Benci Yang Merindu

Benci Yang Merindu
akhir pekannya Darren


__ADS_3

Hari berganti ke akhir pekan lagi, sebagian orang menyambutnya dengan antusias dan sebagian lagi ada yang biasa saja karna rutinitas yang tiada henti nampak membuat kerja keras mereka seakan tiada habisnya, yah.. Lembur di akhir pekan memang hal yang menyebalkan untuk sebagian orang.


meninggalkan Yara di akhir pekan dengan aktifitas yang selalu sama, yaitu mengunjungi makam ibunya, lalu datang ke kedai perpustakaan yang akan menghabiskan setengah waktunya disana sambil minum kopi dingin rasa moca kesukaannya.


Devano yang lebih memilih absen untuk bertemu kekasihnya itu sedang meratapi perasaan bersalah yang kembali menguasai dirinya pada mendiang adiknya, ia mencoba menenangkan diri dan berencana bertemu Yara di sore atau malam hari.


akhir pekan ini sepertinya milik Darren, ia menyambut akhir pekan dengan senyuman di wajahnya saat bangun tidur, apa lagi setelah melihat kalender digital yang ada di atas nakasnya, pagi yang indah untuk Darren yang sepertinya punya jadwal tersendiri hari ini.


Setelah melewati beberapa bulan, ia akhirnya bertemu lagi dengan rutinitas tahunannya, apa lagi kalau bukan kunjungannya kerumah sakit dimana tempat ayahnya di rawat selama ini, rasa rindu dan juga bahagia jadi satu karna beberapa hari ini ia mendapat laporan tentang kondisi ayahnya yang semakin membaik,kini ia sangat bersemangat, sejak pagi ia telah rapih dengan pakaian terbaiknya dan beberapa barang yang akan ia berikan pada ayahnya, seperti baju baru, beberapa selimut hangat, keperluan ayahnya yang lain yang memang sudah harus diganti dan juga jangan melupakan camilan, beberapa cake sudah Darren siapkan sejak kemarin.


ia pergi dengan mobilnya, berkendara sendiri menikmati indahnya pemandangan yang indah berlarian di luar sana, kaca mata hitamnya menekan silau matahari yang semakin terik menembus kaca mobilnya, butuh beberapa jam lagi agar ia bisa sampai ketempat ayahnya, untuk itu ia lebih memilih menikmati perjalanannya dengan lagu yang ia dengarkan sendiri dari hedsed di telinganya.


Akhir pekan yang indah karna tidak ada macet seperti yang di bayangkan Darren, ia sampai di tujuannya dengan sambutan terik matahari yang cukup menyengat membakar tubuhnya, mobilnya parkir di parkiran luar rumah sakit yang agak jauh dari pintu masuk gedung rumah sakit, tapi ia telah disambut dengan satu orang perawat yang sudah sangat akrab dengannya, perawat inilah yang selalu memberi up date kabar soal kondisi ayahnya.


Namanya Satria, perawat muda yang cekatan dan juga pintar mengambil hati para pasien, wajah tampannya menjadi salah satu daya tariknya disenangi pasien disini.


Satria tersenyum menyambut Darren, ia berlari mendekat ke mobil Darren saat laki-laki itu sudah turun dan langsung membuka bagasi mobilnya, banyak barang yang harus mereka angkut ke kamar, beberapa juga ada yang untuk di berikan ke para perawat dan dokter yang sudah menjaga ayahnya selama ini.


"yang itu untukmu. "


Darren menunjuk kotak kardus berwarna biru polos, ukurannya sedikit lebih besar dari yang sebelumnya ia pernah berikan pada Satria, wajah Satria langsung sumringah, karna itu artinya isinya lebih banyak dari sebelum-sebelumnyakan.


"terimakasih tuan, padahal anda tidak perlu repot-repot membwakannya untuk saya. "


Basa-basi yang nampak bertolak belakang dengan raut di wajahnya, hal itu membuat Darren tertawa kecil, karna Satria sudah siap dengan troli di sampingnya, senyum lebarnya yang menampakkan gigi-giginya yang putih semakin membuat lucu tingkahnya menunjukkan kebahagiaan.


Darren menepuk halus pundak Satria, menyalurkan kebahagian yang ia terima sambil menganggukk berterimakasih pada Satria yang selama ini tidak pernah mengeluh mendampingi ayahnya, jadi hadiah yang ia bawa setiap tahunnya, tidaklah seberapa di banding dengan kerja keras Satria selama ini.


"dimana Ayahku?. "


Sambil berjalan, ia membuka kacamatanya dan menyelipkannya pada kerah bajunya, disampingnya Satria mendorong troli yang hampir penuh dengan kardus hadiah bawaan Darren, mereka menuju pintu masuk rumah sakit sekarang.


"bapak sedang di taman belakang, sedang menyiram tanaman dan kegiatan menanam pohon yang di adakan lembaga sosial dari beberapa daerah, disana ramai sekali, karna lembaga tersebut membawa satu artis cantik yang sejak kemarin tidak berhenti bernyanyi saat datang memperkenalkan diri, para pasien sepertinya menyukainya tuan, selain cantik dia juga ramah, pembawaanya ceria dan tidak takut dengan pasien, saya saja mendadak jadi penggemarnya, dada saya berdebar saat dia menyapa kami satu persatu. "


Satria bercerita dengan menunjukan wajah kekagumannya pada artis yang sedang dibicarakannya itu, Darren tersenyum sejak tadi melihat tingkahnya, mereka sudah di koridor, Darren berhenti di meja resepsionis yang menyambutnya, mengisi buku tamu,beberapa suster penjaga yang sudah mengenalnyapun menyapa Darren dengan antusias, itu karna sebagian suster muda menganggumi ketampanan Darren dari sejak lama, makanya kalau sudah jadwalnya Darren datang berkunjung, mereka akan bergerombol untuk sekedar basa basi menyapa agar bisa bersalaman langsung pada Darren.


Pemandangan itu sudah biasa dilihat Satria, ia hanya bisa berdecak sinis pada perawat-perawat itu sambil menurunkan beberapa barang yang ada di trolinya, sebal dengan tingkah suster-suster muda itu, padahalkan sebelum tuan Darren datang mereka sempat bergosip tentang wajahku. Fikir Satria.

__ADS_1


"bagikan ke teman-teman kalian seperti biasanya ya. " tukas Satria di depan wajah suster yang nampak tak berkedip menatap Darren disana.


"ish.. Kau ini mengganggu saja. " ucap suster yang nampak tidak suka wajahnya dihalangi kibasan tangan Satria tadi.


"bagikan sana, ini dari tuan Darren. "


Sambil meletakkan satu dus besar di hadapan wajah suster yang tadi kesal menatapnya.


"waahhh, sepertinya lebih banyak dari kemarin-kemarin. "


Satu suster bersuara, mereka langsung mengerumuni dus itu karna ingin tahu isinya apa.


Satria menaikan bibir atasnya, dasar wanita, hanya peduli hadiahnya setelah puas menatapi dan menikmati wajah yang memberikannya.


"aku akan bawa sendiri milik ayahku. "


ucap Darren pada Satria yang sejak tadi berdiri memegangi dus milik ayah Darren, tangan itu langsung mengambil alih, Satria nampak mengangguk dan sudah akan berjalan lagi untuk mengantarkan Darren ke kamar ayahnya,namun langkahnya di tahan oleh Darren sendiri.


"tidak usah mengantarku, nikmati hadiahnya, aku akan meletakkan ini di kamar ayahku sambil merapikannya sebentar. "


"baik tuan, apa aku harus panggil bapak dan memberi tahu kalau anda sudah datang?. "


"loh, tuan tidak ikut makan juga? Akan saya siapkan menu yang berbeda jika tuan mau. "


"jangan fikirkan tentang aku, aku bisa makan kapan saja, utamakan saja untuk ayahku. "


"baik tuan. " melihat Darren dengan tegas bicara, membuat Satria akhirnya hanya mengangguk mengiyakan perintah dari pria itu, pasalnya ia memang di tunjuk Darren sebagai perawat khusus yang merawat ayahnya dari awal mereka ada disini.


Darren mengangguk pamit pada semua mata yang menatapnya disana, tidak lupa sedikit senyuman kecil agar tidak terkesan sombong di hadapan para suster yang melihat, padahal perlakuannya itu membuat kegaduhan bagi segerombolan suster yang merasa istimewa dapat sapaan darinya.


Tapi seolah ia tidak peduli, langkahnya tertuju pada pintu di ujung sana, pintu kamar yang selalu ia rindukan setiap harinya, kamar sang ayah.


#


Darren sudah selesai dengan urusannya di kamar sang ayah, merapikan beberapa selimut di tempat tidurnya menggantinya dengan yang baru, ia juga mengganti sarung bantal dan seprainya, padahal pihak rumah sakit selalu mengantinya setiap hari karna ayahnya termasuk psien VVIP yang sangat di perhatikan, kenapa demikian? Karna setengah saham terbesar rumah sakit ini adalah milik orang yang mengaku sebagai wali dari Darren, tentunya saja orang itu ayahnya Vano, ia pembisnis yang cukup kompeten di segala peluang, setelah mengadopsi Darren dan menempatkan ayah Darren kerumah sakit ini, tempat yang dulunya terpencil dan tidak banyak pihak pemerintah kembangkan, di ambil alih langsung oleh peruaahaan pembangun milik papahnya Vano, Darren ingat sekali, pamannya itu selalu bilang, "ayahmu akan sembuh, dia akan mengenalimu lagi disini, kalau kita bawa dia ke ibu kota, dia akan melupakanmu, karna dia tidak kenal dengan tempat tinggalnya sendiri, jadi untuk kebaikannya dan mendukung kesembuhannya, dokter terbaik disini bilang ayahmu harus tetap di kampung halamannya. "


Saat itu Darren menuruti semua perkataan pamannya,karna ia sangat percaya jika ayahnya bisa sembuh dan mengingatnya lagi, meski sekarang lebih baik, ayahnya hanya mengingatnya sesekali, dan itupun selalu Darren di tubuh yang kecil, ayahnya hanya mengingatnya,Darre yang berumur 12 thn.

__ADS_1


langkahnya terhenti di halaman taman belakang rumah sakit, banyak pasien lansia yang sedang duduk-duduk menikmati sinar matahari yang menyengat, ada yang masih menyiram tanaman yang baru mereka tanam, ada juga yang masih berolahraga di ikuti beberapa perawat karna terus berlarian kesana kemari.


Dareen tersenyum saat menemukan ayahnya yang sedang duduk sendirian sambil memegangi setangkai bunga mawar putih, tatapan kosong nan jauh memandang, entah apa yang sedang dilihatnya atau di fikirkannya, langkahnya sudah bergerak mendekati tempat ayahnya duduk tepat di bawah pohon ketika tiba-tiba suara seseorang dari arah tatapan ayahnya nampak nyaring terdengar menghentikan langkah Darren.


"SAAYYAAANGNGNG... Aku menemukannya lagi. " smabil berlari seorang gadis bergaun putih selututnya menghampiri tempat ayahnya duduk, rambutnya yang panjang di kuncirnya ngasal,di tangannya membawa setangkai bunga mawar putih yang lainnya, ada satu juga yang ia selipkan di telinganya, tawanya merekah, Darren menatap raut wajah sang ayah yang tersenyum gembira menyambut uluran bunga mawar itu dari tangan gadis muda di hadapannya.


Dan yang membuat Darren berdebar ialah gadis muda itu sangat ia kenali, gadis muda yang selalu wara wiri di kantornya jika sedang tidak ada jadwal syuting atau pekerjaan lainnya. MOANA duduk di sebelah ayahnya yang namapak bahagia, ia bahkan menjatuhkan kepalanya di pundak pria tua renta itu.


"sedang apa kau disini?. "


Darren yang tiba-tiba berdiri dihadapan ayah dan Moana, membuat Moana tampak terkejut dan membelalak melihat presdirnya ada di hadapannya saat ini, gadis itu terperanjat refleks berdiri, tatapan tajam Darren menusuk lensa mata Moana yang seketika pucat pasi.


"presdir? Ke.. Kenapa bisa ada disini? Ak.. Aku sedang... Euuu.. Tunggu, aku bisa jelaskan, aku tidak melanggar kontrak kerja, aku juga tidak sering-sering datang, aku hanya membantu lembaga sosial yang dikelola ibuku, akuu.... " kata-kata Moana nampak terbata-bata,pada akhirnya ia menyerah menjelaskan dan mencari alasan di hadapan Darren, dengan wajah lesu merasa bersalah "presdir aku mohon maafkan aku, tapi aku bisa menjamin tidak ada yang mengenaliku kok disni, akukan tidak seterkenal Mario. "


Helaan nafas pada mulut Darren membuat Moana agak takut untuk bicara lagi, lalu sepasang mata itu menatap pria tua yang sedang diam duduk tersenyum sendiri menatapi bunga di tangannya, Moana langsung tau kalau presdirnya pasti bertanya-tanya siapa yang sedang bersamanya, ia langsng tersenyum mengalihkan pembicaraan yang mungkin bisa menyelamatkannya.


"oh iya, perkenalkan presdir, ini paman yang sedang menjalani perawatan disini, aku baru dua kali datang tapi paman ini tidak melupakanku, dia mengenaliku sebagai istrinya, makanya sejak tadi kami bersama, memetik bunga mawar yang di tanam disana. " Moana menunjuk arah yang tadi tempat ia berlari, Darren mengikuti tangan Moana yang terjulur kedepan, lalu wajahnya kembali menatap wajah ayahnya yang sejak tadi hanya menatap bunga di tangannya.


"ngomong-ngomong, presdir sedang apa disni? tempat inikan jauh dari tempat presdir tinggal? Apa ada talent baru yang sedang presdir incar disini? Apa salah satu perawat atau dokter?. " sambil hati-hati Moana bertanya, ia juga sampai sedikit terkejut menyadari pertanyaannya yang menebak keperluan presdirnya ditempat jauh seperti ini.


"aku mengunjungi ayahku. "


ucap Darren tanpa melepaskan tatapan pada ayahnya.


"wooaahhh ternyata presdir berasal dari kota kecil disini ya? Pasti ayah presdir salah satu pekerja disini, ah.. Atau jangan-jangan salah satu dokter disini? Kalau perawat senior sepertinya aku tidak melihat ada perawat yang sudah berumur dan tua, pasti dokter...


Moana membelalak sambil menghentikan ocehannya saat tiba-tiba melihat Darren berjongkok di hadapan orang tua yang sedang duduk bersamanya tadi, mulutnya sampai menganga dan buru-buru ia tutup sendiri karna tebakan dikepalanya membuatnya kaget setengah mati.


Apa dia ayahnya?


Bertanya dalam hati, semakin yakin karna melihat Darren menyentuh tangan orang tua itu dan menggenggamnya erat, sang ayah menatapnya kosong, tanpa mengalihkan matanya, Darren tersenyum pada sosok berambut putih yang wajahnya nampak mirip dengannya jika sedang tersenyum.


"benar, dia ayahku. "


Tukasnya, membuat Moana kembali dalam keterkejutannya yang hari ini entah sudah berapa kali dadanya berdebar karna Darren, ia sampai memundurkan tubuhnya saking tak percaya apa yang ia lihat hari ini, presdirnya, punya kisah memilukan disini.


Akhir pekan Darren yang sepertinya akan sibuk sekali mengurusi dua orang yang tidak ia duga-duga akan membuatnya tertawa seharian ini.

__ADS_1


Bersambung😊


__ADS_2