
Di dalam kamar hotel, Yara terkejut karna sudah ada banyak kantung tas belanja yang nampak tidak asing di atas tempat tidurnya, kantung belanja yang sepertinya ia lihat di toko baju.
Seketika Yara membuang nafasnya dalam, rambutnya masih basah, handuk kecil di tangannya juga belum ia gunakan, sedangkan dirinya masih memakai baju handuk dari hotel, ia baru saja keluar kamar mandi habis membersihkan diri setelah berenang tadi, mungkin saat masuk tadi ia tidak menyadari kantung-kantung itu ada disana, tapi kini, Yara seperti terhipnotis pada perlakuan Vano.
Bagaimana bisa ia di benci tapi di perlakukan sebaik ini oleh pria itu, rasanya sangat tidak adil untuknya, bagaimana aku harus membalasnya? Dia bilang, dia tidak menginginkan nyawaku sekalipun.
Yara terduduk disisian ranjang, melamun menatap balkon yang tirainya sudah tertutup, fikirannya melayang mengingat pelukan hangat tadi, Vano tidak berkata apa-apa lagi begitu pun dirinya, mereka hanya diam, mengatur nafas sebentar lalu Vano bangkit duluan, mengulurkan tangan dan mengajaknya masuk kedalam hotel, mereka berpisah melepaskan genggaman tangan mereka tepat saat mereka sudah di depan pintu kamar masing-masing, masuk dengan rasa canggung dan gugup sepanjang pergerakan.
sebenarnya apa yang ada difikaran Vano? Yara ingin sekali melihatnya.
Dan di kamara Vano sekarang.
Aku pasti sudah gila, bisa-bisanya dengan sadar melakukan itu.
Lelaki itu masih bertelanjang dada dengan handuk melilit di pinggangnya menutupi bagian bawahnya sampai ke lutut, kepalanya sedang ia bentur-benturkan secara pelan ke dinding dekat pintu kamar mandinya, sepertinya ia juga habis mandi setelah aktifitas berenang tadi.
apa yang akan gadis itu fikirkan? Apa dia akan menganggapku pria aneh? Dasar Vano gila, bodoh, idiot, tidak berpendirian, bisa-bisanya kau memeluk gadis yang kau benci itu.
Memaki diri sendiri adalah jalan ninjanya, lebih tepatnya karna ia sedang tidak bisa berfikir jernih untuk malam ini.
"aku harus bagaimana saat bertemu dengannya besok?. "
Kini Vano sudah di atas ranjangnya, terlentang merentangkan tangannya, wajahnya menatap lampu yang sudah temaram, dan kakinya masih menggelayut di bawah.
di kamar Yara, tatapan gadis itu masih sangat sendu, ia terus saja bertarung dengan fikirannya yang dominan, di bandingkan hatinya.
"selamanya, jangan berharap akan ada orang yang akan tulus denganmu,kau tidak pantas mendapatkannya Yara. "
Itulah yang terngiang-ngiang sekarang, mencoba menyadarkan diri dari rasa tersipu sesaat tadi, tidak mungkin ia berharap Vano memiliki ketulusan untuknya, karna jelas-jelas pria itulah yang sangat membencinya.
Baiklah, akhirnya ia memantapkan diri lagi, ia akan anggap semua kejadian hari ini hanyalah toleransi kak Vano terhadapnya karna ia sudah mau menuruti perintahnya untuk bisa ia suruh-suruh kesana kemari mengikutinya, besok akan lain, mungkin akan kembali seperti semula, Vano yang ia lihat sekarang, bukanlah Vano yang besok ataupun seterusnya.
"ayo sadar Yara, kau hanya kebencian yang tumbuh dalam hidupnya. "
Akhirnya ia bergumam sendiri untuk menutup debaran di hatinya hari ini.
#
Ternyata apa yang di fikirkan Yara salah, Vano bersikap lebih dari apa yang dia bayangkan.
Pagi ini saja Vano memberi pesan padanya untuk turun ke restoran, mereka sarapan bersama dengan senyum full yang Vano berikan sepanjang pagi.
Selang beberapa jam, Vano menunggunya didepan pintu kamarnya, mereka akan pulang sebentar lagi, setelah Yara keluar, Vano langsung meraih kantung-kantung tas belanjaan miliknya dan milik Yara yang akan ia berikan nanti, pria itu menuntun Yara sampai mereka masuk ke dalam mobil, sebelum akhirnya berpamitan pada petinggi hotel yang mengantarkan mereka sampai di lobi.
Yara sudah tidak bisa lagi menyembunyikan wajahnya yang sejak tadi memerah, ia terus menahan senyumnya tapi rasanya sudah tidak kuat karna ia terus tersipu bahagia, Vano menggenggamnya? Bukankah ini seperti mimpi?
Debaran Vano belum berhenti sampai saat mereka hampir sampai di depan rumah Yara, ia memarkir mobilnya di halaman milik Yara yang hanya cukup satu mobil saja, mesin mobil sudah ia matikan, sekarang mereka terdiam, merasa canggung untuk sekdar berpamitan, untuk berpisah sementara.
"aku turun ya kak. "
__ADS_1
Yara membuka sabuk pengamannya, tubuhnya sudah bergerak saat tiba-tiba Vano meraih tangannya, membuat ia berhenti dan menatap Vano sedikit terkejut.
"tunggu, aku ingin bicara. "
Tatapannya nampak serius, dan Yara menyadari kalau hal ini memang harus di bahas.
"soal apa? ".
" soal kita, aku... Aku rasa...
Melihat Vano yang nampak gugup dan kebingungan, Yara tersenyum getir karna ia paham situasi canggung ini, ia berfikir mungkin Vano sendiri juga merasa aneh pada perasaannya saat ini, sama halnya dengan dirinya, ia juga tidak tau harus bagaimana menghentikan debaran ini.
"aku akan menganggapnya tidak pernah terjadi kak. "
"APA? ".
Vano terkejut, ia tidak menyangka akan mendengar itu dari mulut Yara, tiba-tiba rasa kesalnya menyerang, ia menatap Yara intens sambil masih menggenggam tangan itu.
" apa yang kita alami di kolam renang hotel, dan perlakuan baik kakak pada ku sejak kemarin, aku akan melupakannya, aku tau kakak kebingungan, tapi aku cukup tau diri untuk hal-hal seperti ini, kakak yang bilang aku tidak boleh mengharapkan apa-apakan, dan tidak pantas dapat ketulusan dari siapapun termasuk kakak. "
Seperti disambar petir di siang bolong, Vano akhirnya merasakan termakan kata-katanya sendiri, ia mengendurkan genggaman tangannya, menghela nafas pasrah pada mata sendu yang kini menatapnya tanpa berkedip.
"terimakasih untuk liburannya, aku akan tunggu saat kakak menagihnya. " senyuman yang nampak di paksakan itu terasa sampai ke hati Vano, pria itu masih diam, karna bingung harus menanggapi bagaimana.
Yara membuka pintu, satu kakinya sudah menginjak tanah, saat tiba-tiba Vano akhirnya bersuara.
Degh..
Yara terpaku, tubuhnya seperti lemas, takut-takut ia menatap wajah Vano lagi, laki-laki itu sedang menatapnya, entah tatapan apa, tapi Yara yakin Vano sedang bertanya serius padanya.
"kau tidak berdebar saat bersamaku?. " bertanya lagi, kali ini ia lebih agresif menatap Yara di hadapannya.
"kak..
" aku tau aku jahat padamu, tapi memangnya kau boleh melakukan itu padaku? Kau yang minta memeluk malam itu tapi kau bilang apa? ingin melupakannya? Jadi kau akan melupakan semua kebaikanku dan hanya mengingat semua kejahatanku saja? Begitu?. "
"bu.. Bukan begitu maksudku..
Yara jadi sedikit tergagap karna saking terkejutnya Vano berkata begitu, ia heran mengapa malah laki-laki itu berfikir demikian, maksud Yara kan tidak seperti itu.
" waaahhh... Siapa yang sekarang kelihatan lebih jahat Yara? Kau atau aku? Apa kau dendam denganku?. "
Ekspresi Vano sampai memelototinya, Yara membuka mulutnya tapi tidak bisa keluar kata-kata, ia sangat bingung dengan sikap Vano hari ini.
Akhirnya ia menaikan lagi kakinya kedalam, menutup pintu itu dengan suara bedebum agak keras, ia membuang nafas jengkel.
"lalu kak Vano mau aku bagaimana? Aku kan tidak mungkin membenarkan apa yang aku fikirkan. "
"memangnya apa yang kau fikirkan?. "
__ADS_1
"katakan saja apa yang harusnya aku lakukan? Kakak ingin aku bersikap wajar lagi pada kakak kan? bersikap biasa saja seperti sebelum-sebelumnya? itu artinya aku harus melupakan apa yang kita lakukan di kolam renang itu, lagi pula itu hanya pelukan, dan kakak yang memeluk aku duluan. "
Akhirnya Yara mengeluarkan apa yang ingin ia katakan,dengan wajah yang nampak menahan kesal pada Vano yang kini ikutan kesal.
"YA.. Kau lupa? Kau yang bilang mau memeluk, aku hanya lebih dulu bergerak dan...
Cih.. Senyum miring bibir ke atas Yara mendominasi perdebatan ini, Vano membelalak melihat sikap Yara yang nampak tidak takut lagi padanya.
" kenapa wajahmu begitu? kau sedang mengejekku? " suara Vano meninggi
"kenyataannya kan kakak yang memelukku duluan".
" kau... Wah... Hey Yara, apa sifat aslimu sebenarnya seperti ini? Ternyata kau itu sebenarnya pemain yang handal ya?. "
"apa? Maksud kakak apa? Pemain apa? Kakak fikir aku...
" sudahlah, aku lelah berdebat denganmu, pokoknya jangan melupakan apapun yang terjadi pada kita kemarin, awas kau kalau sampai melupakannya. "
"kalau begitu aku boleh mengingatnya dan membahasnya sesekali kalau kakak jahat lagi padaku?. "
Vano menatap terpaku, wajahnya kini serba salah menghadapi tatapan Yara yang terlihat sedikit memohon.
"Yara..kau belum menjawabnya, pertanyaanku tadi, apa kau tidak berdebar?. "
"apa kakak berdebar?. "
Malah bertanya balik, Vano mendekatkan wajahnya pada wajah milik Yara, gadis itu nampak semakin gugup.
"ya, aku berdebar. "
tegas Vano
"apa kakak menyukaiku? ".
Hening, tidak ada jawaban, hanya mata itu yang saling menatap, tangan Yara mengepal, matanya terpejam saat ia sadari Vano semakin mendekatkan wajahnya, nafas halusnya sampai terasa ke pipi Yara.
"kau ingat? akhir perpisahan kita dulu disekolah?".
Tangan Vano menyentuh rambut Yara yang terburai kedepan hidung, ia menyelipkan rambut itu kebalik telinga Yara yang memerah.
" kita pernah melakukan pelajaran praktek pernikahan bukan?. "
Vano tersenyum, seketika mata Yara terbuka, melihat wajah Vano yang masih sangat dekat di depan wajahnya.
"sampai saat ini Yara, kau dan aku belum resmi bercerai. "
Lalu suara tawa memenuhi ruang dalam mobil yang terasa panas, Vano tergelak, tangan yang tadi menyentuh untuk merapikan rambut Yara, kini berpindah mengelus-elus pipi Yara yang terkejut bingung.
Bersambung😊
__ADS_1