Benci Yang Merindu

Benci Yang Merindu
pertemuan Darren dan Devano


__ADS_3

Saat itu matahari sedang terik, panas di ksekujur tubuh juga tidak dapat berbohong karna derasnya peluh mengalir seperti sungai di musim penghujan.


seorang bocah berambut gondrong dengan wajah berdebu masih menggosok sepatu milik pelanggannya, di lihat dari sepatunya yang nampak mewah, bocah itu terus memperhatikan pemilik sepatu di tangannya, seorang tuan berjas dan beradsi sangat rapih dan harum.


Rambutnya yang klimis tertata rapih dan juga jangan lewatkan wajah lelaki tampan itu sangat memikat mata siapapun yang akan menatap.


Wajah bersinar bak malaikat itu tersenyum karna menangkap tatapan dari bocah kumal yang sedang menyikat sepatunya dengan semir, tangannya sangat terampil meski tubuhnya berpeluh lelah dan kepanasan.


Kalau di perhatikan bocah itu sepantaran dengan anaknya, ah.. Terkadang dunia tidak adil bagi sebagian orang, dimana anaknya dirumah bisa makan enak, tapi disini ada bocah kotor mengais untuk bisa makan setiap harinya.


"kamu gak sekolah?. "


Menatap penuh binar, karna ia melihat anak laki-laki hitam karna debu itu masih punya semangat dan mimpi yang menggebu dari sorot matanya.


Sorot kagum itu di tujukan pada pria berjas itu, kagum karna orang sekaya dia masih mau menyemir sepatu mahalnya di tangan yang kumuh seperti dirinya.


"sekolah tuan, anda pelanggan terakhir saya, setelah ini saya harus pulang untuk bersiap kesekolah. "


jawabannya tegas dan penuh semangat, itu artinya anak ini masih punya mimpi dan cita-cita di benaknya.


"orang tuamu kerja apa? ".


" aku tidak punya ibu, kalau ayah...


Ragu terdengar dari kalimat terakhirnya, tatapannya sedikit meredup karna ia menimbang dalam hatinya apakah harus memberi tahu pada tuan yang kelihatannya baik hati ini atau tidak tentang kondisi ayahnya saat ini.


Si tuan baik hati berkernyit sebentar, sampai akhirnya ia tersenyum sambil menepuk pundak anak itu dengan keras untuk mengalirkan semangat, ia tahu dunia anak itu pasti keras, sampai harus berfikir hanya untuk bercerita tentang sebuah keluarga pada orang asing seperti dirinya.


"tidak apa-apa kalau tidak ingin menjawab, aku hanya bertanya karna kau rajin di usia kanak-kanak seperti ini. "


"tidak tuan, saya punya ayah, tapi sedang sakit. "

__ADS_1


"dirumah sakit? ".


anak itu menggeleng halus, sambil bicara sambil tangannya tetap bekerja dengan telaten.


" dirumah, karna sakitnya tidak bisa di obati dirumah sakit biasa. "


Wajah bingung dari si tuan baik hati, seketika hanya tatapan ingin tahu lebih jauhlah yang mendominasi.


"maksud kamu, harus rumah sakit besar?. "


"iya, dan harus rumah sakit khusus".


" sakit apa? Separah apa?. "


bocah itu tersenyum menatap si tuan baik hati, ia menyeka peluh yang hampir jatuh dari keningnya, pekerjaannya hampir selesai.


"sakit jiwa". Tukasnya, tanpa beban, tanpa malu dan penuh percaya diri, lalu ia mengangkat sepatu kehadapan wajah si tuan baik hati, menunjukan kalau pekerjaannya sudah beres, ia ingin melihat netra kepuasan untuk nilai yang ia kerjakan pada sepasang sepatu mewah itu.


Hingga akhirnya pertemuan selanjutnya terus berlanjut, si tuan baik hati kini telah berlangganan dengannya, menyemir sepatu mewahnya yang selalu berganti-ganti setiap hari sambil berbincang-bincang sebentar menemani bocah itu samapi pekerjaannya selesai menyemir sepatunya.


"Darren".


Yah.. Si tuan baik hati itu sudah mengenal nama bocah kumal berdebu itu dengan baik, entah apa yang membuat mereka jadi akrab, tapi ia nampak bahagia bisa bertemu Darren di saat-saat ia kehilangan satu permata di sisinya.


" ayo tinggal bersama paman, tapi kau harus berjanji sesuatu. "


Tatapan Darren yang selalu berbinar itu kini nampak sedikit takut, ia takut jika tidak bisa menepati janji yang belum di ucapkan itu, rasa tidak enaknya begitu besar karna si tuan baik hati yang kini ia panggil paman itu telah banyak membantunya.


Menolong ayahnya masuk kerumah sakit yang cukup baik, rumah sakit yang dapat ia kunjungi kapanpun karna kini namanya tertulis sebagai wali hidup dari ayahnya yang tidak berdaya selama beberapa tahun ini.


Paman juga mendampingi ia untuk beberapa hal yang menyangkut prosedur rumah sakit sampai akhirnya ia mengerti dan tidak perlu bantuan paman lagi jika mengurus sesuatu untuk ayahnya, memberikannya tempat tinggal yang layak, membiayai sekolahnya yang sebenarnya hanya sekolah biasa, menolongnya untuk beberapa hal saat ia butuh orang dewasa seperti paman dalam hidupnya.

__ADS_1


Kini sudah sepantasnya ia membayar itu semua dengan kesetiaannya bukan? Apa yang harus ia lakukan? Apakah akan mampu dan terasa berat? Darren tak tahu samapi dimana kemampuannya untuk berbalas budi pada orang sebaik paman.


"janji? Janji apa paman? ".


Senyum dan binar mata si paman nampak merekah, ia seperti membawa pulang hadiah terindah dari tuhan untuknya.


" tolong jaga anakku, jadilah sahabatnya, saudaranya, penjaganya, pembelanya, apapun yang membuat kalian menjadi dekat dan menjadi satu, tolong temani dia di hari-harinya, setiap hari sampai kalian tumbuh bersama dengan matang, tolong hidup di sampingnya sepanjang hidupmu, mendukungnya dalam hal positif apapun, jadilah bagian dari hidupnya. "


Tunggu? Darren nampak sedikit salah paham, ia memang belum pernah bertemu dengan anak paman, namun sering kali ia mendengar cerita-cerita tentang anak paman yang katanya memang sangat terpukul kehilangan saudara kandungnya yang belum lama meninggal karna kecelakaan.


Dan disinilah ia sekarang, berhadapan dengan sosok yang nampak tidak jauh berbeda dari segi umur dan tinggi badan mereka, mata yang menatap entah kesombongan atau dingin itu nampak tidak bersahabat, berdiri kaku dengan aura gelap nampak menggelayut di balik punggungnya.


"Devano" itu namanya, jadi dia anak laki-laki?


Fikiran Darren mengembara mengingat janji yang harus menjadi syarat dari si paman yang baik hati.


Ah.. Seharusnya dari awal aku bertanya pada paman soal sosok anak yang selalu di bicarakannya.


Ada gelak menggelitik yang menertawakan dirinya sendiri dalam hati Darren, bodohnya ia berfikir kalau anak si paman itu adalah perempuan.


#


semenjak pertemuan itu, Darren berusaha keras dekat dengan Vano yang ternyata memang sudah suka sekali bikin orang kesal, meski begitu Darren bersyukur kalau Vano ternyata tidak secuek dan sedingin seperti kesan pertama mereka bertemu.


Darren mengikuti semua aktifiatas Vano, mulai dari sekolah, bermain musik, olah raga dan bermain game kesukaan Vano, Darren menjadi bayangan Vano yang nampak arogan dan terkadang nyeleneh dengan pemikiran-pemikirannya.


Sampai pada akhirnya Devano menceritakan semua tentang kejadian kecelakaan Brian sang adik yang membuatnya tiba-tiba hancur seketika, pasalnya Vano hanya bermain dan berinteraksi dengan adiknya, mereka sangat dekat dan juga akrab untuk hal sesuatu.


Darren memahami gejolak dendam yang kini masih membara di benak Vano, meski diam-diam ia melihat air mata di sudut mata itu setiap kali Vano mengingat adiknya Brian, Darren selalu berharap, Vano menemukan apa yang ia inginkan sampai saat ini.


Bersambung😊

__ADS_1


__ADS_2