Benci Yang Merindu

Benci Yang Merindu
welcome back


__ADS_3

Kembali dimasa sekarang


" Apa tidak sebaiknya kita membuat sambutan yang meriah?


Medi nampak antusias, sejak tadi hanya ia yang berisik dan banyak bicara sepertinya.


" jangan buat keributan ya, karna aku sedang focus mengerjakan sesuatu. " Alfian bersuara sambil tetap sibuk dengan komputernya.


Medi yang mendengar langsung cemberut memajukan bibirnya, ia lalu melirik kubikel disebelahnya meminta dukungan dari Yara yang sejak tadi juga diam saja.


"gimana Nayy? "


"sambutan seperti apa Med? ". Yara pun sama, dia bicara tapi tidak menoleh sedikitpun dari layar di hadapannya, sepertinya hanya Medi yang terlihat santai.


"kita bisa pesan buket bunga kan? Kita berikan saat ketua team kita datang".


" jangan dengarkan Nay, ayo focus bekerja saja, ada beberapa artis kita yang akan debut beberapa minggu lagi kan. "


Tatapan tajam Medi menghujam Alfian, ia sampai berdiri untuk melihat kepala Alfian di sana.


"aku kan gak ngajakin kamu, aku ngomong sama Nayy. "


"kalau begitu jangan terdengar ketelingaku, kau itu sejak tadi mengoceh saja kerjaannya, tidak ada laporan yang harus kau bahas ya? Nanti kalau waktunya deadline baru deh terburu buru. "


Medi sudah ingin membalas Alfian saat tiba2 presdir datang dengan seseorang yang nampak berbinar di belakangnya, seketika Medi membulatkan matanya, Alfian yang melihat ekspresi wanita itu menoleh ke arah pandangan Medi.


"oke semuanya, silahkan beri sambutan kalian pada rekan kerja baru kalian, aku harap kalian akan bekerja sama dengan baik, perkenalkan, dia ketua team baru kalian, pak Devano. "


Ia berdiri dengan gagah di samping Darren, sejak tadi matanya hanya terfocus pada satu wajah disana, wanita berkaca mata, duduk tanpa sadar tidak memperhatikan pengumuman yang baru saja dilontarkan oleh Darren, namun, saat nama itu disebut, seketika ia terpaku, jarinya berhenti memencet tuts keyboardnya, perlahan kepalanya bergerak terangkat, dan tatapan itu bertemu.


Seperti dejavu, saling tatap tanpa berkata, Yara pernah merasakan ini, tatapan yang selalu merendahkannya, tatapan yang selalu tersorot membencinya, tatapan jahat yang tidak pernah melepasnya, bahkan malah menjeratnya sekian lama.


Sudah beberapa tahun berlalu, tapi tatapan itu masih saja sama, senyum yang tertarik dari bibir itu hanyalah senyum mengejek, mencemooh dan senyuman tanpa arti yang Yara sendiri tidak tahu harus membalas sikap bagaimana pada laki laki satu itu.


Langkah itu mendekat, waktu seperti berjalan lambat di antara tatapan mereka, tak melihat Medi yang menganga saking terkejutnya jika ternyata ketua team nereka adalah laki laki yang melebihi ekspetasinya.


"lama tidak bertemu, tidak ingin menyambutku?".


Sapanya pada Yara yang tak bergeming saking berdebarnya, melihat laki laki yang dulu sangat dekat tapi membencinya itu, senyum samar mengembang di bibir Devano, ia tahu wanita itu terkejut dan terpaku karenanya.


Yara baru tersadar saat bahunya di senggol2 oleh Medi yang senyum2 kegirangan di sebelahnya,hal yang pertama ia lakukan hanyalah menguasai diri, tanpa sadar ia refleks membungkuk pada Devano yang berdiri tepat di hadapannya.

__ADS_1


"selamat datang, ketua team, perkenalkan saya Nayyara dari staf manager, senang bisa berkenalan langsung dengan anda, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik. "


"saya Medina dari staf keuangan. "


Medi mengulurkan tangan, Devan yang terkejut langsung menyambutnya.


"saya Alfian dari staf keuangan"


Alfian ikut ikut mengulurkan tangan, sebagai laki laki ia juga terpesona pada aura yang terpancar dari laki-laki di hadapannya ini.


Devano menyambut uluran tangan Alfian, ia melirik Yarra yang masih tertunduk, hanya dia yang tidak mengulurkan tangannya, itu membuat Devano sedikit kesal.


"baiklah, kita lanjutkan lagi perkenalannya nanti, silahkan semuanya kembali bekerja. "


Tukas Darren memecah kecanggungan antara Yarra dan Devano.


"baik pak, pak Devano selamat datang bergabung dan selamat bekerja. "


Medina memberi semangat, sebelah tangannya sampai di angkat dengan diiringi senyumannya yang sumringah.


"ayo aku antar keruanganmu. "


Darren merangkul pundak Devano yang masih saja menatap Yara dengan kesal, mereka akhirnya pergi masuk kedalam ruangan kerja yang khusus untuk ketua team, pintu ruangan itu berada tak jauh dari kubikel Yara, mereka masih satu tempat hanya saja Devano punya ruangan tersendiri.


"eh Nayy, kamu kenal pak Devano ya ternyata, kenal dimana? ".


Cecar Medina dengan semangat, ia juga sampai menatap Yara sangat antusias, jarang jarang kan seorang Nayyara punya kenalan sekeren Devano, yah.. selain Darren maksudnya.


" eh, oh.. Itu, eumm.. Itu..


Sebenarnya bukan karna tidak ingin memberitahu temannya kalau Devano juga salah satu seniornya di sekolah dulu, tapi apakah jika ia jujur memberi tahu Medina, apakah tidak masalah bagi Devano? Ia kan tahu betapa galaknya laki laki itu kalau menyangkut hal yang tidak dia sukai.


"sepertinya pak Devano akrab dengan pak presdir, apa mungkin mereka teman dekat? Kalau mereka teman dekat, apa dia juga seniormu dulu di sekolah Nayy? . "


Alfian bersuara, Yara merasa lega karna Alfian seakan menyelamatkannya dari penjelasan yang panjang, tau sendiri si Medi orang paling penasaran sedunia. Thanks Al, ucapan itu menggema di hati Yara.


"iya, mereka senior aku dulu. "


Tersenyum dengan lebar


"waahhh hoki banget kamu Nayy, punya dua senior yang tampan begitu, dia sampai menyapamu apakah kalian dulu sangat dekat?. "

__ADS_1


Senyumnya langsung hilang, sedetik tadi ia lupa sedang bicara dengan siapa, Medina si wanita terkepo sedunia.


tolonglah med, aku benci harus memberi penjelasan yang panjang kali lebar ini.


"biasa saja. " jawab singkat saja


"aahh kamu bohong ya, pak Devan sampai menatapmu tadi memangnya tidak sadar?. "


Medi mulai meledek gemas. Hanya Alfian yang menangkap ketidaknyamanan Nayy yang sedang di cecar pertanyaan pertanyaan aneh oleh Medi.


"ehem, Med, sudah ada ketua team loh, kita harus segera merekap laporan pekerjaan kita, kalau ketua team kita langsung meminta untuk meeting bagaimana? Kamu sudah beres semua?. "


Medi langsung cemberut, ia menatap kesal pada Alfian tapi langsung menggeser kursinya ketempatnya semula, Nayy tersenyum melirik Alfian, mengucapkan kata Thanks dengan gerakan bibir saja, Alfian sedikit mengangguk samar supaya Medi tidak menyadari itu.


#


" Dia sombong sekali, kau lihat tadi, dia berpura pura tidak mengenaliku. "


Sambil duduk di sofa yang ada di ruangannya, Devano meyilangkan kaki sambil bersandar di bahu sofa, sebelah tangannya memijit mijit pelipisnya yang sebenarnya tidak bereaksi apa apa.


"mungkin dia terlalu kaget melihat anda, jujur saya tidak memberi kabar apa-apa padanya atas kedatangan anda ini tuan. "


lapor Darren yang masih berdiri di hadapannya.


"ck, aku tau, kan aku yang menyuruhmu jangan bicara apa2 padanya perihal tentangku. "


"kalau begitu silahkan menikmati pekerjaan anda tuan, saya akan kembali keruangan saya sekarang. "


Devano mengibaskan tangannya, menyuruh Darren pergi, setelah membungkuk sebentar ia pun pergi meninggalkan Devano sendirian di ruangannya yang nampak baru.


Lelaki itu bangkit menuju meja kerjanya, beberapa berkas sudah menumpuk disana, ia menghela nafas sebentar dan tersenyum sendiri mengingat wajah Yara tadi yang terkejut melihatnya.


"apa itu? Dia masih punya ekspresi yang sama seperti dulu kalau sedang terkejut atau berfikir, heuh.. Lucunya. "


Jarinya meraih telfon di meja, menghubungi Yara hanya dengan memencet satu tombol disana, terdengar bunyi telfon di luar sana berdering, langsung di angkat, Devano semakin tersenyum lebar.


" masuklah, kita akan meeting sekarang. "


Seketika terdengar suara gaduh di luar sana, sepertinya mereka terburu buru untuk mempersiapkannya, dari celah tirai jendela ruangan Devano, laki laki itu dapat melihat pergerakan Yara di luar sana, Devano tertawa, entah kenapa sepertinya ia akan sangat bersemangat bermain di tempat ini.


Welcome back, harusnya kau menyambutku Yara

__ADS_1


Bersambung😊


__ADS_2