundi uang kedalam agensinya, Yara bisa dengan bangga saat bicara dengan presdir nanti, tapi untuk Lisa, dia tahu gadis itu banyak punya bakat, gadis cantik yang rambutnya di cat warna pirang itu nampak bebas dan bahagia saat melakukan pekerjaanya, padahal ia termasuk orang yang ramah meski terkadang jiwa bebasnya sedikit membuatnya masuk kedalam masalah seperti sekarang ini, Lisa yang terlalu berani dan blak-blakkan memang di benci sebagian orang-orang kotor di dunia pekerjaan artis dan permodelan.
Ditambah lagi Lisa yang belum lama debut, dua tahun, hampir jatuh bangun Yara mendampinginya, hingga ia bisa mengenalkan Lisa di dunia bintang iklan dan model majalah remaja yang sedang populer belakangan ini.
Hening sesaat, lalu terdengar hentakan pintu yang di buka oleh seseorang yang wujudnya saja belum terlihat tapi auranya sudah menyebar keseluruh ruangan, nampak gelap dan dingin, Yara sudah kenal dengan aura ini, aura yang beberapa hari ini menempel terus didekatnya.
"Apa kau terluka? Aku dengar kau ikut berkelahi dengan mereka?. "
Suara sedikit ngebass yang Vano punya menghipnotis siapapun yang mendengarnya, termasuk Medi dan Lisa yang kini hanya bisa melongo dengan mulut sedikit terbuka, menatap dua sosok yang berdiri berhadapan masing-masing saling menatap.
"yang terluka Lisa pak, bukan aku. "
Dengan malu Yara menurunkan lengan Vano di pundaknya, kata Pak yang keluar dari mulutnya karna mereka sedang mode bekerja meski di luar kantor.
tatapan Vano mengeras, kecewa karna Yara tidak bersikap seperti saat mereka sedang berdua, padahal ia sudah tidak peduli dengan orang disekitarnya.
"aku juga dengar kau menundukkan kepala lagi di depan orang-orang seperti itu, sudah berapa kali aku bilang jangan merendahkan dirimu pada tikus-tikus itu, aku benci melihatmu di tatap lemah oleh orang-orang tak berguna seperti mereka. "
Senyum samar terlihat di sudut bibir Yara, bagaimanapun ia senang Vano membelanya di situasi genting seperti ini.
"kalau begitu bapak juga sudah dengar kalau...
" panggil aku kakak, memangnya aku bapakmu. "
Dengan ketus Vano memotong kata-kata Yara, membuat wajah gadis itu sedikit memerah menahan malu karna ia melirik Lisa dan Medi masih memperhatikan dirinya dan Vano.
__ADS_1
"eumm.. Soal Lisa, aku bisa menjelaskannya, Medi juga ada disana, ditempat kejadian, dia bisa menjelaskan lebih ditail dan...
" aku tidak peduli dengan masalah ini, lagipula bukan aku presdirnya, Darren si bodoh itu yang akan mengurusnya, dan kau...
Tiba-tiba mata Vano menatap Lisa dan Medi yang memang berdiri berdampingan, sorot mata tajam dengan wajah yang namapak marah ia tujukan pada Lisa dan Medi tanpa ampun.
"berhenti membuat Yara kelelahan dengan ulah kalian, memangnya dia bekerja hanya mengurusi hal sepele seperti ini? Kalian bekerja saja yang benar dan jangan membuat repot orang lain, mengerti?. "
Yang di bentak tidak bersuara, hanya tercengang dan terpaku, bahkan Medi sepertinya tidak dengar apa yang baru saja di katakan oleh ketua teamnya itu, ia hanya terkejut karna melihat Yara di perlakukan sudah seperti pasangan resmi oleh Vano.
"kakak..! ". Lirih pelan Yara menegur Vano, ia semakin meringis malu di hadapan Medi dan Lisa.
" ikut aku, kita pergi dari sini. "
Tangan Yara di tarik paksa, di cengkramnya dengan kuat dan ia sudah akan melangkah saat tiba-tiba Darren dan seorang wanita di sebelahnya datang, mereka bisa langsung masuk karna pintu yang bekas tadi Vano masuki lupa ditutup kembali.
"Devano Mahendra? ".
Perempuan disebelah Darren langsung bersuara saat melihat Vano dengan mata berbinar, ada senyum manis mengembang disana, Darren yang juga sedikit terkejut karna baru tahu kalau Anita, pengacaranya sepertinya kenal dekat dengan Vano.
Anita melangkah maju mendekat, ia berdiri tepat di hadapan Vano yang berkernyit halus menatapnya.
"lama tidak jumpa, kau semakin tampan dan berkarisma saja ya. " senyum Anita belum pergi dari bibirnya, meski ia melirik tangan Vano yang sedang menggenggam tangan wanita di sebelahnya.
"siapa? ".
Tukasan Vano membuat Anita sedikit kecewa memajukan bibirnya sedikit, lalu tatapan itu beralih pada wanita yang sedang di genggam tangannya oleh Vano, Anita tersenyum semakin lebar, karna ia mendapati Yara sedang menatapnya dengan tatapan sendu dan juga tarikan nafas halus yang memburu.
"kalau kau lupa padaku, mungkin kau bisa bertanya pada gadis di sebelahmu, meski kita tidak akrab,kau mengenalikukan? Nayyara prameswari? . "
Darren dan Vano menatap Yara berbarengan, gadis itu ketahuan sedang menatap Anita lekat, darisorot matanya sepertinya benar yang di katakan Anita, kalau Yara mengenali wanita yang di bawa Darren ini.
Seketika memory masa lalu terputar kembali di kepala Yara, masa-masa ia desekolah akhir dulu, dimana para gadis dan kakak kelas disekolahnya ramai-ramai mengucilkannya, Yara tidak akan bisa lupa dengan kenangan suram itu, kini.. Orang dimasa lalu itu sedang berdiri di hadapannya.
Bersambungâș
__ADS_1