
"Yara..... ".
Devano menyentuh wajah itu, tapi tepisan tangan Yara menyambutnya, air mata yang sepertinya tidak bisa lagi keluar karna sakit yang ternyata sangat menyayat ini merasuk sampai ke dadanya.
Nafasnya sesak, rasanya lelah mengeluarkan semua air mata yang selama ini ia tahan untuk penderitaannya terhadap ibunya, karna kehilangan ibunyalah, ia juga harus kehilangan ayahnya, meski sosok itu ada, tapi kehangatan dirumah itu hilang meninggalkannya.
Dan kini, semua yang Vano lakukan kepadanya hanya karna kebenciannya terhadap kehilangan adiknya yang juga membawa pergi ibunya, sungguh tidak adil dan tidak bisa terbayarkan, masa-masa dimana Yara merasa sangat sendirian dengan luka itu, sedangkan bukan hanya Vano saja yang terluka, dia juga tersiksa akan kehilangannya.
"kau membenciku, sampai rasanya kau ingin membunuhku? Padahal dia juga pergi membawa ibuku, aku tidak pernah memintanya untuk datang kerumahku malam itu, aku sudah memberinya pesan kalau malam itu aku tidak bisa datang menemuinya. "
Air mata mengalir lagi, kesedihan yang tumpah ruah sedang ia luapkan dengan dramatis, seperti kesengsaraan hidupnya selama ini, kehilangan ibunya adalah dunia yang runtuh dalam hidupnya.
Vano terkulai lemas di hadapan Yara, sungguh apa yang ia fikirkan selama ini adalah salah, Yara adalah pesan yang tersembunyi dari mimpinya selama ini, Brian mungkin datang untuk menyampaikan pesan rasa bersalahnya pada Yara, dan Vano yang tidak tahu akan arti pesan itu malah menafsirkan yang berbeda pada gadis itu.
Mungkin saja wajah yang nampak sedih itu karna rasa bersalah yang Brian bawa sampai pada kematiannya kepada Yara, mungkin adiknya mencoba memberi tahu pada Vano lewat mimpi-mimpinya selama ini, agar ia menjaga Yara dan menyampaikan kata maaf yang tidak bisa ia ucapkan, kenapa? Kenapa ia sangat bodoh, tidak mencari tahu dengan benar kejadian malam itu.
Jadi terjawab sudah, kenapa Yara tidak datang di pemakaman adiknya padahal ia tahu Brian telah pergi untuk selama-lamanya saat itu, karna gadis itupun sedang berduka kehilangan ibunya, kenapa? Kenapa tidak ada yang memberitahunya, soal ibu Yara yang juga menjadi korban pada malam itu?.
"percayalah Yara, aku benar-benar tidak tahu kalau ibumu juga korban kecelakaan malam itu, maafkan aku. "
Dengan tertunduk lesu, sedih juga mejalar pada wajah dan hatinya saat ini, tatapan yang sama-sama tidak bisa di artikan nampak saling membalas kesedihan itu.
Yara menyeka air matanya, duduk tegap menghadap pada tubuh Vano di hadapannya.
"apa karna kakak berfikir aku yang membunuh Brian malam itu, sebagai alasan kakak mbenciku selama ini?. "
"aku hanya berfikir kau penyebab ia pergi malam itu. "
__ADS_1
"kenapa kakak tidak langsung bertanya padaku soal Brian, kenapa kakak dengan seenaknya memperlakukanku dengan kata-kata yang selalu menyakitiku itu?. "
Tangan Vano meraih laci dekat nakas, mengeluarkan isi dari laci itu, setumpuk foto dan surat antara Brian dan Yara yang ia simpan sampai saat ini, ia memberikannya pada Yara, membiarkan gadis itu membacanya satu persatu, terlihat kerutan halus di dahinya, saat satu surat yang ia genggam ditangannya.
"aku tidak pernah mengirim ini, aku bilang aku tidak bisa datang malam itu ke taman pasar malam yang ia inginkan, tapi... Ini seperti tulisan tanganku. "
Vano mendekat,ia ikut melihat tulisan tangan di surat itu, dahinya ikut berkernyit, lalu mereka saling menatap satu sama lain.
"aku datang kesekolahmu, bertanya tentangmu pada teman sekolahmu, mereka bilang mereka adik kelasmu, sering melihatmu bersama adikku, terakhir kali mereka juga bilang melihatmu bertemu dengan Brian di pasar malam yang kau sebut."
Yara menggeleng cepat
"aku tidak pernah datang kepasar malam bersama Brian, tapi... Beberapa hari setelah kepergian Brian dan ibuku, aku dan Gun datang untuk sama-sama mengenang Brian disana. "
Seketika Vano tersentak kaget, Gun... Ia lupa kalau selama ini pun Gun lah yang banyak bicara soal adiknya dan Yara.
Lalu Vano terus bercerita bagaimana akhirnya Gun menjadi orang yang ia percaya setelah Darren, dimana Gun ia beri ruang untuk menjadi pendengar pertama jika kebenciannya perlahan memudar pada Yara, maka saat itulah Gun akan mengingatkannya kembali tentang pesakitannya di tinggal Brian dan di abaikan oleh Nayyara yang menurutnya sangat tidak bersimpatik terhadap adiknya.
Di situlah titik dimana Vano membenci Yara, ia menunduk menahan sesak di dadanya, ia juga merasa di bohongi oleh orang yang sudah ia percaya selama ini, mimpi yang menyakitkan itu adalah ketidak tenangan Brian akan sikapnya pada Yara selama ini.
"maafkan aku. "
kata kata yang menyayat hati, namun tidak dengan tatapan mata seperti biasanya, Vano tertunduk, menatapi lantai kamar yang dingin, tapi ia bisa merasakan Yara sedang menatapnya dengan linangan air mata kekecewaannya, ia tahu, penderitaan yang selama ini di berikannya tidaklah pantas untuk Yara yang juga sebenarnya menderita sangat dalam.
#
Dalam gelap malam, hari yang semakin merangkak sunyi, hembusan angin yang teramat dingi menuju pagi, tapi Vano masih terjaga dalam gelap sebuah kamar yang baunya sangat tidak asing baginya, sambil menatap foto Brian yang tersenyum di atas nakas, mata itu sudah sangat sembab karna menangis, terasa perih tapi juga telah habis air mata yang keluar, mewakili semua kekecewaannya pada diri sendiri dan rasa malu pada Yara yang kini telah pergi dalam kebisuan.
__ADS_1
"jadi ini, alasan kenapa kau datang mengganggu tidurku setiap malam?. "
Bicara pada foto yang hanya membisu memandanginya, keadaan Vano nampak sangat frustasi dan lemah tak berdaya.
"kau tau? salah fahamku membuat aku sampai ingin membunuhnya karna mengira kau pergi karnanya. "
Satu air mata tersisa menetes di sudut matanya.
"sekarang bagaimana? Aku harus bagaimana dengannya? Aku sudah sangat menyakitinya, dan kau... Kau pergi membawa ibunya, apa yang selanjutnya harus aku lakukan padanya, bahkan kata maaf pun tidak bisa membayar semua yang sudah kau dan aku lakukan padanya. "
Walau mata itu basah, tapi hatinya menjerit kesakitan, Vano menghukum dirinya dengan perasaan bersalah yang tidak bisa ia gambarkan sendiri, wajah Yara dengan mata sendu setiap kali ia menyakitinya dahulu terbayang seperti film dokumenter menghantuinya.
Dengan lemah, ia meraih ponselnya, menghubungi Darren yang kontaknya selalu paling teratas di setiap riwayat panggilannya, hanya dua kali nada sambung itu berbunyi untuk menunggu di terima, selanjutnya terdengar suara Darren yang nampak serak, itu tandanya ia terbangun dari tidurnya.
"iya tuan"
"bawa Gun kehadapanku pagi ini, bereskan juga barang2nya dari apartement, bekukan semua kartu bank yang dia punya, coret namanya dalam struktur perusahan, setelah ini, aku tidak ingin melihatnya lagi, pastikan saja dia masih hidup sampai aku bertemu dengannya. "
Panggilan itu berakhir, Darren di ujung sana mengepalkan tangannya kuat2, ia berdiri tegak menyadarkan diri setelah tidurnya yang nyenyak tadi terbangun dengan panggilan yang tidak pernah ia tolak satu kalipun.
Mengingat pesan terakhir dari kalimat Vano barusan, sepertinya ia harus menghajar Gun terlebih dahulu sebelum tangan Vano yang mendarat pada bocah itu.
Aaahhh menyebalkan sekali, kau mengusik harimau yang tertidur bertahun tahun Gun, aku tidak tau apakah kau masih bisa bernafas pagi ini sampai matahari terbit nanti.
Darren keluar hanya dengan kaos polosnya menuju pintu apartement di sebelahnya.
Bersambungâș
__ADS_1