
Nayyara menghela nafasnya panjang, ia menatap bangunan besar berpintu gerbang yang dapat terbelah dua dengan gaya ukiran klasik, tubuhnya masih di dalam mobil, tapi debarannya sepertinya sudah menggebu terdengar ke luar, di sebelahnya Devano menatapnya sambil tersenyum samar, akhirnya mereka berada disni, dirumahnya, rumah yang akan menguak sebagian ingatan yang mungkin ingin Yara lupakan.
"apa mama dan papa kakak tau kalau aku akan datang?. "
Tukas Yara yang kini tiba-tiba duduk dengan gelisah,sejujurnya ia tidak punya persiapan apa-apa untuk datang kesini dan menyapa orang tua Vano dengan baik, apakah ia terlihat tidak sopan nantinya?, Yara terus memikirkannya sampai lupa kalau Vano juga ada disebelahnya, sedang menertawai kegelisahannya.
"mereka sedang tidak ada dirumah, tidak usah repot-repot memikirkan bagaimana menyapa mereka nanti, ayo turun. "
Vano membuka sabuk pengamannya, lalu membuka pintu mobil dan turun dengan wajah tanpa bersalah karna sejak tadi membiarkan Yara terlihat khawatir.
"tunggu, kalau tidak ada orang tua kakak kenapa kita kesini? Bukankah tujuan kakak membawaku kesini untuk...
Kata-kata Yara terhenti saat Vano membukakan pintu mobil dan mengulurkan tangannya agar Yara turun dari duduknya, ragu Yara meraih tangan itu, ia juga bimbang untuk menanyakan apa yang ada di kepalanya saat ini.
Tapi sambil berfikir begitu, ia tidak ingin Vano menunggu lama, pada akhirnya ia meraih uluran tangan itu dan turun dengan wajah menatap Vano yang tidak bisa ia baca.
Melihat pintu besar kokoh menjulang tinggi di hadapannya, Yara sempat menarik nafas dalam-dalam, bau kekayaan terpancar dari aura rumah besar bergaya modern clasic yang setiap mata memandang adalah pahatan seni yang nampak tak ternilai harganya.
Rasa berkecil diri kembali muncul pada hati Yara, sepertinya ia dan Vano memang bukan untuk dipertemukan agar menjadi satu, tapi hanya untuk di permalukan oleh takdir, seolah mereka yang menatap padanya sedang berkata mengejek, lihatlah, dimana letak tidak tahu malumu gadis miskin, kau dan dia bahkan bagai bumi dan langit.
Sebenarnya Yara cukup sadar diri akan posiainya saat ini, siapa dia yang merindukan Vano? Tapi... Ada hal dalam hatinya yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata terbaik sekalipun, karna ini terlihat tidak sesederhana itu, cinta yang akhirnya membungkus jawaban itu, antara ia dan Vano, adalah takdir nyata yang tuhan mainkan dengan serumitnya perjalanan mereka untuk mendefenisikan apa yang mereka rasakan adalah cinta dalam bentuk lain.
"sudah cukup terpananya, kalau kau sedang menghitung kekayaanku, kau akan kaget hanya dengan melihat pembayaran pajaknya. "
Vano menyentuh jemari tangan Yara, menggenggamnya dengan erat, memberikan kehangatan yang mendalam dan aliran kasih yang tidak bisa dirasakan oleh wanita manapun, karna hanya pada Yara rasa itu bereaksi.
walau dengan gugup dan debar yang halus, Yara mencoba tersenyum,untuk menunjukan kalau ia siap menerima apapun kebenaran yang ada disana, ayo kita akhiri kebencianmu kak, aku akan menerima sakit itu, bila memang benar aku sumber dari kehancuranmu, kau boleh menghukumku seumur hidupmu.
Pintu terbuka, beberapa pelayan menyambut hangat, seorang pelayan perempuan dengan kepala yang menunduk yang tadi berdiri di dekat pintu, langsung bergerak mendekat pada Yara, meminta tas Yara yang sejak tadi di genggamnya, sepertinya ia akan menyimpankan benda itu untuknya, lalu sepasang sandal rumahan yang harus ia pakai di berikan dengan anggukan halus yang sopan, membuat Yara terpana dengan semua perlakuan ini.
Kalau Vano jangan di tanya, ini kan rumahnya, ia sudah biasa dan hafal betul apa yang seharusnya ia lakukan setelah masuk kedalam rumahnya, ia melakukan semua itu dengan cepat, lalu menarik tubuh Yara masuk ke ruangan yang luasnya sebesar lapangan tenis, masuk kerumah ini saja Yara sudah terbelalak takjub, belum selesai rasa kagum di wajahnya kini sudah tertegun lagi dengan ruangan yang besar didepan matanya ini, walau Vano menyebutnya dengan ruang tamu, tapi Yara sudah bisa menebak luasnya yang bahkan rumahnya sendiri tidak akan bisa di bandingkan dengan separuh ruangan ini.
Kepala pelayan menyajikan minuman juss yang biasa di sediakan untuk tamu, beberapa potongan buah di piring yang sangat cantik nan elegant, dan sepertinya ada lima jenis cake di atas meja sana, dengan hiasannya yang cantik, membuat Yara yang di paksa duduk oleh Vano tadi, menelan air liurnya tanpa sadar.
__ADS_1
"kau mau mencobanya?. " Vano tersenyum, sejak tadi ia memang nampak terhibur dengan wajah Yara yang menggemaskan, ekspresi terkejutnya, belalakan matanya, sorot kagum dan takjubnya nampak membuat Vano ingin mencubit pipinya yang gembil berisi itu.
Mendengar suara Vano, Yara terperanjat, seketika mode sadar dari buaian pesona isi rumah Vano tadi jadi hilang seketika, ia menatap Vano di sebelahnya sedang merangkul bahunya, wajah mereka sangat dekat, karna Vano langsung meletakkan dagunya di pundak itu, ia menatap wajah Yara yang nampak manis terlihat dari samping.
"makan dan minumlah semaumu, buat dirimu nyaman disini. "
lanjut Vano lagi, ia mencium ceruk leher Yara yang wangi parfum murahan tetapi tetap enak dihirupnya, membuat Yara menggeliat malu karna ada beberapa pelayan yang berseliweran tertangkap ekor matanya.
"kakak, apa tidak apa-apa aku kesini saat mama dan papa kakak sedang tidak ada?. "
"memangnnya kenapa? Aku malah sengaja mengajakmu saat mereka tidak ada. " seringai sinis menggoda milik bibir Vano membuat Yara menggeser duduknya.
Vano terkekeh, ia menarik pinggang Yara sampai mendekat lagi pada tubuhnya.
"jangan macam-macam ya kak, aku tidak mau kalau nanti ada yang salah faham melihat...
Cup..
Kecupan lembut mendarat di bibir Yara yang sedang bicara, gadis itu tersentak kaget, Vano tersenyum dengan tatapan teduh yang mengagumi setiap ditail wajah kekasih di hadapannya.
apa sih, bikin orang berdebar saja
"cobalah, setelah itu..." Vano berhenti sejenak, untuk menatap Yara dengan lekat, senyumnya hilang, berganti tatapan ragu tapi juga ingin menunjukan apa yang jadi keganjalan hatinya selama ini "apa kau mau, melihat kamar adikku?. "
"kamar?.. Untuk apa...
Vano menyodorkan potongan cake dan juss yang sudah tersedia, sedangkan Yara tiba-tiba membeku dengan kalimat Vano yang baru ia sadari, adiknya? kak Vano punya adik?, dahinya berkernyit, ia menatap Vano lekat dengan ekspresi wajah yang sudah berubah serius.
#
Di depan pintu itu Vano berdiri membeku, disebelahnya Yara menoleh padanya untuk memastikan kalau apa yang ia lihat disini adalah semua alasan kebencian Vano padanya.
Siapa adik Vano sebenarnya? apa karna ada sesuatu yang membuat Vano trauma sehingga ia harus membenci perempuan? Ataukah karna Yara mirip dengan seseorang yang menyakiti adiknya sehingga Vano harus sebesar itu membencinya.
__ADS_1
Dalam kepala Yara berfikir, haruskah ia bertemu dengan adik Vano yang belum ia kenal ini? Untuk apa? Dan kenapa sepertinya Vano ingin sekali mereka bertemu?.
Helaan nafas halus keluar dari hidung Vano yang nampak ragu tapi juga tidak bisa lagi menunda, karna mereka sudah disini, riak wajahnya berubah-ubah karna didasar hatinya ada ketakutan jika nanti ia tidak bisa menerima apa yang menjadi kebenaran setelah ini.
Sekali lagi mereka saling menatap, dingin tangan Yara yang saling menggenggam itu nampak erat, meski begitu, Yara mencoba tersenyum padanya, matanya seolah bicara, tidak apa-apa, ayo kita hadapi bersama.
"dengar Yara, jika kita masuk kedalam, kau akan mengingat semua, aku mohon jelaskan dan ceritakan saja semua alasanmu dengan sejujur-jujurnya, lalu... Aku tidak akan peduli lagi apa yang akan menjadi alasanmu nanti, aku hanya ingin kau tau, sebesar itu aku mencintaimu. "
Maaf, aku mohon ucapkanlah kata maaf padaku, setelah itu, ayo kita meminta maaf pada Brian bersama-sama.
Kernyitan di dahi Yara menandakan kebingungan yang teramat dalam, karna ia melihat Vano dengan sangat sedih mengatakan kalimat demi kalimat yang tadi di ucapkan. Ada apa? Kesalahan apa sebenarnya yang ia perbuat? mengapa adik kak Vano yang sepertinya menjadi pusat alasan dari ini semua, Yara benar-benar tidak mengerti, namun karna rasa penasarannya yang terlalu besar, akhirnya ia memegang hendel pintu itu, tanpa aba-aba, ia memutarnya, dengan iringan rasa terkejut Vano di wajahnya, pintu itu terbuka lebar, menunjukan apa yang ada di dalam sana, mata Yara menyipit berkerut, menatap pigura foto seorang bocah yang sedang tersenyum di sana, menggantung di dinding dekat jendela berkaca.
Langkahnya perlahan memasuki ruangan yang terasa dingin didalam sini, Vano yang tadi membeku kini ikut melangkah masuk, menutup pintu dengan perlhan, menyaksikan Yara membeku menatapi foto adiknya dengan mata yang sekarang berkaca-kaca.
"jadi dia... " sesak suara Yara menahan lirih di dada, pelan ia menoleh untuk menatap wajah Vano yang juga sedang menatapnya "alasanmu membenciku, sampai kau ingin membunuhku. "
Vano terkejut, karna Yara mengatakan kalimat itu dengan kepalan tangan di kedua tangannya, seperti menahan marah dan sesak di dadanya yang bergemuruh, ingatan Yara pada mimpi Vano saat mereka menginap di villa liburan itu, Vano yang bermimpi dan hampir mencekiknya dengan tatapan kejam dan marah.
"Yara...
" Brian? Jadi dia adikmu?. "
Tidak ada kata kak seperti biasanya, itu artinya Yara memang sedang menunjukan kalau ia marah, hal itu yang membuat Vano nampak bingung, bukankah reaksi itu harusnya ada pada wajahnya saat ini, apa itu artinya ada alasan lain? Ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi?
"aku tidak akan meminta maaf untuk alasanmu yang membenciku cukup lama, jika karna dia kau membenciku sebegitu dalamnya, kau melakukan hal yang salah, entah salah faham apa yang membuatmu melakukan itu padaku, tapi... atas penderitaanku dan tangisku selama ini yang kau buat, aku sangat tidak bisa menerimanya. "
Dengan mata menatap nyalak pada Vano, dari sudut matanya, turun setetes air mata yang di tahannya sejak tadi, Vano meraih pundak Yara yang hampir terguncang, kebingungan itu berbalik padanya, kini kepalanyalah yang penuh dengan kata ada apa sebenarnya?
"ceritakan padaku Yara, apa yang sebenarnya terjadi? Antara kau dan adikku ada apa?. "
hiks.. Hiks... Huuuhuu...
tangis Yara pecah, tubuhnya lunglai, ia lemas seketika, ingatan pada malam itu berputar lagi, malam dimana ia kehilangan ibunya.
__ADS_1
Bersambung😊