
Mungkin banyak yang mengira kalau Darren terlahir dari keluarga kaya, karna pahatan wajahnya yang nampak sempurna dengan kategori tampan rupawan seperti ketua teamnya, walau dengan fersi berbeda jika harus membandingkannya.
Moana juga berfikir kalau Darren punya selera tinggi, karna itu terlihat dari bagaimana presdirnya bergaul dengan kalangan para pembisnis muda dan juga orang-orang penting sekelas pejabat sekalipun, makanya saat ia tahu Anita mengejar Darren, ia sudah sangat tidak kaget jika harus bersaing dengan sekelas wanita seperti itu, karna memang dunia Darren seprtinya akan lebih jauh lagi di atas sana.
Ketertarikan Moana pada Darren hanyalah sebatas karna presdirnya orang baik, murah senyum dan ramah sekali dengan siapapun yang baru ia kenal, saat ia patah hati pada kenyataan ketua teamnya yang membelanya dulu lebih punya cerita dan kenangan indah dengan Nayyara, Darren orang pertama yang tahu dan membimbingnya pada keikhlasan menerima kenyataan itu.
Sekedar penghiburan, bisa di bilang begitu, karna Moana juga tidak pungkiri dirinya masih sangat butuh orang-orang seperti Darren yang mau menasehatinya tentang arti kehidupan sesungguhnya, ya.. Darren sedewasa itu di matanya.
Terlepas dari dia seorang presdir, Moana mengaguminya sebagai seorang kakak, karna Darren memang penasehat yang baik, mungkin sejak itu ia jatuh hati padanya, terus berkeliaran di kantor saat istirahat, berseliweran pura-pura bertanya ini itu pada Nayy atau Medi, atau pada siapapun yang ia temui disana, semua itu hanya karna ia ingin Darren memperhatikannya, apalagi ia melihat Anita yang juga selalu kelihatan disana, membuatnya gencar sesering dan sebisa mungkin ia akan datang hanya untuk sekedar bertegur sapa pada Darren.
Dan mungkin ini adalah hari paling beruntung dalam hidupnya, niatan hati hanya ingin membantu kegiatan lembaga sosial yang di kepalai ibunya, karna jam kosong pekerjaannya membuat ia dengan senang hati ikut dalam kegiatan menyenangkan ini, berbaur dengan pasien sakit jiwa yang tengah dalam perawatan, sebenarnya ia tidak ada niatan apa-apa, hanya karna ia menyukai kegiatan-kegiatan sosial seperti ini, hasil didikan ibunya dari kecil yang selalu mengajaknya berkenalan dengan lingkungan baru.
Ia juga dari keluarga kecil, keramahan sesama tetangga dan orang lain yang mereka temui adalah anugrah indah yang ia rasakan dalam hatinya.
Moana masuk kedalam kantin, mencari-cari sosok Darren yang sejak tadi ia tidak temukan karna pria itu membawa ayahnya masuk ke kamar perawatan yang hanya boleh pasien dan satu pengunjung dengan syarat masih berhubungan keluarga sajalah yang boleh masuk, apa lagi setelah tahu kalau pasien ayahnya Darren adalah penghuni VVIP yang memang sangat di jaga oleh pihak rumah sakit ini.
Sambil membawa nampan berisi makan siangnya, mata itu mengelilingi ruangan kantin di hadapannya, hingga matanya berhenti di satu titik, dimana ada ruangan sekat pembatas dengan pintu yang memisahkan ruangan lain dari kantin disini, ia tersenyum karna melihat Darren ada disana, masuk dengan tangan yang sama dengannya, membawa makan siang untuk sang ayah.
"presdir..!. ".
Moana berjalan cepat menuju kearah Darren yang kini sedang menatapnya karna tadi gadis itu memanggilnya dengan keras, beberapa perawat yang sedang bertugas menemani pasiennya nampak melirik mereka dan agak terkejut karna ternyata Darren yang mereka kagumi sepertinya kenal dekat dengan Moana, si artis periang yang sejak kemarin datang membuat gaduh dengan suara nyanyiannya yang sedikit fals.
"hati-hati, jangan berlari, nanti kau terjatuh. "
Tukas Darren saat Moana sudah di dekatnya, gadis itu tersenyum lebar, semakin merona karna tau Darren memperhatikannya.
"presdir, ayo makan siang bersama. "
"aku mau makan dengan ayah ku. "
Darren melirik kedalam ruangan, melihat sang ayah yang sedang duduk termenung disana.
"aku tau, maksudku ajak aku juga ya?. "
Moana nampak memohon, ditatapnya Darren dengan mata bulatnya yang lucu dan menggemaskan seperti bayi besar sedang merengek, Darren sampai tersenyum.
"masuklah." sambil memiringkan kepalanya, mengisyaratkan kalau Moana boleh masuk kedalam.
Gadis itu langsung melangkah kegirangan, meletakkan nampan makan siangnya di atas meja dan tersenyum pada ayah Darren yang matanya langsung berbinar melihatnya.
"sayang... Kau datang lagi?. "
Suara sang ayah yang agak serak itu nampak lekat menatap Moana, tanganya terulur untuk minta di raih, dan tanpa canggung atau berfikir panjang, Moana menyambut uluran tangan itu, menggenggamnya erat.
"tentu saja aku datang lagi, akukan ingin makan bersamamu, ayo makan bersama. "
Tukas Moana, wajahnya berseri, karna melihat ayah presdirnya masih memakai bunga mawar putih pemberiannya tadi yang ia selipkan di telinganya.
"dia tidak mau melepasnya. " tukas Darren sambil duduk di sebelah ayahnya.
Hhihii lucu sekali, fikir Moana, lalu mlepaskan genggaman tangannya dan meraih makanannya dengan semangat.
"ayo makan dulu. "
ajaknya pada sang ayah
__ADS_1
"aku tidak ingin makan dengannya. "
Tukas sang ayah, sambil menunjuk Darren di sebelahnya.
"ayah."
"kenapa tidak mau? memangnya dia mengganggu?. " Moana mendahului Darren yang ingin bicara pada ayahnya.
"dia ini penculik anakku, kalau datang selalu bilang akan membawa anakku kalau aku mau makan dan minum obat, tapi dia berbohong, dia tidak pernah membawa anakku, hey.. Kembalikan anakku cepat. "
Wajah sendu Darren tertangkap lirikan mata Moana, ia jadi kasihan, ternyata presdirnya punya kisah sepilu ini, bukankah sangat menyakitkan dilupakan oleh orang yang kita kasihi? Ah.. Entah mengapa Moana tidak percaya kalau presdirnya masih bisa tersenyum dan tertawa semanis itu saat sedang menyimpan luka seperih ini.
Tiba-tiba Moana berkenyit dan memasang wajah setengah cemberut, ia menggenggam lagi jemari tangan keriput yang sudah sedikit tremor itu dari atas meja.
"kenapa kau bilang begitu sayang? Apa kau tidak mengingatnya? Coba tebak siap dia? Apa karna dia sangat tampan jadi kau tidak bisa mengenalinya?. "
Darren tersentak menatap Moana, gadis itu hanya tersenyum lalu kembali fokus pada ayahnya yang sedang melihat wajah Moana dengan seksama, lalu tatapannya berganti menatap Darren di sebelahnya dengan tanda tanya di kepalanya.
"memangnya siapa dia?. "
rasa penasaran membuat sang ayah menyentuh wajah Darren, debaran aneh datang, rasa nyeri yang sejak tadi ia tahan mengundang genangan air mata di pelupuk matanya, sambil menatap sang ayah, ia tidak bisa berkata-kata karna menahan harunya.
"coba tebak, siapa dia? Bukankah dia sangat tampan? Lihatlah, warna bola mata kalian samakan? Dia juga punya hidung yang mancung sepertimu, alis mata yang tebal sepertimu, dan juga bibir yang indah saat tersenyum seprtimu, bukankah dia nampak persis seperti duplikat dirimu?. "
Moana sudah sangat mengharu biru melihat ayah Darren menyentuh wajah anaknya sendiri, tatapan mata yang menelisik memperhatikan setiap garis wajah milik Darren di hadapannya, sesekali gurat kernyitan tanda isi kepalanya sedang menerka-nerka siapa sosok besar di hadapannya ini.
"kau... Jangan-jangan kau...?? ".
Darren sudah menahan debaran di dadanya, berharap ucapan selanjutnya, ayahnya mengenalinya sebagai anaknya yang selama ini selalu ia pertanyakan, tangannya sampai mengepal saking menunggunya kalimat itu, dan Moana ikut berdebar menyaksikannya, semoga sang ayah ingat, ayolah.. Harapnya, ia sudah sangat terharu melihat Darren dengan mata berkaca-kacanya menunggu sang ayah ingat padanya.
"apa kau adikku? Iya.. Kau adikku si Faisal kan? Eh..kenapa kau bisa hidup lagi? Kau kan sudah mati waktu sakit dulu, kau terkena diare dan kau meninggal saat di bawa kerumah sakit. "
Hahahahaha....
Terdengar gelak tawa disana, Moana terpaku pada Darren yang sedang mengusap sudut matanya sendiri saking tidak bisa menahan geli di perutnya, gelak tawa lepas, sesekali tangannya memukul sudut meja di hadapannya, membayangkan wajah ayahnya tadi mengenalinya sebagai adiknya di masa lalu, sungguh di luar ekspetasinya.
"presdir... Maafkan aku. " tukas Moana dengan wajah meringis merasa bersalah, membuat Darren semakin tertawa.
"sayang, sepertinya dia gila, dia bukan adikku si Faisal, Faisalkan sudah mati. "
Sang ayah berucap lagi, bahkan tubuhnya sedikit menggeser karna menatap Darren yang tertawa sangat kencang di hadapannya, dan perlahan Moana juga ikut menertawakan kejadian lucu ini, mereka berisik sekali sampai-sampai Satria mengintip dari balik pintu yang terbuka sedikit.
Kenapa istriku ikut-ikutan gila sih.
Dalam benak sang ayah, yang kebingungan melihat dua orang di hadapannya sedang tertawa entah karena apa.
#
"apa presdir akan menginap?. "
Moana bertanya pada Darren, mereka sedang duduk di atas bangku panjang yang letaknya sedikit jauh dari taman belakang, semilir angin kencang naik kepermukaan, karna sebenarnya letak rumah sakit disini adalah di atas dataran tebing yang tinggi dekat laut yang luas, dari tempat Darren dan Moana duduk sekarang, dikejauhan mata memandang adalah deburan ombak yang berkejaran menampar pantai pasir putih nan indah, tidak salah jika Darren mencari ketenangan di tempat ini.
"hm, besok siang aku baru kembali. "
ucap Darren, sambil menyandarkan bahunya di badan kursi, rasanya nyaman sekali duduk disini dengan pemandangan indah didepan mata.
__ADS_1
"yaahh.. Padahal akan lebih seru kalau bermain ada presdir, tapi.. Aku harus kembali hari ini. "
Moana tersenyum, rambutnya bergoyang diterpa angin kencang, anak-anak rambutnya menyambul terkadang berlarian sampai kedepan wajahnya, membuat tangannya sesekali bergerak menyingkirkannya ke belakang telinga.
Darren melihat itu, sisi cantik dari Moana yang tidak semua orang bisa melihatnya hanya dengan sekali melihat, mungkin wajah Moana sudah terbilang cantik dari lahir, tapi... Cantik yang Darren lihat ini berbeda, seolah pancaran aura pisitif yang mengalir dalam tubuhnya menebar memberikan debaran aneh pada dada miliknya.
Cukup lama Darren menatapi wajah Moana dari samping, wanita itu terus memandang ke arah lautan terhampar di ujung sana, tidak sadar kalau sedang di kagumi.
"apa jadwal syutingmu padat besok?. "
"hm? Oh.. Sebenarnya bisa di bilang hanya latihan untuk teater pertunjukan minggu depan, aku harus stand buy karna jadi peran antagonis. "
Tawanya yang renyah terasa candu di telinga Darren.
"kau harus semangat bekerja, kau bilang mau membeli rumah untuk ibumukan?. "
"benar, aku akan sangat rajin menabung untuk itu."
"tapi tetap jaga kssehatanmu, apa tidak lelah? Melakukan hal sosial seperti ini? Kaukan tidak di bayar melakukan ini. "
"ini bukan soal bayaran, tapi lebih menikmati waktu kosongku agar lebih berguna, entah mengapa rasanya nyaman sekali jika bisa berguna untuk orang lain, akukan melakukan ini dari kecil, karna ibuku pelopor duta kemanusiaan di pergaulan sosialnya, jadi mungkin karna itu sudah tertanam dari kecil, seperti ada yang kurang dalam hidupku jika tidak melakukannya. "
"tidak ingin diliput? Ini bisa jadi hal yang dapat menaikan pamormu di dunia entertaint?. "
"tidak, makanya aku tidak pernah bilang pada siapapun kan tentang kebiasaanku ini, aku tidak ingin melakukannya jadi terpaksa karna sudah banyak yang tau. "
Darren diam, entah kagum atau apa, tapi rasanya ia bangga sekali memiliki sosok seperti Moana di agensinya, senyumnya semakin mengembang karna tahu kalau sang ayah tidak takut berdekatan dengan Moana,meski ia harus melihat Mo sebagai istrinya, apakah sosok ibunya benar mirip seperti Moana?, fikirnya.
"Mo..! Eumm... Soal pertemuan kita untuk hari ini... aku harap kau mau merahasiakannya pada siapapun, tolong ya ?. "
Moana tersenyum kecil, menatap Darren yang nampak menyembunyikan rasa malunya pada Moana yang sebenarnya tidak sama sekali menganggapnya rendah atas latar belakangnya ini.
"tidak mungkin aku bergosip tentangmu presdir, lagi pula jangan merasa rendah begitu, kau hebat bisa merawat ayahmu yang hebat itu, banyak orang yang membuang orang tuanya jika mereka di posisimu, tapi kau hebat bisa bertahan samapai sejauh ini, aku iri sekali kau bisa sekuat itu. "
Moana menghela nafas, tatapannya kembali pada lautan lepas.
"aku bukan merendah, aku juga tidak masalah siapapun tau tentang latar belakangku, aku tidak malu meski ayahku pasien rumah sakit jiwa, aku hanya... Lelah menjawabnya, aku tidak ingin pertanyaan-pertanyaan yang mengandung kasihan atau cemoohan itu menguras tenagaku, aku malas bicara saja memberi penjelasan yang sebenarnya aku tidak harus menjawabnya. "
"benar, jadi tetaplah jadi presdir yang seperti biasanya saja ya, lagipula kau terlihat keren kalau sedang bekerja. "
Dengan malu-malu Moana memuji Darren yang nampak terpaku sebentar saat melihat gadis itu tertawa sambil menutup mulutnya, kenapa Moana terlihat manis ya?
"Mo..!".
Panggil Darren dengan suara pelan nan lembut, membuat Moana menoleh menatapnya.
" mau turun ke pantai?. " lanjut Darren, ia juga tidak tau kenapa tiba-tiba ingin mengajak gadis ini jalan-jalan di pesisir pantai disana, ajakan itu mengembangkan senyum di bibir Moana, gadis itu langsung berdiri sampai tidak sadar kalau ia sampai meloncat dari duduknya saking senangnya Darren mengajaknya berdua berjalan-jalan di pantai.
"apa tidak apa-apa meninggalkan ayah sebentar?".
tukas Moana untuk memastikan kalau Darren tidak melupakan itu.
" ayah sedang tidur siang, biasanya dia akan bangun setelah lewat dua jam, karna obatnya membuat ia rileks tertidur. "
"kalau begitu ayo kita main ke pantai, aku akan bilang pada ibuku untuk menunggu beberapa jam lagi untuk pulang. "
__ADS_1
Moana meloncat-loncat seperti bocah kecil yang tidak sabar di ajak bermain, Darren tertawa melihat tingkahnya, ia berdiri dari duduknya dan langsung di raih lengannya oleh Moana, ia diseret dengan langkah cepat, tawa mereka terbawa angin yang kencang sampai ke atas langit.
Bersambung😊