Benci Yang Merindu

Benci Yang Merindu
bocah ingusan


__ADS_3

Hari berganti malam, sejak tadi Yara tersenyum sendiri, matanya menelusuri setiap sudut ruangan yang Vano pesan untuk makan, ucapan laki-laki itu memang tidak pernah sinkron dengan perbuatannya, dia yang minta makan ditempat biasa saja tapi memilih tampat restoran yang tidak bisa di bilang biasa saja bukan, jika harus di privateroom.


Menu makan yang jauh dari kata sederhana atau biasa saja yang ada di kepala Yara, bertolak belakang dengan Vano, kalau untuk ukuran makan mewah Yara, dengan sate atau kambing guling saja sudah sangat mewah, berbeda dengan Vano yang menilai steek seharga jutaan rupiah saja masih dibilang standard, entah dari rasa atau penampilannya, seperti sekarang ini, Yara hanya terpaku melihat Vano memotong daging lembut yang masuk ke mulutnya dengan lahap.


Tak di pungkiri, jika Yara juga menelan liurnya saat menatap cara Vano makan, sejak tadi ia masih hanya memegang pisaunya dan garpu tanpa ada pergerakan.


Ada senyum tipis di bibir Vano, seketika ia meraih piring di hadapan Yara, memotong-motong daging itu dengan bentuk kecil-kecil agar dapat di gigit oleh gadis itu, lalu mengembalikan lagi piring daging itu kehadapan Yara.


Tanpa suara dan kata-kata apapun yang keluar dari mulut Vano, perlakuan Vano pada Yara untuk yang satu ini bisa di bilang yang terbaik dari saat Yara mengenal Vano dulu, lelaki yang hanya mengeluarkan kata-kata pedasnya sedang mode gentelman rupanya.


"berita Moana sudah rilis kak, terimakasih karna pemberitaannya masih menggunakan inisial dan wajah Moana di blur sesuai keinginannya, aku sangat senang, Moana akan baik-baik saja sekarang. "


Menyuap makanannya, Yara mencoba mengobrol dengan Vano yang nampak menekuk wajahnya seketika, ada apa? Apa dia tidak suka? fikir Yara.


"kenapa kau yang berterimakasih? Harusnya dia yang membungkuk padaku. " ketus Vano


"aku tau, Moana pasti melakukannya, aku hanya mewakilinya sebelum dia, lagi pula aku kan salah satu managernya, jadi...


" ck, sudahlah makan saja, aku tidak ingin mendengarmu mengoceh hal-hal yang tidak penting. "


Meskipun ketus begitu, Yara tahu Vano menghargai permintaan rasa terimakasihnya yang tulus, sementara Vano masih sibuk mengiris daging Yara tersenyum menyuap dagingnya.


"kakak keren sekali tadi, bisa melihat pergerakan halus dari si aktor ca-bul itu, aku saja yang merekam tidak menyadarinya. "


"itu karna kau bodoh" sambil kunyah-kunyah daging di mulutnya yang lembut.


"Moana pasti sangat ketakutan, bodohnya aku yang tidak menyadari itu sejak kemarin. "


"iya, kan aku sudah bilang kalau kau itu bodoh. "


"oh iya, soal sutradara itu, beritanya juga naik kak, katanya dia memang menerima suap dari keluarganya si aktor, aku fikir kakak hanya menggertak tadi, ternyata kakak memang tau ya soal uang suap itu?. "


Heuh, Vano tersenyum sedikit sombong, apa yang barusan di dengarnya seperti melihat kekaguman di mata Yara padanya, entah perasaan apa ini, tapi ia merasa senang gadis itu memujinya.


"padahal itu hanya filingku saja, tapi kemampuan insting memang sekali-sekali di perlukan dalam bekerja, kau harus banyak belajar dariku. "


Sudah tidak tau lagi bagaimana sombongnya orang ini bicara, tapi Yara memajukan bibirnya menahan senyum melihat tingkah Vano yang seperti sedang pamer kemampuannya, seolah-olah itu adalah sebuah prestasi bagi hidupnya.


"benar, kakak jadi seperti manusia kalau sedang membantu, aku suka saat kakak mengancam pak sutradara tadi, apa sikap orang yang punya banyak uang seperti kakak itu melakukan hal yang sama seperti itu ya? Tidak ada rasa takut sama sekali, padahal dia kan sutradara senior. "

__ADS_1


Senyum kebanggaan Vano hilang, kini ia sebal menatap Yara yang bicara tanpa tahu makna yang keluar dari kalimat omongannya.


"tidak semua orang beruang sepertiku tau, banyak yang punya kekuasaan atau uang itu hanya diam saja melihat pelecehan seperti itu, bahkan terkadang mereka melakukan hal kotor seperti orang tua si aktor ca-bul itu, hah..Yara, kau itu senang sekali merusak moodku ya. "


Dengan sembarang Vano meletakkan pisau dan garpu makannya ke piring yang masih berisi setengah daging itu, Yara agak terkejut karna ia bingung kenapa tiba-tiba Vano marah padanya.


"maaf kak, aku kan hanya bertanya, dan sebenarnya itu pertanyaan yang tidak harus kakak jawab, anggap saja aku hanya bergumam. "


Pura-pura nyengir saja, supaya dia tidak marah lagi. Fikir yara.


cih, kenapa wajahnya begitu sih, dia terlihat imut kalau menatapku dengan senyum selebar itu.


Hah.. Apa yang sedang kau fikirkan otak bodoh.


Dengan malas, Vano kembali melanjutkan makannya, Yara juga focus lagi dengan suapan-suapan menikmati makanan mahalnya, mumpung di tlaktir, apa boleh ya kalau aku bilang ingin tambah? Yara tersenyum menertawai fikirannya sendiri.


"besok kerja di kantorkan? Tidak keluar-keluar lagi seperti ini?. "


Tiba-tiba Vano bertanya, karna untuk pengalihan supaya ia tidak melihat senyum imut itu dihadapannya.


"hm, aku akan di kantor seharian, karna Mario akan datang kekantor besok. "


"aahh, syuting video clipnya sudah hampir rampung, dia akan kekantor untuk merayakan keberhasilannya, biasanya dia akan meeting sebentar dengan presdir dan akan makan siang bersama rekan-rekan sekantor. "


lihat wajahnya sampai berseri-seri begitu saat menceritakan bocah ingusan itu.


Vano menghela kesal, ia meminum jus jeruk yang nampak segar miliknya dengan sekali teguk, menghilangkan rasa marah karna wajah Yara bersemu ceria di hadapannya saat menyebut nama laki-laki itu.


Padahal yang Yara rasakan saat ini adalah rasa bangga terhadap Mario, artis laki-laki pertama yang ia didik dari polosnya seorang remaja sampai bisa sesukses ini, bukankah ini pencapaian yang patut ia banggakan?


dasar bocah ingusan . Suara hati Vano yang sedang memaki.


#


" kak Nayyyyy... ".


Suara Mario menggema di ruangan, sepertinya ia berlari saat masuk kegedung ini, Medina sumringah melihat Mario yang selalu terlihat segar meski wajahnya terlihat imut itu.


Ahh.. Kenapa anak muda sekarang punya aura seperti bayi sih, selalu menggemaskan dan ingin memeluknya kalau terlihat sedekat ini.

__ADS_1


Medina sedang memperagakan memeluk dirinya sendiri dengan gemas.


Alfian bergidik geli melihat Medi begitu, sepertinya hanya dia dan Nayyara yang normal di kantor ini, karna dipikir-pikir hanya dia dan Nayy juga yang tidak pernah berlebihan saat menyukai seorang idola.


"selamat pagi Mario, waahhh bintang kita sepertinya sedang sangat bahagia ya hari ini, selamat atas suksesnya launching video singel terbarumu. "


Medina bertepuk tangan sendiri sambil menghampiri kubikel milik Yara yang sedang tersenyum menyambut Mario, pria bayi itu menyodorkan beberapa gelas kertas berisikan kopi kesukaan mereka.


"kak Medi selalu jadi yang paling TOP untuk ucapan selamat, terimakasih. "


Mario mengerling sebelah mata, Medi yang tadi meraih gelas kopinya nampak menangkap kerlingan itu dengan antusias dan menempelkannya di dada dengan lebay dan wajah yang menunjukan terharu atas perlakuan pria bayi itu.


Yara tertawa bersama Mario, sedangkan Alfian cuma berdiri mendekat lalu mengambil jatah kopinya dan menepuk pundak Mario pelan.


"selamat bro. "


tukasnya singkat dan kembali lagi ke meja kerjanya dengan balasan satu jempol tangan Mario terangkat kearahnya.


"kak Nayy mau makan apa hari ini? Kita akan makan di luar bersama sesuai keinginan kakak. "


Ucapa Mario antusias, Yara menatapnya terharu dengan senyuman lebar, lalu menepuk pundak Mario dengan usapan halus.


"terimakasih atas kerja kerasmu, kita akan makan dimana saja asalkan tempat dan menunya enak kan? ".


" kakak juga punya hutang makan malam denganku, ingatkan?. "


"aahhh.. Benar, akan aku bayar di lain waktu, okeh?. "


Mario mengangguk seperti kucing rumahan yang di sayang tuannya, apa lagi saat Yara mengusap kepalanya dan mengacak-acak rambutnya dengan lembut, ada debaran hangat yang aneh menelusup ke dadanya,menimbulkan rasa bahagia saat tangan Nayy menyentuhnya.


"apa ketua team kita juga ikut?. "


Tukas Medina, menyadarkan Mario kalau ia lupa ada orang yang ia tidak suka juga di tempat ini, cih.. Pertemuan pertama dengan orang itu benar-benar membuatnya kesal.


"ketua team sedang di ruangan presdir, kau juga akan kesana kan? Masuklah, siapa tau kau sedang sangat di tunggu. "


Alfian yang sedikit mencuri dengar tadi saat berjalan di lobi tidak sengaja bertemu Darren dan Vano berjalan menuju lif, mereka membicarakan soal Mario yang ternyata dapat sponsor untuk konser mini album yang akan mereka buat, Alfian belum memastikan hal itu benar atau tidak, tapi ia akan segera tahu jika Mario masuk keruangan presdir dan keluar dengan wajah sumringah bukan?


Akhirnya Mario melangkah menuju ruangan presdir setelah sebelumnya bercakap-cakap pendek pada Yara, hatinya masih saja terasa hangat saat Yara menyemangatinya tadi.

__ADS_1


Bersambung😊


__ADS_2