
Pagi cerah merangkak naik, suara sepatu yang berdecitan dengan lantai nan mengkilap karna habis di bersihkan oleh para ahli, riuh kesibukan pada masing masing orang yang bekerja di gedung berlantai besar itu nampak mencolok,ada yang berlari dan berjalan cepat untuk memenuhi target soal ketepatan waktu.
Namun di salah satu ruangan itu nampak dingin, senyap tidak nampak ada kehidupan disana, satu satunya yang bersuara hanya jam dinding berputar halus mengikuti waktu yang tidak bisa menarik diri untuk istirahat.
ruangan presdir dengan setumpuk berkas yang masih menunggunya tidak bergeser sama sekali, pindah ke lorong kubikel tempat dimana seseorang dengan rajin datang di pagi hari dan pulang saat senja hampir hilang dalam temaram, tidak bergeming dalam sunyi itu, meja kerjanya tetap rapih, bahkan komputer yang biasanya nampak sibuk menyala kini sunyi tidak berdaya.
Dua temannya dalam barisan kubikel itupun nampak heran saat datang tadi, mereka tidak mendengar pemberitahuan kalau satu temannya itu akan cuti atau ijin sakit, seperti bukan kebiasaannya, namun kerja di lapangan mengharuskan dua insan itu pergi sedari tadi meninggalkan tanya yang mereka simpan sesaat agar fokus tidak terpecah belah.
Sampai di penghujung hari, ruangan itu sunyi tidak berpenghuni, hanya petugas kebersihan yang sesekali mondar mandir melihat keadaan agar pekerjaan mereka lengkap untuk hari ini.
Tak.. Tak.. Tak..
Langkah nyaring dalam gema ruangan itu mendengungkan kebisingan yang tidak biasanya, walau gelap belum sepenuhnya berkuasa, ia dapat melihat jalan yang ia lewati sehari hari menuju koridor kubikelnya, nampak sepi, tidak berpenghuni, tapi memang ia sengaja datang pada keadaan seperti ini, agar ia bisa meluapkan semua rasa yang tidak enak menggrogotinya sejak tadi.
Hah.. Yara menarik nafasnya, ia duduk sendirian dalam kubikelnya yang nampak sangat rapih dengan bau seseorang yang selalu menempel padanya beberapa hari lalu, seketika dadanya berdebar mengingat nama dalam kepalanya, meski terasa di sayat perih,ia tetap menggemakan nama itu di sudut terdalam hatinya.
Apa kau masih membenciku?
Aku harus bagaimana setelah ini?
Jika aku pergi sebentar, apa kau masih ingin menungguku?
Bisakah kita melupakan semua sakit yang kita buat sendiri?
Bicaralah, satu kata saja, agar aku punya alasan untuk memaafkan dirimu.
Temaram lampu di ruangan itu nampak memeluk aura dingin yang ada, lamunan mata Yara menatap jendela kaca yang nampak tertutup tirai bergaris itu sangatlah nelangsa, air mata menggenang di sudut sudut mata yang ia pertahankan agar tidak jatuh seolah berkhianat pada wajah yang sudah ia sembunyikan garis sedihnya.
Titik-titik air itu jatuh membasahi pipinya, ia menghapus dengan cepat karna tidak ingin seseorang kaget melihatnya yang tiba-tiba datang di jam orang-orang harusnya pulang, isi kepalanya masih berkelana akan pertanyaan pertanyaan yang ia rangkai sendiri, ketika terdengar suara langkah kaki berhenti dbalik punggungnya.
"kak Nay".
__ADS_1
Senyum manis yang nampak polos menatap Yara yang menoleh langsung menatapnya dan mengenalinya, sayangnya senyum lebar itu tidak dibalas seperti keinginannya, ia malah di tatap dengan sorot tegas, seolah menghakiminya atas apa yang baru saja terjadi pada gadis itu.
"heuh, kau seperti bukan kak Nayy yang aku kenal".
"Gun."
Gumam Yara, sambil berdiri dari duduknya dan menatap Gun intens, alarm tidak baik menyala di kepalanya, apa lagi saat melihat pria itu semakin melebarkan senyumnya dan melangkah semakin mendekat kearahnya.
#
"apa maksudmu dengan tidak ada?. "
Vano menatapa Darren yang membisu di hadapannya, ingin menyangkal tapi itulah kenyataannya, pagi ini ia masuk ke kamar apartement di sebelahnya dengan amarah yang sudah di ujung kepala, tapi saat membuka pintu itu, ruangan itu telah kosong, Gun tidak ada disana, barang-barangnyapun telah rapih tak tersisa, tebakan yang sepertinya Vano dan Darren tau, bocah itu sudah menyadari jika dirinya telah ketahuan, makanya dia pergi saat Vano atau Darren belum menangkapnya.
"aku sedang mencarinya tuan, tolong tunggu sebentar. "
hanya itu harapan yang bisa Darren janjikan pada tuannya, selanjutnya ia berharap pada beberapa orang suruhannya untuk melacak keberadaan Gun dimanapun bocah itu berada, mereka harus menemukannya.
Vano duduk dengan lemas, dikursi kerjanya yang dapat berputar itu ia mengarahkan tubuhnya menghadap pada dinding berkaca besar yang menampakkan langit sore saat ini, Darren tidak bisa berkata-kata juga, karna ia juga nampak percaya pada wajah polos Gun kala itu, ia hanya menyadari kecemburuan dalam mata Gun saat nama Nayyara selalu di sebut-sebut oleh Vano.
"itu karna anda terlalu baik tuan. "
Ucapan itu memang benar adanya, Darren selalu berfikir keluarga Vano memang malaikat dalam hidupnya.
Namun senyum smirk yang kini Vano tunjukan adalah pengkhianatan pada diri sendiri baginya, ia patah hati sangat dalam, kecewa pada dirinya yang ternyata tidak mampu menilai orang dengan baik.
"aku baik? Bulshit, aku selalu membuatnya menangis dengan kejahatanku. "
lagi lagi wajah Yara berkelebat di kepalanya, bagaimana sendu wajah itu selalu menarik perhatiannya dan air mata gadis itu yang selalu menjadi kepuasannya dulu, kini... Penyesalan sedalam apapun tidak bisa merubah keadaannya, bukankah gadis itu terlalu sakit?.
"tuan...
__ADS_1
Darren ingin berkata-kata untuk menghibur tuannya, tapi saat ia ingin membuka mulutnya ponselnya bergetar di genggamannya, seketika panggilan itu ia terima dengan wajah serius dan fokus.
"tunjukan padaku. "
Tukasnya,seseorang di seberang sana memberi laporan dan langsung menutup panggilannya,ia mengirimkan sesuatu ke ponsel Darren, wajah Darren mengeras, ia menarik nafas dalam menahan amarahnya.
"ada apa?. "
Vano beranjak menghampirinya, ia merebut ponsel di tangan Darren yang membeku karna Vano secepat itu merespon ketidak wajaran pada garis wajahnya.
Mata itu membelalak seketika, melihat sebuah video dari rekaman CCTV di gedung kantor managementnya, dibagian ruang kubikel tempat Yara dan dua orang temannya biasa mengerjakan pekerjaannya disana, rekaman itu tidak bersuara, hanya menunjukan kalau Yara datang di jam pulang kerja, duduk termenung menatapi ruangannya yang tertutup, gadis itu menangis, Vano memegang dadanya, rasanya sakit itu dapat ia rasakan sampai kesini.
Lalu Gun datang dengan wajah yang tidak bisa terbaca, senyum jahat di sudut bibirnya menandakan kalau ia akan berbuat sesuatu pada Yara, Vano menahan amarahnya, tangannya mengepal saat melihat Gun menoleh pada CCTV disana, seolah menatapnya dan menertawai kebodohannya, seketika layar gelap, CCTV tiba-tiba tidak berfungsi.
" bocah sialan itu, aku yang akan membunuhnya sendiri dengan tanganku. "
Langkahnya sudah berlari, tapi Darren menggenggamnya erat, alahasil ia terkena tendangan yang refleks Vano lakukan pada kakinya, walau menahan sakit, Darren sekuat tenaga menahan Vano.
"LEPASKAN." teriak Vano tidak bisa menahan kesabarannya, ia tidak peduli apapun saat ini, ia hanya memikirkan Yara.
"biar aku saja tuan yang membawa Gun kehadapan anda, tolong tunggu disini dan...
" mungkin saja... Mungkin saja saat kau menemukannya Yara sudah terluka dan... LEPASKAN.. ".
Fikiran aneh dan mengerikan menguasai Vano yang akhirnya tidak bisa menyelesaikan kata-katanya, ia menghempas cengkraman Darren, ia lalu menghambur menerobos pintu yang tidak peduli akan hentakannya yang keras, membuat sekertarisnya nampak kebingungan, di tambah Darren yang selanjutnya berlari mengejar boss nya disana.
Aku mohon baik-baiklah Yara, setidaknya bertahan samapai aku datang.
Vano memacu mobilnya dengan kecepatan luar biasa, dadanya bergemuruh, menelan patah hati yang tadi di rasakannya, kini luka itu ia singkirkan, ia hanya ingin kali ini, ia tidak melakukan kesalahan lagi, Yara akan digenggamnya, sebagai hukumannya telah menyakitinya dulu, Vano bertekad, mengikat Yara walau gadis itu menolaknya sekalipun.
Bersambung😊
__ADS_1