Benci Yang Merindu

Benci Yang Merindu
ceritakan padaku 2


__ADS_3

Dari kejauhan, dua orang berlarian tanpa alas kaki, yang satu dengan gaun dress selututnya, menampakkan jemari kakinya yang putih dan bersih bercat kuku merah merona, sedangkan yang satu dengan baju dan celana santai yang di gulung di atas mata kaki, porsi tubuhnya tegap dan gagah, langkahnya lebar, ia hanya berjalan santai sambil terus tertawa memperhatiakan wanita didepannya yang terus berlarian mengejar air yang menampar pantai.


Sesuatu aneh terjadi pada dada Darren, ia merasa sesekali berdebar saat menatap Moana, seperti ada rasa yang lain yang menggelitik tubuhnya, sensasi menyenangkan dan juga agak takut untuk menyadari, tapi satu hal yang ia yakini, kalau Moana bisa membuatnya nyaman dan lebih terbuka.


"presdir..! Kemari".


Suara Moana yang lembut memanggil dengan satu tangannya mengibas-ngibas agar Darren melangkah dengan cepat, tanpa berfikir, Darren manut saja, ia refleks berlari mendekat ke arah Moana berdiri sekarang, gadis itu menunjukan sesuatu di telapak tangannya, seekor kelomang atau biasa di sebut kumang oleh orang daerah sekitar, keluarga keong yang kemana-mana membawa rumahnya tanpa lelah.


Moana menunjukannya pada Darren, pria itu bekernyit bingung, apa istimewanya itu?


"seperti presdir ya?. " Moana terkekeh


"apa maksudmu?. "


"kemana-mana tetap membawa rumahnya, seperti presdir, meski sekarang tinggal di tempat jauh tapi tetap pulang, ingat rumah, atau mungkin hanya tubuh presdir yang selama ini kami lihat, tersenyum tertawa, ramah pada siapapun, tapi di kepala hanya ada tempat ini yang menjadi tujuan presdir. "


Senyum kecil tersamar di bibir Darren, gadis yang banyak bicara, fikirnya.


"ceritakan padaku..!. ".tukas Moana lagi dengan lembut dan serius.


Tiba-tiba Moana menatap sambil berdiri tegak di hadapannya, ia meraih tangan Darren yang kini terpaku diperlakukan tidak seperti biasanya oleh Moana, dan.. Tunggu... Sepertinya Darren tidak asing dengan getaran aneh di dadanya ini. Manusia paling peka sedang jadi batu karna tersengat dengan kesadarannya sendiri.


" Mo...


Suara pelannya terdengar ragu.


"ceritakan padaku semuanya, tentang dirimu, tentang kamu yang sesungguhnya, tolong jangan terlalu kuat untuk memikul apapun sendiri, meski aku tidak bisa kau andalkan, setidaknya aku bisa jadi pendengar yang baik untukmu, kalau kau setegar ini, aku harus lewat jalan mana agar bisa masuk keduniamu presdir?. "


Keterkejutan Darren di tangkap oleh kedua mata Moana, gadis itu malah semakin erat menggenggam jemari tangan Darren, sudah disni, dan momentnya sangat pas, tidak ada pengganggu si Anita yang selalu menempel itu, kesempatan yang mungkin tidak akan datang lagi, jadi ia berfikir harus memanfaatkan ini sebisa mungkin.


Entah reaksi apa yang akan ia terima dari Darren, yang jelas di kepalanya hanya ingin mengatakan kalau Darren harus tau isi hatinya saat ini kepadanya, dia rasa presdirnya tidak akan terlalu bodoh untuk mengartikan semua pengakuannyakan?.

__ADS_1


"Mo...! Kau harus tau satu hal. "


Sinyal aneh dan tak enak di tangkap Moana, saat Darren akhirnya bersuara dengan balasan tatapan matanya yang nampak kecewa dan pasrah.


"presdir... Maafkan aku, jika menurutmu aku terlalu lancang dan...


" aku bukan seorang presdir. "


Ungkap Darren akhirnya, ia melihat Moana yang berkernyit kebingungan.


"Apa? Jadi maksudmu apa? Aku kan sedang bicara soal hatiku, maksudku aku sedang menyatakan cinta padamu presdir, kenapa kau malah mengaku kalau dirimu bukan seorang presdir?. "


"aku memang bukan seorang presdir Mo, aku tidak punya apa-apa. "


"jahat sekali. " Moana menghempaskan genggaman di tangan Darren, pria itu malah terkekeh tidak mengerti tingkah laku Moana yang di luar dugaan.


"kau fikir aku mengejarmu karna kau seorang presdir? Aku bahkan ingin memanggilmu kakak seperti kak Nayy memanggilmu. "


"apa yang aku punya saat ini, apa yang kau lihat saat ini, semua yang ada didiriku hanyalah titipan milik seseorang, aku bukan presdir sesungguhnya di agensimu, gedung dan label management itu milik orang lain, aku hanya menggantikannya sementara saja. "


Moana semakin tidak mengerti apa yang Darren bicarakan, padahal ia juga tidak terlalu memikirkan jabatan Darren atau siapa Darren sebenarnya, ia hanya ingin Darren melihatnya sebagai wanita yang utuh, yang sedang jatuh hati padanya dan berharap pria itu membalas perasaannya.


"jadi... " Darren melanjutkan lagi kata-katanya, tangan yang tadi di hempaskan Moana itu kini gantian meraih tangan gadis itu, masih saling menatap, menunggu kata-kata Darren yang ingin sekali ia dengar dari mulut pria itu langsung, "apa kau masih menyukaiku, meski sekarang kau tahu aku bukan siapa-siapa dan bukan pemilik gedung ataupun label yang menaungi keartisanmu ini?. "


Ucap Darren, dengan debaran di dadanya dan tatapan tajamnya, ia mengakui kalau ia juga jatuh hati pada gadis ini.


"presdir... Tidak, apa sekarang aku boleh memanggilmu kakak?. "


Tukas Moana sambil sudut matanya berkaca-kaca, Darren masih menjawabnya dengan wajah tersenyum dan anggukan kepala.


Tiba-tiba tubuh mungil itu menghambur memeluk Darren, kedua tangannya melingkar di leher pria yang sejak tadi ingin sekali ia sentuh.

__ADS_1


"aku tidak akan peduli dirimu siapa kak, aku hanya akan melihatmu seorang, aku akan tetap mencintaimu seperti ini, jangan menilaiku dengan apa yang harus kau punya, tapi cukup membalas semua cintaku padamu sebesar apa yang aku berikan. "


Darren tertawa kecil, sambil tangannya membalas erat pelukan Moana, ia bahkan sampai mengangkat tubuh kecil itu dalam pelukannya.


Moana dan Darren tertawa bersama, jeritan debur ombak mengiringi kebahagiaan mereka, sesekali tubuh dalam pelukannya itu ia putar-putar menghempas pasir putih yang menempel di kaki, tidak ada yang tahu rencana tuhan, yang mereka tahu, mereka hanya berencana melakukan hal yang mereka ingini di tempat ini, Darren yang dari awal memang ingin bertemu ayahnya, sama sekali tidak berencana akan mengajak kencan Moana yang baru saja mendebarkan hatinya, dan Moana yang tidak berencana sama sekali, kedatangannya disini menjadi sebuah kesempatannya untuk bisa mengungkapka isi hatinya pada pria yang sudah beberapa hari ini membuatnya salah tingkah dan cari perhatian.


Kini, tuntas sudah apa yang menjadi ganjalan Moana, jangan ditanya sebahagia apa dirinya sekarang, yang pasti tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.


"jadi sekarang aku punya kekasih?. "


Ledek Darren, sambil mencolek hidung Moana dengan satu jarinya, gadis itu tersenyum dengan wajah merona, bibirnya melipat membentuk garis tegas yang di tahan agar tawanya tidak keluar.


Imutnya, fikir Darren, ia menautkan jemarinya pada jemari Moana, mereka berjalan menyusuri pantai yang berangin kencang menerbangkan rambutnya.


"ceritakan padaku semuanya kak. "


"hm?. " Darren mengangkat sebelah alisnya, menoleh pada Moana di sisinya.


"tentang kau yang ternyata bukan presdir di management kami, lalu siapa presdirnya?. "


Ada tawa yang Darren tahan, karna rasa penasaran Moana tidak akan cukup jika hanya di jawab sebuah nama oleh Darren.


"Devano."


Hah..


Moana menutup mulutnya dengan tangan yang bebas, sedangkan yang satu masih bertaut di genggaman Darren, pantas saja sikap ketua team agak lain pada kak Darren selama ini, bodohnya aku tidak menyadari itu.


"lalu? Ceritakan lagi, kenapa kakak bisa sedekat dan terlibat sejauh ini pada ketua team, sampai-sampai dia menjadikanmu orang kepercayaannya sebagai presdir di perusahannya."


Nah, benarkan, Darren tertawa kecil, gadis yang sedang menggenggam tangannya itu lagi menatapnya penuh rasa penasaran, akan panjang ceritanya, tapi Darren akan mencoba menjawab saja setiap yang di tanyakan kekasihnya ini, waktu masih panjang menuju sore, ayah juga masih terlelap dalam mimpi tidur siangnya, jadwal pulang Moana masih beberapa jam lagi bahkan masih bisa di undur ke malam hari, Darren memulai semuanya, cerita saat ia di temukan oleh paman baik hati dan menolong ayahnya sampai sejauh ini.

__ADS_1


Bersambung 😊


__ADS_2