Benci Yang Merindu

Benci Yang Merindu
dia wanitaku


__ADS_3

Seperti orang bodoh, Yara duduk manis di sebelah Vano, dihadapannya adalah colega bisnis papahnya yang mempunyai janji dengannya, meeting sudah berjalan 20 menit lalu, meski terasa tidak nyaman, Yara harus tetap diam dan sesekali tersenyum ketika tiga orang di hadapannya melirik dengan kernyitan halus di dahi.


Mungkin mereka berfikir apa gunanya gadis ini ada disni kalau sejak tadi hanya diam saja, mereka semua pria berjas seperti orang hebat dalam dunia bisnis pada umumnya, kak Vano juga tidak jauh keren jika di sejajarkan dengan mereka, malah sepertinya di mata Yara hanya Vano yang nampak bersinar di antara tiga pria itu.


Yara hanya memperhatikan beberapa berkas di atas meja, lalu orang-orang itu bercakap-cakap membahas kontrak yang tertera dan beberapa kerugian jika ada pelanggaran dari beberapa pihak, sedikit banyak Yara memang mengerti dunia bisnis seperti ini, lamanya ia bekerja dengan bertemu banyak orang membuat ia faham bagaimana sikap para pembisnis yang akan sangat tegas untuk soal anggaran, mereka cakap dalam memperhitungkan semua kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi.


"apa tidak apa-apa jika pihak kami meminta pembangunannya di mulai di awal tahun?, pastinya pak presdir akan banyak custemer yang menawarkan lebih dari perusahaan kami kan, saya harap anda bisa mempertimbangkan kami yang sudah buat kontrak lebih dulu. "


Salah satu pria disana bicara setelah menutup mab tebal yang telah di tanda tangani, wajahnya nampak rupawan meski sepertinya dia lebih tua dari Vano, dengan sekali melihat saja, Yara tau kalau dialah orang penting yang di maksud oleh kak Vano.


"kontrak sudah di sepakati, presdir kami tidak akan mengecewakan pelanggannya, lagi pula anda dan presdir sudah sangat dekatkan untuk urusan seperti ini, jadi saya rasa asal kali ini anda dan team tidak membuat masalah seperti lima tahun lalu, kami jamin kerjasama kita akan sangat lancar. "


Sambil menautkan jari jemarinya sendiri, Vano tersenyum menatap lawan bicaranya, senyum para pembisnis, ada beberapa tekanan dalam kata-katanya dan itu untuk menguatkan pertahanan agar lawan bicaranya punya simpatik yang lebih terhadapnya.


si pria berjas yang tadi nampak menawan membalas senyuman Vano dengan sama tegasnya, ia mengulurkan tangannya, tanda jabatan tangan akan mengakhiri meeting yang tidak memakan waktu lama ini.


"nikmati fasilitas hotel kami selagi anda disini, di lain waktu jika anda akan datang lagi, kami akan sangat menyambut anda, sampaikan salam hormat dan permintaan maaf mendalam saya pada presdir, kami menunggu pertemuan besar selanjutnya. "


"terimakasih, akan saya nikmati fasilitas ini dengan sangat puas, senang berbisnis kembali dengan anda. "


"terimaksih kembali, tadinya saya fikir anda akan datang sendiri karna presdir memberi pesan seperti itu, maaf jika kamar sekertaris anda kurang nyaman karna kami tidak sempat menyiapkannya tadi, kami baru tahu anda datang berdua saat anda sudah disini. "


"tidak masalah, lagipula dia bukan sekretaris saya".


Yara melirik Vano dengan malu pada pria di depannya, yah... Pasti dia memperkenalkan aku sebagai pesuruhnya atau mba-mba pembantu yang mau dia suruh ini itu selama disni, kasta kami terlihat sangat jelaskan jika di hadapan orang-orang seperti ini.


Bicara sendiri dalam hati, setelah itu bibir atasnya sedikit naik karna merasa Vano sedang merendahkannya.


"oh.. Kalau begitu nona ini...


" dia wanitaku. "


Singkat padat dan bikin semua orang yang ada di meja itu melongo tanpa ekspresi, termasuk Yara yang sejak tadi sudah mempersiapkan mentalnya jika memang dia di bilang pembantunya oleh Vano, tapi yang terjadi akhirnya kecanggungan lagi, ingin bersuara tapi sampai saat ini Yara juga masih loading menatap Vano dengan wajah penuh tanya.


"kenapa anda tidak bilang sejak datang, kami akan mempersiapkan kamar yang lebih baik jika kalian sampai menginap dan...


" tidak perlu, kami belum memutuskan akan menginap atau tidak, aku akan memberi kabar jika memang kami akan tinggal lebih lama, terimakasih karna sudah merespon dengan baik kedatangan kami. "


Kata-kata pria itu di potong dengan alasan yang sangat terperinci oleh Vano, sedangkan kembali mereka berbicara santai, Yara malah seperti sesak nafas saat tersadar dari keterkejutannya tadi, sampai-sampai ia memegang dadanya sendiri dan membuang wajahnya ke sembarang arah agar mereka tidak mendengar debaran keras yang timbul atas pernyataan dari Vano tadi, wajah dan telinganya memerah, seketika udara di sekitarnya menjadi panas dan sedikit pengap, sepertinya Yara kepanasan di ruangan berAC.


#


"kenapa kakak melakukan itu? ".


Protes Yara disaat mereka berdua makan siang yang agak terlambat, tidak jadi makan di dalam kamar karna tiba-tiba pelayan mengabarkan mereka di jamu makan siang di restoran hotel dengan tempat private.

__ADS_1


" melakukan apa? Menyebutmu wanitaku? Heuh? "


Senyum mengejek sambil mulutnya mengunyah dan menyuap makan siangnya dengan sangat lahap, Vano bersikap seolah tidak ada apa-apa yang harus dia bahas atau luruskan.


"bikin orang salah faham saja. "


Cemberut Yara, tapi mau tak mau ia juga menyuap makanannya karna lapar.


"kau kan memang wanitaku, kau fikir aku melepaskanmu dalam sangkarku? Jangan harap Yara. "


"tapi jangan bilang begitu didepan orang lain, aku yakin mereka punya pemikiran berbeda dengan maksud kakak. "


"tau dari mana? ".


" memangnya kakak tidak lihat wajah pria tadi, lalu ini semua menurut kakak apa?. "


sambil menunjukan dengan kedua tangannya yang mengarah ke atas meja, berbagai menu ada disana.


Apa kau fikir ini jamuan sederhana untuk orang yang datang dengan niat berbisnis, ini lebih seperti kencan kan?


Tukas Nayy dalam hati.


"anggap saja kau beruntung jadi bisa makan siang mewah seperti ini. "


"cepat habiskan, setelah ini kita akan keluar. "


"kemana? ".


" memangnya kau ingin didalam kamar saja?, selama disini, kau harus jalan-jalan melihat suasana didaerah sini. "


Yara memajukan bibirnya sambil mengernyitkan kedua matanya, ingin tersenyum tapi ia tahan karna takut Vano tidak suka.


"tinggal bilang saja kakak ingin mengajak aku jalan-jalan kenapa harus berputar-putar menjelaskan".


" heuh, sepertinya kau mulai berhalusinasi Yara, dengar ya, aku mengajak kau kesini agar aku punya orang untuk aku suruh ini dan itu, aku akan membeli sesuatu untuk mamah dan papahku, kau ku ajak supaya membawakan barang-barangku nanti. "


Wajah Yara semakin cemberut, itu membuat Vano sedikit menarik garis bibirnya, merasa kalau gadis itu semakin lucu dengan wajah begitu.


Dan benar saja, setelah selesai makan siang yang terlambat itu, mereka sudah berada di salah satu pusat perbelanjaan yang lumayan ramai di kota ini, Vano mengajaknya berjalan-jalan dan berpibdah-pindah tempat sejak mereka datang tadi, sudah ada beberapa barang yang Vano beli, terlihat dari tangan Yara yang sudah menenteng beberapa tas kertas bermerk.


Yara melangkah di belakang Vano dengan sedikit berlari-lari kecil karna langkah kaki Vano yang nampak lebar, sesekali ia menubruk punggung Vano yang tiba-tiba mendadak berhenti berjalan, pria itu akan pura-pura kesal saat Yara membungkuk-bungkuk meminta maaf, padahal ia sengaja melakukan itu untuk menjahili Yara.


Senyum di bibirnya sepanjang jalan mengukir di bibirnya.


melihat Yara sudah berkeringat dan nampak lelah, Vano berhenti di sebuah toko baju wanita, ia melirik Yara sebentar sebelum memasuki toko itu, setelahnya dengan langkah yang penuh semangat ia membuka pintu berkaca itu dan langsung di sambut oleh pegawai disana, Yara membuang nafasnya keras, tolong... Aku haus, sungutnya pelan dan tidak akan di dengar laki-laki kejam itu.

__ADS_1


"aku ingin beli baju untuk mamaku, tolong cocokkan dengan tubuh wanita ini. "


Yara berkernyit sedikit terkejut, ia menatap heran pada Vano, tapi belum sempat dirinya protes, lengannya sudah di sentuh oleh seorang pegawai pelayan di sana dan menariknya ke satu ruangan.


Tas-tas yang tadi di tangannya di letakkan di atas sofan yang kini Vano duduki, satu pelayan yang lain datang membawakan sepiring camilan dan dua gelas juss melon yang nampak segar.


Sambil menunggu Yara yang sedang di suruh ganti baju untuk di cocokkan, Vano meraih majalah yang ada di atas meja, membuka-bukanya dengan malas.


Tidak sampai 5 menit tirai di hadapan Vano terbuka, tubuh Yara menyambul disana, dengan balutan dress selutut berlengan pendek yang agak lebar, warna pink soft dengan motif bunga-bunga sakura bertebaran di kain halus itu.


Sekejap Vano tak berkedip, karna ini pertama kalinya ia melihat Yara dengan rambut cepol yang memperlihatkan lehernya yang nampak jenjang, tulang belikatnya sangat nampak karna bentuk dari leher bajunya yang agak terbuka sampai belahan dadanya menyambul sedikit.


Ada saliva yang turun nampak kentara di tenggorokan Vano, pria itu langsung mengalihkan pandangannya kesembarang arah, takut Yara melihatnya kalau beberapa detik tadi ia sempat terpana oleh kecantikan Yara yang masih berdiri disana.


"sedang apa? Ganti sana. "


Tukas Vano sedikit berteiak, membuat Yara yang tadi sudah tersipu jadi kaget dan merengut.


"tapi ini cukup bagus kak untuk wanita feminim sepertinya. "


Yara berkilah agar ia tidak terjebak dengan gonta ganti baju seperti bayangannya saat menonton film-film di tv.


"mamaku tidak suka yang feminim"


"lalu mama kakak suka yang seperti apa?, aku akan pilihkan kalau kakak meberi gambaran sedikit saja tentang mama kakak. "


Tersenyum, agar mood laki-laki itu baik.


"ganti saja sana, sudah dipilihkan kan sama pegawainya, coba saja semuanya."


Mata Yara membelalak, ia melihat lagi gantungan baju beroda yang tadi di dorong masuk ke dalam tirai oleh salah satu pegawai, baju-baju yang bergelantungan itu entah berapa jumlahnya, tapi itu sangat banyak dan pastinya akan memakan waktu yang sangat melelahkan.


Dengan wajah masam dan lesu, Yara menarik tirai lagi, menutupnya lemas, didalam ia menghela nafas pasrah berjalan meraih satu baju di gantungan.


Di sofa, Vano mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.


Sialan, dia cantik sekali tadi


Gumamnya, lalu merentangkan kedua tangannya kepunggung sofa dan menengadahkan kepalanya menatap lampu bergantung di langit-langit.


berhenti berdebar hati Bodoh.


Dia mengomel sendiri.


Bersambung😊

__ADS_1


__ADS_2