
perlakuan Devano terhadap Yara, ya... Mulai sekarang nama itu yang akan ia ingat dan ia ucapkan saat membutuhkan gadis itu, Darren sudah tau kalau ia dilarang memanggil nama yang sama, tapi baginya itu bukan masalah, toh Yara akan tetap memyahut kalau ia panggil dengan nama Nayy.
Kembali pada perlakuan Devano terhadap Yara, membuat banyak perubahan pada sikap orang-orang disekeliling Yara, mereka mulai menjaga jarak jika melihat Yara berjalan di antara Devano dan Darren, sebagian menganggap Yara hanya kacung Devan yang tetap di suruh-suruh oleh Devan, sebagian lagi menganggap Yara hanya berlindung di balik punggung Devan yang kini naik jadi bintang di sekolahnya karna wajahnya yang selalu terlihat tampan.
Bukan karna wajahnya saja sebenarnya tiba-tiba ia di kagumi, tapi beberapa waktu lalu di kelas olahraga tiba-tiba Devano yang tidak pernah masuk dalam tim olah raga apapun menunjukan keahliannya pada semua orang, ia bertanding dengan tim Arga dan menang, lalu di ujian Sains yang prakteknya akan di ambil nilainya oleh para guru penguji, kelompoknya mengungguli kelompok Fano yang terkenal si jago Sains, meski itu kelompok, Devano jadi terkenal karna ia mengetuai kelompoknya yang unggul.
Lalu di lain waktu lagi saat ada pensi di sekolah, Darren yang memang jago bermain keyboard dan Devano bermain drum, ikut berpartisipasi memeriahkan acara sekolahnya dengan antusias, mungkin bagi Darren dan Devano semua ini adalah wajar, karna disekolahnya terdahulu mereka biasa bermain-main dengan alat musik seperti ini, namun seketika nama Rico tergeser sebagai idola terfavorit di tahun ini, nama Devano langsung jadi melejit naik ke peringkat teratas atas dasar jejeran cowok terkeren dan tertampan di sekolah.
Satu hal yang mungkin mereka fikirkan, kenapa Devano baru muncul sekarang? Kenapa kemarin kemarin ia tidak menampakan bakat dan wajahnya? Membuat para siswi-siswi disekolah ini terlambat menyadari keberadaannya.
Dulu Devano tenggelam pada kebenciannya terhadap Nayyara, ia hanya focus pada gadis yang selalu diikutinya, menatapnya dari jauh sambil menyusun rencana bagaimana ia bisa mendekat dan menjerat secara natural dan alami terhadap sosok itu, hingga ia melupakan sekolah ini bagian dari dirinya juga, Darren yang selalu menemaninya tanpa banyak bicara dan hanya ikut apa yang Devano lakukan, kini mulai dilirik sebagian wanita-wanita disekolahnya.
Prestasi mereka bukan hanya itu, di lapangan futsal juga mereka bersinar, beberapa teman olah raga yang memang punya tim disekolah mulai melirik Devano, tapi ia tidak peduli dan hanya bermain sesukanya, semua pergerakannya hanya untuk menarik perhatian satu wanita yang kini juga masuk kedalam mimpinya. Yara.
"minum"
tangan Devano terulur tepat di depan wajah Yara yang duduk di pinggir lapangan, gadis itu sedang memeluk tas olah raga milik laki-laki itu, ia lalu memberikan botol minumnya yg sebelumnya sudah ia putar tutupnya agar Devano tidak rewel dengan hal itu.
Duduk disebelah Yara yang masih menatap lapangan megah berumput itu, disana ada Darren yang masih berlarian mengejar bola bersama beberapa teman dengan kaos olah raga yang sama.
" besok aku jemput jam 10".
Devan tiba-tiba bicara, Yara yang tadi sedang focus pada Darren tersentak kaget mendengar kalimat ucapan laki laki disebelahnya.
"hah? ". Mulutnya menganga menatap Devan penuh tanya.
" jam 10,gak boleh lewat lebih satu menitpun. "
"mau kemana kak? ".
" nonton, kita kebioskop besok".
Yara masih mencerna kata kata Devan, sepertinya otaknya sedang loading mengingat ingat apakah ia pernah punya janji atau perintah dari Devan sebelumnya, tapi semakin dicari isi kepala nya tentang ingatan itu tidak juga ia temukan, alhasil sekarang ia hanya melongo seperti sapi kekenyangan rumput.
"besokkan hari sabtu kak".
akhirnya ia hanya mengingatkan untuk menyadarkan Devan kalau besok merekakan libur sekolah.
" terus kenapa? ".
Itu hari dimana aku terbebas dari kau tau
" kita libur kesekolah"
"kau itu bodoh ya? Aku bilang kita akan nonton besok, kalau nonton kan di bioskop, siapa yang bilang kita nonton disekolah. "
Yaah.. Semua orang tau, bahkan amang amang tukang cilok langganan di halte tempat dulu aku suka jajan juga tau kalau nonton itu kebioskop, tapikan ini curang namanya, kenapa sepertinya aku tidak pernah bisa terbebas darimu.
"ohh.. baiklah, aku akan siap siap dari waktu sebelum jam 10, nanti aku tunggu di toko dekat seberang sekolah saja ya kak supaya kakak gak perlu repot repot mencari cari alamat rumah aku. "
Alih alih mau protes, Yara lebih memilih untuk tersenyum dan memberi kesepakatan untuk pergi saja.
"aku kerumah kamu. "
Tukasan Devano sebenarnya bikin Yara kaget, tapi ia berusaha menguasai dirinya.
"kalau begitu biar nanti aku sherlock alamat rumah...
" aku tau, jadi bersiap saja nanti kalau aku didepan rumahmu harus sudah stand bay"
"kakak tau rumah aku? "
"kenapa kaget? Aku juga tau rumah kepala sekolah. "
"bukan, maksud aku...
Yara nampak berfikir, apakah ini hal yang wajar, perasaan ia tidak pernah memberikan alamat rumahnya pada siapapun.
__ADS_1
Seperti tau apa yang di fikirkan wanita itu, Devano tersenyum karna melihat wajah yang nampak kalem itu terlihat sangat bodoh jika sedang berfikir keras begitu.
"waktu kamu sakit sampai gak kesekolah dua hari itu, Darren berhasil minta alamat kamu kekepala sekolah, sepertinya dia khawatir kalau kamu bakalan meninggal nanti, jadi aku dan Darren kerumah kamu tapi cuma ketemu sama ayah kamu, katanya kamu masih tidur di kamar karna demam. "
Memorynya langsung mngingat satu pot bunga besar ada di meja kamarnya, lalu sekeranjang aneka buah dan beberapa camilan dan cake tergeletak di meja makan dapurnya, saat itu ia ingat ayahnya memang bilang kalau temannya datang untuk menjenguknya, tapi... Yara tidak berfikir kalau itu Darren dan Devano, lantaran sikap Devano yang masih seperti membullynya kalau disekolah.
"jadi bunga itu dari kalian? Maaf aku tidak bisa mengingatnya, dan terima kasih ya kak sudah peduli padaku saat aku sedang sakit. "
"cih, siapa yang peduli? Aku juga tidak mau pergi kalau Darren tidak merengek padaku waktu itu. "
Devano bangkit dari duduknya, ia bersiap lagi kembali kelapangan sebelum melirik wajah kecewa wanita itu di hadapannya.
"jangan berkhayal seakan-akan aku dan Darren peduli padamu, kau tau kan aku suka bersenang senang dengan orang yang terlihat lemah sepertimu, kau itu gampang sekali di manfaatkan, kau bahkan tidak bisa menjaga dirimu sendiri, membiarkan orang lain menyentuhmu sesuka mereka. "
Tukasan Devano membawa raut sedih juga kesal yang tersembunyi pada gadis itu, Yara hanya menunduk pilu, tidak ingin membantah karna apa yang laki laki itu katakan memang benar adanya, untuk menghindari masalah dan terlibat hal hal yang tidak di inginkan ayahnya yang bisa membuatnya kehilangan beasiswanya disekolah, ia memilih diam dan membiarkan orang orang merendahkannya.
Tangannya mengepal, sungguh Devano menunjukan rasa tidak sukanya dengan sikap gadis itu, memilih terlihat lemah hanya karna dia seorang yang miskin atau apapun alasannya itu tidak masuk akal bagi Devan.
"Yara, kau itu pantas direndahkan mereka, karna kau saja tidak menghargai dirimu sendiri, tapi.. Teruslah bersikap lemah seperti ini, aku suka, kau akan jadi mainanku yang paling aku suakai sepanjang hidupku. "
Wajahnya tertunduk, air matanya menggenang sangat kuat ia tahan agar tak menetes, tapi.. Saat Devan hanya berlari sambil melempar senyum sinis mencemoohnya, setelah hanya punggung pria itu yang terlihat meninggalkannya ketengah lapang, air mata itu jatuh satu menetes di pipi kirinya, buru buru ia menyekanya dengan tangannya yang gemetar, Yara kembali menguasai dirinya, terik sore menampar wajahnya yang menghangat.
#
Semua kata katanya adalah kebohongan, saat tau Yara sakit, Devano langsung pergi kerumah gadis itu sendirian, saat itu malam hari, tapi Devan hanya menatap pintu rumah Yara yang tertutup rapat, lampu teras yang menyala remang remang dan gerimis malam itu membuat suasana rumah kecil itu semakin sunyi.
Di dalam mobil Devano merenungi apa yang ia lakukan selama ini pada gadis itu, sebenarnya apa yang ia cari? jika ia ingin mencari jawabannya hanya ada nama Brian disana, adik laki laki satu satunya, dan kenyataan jika Yara pernah mengabaikan almarhum adiknya itu sangat membuat Devan merasakan kekecewaan yang sangat berat pada gadis itu.
"terlepas dari Nayyara adalah kekecewaanmu karna Brian, bagimu dia apa? Kau menjeratnya, melihatnya terluka karna semua ulahmu, tapi aku juga melihat kau sering kesal pada diri sendiri ketika membuatnya menangis dan terlihat sedih. "
Kata kata yang di lontarkan Darren padanya, membuatnya pusing sendiri atas sikapnya pada gadis itu, wajah kalem Yara datang di mimpinya ketika saat pertama kali gadis itu tersenyum tipis padanya, kejadian yang beberapa kali terulang, saat tak sengaja ia tersandung didepan yara waktu lagi piket bersama di lorong sekolah, saat tersedak air minum sehabis olahraga karna minum sambil berdiri di depan Yara yang selalu menunggunya di pinggir lapangan memegangi tasnya dan menyiapkan minum atau camilan untuknya.
Senyum itu terlihat samar namun Devan suka melihatnya, ia berasumsi, padahal kalau Yara tersenyum terlihat manis, bahkan pernah seketika tanpa sadar dirinya sedikit melakukan hal konyol untuk hanya sekedar melihat gadis itu tersenyum.
Tapi, bersamaan itu, Yara pernah tertawa melihat dirinya tersiram air genangan di dekat jalan sekolah yang berlubang, tawanya hanya beberapa detik, karna mungkin gadis itu juga tersadar kalau Devan tidak suka ditertawakan olehnya, seketika tawanya hilang,Yara tertunduk takut karna Devan menatapnya penuh kemarahan.
Aku benci melihatnya tertawa, karna saat dia tertawa, itu artinya dia merasa jika dia tidak punya salah pada seseorang, tapi... Aku juga membencinya jika dia terlihat sangat sedih, itu berarti dia sudah menderita karenaku, dan aku tau Brian tidak suka itu.
Esoknya ia mengajak Darren berkunjung kerumah Yara dengan sebuket bunga besar dan beberapa camilan serta cake, sebagai tanda agar gadis itu merasa berhutang atas segala kebaikan yang di berikannya.
#
Yarra menggerai rambutnya yang hitam legam sebahu, hanya memakai bandana sederhana pemberian mendiang ibunya saat ia berumur 9 tahun lalu, ia duduk di kursi yang ada di teras rumahnya, melirik jam di tangannya yang sebentar lagi menunjukan angka 10.
Belum sampai beberapa detik, sebuah mobil mewah dengan merk terkenal berhenti di halaman rumahnya, dahinya berkernyit karna heran mobil bagus begitu masuk ke sudut halaman rumahnya, yang rata rata orang yang tinggal didaerah sini kan hanya rumah orang orang sederhana seperti dirinya.
Kaca mobil di bagian pintu penumpang terbuka, kepala berambut hitam yang nampak rapih meski agak kepanjangn itu menyambul disana, Yara terkejut mengenali wajah itu hingga refleks berdiri dari duduknya, Devano mengangkat satu jarinya dan mengayunkanya menyuruh Yara cepat mendeka.
Sedikit berlari, Yara mendekat ke pintu, ternyata di dalam ada Darren juga yang sudah melambai lambaikan tangannya dengan senyum ramahnya, di bagian kemudi, seorang sopir paruh baya mengagguk menyapa.
"cepet masuk".
Perintah Devano, Yara agak ragu namun ia juga akhirnya menuruti perintah laki laki bermulut pedas itu,Darren yang seketika pindah ke kursi depan menemani pak supir membuat Yara berfikir mungkin ini mobil milik kak Darren, karna dia tiba tiba pindah duduk di depan sana, sepertinya gosip disekolah yang mengatakan kalau mereka adalah dua bersaudara yang kaya raya benar adanya, dilihat dari merk mobil dan pakaian mereka yang ternyata sangat kontras dengan penampilannya membuat Yara semakin yakin dua laki laki ini adalah keturunan ningrat.
"kenapa tegang? Mabuk ya? Karna tidak terbiasa dengan kendaraan seperti ini? ".
Kata kata yang langsung terdengar kekehan geli dari mulut laki2 yang siapa lagi kalau tidak berbicara menyakitkan ataupun pedas bukan Devano namanya si pria dingin nan ketus.
Iya aku mabuk, mau muntah di baju mu yang sepertinya terlihat mahal itu, padahal hanya kaos hitam polos tapi aku bisa tau dari bau parfum dan salur bahan lembutnya pasti baju itu hanya di cuci dengan perlakuan khusus di loundry termahal pula.
Yara menghela nafas dan tersenyum, ia bergeser duduk dekat pintu yang kacanya tertutup rapat, karna mobil sudah berjalan perlahan meninggalkan pelataran rumah.
"iya, maaf ya kak, kalau nanti aku tiba tiba pusing, lebih baik menepi nanti ya kak, aku takut mobilnya kotor karna aku. "
mengalah saja, fikir Yara, tapi Devano malah semakin menatapnya dengan ejekan yang terasa menyakitkan.
"kalau mobilku sampai kotor karna muntahmu, aku akan suruh ayahmu membayarnya. "
__ADS_1
Apa? Jadi ini mobil miliknya? Bukan milik kak Darren.
Seketika wajah Yara pucat pasi mendengar ancaman Devano yang terlihat tidak main2 dengan kata katanya barusan.
"maaf kak, aku gak akan muntah, aku janji. "
Sambil membungkukan bahunya didepan Devan, Yara sedikit bergetar karna ayahnya di bawa bawa tadi, ia bersumpah tidak akan sedikitpun mengotori mobil ini, bahkan tanpa sadar kakinya melepas sepatunya yang nampak kusam dengan perlahan.
"jangan menakutinya terus, kita akan bermain dan bersenang senang hari ini, jadi mari kita terlihat akrab seperti sahabat pada umumnya. " ucap Darren di depan sana sambil mengarahkan camera ponselnya mengambil gambar mereka, walau hanya ia yang nampak tersenyum gembira, itu sudah membuatnya puas karna akhirnya Devano mau berfoto bersama.
Tapi kalian bukan sahabatku pada umumnya, kalian bukan teman apa lagi sahabat bagiku, kalian seperti tuanku, yang satu tuan baik hati dan yang satunya lagi tuan jahat, kejam dan keji.
Tentunya kata kata itu hanya ada dalam fikiran Yara, disampingnya, Devano nampak tertawa kecil, ia selalu menertawakan wajah Yara yang nampak sedang memikirkan sesuatu.
Dia lucu sekali
#
Hari itu mereka benar benar bermain yang sesungguhnya, menonton film di bioskop sambil minum soda dan popcorn rasa caramel yang baru di coba oleh Yara, ternyata rasanya seenak ini dan itu membuatnya lupa kalau ada Darren dan Devano di sisi kiri dan kanannya sedang memperhatikannya mengunyah makanan di tangannya, mereka menonton film horor yang sedang trending di kalangan remaja saat itu.
Keluar dari gedung bioskop, Yara, Darren dan Devano makan di restoran cepat saji yang juga kebanyakan anak muda berkencan atau sekedar kumpul kumpul tak berfaedah di tempat itu, mereka makan dan mengobrol dengan santai seperti biasa, walau Yara lebih banyak diam karna Devan dan Darren sering membahas soal game atau apapun yang Yara tak mengerti.
Keluar dari gedung mall yang nampak megah itu, tak terasa hari sudah gelap, meski masih di jam sore bagi anak anak remaja yang sering melakukan aktifitas malam minggu yang sering Yara dengar, bagi Yara ini pertama kalinya ia berjalan jalan di luar rumah dengan jarak jauh dari tempat tinggalnya, bermain di timezone, naik mobil mobilan yang ternyata seru juga walau mereka paling besar di banding anak anak balita lainnya, Darren mengajarkannya melempar bola basket ke dalam ring yang akan menentukan skor dan mereka akan mendapat hadiah dari kartu yang keluar dari mesin tersebut.
Yara memeluk boneka beruang kecil berwarna coklat pemberian Darren, itu hasil pertukaran kartu di mesin mainan tadi, walau hatinya berdebar saat menerima boneka itu, tapi ia tidak akan menginginkan lebih dari apapun atas debaran itu.
Pindah ke lokasi yang Yara kira sudah selesai dan segera pulang, ternyata salah, mereka mengajak Yara ketaman hiburan, menaiki kincir angin yang sangat tinggi, memancing mainan ikan dengan hadiah sekotak coklat, masuk kerumah hantu buatan yang menyeramkan untuk ukuran seorang Yara yang penakut, mereka tertawa dan berteriak sesuka mereka, hingga pada moment Yara dan Devano duduk di salah satu komedi putar, sedangkan Darren sibuk mengabadikan semua hal bersama ponsel di tangannya, pak supir yang selalu stay di warung kopi dimanapun mereka singgah tadi.
"kau senang? "
Ucap Devan, dengan tatapannya yang lain dari biasanya kali ini, tatapannya nampak lembut, perasaan Yara langsung waspada jika terjadi hal-hal seperti ini.
Karna ia tahu, Devano akan berkata kata pedas, menyakitkan dan sangat kejam bila kedapatan berdua saja dengannya.
"iya kak, terimakasih untuk semuanya hari ini, berkat kakak dan kak Darren aku bisa merasakan hal hal yang baru seperti ini. "
Tersenyum, itu yang Yara lakukan, pokoknya jangan sampai memancing kata kata tidak enak didengar yang akan keluar nanti dari mulut laki laki ketus itu. Fikir Yara
Namun, senyum mengerikan yang mengembang dari bibir itu nampaknya hasil yang sia sia yang akan ia dapatkan dari senyum balsan miliknya tadi.
"bukankah orang sepertimu biasa pergi ketempat tempat seperti ini? Apa nama tempat ini? Pasar malam, yah.. Sepertinya aku pernah dengar kata kata itu, untuk kalangan orang orang seperti kamu mereka menyebut ini pasar malam bukan? ".
Komedi berputar lamban, Yara menatap Devano yang nampak aneh, kenapa wajahnya seperti sedih tapi juga menyatu dengan raut kemarahan? Memang ada masalah apa dia dengan tempat seperti ini?
" aku pernah ketempat ini beberapa kali jika lokasinya ketempatan dekat dengan rumah kak, dan biasanya aku memang pergi bersama ayah, tapi untuk bermain sebanyak ini tidak pernah, karna tiket masuk setiap arena cukup menguras kantong. "
Yara tertawa, menganggap hal seperti itu lumrah untuk orang orang seperti dirinya, mungkin bagi Devano, uang hanya untuk bermain begini sih hanya setengah dari uang jajan pemberian orang tuanya, tapi... Untuk kalangan Yara si miskin ini sangat berarti menghitung hitung pengeluaran untuk sekedar bermain saja, setidaknya mereka punya hiburan disaat waktu yang banyak melelahkan.
"kau tidak ingat? Pernah bertemu seseorang di tempat seperti ini? . "
Yara berkernyit, sebenarnya apa yang ingin Devano katakan sih? Memangnya dia pernah bertemu siapa?
Sedangkan Devano hanya bermaksud meyakinkan bahwa Yara tidak melupakan janjinya pada adiknya saat itu, jika saja Yara menjawabnya saat ini kalau ia pernah bertemu atau kenal dengan seseorang di tempat seperti ini dulu, Devano akan berhenti samapai disini, ia akan menerima alasan apapun kenapa Yara tidak datang saat itu.
"tidak kak, apa sebenarnya kita pernah bertemu di tempat seperti ini? kalau iya, maafkan aku jika melupakannya. "
Yara tersenyum selebar mungkin, ia tidak ingin Devano tersinggung kalau memang benar adanya mereka pernah bertemu.
Mata Devano sedikit berkaca, dadanya bergemuruh kesal, gadis itu benar benar tak merasa bersalah sedikitpun, tidakkah dirinya sadar bahwa pengabaiannya saat itu merenggut nyawa adiknya, ditambah ia yang tahu kalau Brian juga kecelakaan malam itu untuk menemuinya.
HUAhh.. Devano mendesah, sakit hatinya yang tadinya sempat di redam kini bergejolak tak tentu arah, ingin sekali rasanya mengguncang tubuh didepannya yang tersenyum tak berdosa.
"jangan tunjukan wajah seperti itu padaku, memangnya kau fikir kau itu menarik? Wanita sepertimu tidak akan pernah mendapatkan yang terbaik sekalipun dalam hidupmu, dengar Yara, kau harus ingat ini, kau tidak akan pernah mendapatkan ketulusan dari siapapun, sampai pria yang datang di hidupmupun nanti, kau tidak akan mendapatkannya, apa yang kau dapatkan hari ini dariku, harus kau bayar dengan tubuhmu seperti biasanya saat kita disekolah."
Yara tersentak, kata kata menyakitkan itu keluar lagi, tapi kenapa sepertinya menyayat sekali, Yara sampai terpaku menatap mata Devano yang nampak sangat membencinya, ada apa sebenarnya, apa benar mereka pernah bertemu dan tak sengaja ia melupakannya hingga membuat Devano marah, masa hanya karna itu ia harus sampai di kutuk begini.
Apa benar kita pernah bertemu?
__ADS_1
Sampai Devano pergi meninggalkan Yara sendiri, gadis itu masih termenung memikirkan kesalahan apa yang mungkin membuat laki laki itu membencinya.
Bersambung😊