Benci Yang Merindu

Benci Yang Merindu
beneran berlibur


__ADS_3

Sudah terlewat satu jam lebih, Yara akhirnya keluar dari tirai neraka itu, ia duduk di sofa dengan lemas sambil meneguk habis juss melon yang tadi disediakan pelayan toko, Vano entah kemana, Yara tidak lagi bisa melihatnya saat laki-laki itu bilang cukup untuk baju-bajunya.


Apa mungkin dia ke toilet ya, fikir Yara, ia meringis meregangkan kakinya dan tanganya di sofa.


Sedangkan Vano yang ternyata ada di bagian kasir, ia membungkus beberapa baju pilihannya yang sudah ia rasa cocok di badan Yara tadi.


Pelayan itu tersenyum lebar saat menggesek kartu hitam milik Vano, siapa yang tidak senang kalau barang dagangannya di borong kan, di tambah laki-laki tampan ini sepertinya sangat sayang pada pacarnya, ia ingat skali saat tadi di pinta masukan baju-baju yang bagus dan terbaik di toko ini untuk di coba gadisnya.


Hal itu di lakukan Vano tanpa sepengetahuan Yara, membeli untuk mamanya hanyalah alasan saja, sejak tadi ia memang menimbang-nimbang harus membelikan Yara apa agar wanita itu mau tanpa menolak.


Dan saat ia kembali ke sofa, yang ia lihat adalah tubuh Yara yang nampak kelelahan, gadis itu tidak sadar atas kedatangan Vano, kakinya menggelantung sebelah, sebelah lagi menjulur di atas sofa, kepalanya tiduran tapi agak miring ke bawah, hampir jatuh, Vano tersenyum lucu melihat tingkah konyol Yara.


"ayo pergi"


suara Vano membuat Yara kaget, gadis itu refleks berdiri dan meraih kantung blanjaan yang sempat tadi di taruh di sofa, dengan cepat seorang pelayan yang tadi mengikuti di belakang Vano meraih kantung blanjaan di tangan Yara, sambil mengangguk dan tersenyum.


"biar kami taruh ke mobil langsung bersama barang-barang yang tadi sudah di bungkus nona, silahkan. "


Pelayan itu menyuruh Yara berjalan bersama Vano, ia tetap mengikuti di belakang, dalam sikap kebingungannya, Yara hanya menatap Vano yang berjalan tanpa kata-kata.


Ternyata sudah ada mobil yang menunggu mereka di depan, Yara berterimakasih pada pelayan yang tadi membantunya membawakan tas-tas belanjaan Vano.


"kita mau kemana lagi kak?. "


memberanikan diri bertanya, karna jujur Yara sudah tidak sanggup lagi jika harus berjalan mengikuti keinginan Vano yang entah bisa sampai kapan jika dituruti.


"ke hotel saja, aku mau istirahat, aku capek sekali".


Vano bersandar di punggung kursi, kepalanya juga menempel di leher kursi, ia memakai kaca mata hitamnya dan sepertinya ia menutup matanya juga setelah selesai mengenakan sabuk pengaman, Yara bicara pada supir yang hari ini mengantar mereka untuk kembali ke hotel, ia juga menyandarkan punggungnya, sebenarnya kalau mau di adu sudah pasti lebih lelah dirinya, tapi melihat Vano sampai tertidur begitu, Yara jadi berfikir, mungkin laki-laki itu juga sebenarnya lelah, belum lagi pekerjaan yang di amanatkan papahnya, yah... Sebaiknya memang kau harus tidur tuan muda.


Mobil berjalan perlahan, Yara mengerjapkan matanya menatap ke luar jendela, hari sudah semakin senja, lampu-lampu jalan yang merayap sudah menyala menerangi jalanan, sepertinya kehidupan setelah pagi ke siang hari tadi akan tergantikan dengan gemerlapnya malam, karna beberapa pelaku usaha sudah semakin banyak pengunjung, orang-orang yang kelelahan bekerja akan datang sekedar minum kopi di cafe yang terlihat estetic atau makan di restoran yang makanannya cukup enak.


Sedang menikmati pemandangan itu, tiba-tiba Yara terkejut karna tangannya seperti di sentuh sesuatu, ia refleks menoleh melihat tangannya yang satu tadi di dekat Vano, benar saja, tangan Vano menyentuhnya, Yara mengalihkan matanya pada wajah yang masih tertidur itu, nafas halusnya turun naik dengan teratur.


lagi-lagi debaran aneh mencuat di dadanya, tanpa melepaskan pandangan itu pada wajah Vano, Yara tersipu, karna pria di sampingnya tertidur dengan menggenggam tangannya, apa dia mengigau? samapai tidak terasa menggenggam tangan begini?. fikir Yara


Ragu, Yara ingin melepaskannya pelan-pelan, tapi entah kenapa genggaman itu seperti mengerat, akhirnya Yara hanya menatapinya saja, ia tersenyum, lalu menatap wajah yang tidur sambil pakai kaca mata hitam itu, debaran di dadanya belum berhenti, tapi entah mengapa Yara tidak ingin moment ini pergi, hangat, hanya itu yang ia rasakan saat ini, boleh tidak ya kalau aku menyukainya?


Tidak, fikiran sekejap yang lewat tadi langsung di tepis sendiri oleh suara dari fikirannya yang lain, Yara kembali ke alam sadar, ia harus mengingatkan lagi dirinya kalau Vano adalah nama laki-laki pertama yang ia coret dalam daftar keinginan memilikinya.


Ini hanyalah efek dari situasi yang mungkin saja bisa timbul perasaan menyenangkan seperti ini, Yara mulai mengatur pola fikirnya, debaran di dadanya hanyalah karna situasi kelelahan antara mereka yang mengharapkan kenyamanan pada tubuh, yah.. Aku juga harus istirahat kan?


#


Drrrrtt..


Ponselnya bergetar, tidak hanya sekali tapi berkali-kali, itu tandanya bukan sebuah pesan yang masuk, melainkan sebuah panggilan, Yara memaksakan matanya terbuaka, melihat ponselnya dengan berkerut-kerut menahan kantuk, yah.. Selepas sampai tadi mereka memang langsung masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat, entah sudah berapa lama ia tertidur, tapi sepertinya diluar sana sudah gelap, itu karna Yara menoleh ke jendela kaca pintu balkon yang tirainya masih tersibak.


Kembali ke layar ponsel, ternyata nama ketua team yang memanggil, Yara mengangkatnya sambil mengusap wajahnya mengusir kantuk yang masih menyerang.


"hallo?. "


Sura serak khas orang bangun tidur, Yara berdehem-dehem untuk menghilangkannya.


"sudah bangun? Kau belum makan malamkan? Tadi pelayan mengantar makan malam tapi kau tidak bangun-bangun, jadi aku suruh makanannya di antar kekamarku, masuklah kekamarku. "

__ADS_1


"hah? Apa? Eumm... Sepertinya aku tidak lapar kak, jadi tidak apa-apa kalau...


"aku tidak ada di kamar, kartu aksesku sudah aku selipkan di pintu kamarmu, lihat saja, setelah makan datang kesini temani aku. "


dengan wajah kebingungan Yara hendak bangkit dari tempat tidurnya.


"kakak dimana? ".


" disini, kolam renang, cepatlah, habiskan makan malammu. "


Sambungan di tutup, Yara menatap ponselnya bingung, ia benar-benar beranjak dari tempat tidurnya, lalu langkahnya menuju ke arah balkon, ia menatap ke bawah, terlihat Vano yang bergerak berenang menyelam ke air,sedikit terpaku, Yara melihat kepala Vano yang menyambul seperti ahli, ah, kenapa dia selalu terlihat keren ya dengan aktifitas apapun.


Akhirnya Yara mengambil makanannya, sebenarnya ia sangat lapar, basa basi saat bilang tidak lapar tadi hanya karna tidak enak jika harus masuk kekamar yang dia kira ada Vano didalamnya, nyatanya, perutnya memang tidak bisa berbohong, Yara melahap habis menu makan malam ini, ia bersiap turun untuk menghampiri Vano ke kolam renang.


"waahh.. Selain bekerja dan memerintah aku, ternyata kakak juga bisa berenang ya. "


Ledek Yara, ia tertawa saat Vano datang dari air dan duduk di pinggir kolam, dengan rambut basah dan tubuhnya yang bertelanjang dada, sempat terkagum-kagum sebentar, melihat otot perutnya yang nampak mengkilap kejatuhan air dari rambutnya, tapi dengan cepat kepala Yara menggeleng-geleng, membuang fikiran kotor yang akan timbul nantinya.


"cih, kau meremehkanku?. " ketus Vano


"hehe.. Tidak kak, mana berani aku meremehkan kakak, yang tadi itu aku kan memuji kakak. "


Sambil nyengir kuda, Yara menutupi ketakutannya kalau laki-laki itu akan marah dan menyuruhnya melakukan sesuatu, tolonglah.. Ini kan sudah malam. Fikirnya


"turunlah, bukannya kau ingin berenang siang tadi".


" tidak kak, akukan tidak bawa baju ganti, aku bilang cuma ingin jalan-jalan di sekitaran kolam renang. "


"pelayan sudah mempersiapkannya, turunlah. "


Vano menyelam lagi, ia masuk kedalam air, tangannya terangkat mengayunkan jemarinya menyuruh Yara turun kedalam air.


"terus kau ku suruh kesini memangnya hanya untuk menikmati menatapi tubuhku ini? Ah.. Jadi kau memang niat hanya memandangiku ya? Kenapa tidak kau foto saja sekalian. "


Dih..


Yara langsung terserang panik, mendengar Vano berkata sambil menyeringai senyum jahatnya.


"ah, tidak kok kak, aku.. Baiklah aku akan turun. "


Dengan kehabisan alasan dan tidak bisa berkata-kata lagi, Yara turun perlahan kedalam air sebelumnya meletakkan ponselnya dulu di atas bangku santai yang ada disana.


Eh, kok baru sadar ya, kenapa tidak ada orang lain selain mereka disini? Yara celingak celinguk sambil berjalan di air, sedangkan Vano asik bermain air, menyelam,mengapung, menyelam lagi dan mengapung lagi.


"kenapa tidak ada orang lain ya kak? Padahalkan tempatnya luas. "


"menurutmu kenapa?. "


Vano tersenyum sarkas, seperti ingin menyombongkan sesuatu.


"apa karna memang tidak ada yang mau ya berenang malam-malam. "


Si bodoh


Seketika senyum sombongnya pias, Vano menghela nafas dan memilih lagi untuk berenang saja, Yara yang nampak tidak tahu apa-apa sedikit bingung dengan respon Vano, tapi ia tidak berani bertanya lagi kalau sudah melihat wajah Vano yang kecewa itu.

__ADS_1


Berenang, berenang dan berenang, Yara dan Vano sempat main balap-balapan tadi, tawa renyah keluar dari mulut Vano dan Yara yang saling menendang air dan menyiramnya, sebentar saja, mereka menikmati kedekatan selayaknya dua anak manusia yang sedang gembira menyambut liburan di hari kerja, Yara juga melupakan apa yang menjadi beban fikirannya terhadap Vano saat ini, mereka hanya meluapkan bermain air seperti kanak-kanak lagi.


Duduk di pinggir kolam, sedangkan kaki masih berendam di air, Yara dan Vano menggoyang-goyangkan kakinya, mereka duduk bersisian, menatap gelombang air kolam yang terasa menggigit di bawah sana.


"akhirnya aku benar merasakan liburan yang sesungguhnya, benar kata kak Darren, aku harus menikmati liburan ini sebagai liburan gratis dari kakakkan?. "


Vano melihat Yara tersenyum, wajahnya yang basah dilihat dari samping begini tidak memudarkan paras manisnya di mata Vano, sejak tadi dadanya berdebar, entah karna kelelahan berenang atau karna yang lain, untuk hari ini, Vano ingin membiarkan saja perasaanya, tidak ingin memikirkannya.


"kau harus berterimakasih dengan benar padaku nanti."


keduan tangannya menopang tubuhnya kebelakang, kakinya sudah diam, hanya merasakan dinginnya air kolam yang semakin membuat kulit keriput.


" terima kasih kak, karna selalu menolongku, menghiburku lewat kak Darren, walau kakak suka buat aku sedih, tapi kakak mengobati kesedihanku juga, terimakasih sudah mau berteman denganku".


"siapa yang temanmu? Aku akan menagih semua hutangmu ini, kau dengar Yara, semua ini tidak cuma-cuma. "


Meski mengatakannya dengan wajah seperti di buat marah-marah, tapi Yara tertawa mendengarnya, entah kenapa sekarang rasanya kak Vano tidak semenyeramkan yang ia fikirkan dulu.


hahaha..


suara tawa yang renyah dan manis, itu yang di tangkap telinga Vano.


"iya-iya, tagihlah kapanpun kakak mau, aku akan membayar sesuai permintaan kakak. "


"termasuk dengan nyawamu?. "


Diam, Yara refleks menatap Vano, laki-laki itu pun menatapnya, raut wajahnya nampak serius, tapi sedetik kemudian, Vano mengalihkan pandangannya, ia tersenyum kacau.


"aku hanya bercanda, untuk apa aku mengambil nyawamukan?. "


Vano sedang menguasai dirinya lagi, menahan agar kata-kata jahat tidak keluar dari mulutnya malam ini, karna kalau itu terjadi, ia tidak biasa meminta Darren untuk datang menghibur gadis ini.


"ambil saja. "


Vano terdiam, menatap perlahan pada wajah yang kini nampak serius dan sedikit sendu, ia tidak bisa membaca isyarat itu, Yara nampak sedih tapi menatapnya sungguh-dungguh dan berani.


"Yara..


" kalau kakak menginginkannya, dan membuat kakak tidak lagi membenciku, ambil saja nyawaku ini. "


"heuh.. Kau tidak dengar ya?,aku bilang tadi aku bercanda. "


"jujur". Yara menatap ke kolam lagi " rasanya sangat sakit jika kakak sebaik ini padaku tapi kakak terus membenciku seperti ini, sedangkan aku terlalu bodoh untuk mencari dimana letak kesalahanku pada kakak. "


Srek..


Tiba-tiba jemari tangan Yara di genggam erat, Vano melakukannya, ia *******-***** tangan itu dengan kuat, Yara yang kaget menatap Vano bingung.


"jangan bicara lagi, aku mohon, malam ini saja, jangan biarkan aku menyakitimu dengan kata-kataku. "


Yara berkernyit, tidak bisa membaca apa yang ada dalam fikiran Vano, laki-laki itu tampak menahan sesuatu di kepalanya, mendung menggelayut di mata Vano, seperti ada beban yang tidak bisa ia pikul sendirian, dan itu membuat Yara tidak bisa berkata-kata lagi, ia hanya menatap genggaman tangan Vano yang terasa hangat.


Kenapa sih genggamannya selalu sehangat ini, dan perasaan apa ini?


"kak, apa aku boleh memelukmu?. "

__ADS_1


Permintaan yang sontak membuat Vano terkejut, tapi juga tidak ingin melepaskan tangan ini, mereka hanya saling menatap, lalu Yara menggeser duduknya semakin mendekat, melihat pergerakan tubuh Yara refleks Vano meraih tubuh itu, mendekapnya erat, ia bahkan menjatuhkan kepalanya pada bahu Yara,ahh.. Seluruh tubuhnya menghangat, Vano dan Yara memejamkan mata untuk memberi perintah pada tubuhnya, untuk sebentar saja, biarkan mereka seperti ini, yah sebentar saja, pelukan hangat ini.


Bersambung😊


__ADS_2