
" Darreeennn.... ".
Suara yang menggema itu memenuhi ruangan kerja Darren ketika pintunya tiba-tiba terbuka, tentu saja sosok yang sedang anteng mengutak atik layar grafik di laptopnya itu langsung terperanjat kaget dan membelalak ketika tau siapa orang bersuara nyaring disana, wanita yang baru saja menerobos masuk kedalam ruangan kerjanya adalah orang yang tidak sama sekali ia inginkan berada disini.
" NYONYA..? Ke.. Kenapa nyonya bisa ada disini?."
Tiba-tiba Tiko berlari dengan wajah yang pias, ia langsung membungkukkan badan sangat dalam menyesali kesalahannya.
"maafkan saya presdir, Nyonya ini langsung menerobos masuk, katanya dia ibu dari yang punya perusahaan ini. "
Darren yang sudah berdiri berjalan mendekat ke arah wanita yang sekarang gantian memelototinya, sambil melipat kedua tangannya di dada, Darren menghela nafas pasrah, dengan ayunan tangannya ia menyuruh Tiko keluar ruangan.
"bawakan segelas juss dan potongan buah segar. "
Tiko langsung mengangguk dan dengan gerakan langkah yang cepat ia sudah ngacir menutup pintu dari luar, Darren kembali menatap wanita yang nampak masih terlihat awet muda meski usianya sudah menginjak kepala lima.
"silahkan Nyonya. " tangan Darren terulur menyuruh sang Nyonya untuk duduk di sofa.
"kau selalu saja begitu, sudah di bilang panggil saja aku bibi, dengar Darren, kau bahkan sudah aku anggap sebagai anakku sendiri. "
Sambil berkata begitu, wanita cantik yang ingin di panggil bibi itu duduk dengan gayanya yang sangat berkelas, padahal tidak ada yang tahu ia juga berasal dari kalangan keluarga yang sederhana sebelum menikah dengan papahnya Devano.
"terimakasih, tapi kenapa anda kesini? Apa Gun yang memeberi tahu tempat ini pada anda?. "
Spekulasi Darren benar adanya, karna sejak tadi ia melirik ponselnya bergetar oleh panggilan dari Gunazel.
Mungkin bocah itu ingin mengakui kesalahannya karna Nyonya memaksanya untuk memberi tahu tempat ini.
"itu tidak penting, kau dan Vano selalu saja membuat alasan kalau ku tagih soal makan malam dengan gadis itu, jadi sebaiknya aku yang mencari tahu sendiri keberadaannya. "
"tapi Nyo...emm, dia tidak sedang ada disini, tuan Vano juga sedang di kantor paman kan? Sebaiknya bertemu dengan tuan Vano dahulu agar dia tidak marah pada kita. "
"cih.. Siapa yang peduli pada bocah itu, tunjukan saja yang mana perempuan itu biar aku yang akan bicara padanya. "
"Nyonya..
" ya tuhan Darren, kapan sebenarnya kau bisa memanggil aku bibi?. " wanita itu memutar bola matanya jengkel.
Tiko datang membawa nampan berisikan potongan buah dan juss melon yang nampak segar, cuaca memang sedang aneh, panas di siang hari dan sejuk berangin dikala sore datang.
__ADS_1
"terimakasih." wanita itu tersenyum lebar pada Tiko yang membalasnya dengan bungkukan setengah badannya, lalu ia pergi undur diri tak ingin mengganggu.
"jadi siapa nama gadis itu? ".
sambil meraih gelas juss dan menghisapnya dengan perlahan, matanya masih menatap Darren antusias.
" Nayyara nyonya. "
"hmm.. Kalau begitu panggilkan dia kesini. "
"tapi Nyonya...
" kau ini tenang saja kenapa sih, aku hanya ingin melihatnya, calon menantuku cantik atau tidak. "
Dengan tawa kecil yang ia tutupi dengan tangan di mulutnya, membayangkan pacar anaknya nanti seperti apa sangat ingin ia lihat, hal yang pertama kali ia akan nilai adalah sikap gadis itu bagaimana? Bukankah garis wajah juga melukiskan tabiat seseorang? Fikirnya.
"Nayyara sedang tidak di kantor Nyonya, dia sedang mendampingi salah satu artisnya untuk perjanjian kontrak kerja di salah satu perusahaan periklanan. "
"kalau begitu aku akan tunggu sampai dia kembali".
Si Nyonya menyandarkan tubuhnya pada bahu sofa, ia menatap Darren menantang dengan senyum kematian miliknya, siapapun tidak akan bisa melawan kekeraskepalaannya kalau soal kemauannya, sekalipun itu adalah suaminya sendiri.
#
" Mamaaaaa.....! Kenapa mama disini? ".
Suara Vano yang nampak nyaring dengan nafas terengah, menandakan kalau ia berlarian sampai ke ruangan ini, Darren yang berdiri di belakangnya, pura-pura membuang pandangannya ke arah lain karna takut si Nyonya memelototinya.
" cih.. Dasar pengadu".
sudut bibirnya naik sebelah, menatap Darren dengan kesal.
"mama hanya berkunjung, memangnya tidak boleh? Ternyata anak perusahaan yang kau kembangkan di bidang entertain ini lumayan maju dan besar ya, papahmu akan bangga sekali jika bisa melihat ini vano, apa sekalian saja kita telfon papamu dan menyurunya datang kemari?. "
Lirikan jahat pada Darren dari si Nyonya yang masih kesal pada tindakkannya yang mengadu pada Vano lagi-lagi membuat Darren membuang pandangannya ke sembarang arah, ia sudah berjalan mraih bahu anaknya dan menepuknya dengan bangga.
"jangan bohong mah, aku tau maksud mama datang kesini ingin mengganggu kekasihkukan?. "
"waahhh... Ternyata anak mama mengaku juga punya kekasih, nah.. Karna kau sudah berterus terang begini bukankah sebaiknya mama melihatnya dari dekat?. "
__ADS_1
"mama mau apa? Makan malam yang di sulap mama berujung lamaran nanti itu tidak bisa terlaksana secepat yang mama papa mau tau, aku juga ingin menikmati masa-masa menjalin kasih seperti mama papah dulu. "
"aahh.. Mama papa juga tidak lama menjalin kasih Van, papamu melamar mama saat pertama kali dia mengundang mama makan malam, jadi ayo kita lakukan tradisi keluarga kita itu dengan bahagia, ya?. "
Devano menghela nafas frustasi, bukan karna ia tidak ingin buru-buru menyatakan keinginannya untuk menikahi Yara, tapi gadis itu juga akan sangat kaget nanti kalau semua itu datang tiba-tiba, minimal Vano ingin membicarakannya dulu dengan Yara berdua, lalu memutuskan bersama dan merencanakan persiapan itu dengan diskusi layaknya pasangan pada umumnya.
Walau mama dan papanya juga tidak salah ingin lebih cepat melihat anaknya menikah, hanya saja, hati Vano rasanya masih ada satu yang janggal, soal Brian, ia ingin Yara tahu pelan-pelan dan menceritakan dari sudut pandangnya, sambil Vano melatih hatinya untuk kuat jika nanti menerima kebenaran apapun yang Yara katakan nanti, termasuk kekecewaan yang akan ia terima jika nanti Yara mengakui semua kesalahannya pada Brian.
"mah.. Sebaiknya mama pulang, aku berjanji akan membawa Yara pada mama dan papa, tapi bukan di makan malam keluarga, biarkan Yara mengenal papa mama di rumah, aku akan bawa dia kerumah kita. "
"ck, kau ini, pelit sekali, mama kan hanya ingin melihat saja, memangnya mama akan menculiknya apa. "
Sudah mulai kesal, tapi ia tahu memaksa Vano hanya membuat anaknya akan kecewa padanya, sepertinya desakannya untuk melihat gadis itu sudah pasti gagal untuk hari ini.
"aku yang akan mengantar mama pulang. "
Tukas Vano, wajahnya masih bertahan serius dengan kata-katanya, sambil meraih tas tangan mamanya di sofa, sang mama sudah menghela nafas kecewa dan wajah cemberut di paksa pulang oleh putranya sendiri.
belum kakinya melangkah, tiba-tiba ketukan di pintu menggetkan Darren yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari pintu, refleks tangannya meraih hendel pintu dan membukanya lebar, seketika wajah Darren dan Vano berbarengan membeku, melihat di ambang pintu itu berdiri Nayyara yang tersenyum sambil membawa berkas di tangannya, sepertinya pekerjaannya sudah selesai disana dan mengharuskannya menyerahkan berkas kontrak pada presdir.
Wanita cantik paruh baya di dekat Vano dengan dandanan yang lebih terbilang lebih muda dari usianya itu menatap wajah Darren dan Vano bergantian, membaca apa yang sedang terjadi di situasi ini, lalu matanya menangkap wajah wanita muda nan cantik berkaca mata di ambang pintu sana, seketika senyumnya mengembang, ternyata desakannya pada dua orang anak bodohnya itu tidak sepenuhnya gagal, lihat saja, yang ingin dilihatnya datang sendiri dan menganggukan kepalanya pada dirinya saat mata mereka tak sengaja saling menatap.
Ah, kesan pertama yang ia lihat, gadis itu sederhana dan terlihat baik.
"aku mengantarkan berkas kontrak Moana pada label iklan busana yang tadi kita sepakati presdir, silahkan di baca terlebih dahulu isinya. "
Darren dan Vano masih terpaku menatap Yara disana yang kebingungan karna tidak di respon, padahal tangannya sudah mengulurkan amplop coklat yang sejak tadi ia genggam dengan hati-hati.
Lalu matanya menatap wanita disebelah Vano yang sejak tadi tersenyum lebar melihatnya, seketika ia tersentak.
"ah, maaf, sepertinya anda dan ketua team sedang ada tamu penting, sebaiknya saya kembali nanti. "
Yara sudah mengangguk ingin pamit, tapi tiba-tiba wanita di sebelah Vano melangkah riang mendekatinya.
"kenapa harus pergi? Tidak apa-apa, aku bukan tamu penting kok, sini masuk dan duduklah, bukankah kamu harus presentasikan hasil kerjamu di luar sana."
Dengan tanpa sungkan, sang mama meraih lengan Yara dan menariknya kedekat sofa, gadis itu hanya patuh saja dan berjalan mengikuti wanita yang belum ia kenal itu dengan wajah kebingungan.
Bersambung😊
__ADS_1