
Akhir pekan datang, Yara sudah rapih dengan pakaian sederhananya yang nampak manis, ia memakai dres terusan yang panjng sampai ke mata kaki,berlengan panjang, tas selempang kecil untuk menyimpan dompet dan ponsel serta beberapa barang yang di perlukan sudah menggantung di pundaknya, jangan lupakan ia memakai bandana cantik untuk menghias gerai rambutnya yang hitam legam, dibalik pundaknya ada syal panjang agar nanti bisa ia pakai menutupi kepalanya.
Iya sudah ijin pada ayahnya melalui pesan singkat di ponsel, kalau hari ini seperti biasa ia akan mengunjungi makam ibunya dan mampir kekedai kopi perpustakaan yang selalu ia datangi setiap kali ia pulang berziarah ke makam sang ibu, ia akan menghabiskan waktu membaca buku sambil minum segelas kopi dingin yang manis,sering sekali ia sampai lupa waktu, hingga sore atau malam hari ia baru kembali kerumah.
Jalan di pinggir jalan menikmati hari yang cerah juga satu anugrah dari tuhan, matahari yang belum terik menyengat menjadi vitamin yang masuk kedalam tubuh, dengan langkah riang Yara menyusuri jalan setapak, hari terbaik di setiap hari yang ia lewati adalah akhir pekan yang menyenangkan, karna setiap bertemu akhir pekan ini ia akan selalu bertemu dengan ibunya, memanjatkan doa dan sedikit bercerita pada pusara sang ibu tentang perjalanan hidupnya.
Kadang ada tangis, kadang ada tawa dan senyum haru menyertai, tapi itu semua menjadi hal terbaik yang Yara rasakan dalam hidupnya, mengingat betapa dekatnya ia dengan sang ibu dulu, walau kini ia hanya bisa bercerita dengan pusara bisu di hadapannya, kasih sayangnya dengan wanita hebat ini tak pernah pudar, bahkan semakin mengerti arti kehidupan yang sebenarnya, bagaimana cinta tidak pernah punah meski waktu berjalan menusuk-nusuknya dengan keji, cinta ibu selalu ia rasakan dalam hati.
Ia membersihkan pusara ibunya, menyiram nisan dengan ukiran nama yang indah itu agar nampak mengkilat dan bersih, beberapa doa ia panjatkan agar sang ibu tenang di sana,setelahnya ia berbicara banyak soal hari-hari yang ia lewati dengan berat, terutama curahan hatinya tentang Vano yang selalu ia sebut namanya tanpa terlewat sedikitpun.
"apa aku terlalu serakah bu? menginginkan dia juga tulus mencintaiku?. "
Hah, Yara membuang nafasnya, ia lalu tersenyum karna jawabannya tidak akan ia temukan di tumpukan tanah ini, tapi entah kenapa ia selalu merasakan ketenangan saat berada disni.
"aku pulang dulu ya bu, akhir pekan depan kita bertemu lagi, terus jaga aku dari atas sana ya. "
Sambil mengusap nisan yang terukir nama ibunya, ia mencium atas nisan itu dan bangkit berdiri, melambai pelan dan tersenyum meninggalkan pusara bisu itu dengan sepi yang masih terasa hangat.
Langkahnya menuju kedai kopi peepustakaan, yang letaknya cukup jauh dari area tempat pemakaman sang ibu, ia harus melewati JPO yang sudah ramai lalu lalang orang, namun ia sama sekali tidak kelelahan, karna hatinya sedikit tenang habis curhat di makam ibu tadi.
Ia masuk kedalam kedai itu,tempatnya cukup besar untuk di bilang hanya sekedar kedai, karna mereka bercampur dengan rak-rak buku yang berjejer rapih di sana, mereka punya dua lantai ruangan, paling atas adalah rooftop yang akan di gunakan oleh para mahasiswa yang ingin melihat pemandangan sambil mengerjakan skripsi.
Yara menaiki tangga berulir yang akan mengantarkannya ke lantai atas, buku dan kopi pesanannya sudah di tangan, saat ia sudah sedikit lagi sampai, hanya beberapa pijakan lagi ia bisa sampai di lantai atas, kakinya berhenti melangkah secara tiba-tiba karna matanya bertatapan dengan orang yang akan turun dari arah berlawanannya, tidak sengaja, tapi itu membuat wajahnya kaku dan tubuhnya membeku.
"Nayy, kebetulan sekali. "
Anita, wanita itu tersenyum menatap wajah Yara yang masih tak merespon sapaannya, karna mata itu kini menatap wajah yang ada di balik punggung Anita, seseorang yang tidak bisa ia sangka-sangka bisa berada di tempat ini, Devano.
Ada yang berbeda dari tatapan itu, Vano yang biasanya selalu bersemangat jika soal Yara, kini pria itu hanya diam menatap Yara yang sedikit terkejut melihatnya.
__ADS_1
"benar, kebetulan sekali ya. " tukasnya, mengalihkan matanya pada Anita meski tanpa senyuman.
"apa kau baru datang, kalau aku baru saja mau keluar untuk mencari restoran yang enak, aku dan Vano akan makan siang bersama, kau mau bergabung?. "
"tidak, silahkan menikmati akhir pekan kalian dengan baik. "
Tubuhnya agak bergeser untuk memberi jalan pada Anita dan Vano, sungguh mata ini sekuat tenaga menahan untuk tidak melirik laki-laki yang sedang menatapnya dingin disana.
"pergilah duluan, aku akan menyusul nanti. "
Suara Vano pada Anita yang semakin membuat Yara mengepalkan jemari tangannya yang sedang memegang gelas kopi dinginnya, untungnya gelas kopi itu terbuat dari gelas plastik yang memiliki tutup di atasnya sehingga tekanan pada jemari Yara tidak begitu terlihat dan kentara jika dilihat dari dekat seperti ini.
Anita tahu ia harus pergi duluan, makanya setelah berbasa basi pada Yara sedikit tadi ia melangkah melanjutkan langkahnya yang tadi tertahan.
Sebenarnya dada Yara berdebar hebat karna marah melihat kekasihnya bersama wanita lain, tapi kenyataan baru saja menampar kesadarannya, bagaimana sudut pandang Vano terhadapnya, yang ia fikirkan sejak kemarin, itu sudah cukup untuk menahan hatinya agar tidak lagi terbuai oleh kata-kata yang akan di ucapkan Vano nanti.
"naiklah."
Yara meletakkan buku dan kopinya di atas meja, mereka masih berdiri dan kali ini saling menatap lekat satu sama lain.
"apa ada yang ingin kakak bicarakan? Kalau itu sampaikan dengan cepat, karna Anita akan menunggu lama nanti. "
Dingin, aura di antara mereka sangat mendung dan berkabut, padahal matahari sudah sangat terik menyilaukan mata dan membuat tetesan keringat di wajah, itu semua di kalahkan oleh atmosfer yang tercipta di antara dua oarang ini.
"kau anggap apa aku? Kau bahkan tidak menyapaku tadi. "
kata-kata ketus pertama yang keluar dari bibir itu, sambil menahan tangannya yang sebenarnya ingin sekali memeluk gadis dihadapannya.
"aku sudah menyapa, kata-kata yang aku lontarkan tadi untuk kalian berdua. "
__ADS_1
"jangan mencari alasan, sekarang kau lebih berani ya menunjukan pembangkanganmu kepadaku, kenapa? Apa karna akhir-akhir ini aku bersikap baik padamu?. "
"apa sikap baik kakak padaku hanya kebohongan? Apa kata maaf kakak kemarin itu bohong? Apa semua kata-kata manis yang aku dengar darimu juga bohong? Kalau iya maka katakan padaku apa tujuan kakak sebenarnya? Apa yang kaka inginkan dariku? Kesedihanku? Hah?. "
Akhirnya Yara dengan berani mengatakan semua yang menjadi pertanyaan dalam fikirannya, sambil menatap Vano yang sepertinya terkejut karna gadisnya bisa berkata-kata denga mata menyalak penuh kemarahan.
"kau...
Vano tidak bisa melanjutkan kata-katanya saat melihat genangan air mata di pelupuk mata Yara, dadanya bergetar bergemuruh seperti tertusuk sesuatu, membuat sensasi kesemutan yang tidak bisa ia artikan sendiri.
" kalau kakak ingin melihatku terus bersedih dan merasakan kepedihan ini terus menerus, akan aku lakukan kak, tapi setidaknya jangan membuatku bahagia seperti kemarin, jangan bersikap baik padaku, seharusnya kakak abaikan aku dan jangan pernah menolongku, jangan pernah mendekat padaku dan membuat aku merasakan cinta yang tulus dari kakak, itu menyakitkan, seperti ini mau kakak? Apa dengan begini hutangku akan lunas? Apa kakak bisa melepaskanku setelah menyakitiku?. "
Vano membelalak, refleks tangannya mencengkram lengan Yara dengan erat, membuat tubuh gadis itu semakin dekat dengannya hampir menempel hidung mereka.
"siapa bilang aku akan melepaskanmu? Jangan sepercaya diri itu Yara, kau fikir aku akan membiarkanmu kabur dariku? Jangan mimpi. "
"lalu apa rencana kakak padaku selanjutnya? Membunuhku?. "
Bagai tersambar petir, Yara membalas tatapan menusuk itu dengan kata-kata yang mungkin ada di relung hati terdalam Vano yang ia simpan rapat-rapat agar pemikiran itu tidak keluar dari dirinya, tapi kini Yara mengusiknya, membuatnya hilang kendali dan menghempaskan lengan yang ia cengkram itu dengan kasar.
Rooftop masih agak sepi, karna sebentar lagi jam makan siang akan datang, meski ada beberapa orang disana tapi jaraknya agak berjauhan dari tempat Yara dan Vano berada, sehingga tidak menimbulkan kecurigaan apapun kalau dua orang itu sedang bertengkar.
Devano mencoba menarik nafas, ia lihat Yara menyeka pipinya yang basah oleh air matanya yang jatuh, meski begitu gadisnya masih saja berpura-pura kuat menahan semuanya di hadapan Vano, membuat Vano mengendalikan egonya dan amarahnya yang sempat meletup tadi.
"ayo kita hentikan ini, kita bicara lagi nanti, jika kepalamu sudah dingin dan...
" tidak perlu kak, benar kata kakak, ayo kita hentikan ini, bukankah sudah saatnya kakak membuangku?. "
dingin, tatapan yang serasa membekukan itu menghujam sampai ke jantung Vano, laki-laki itu merasakan punggungnya memanas, detak jantungnya berpacu lebih keras dari detakan normal, saat ini Yara menantang lewat kata-kata dan tatapannya, walau dengan tangan yang bergetar dan dada yang menahan sesak, seakan batu beaar menghantap kepala Vano, ia tidak berkata, hanya ingin menggila, bahkan ia menahan tangannya yang hampir melayang ingin menggulingkan benda apa saja yang ada di sana, semua itu tertahan karna focus matanya melihat satu butiran bening jatuh mendarat di pipi Yara.
__ADS_1
Gadis itu berkata-kata tidak sesuai dengan hatinya, Vano tau itu, tapi ia membiarkannya, langkahnya dan sikapnya yang semakin dingin menatap Yara hanya dengan sorotnya, lalu ia pergi meninggalkan gadis itu sendirian, ia akan meluapkannya dirumah, itu yang Vano fikirkan, untuk kali ini, ia biarkan Yara tenggelam dengan fikirannya yang tak tentu arah.
Bersambung😊