
"kak Darren punya cita-cita apa? ".
Senyuman Yara yang sebenarnya manis sangat menenangkan Darren, kalau saja ia tidak ada peringatan dari Devano untuk jangan dekat dekat dan memberi harapan pada gadis ini karna urusannya belum selesai.
Mereka sedang duduk di tempat istirahat persembunyian mereka di balkon atas, Yara membawa buku matematikanya sedangkan Darren tetap sibuk dengan ponsel genggamnya, Devano entah kemana, sudah dua hari ini laki laki itu seperti menghindari Nayyara tak ingin melihatnya.
"mmm apa ya, sepertinya aku belum kepikiran, tapi dulu waktu kecil aku sempat ingin jadi polisi atau tentara, saat itu melihat laki laki berseragam sepertinya keren dan gagah. " Darren terkekeh sendiri mengingat cita citanya dulu.
"kalau Nayy mau jadi apa?. "
"aku mau jadi dokter anak. " Yarra tersenyum lagi, membayangkan jas kebangsaan itu tersemat di tubuhnya dengan dikelilingi anak anak yang rewel karna takut di suntik.
"wow.. Mulia sekali ya keinginanmu, tapi memang kau sangat pantas menjadi dokter Nayy, cocok dengan wajahmu yang keibuan. "
Cuma kak Darren yang bicara begitu, kak Devano mana pernah memuji dirinya, yang ada laki laki itu pasti akan mengejek cita citanya dan bilang, "kau tidak cocok, dengan wajah menyedihkan begitu mau jadi dokter", mungkin Devano akan bilang ia lebih cocok jadi pengemis.
Hah.. Kemana ya laki laki ketus itu, sudah dua hari tak terlihat, padahal terakhir sehabis mengutuki Yara, dia masih bertemu di sekolah dan menyuruh Yara ini itu.
"tapi sepertinya tidak akan tercapai, makanya aku menyiapkan alternatif cita citaku yang kedua. "
"hah? Kenapa? Kok belum mencoba sudah psimis".
" karna butuh waktu lama untuk sekolah kedokteran, lagi pula ayah pasti terbebani dengan biaya ini itu, mengejar beasiswapun sepertinya berat di persaingannya, aku kan tidak sejenius anak anak pintar lainnya. "
Hehe, Yara tertawa ditatap sendu oleh Darren yang nampak tidak sepakat dengan alasannya, laki laki itu menghela nafas kecewa.
"jangan begitu, kita tidak tahu jalan kedepannya bagaimana, kau itu harus berfikir positif, kau itu pintar, kau juga berpeluang besar untuk mendapat beasiswa apapun di luar sana, jangan sia siakan otak cerdasmu hanya untuk berfikiran negatif. "
"hm, terimakasih kak, sudah tulus menyemangatiku, aku akan berusaha kedepannya"
"lalu apa cita citamu yang kedua? ".Darren kembali tersenyum
" ini karna aku mengidolakan beberapa selebritis, aku fikir sepertinya akan menyenangkan jika aku bisa bekerja di management artis atau semacam label artis, ikut bekerja di balik layar atau duduk di kantornya untuk mengatur beberapa artis yang aku idolakan, hihihi.. Lucu ya keinginan keduaku? sangat berbanding terbalik dengan cita cita pertamaku. "
"kalau begitu aku akan jadi presdir perusahaannya, aku juga mngidolakan beberapa seniman musik, walau hanya musik luar sampai saat ini. "
Mereka tertawa berdua, sesekali mengunyah camilan di atas meja yang mereka beli di kantin sekolah tadi.
#
"cepat naik".
Jam pulang sekolah kala itu, mobil Devano berhenti tepat di depan Yara yang sedang menunggu di halte bus dekat sekolahnya, pak supir yang kini sudah mengenal Yara nampak mengangguk dan tersenyum saat melihat Yara menatap bingung kearahnya.
" terimakasih kak, tapi aku biar naik bus saja, tidak mau merepotkan kaka harus jauh jauh mengantar aku pulang, lagi pula kitakan tidak searah. "
"siapa yang mau nganter kamu pulang? Cepet naik. "
"terus kita mau kemana ya kak? Aku harus ijin ayah dulu kalau akan pulang telat. "
"aku sudah ijin ayahmu. "
"tapi kak...
" jangan sampai aku mengulangi lagi kata kataku, sejak kapan kau berani menjawabku?. "
Aku tidak menjawabmu, aku ini sedang bertanya tau.
Mengalah saja, saat ini rasanya tenaga Yara akan habis terkuras untuk meladeni keinginan Devano yang kadang-kadang memang aneh dan sulit ia mengerti sendiri.
Tidak ada Kak Darren tidak seperti biasanya, mereka hanya berdua dan itu membuat Yara sedikit takut akan di bawa kemana ia oleh laki laki yang terkadang bersikap ingin membunuhnya ini.
"bapak apa kabar?. "
__ADS_1
Berbasa basi saja pada pak supir, fikir Yara, dari pada hanya kebisuan dan kecanggungan yang ada di dalam mobil ini, karna laki laki itu hanya diam bersandar di punggung kursinya, Devano juga memakai kaca mata hitam, sepertinya ia mau tidur.
"baik nona, nona sehat?. "
jawab pak supir dengan ramah
"iya pak sehat, bapak tau gak kita mau kemana?. "
sedikit berbisik karna takut yang disebelahnya dengar, Yara harap orang itu benar benar tertidur.
"ck, shh.. Berisik sekali, kau itu terbiasa tidak menghormati orang ya? Lagi pula yang mengajak kau pergi itu aku, bukan pak Min. "
Devano membuka kaca matanya dan duduk tegak, kepalanya menoleh menatap Yara yang sedikit takut, jadi namanya pak Min, tukas Yara dalam hati.
"maaf kak, kakak jadi terbangun ya? Maaf, aku tadinya mau bertanya sama kakak, tapikan kakak sedang tidur tadi, maaf kalo aku membangunkan kakak. "
"heuh, pandai sekali kau beralasan ya?. "
Devano memutar kepalanya menatap kedepan.
"berhenti dulu di restoran situ pak, kita makan dulu disana. "
"baik tuan muda. "
Pak Min memutar kemudi memasuki parkiran resto yang tadi di tunjuk Devan, laki laki itu segera keluar dari mobilnya dan saat ingin menutup pintu mobil gerakannya tertahan karna Yara hanya diam tidak bergerak dari kursinya.
"kau sedang apa? Memangnya aku pelayanmu? Ayo turun. "
"emm, aku tidak lapar kak, kakak makan saja bersama pak Min biar aku tunggu disni. "
Yara sebenarnya hanya gugup dan takut, karna ia belum tau apa yang ingin Devano lakukan padanya, apa ia ingin membunuhnya setelah di beri makan enak di restoran yang nampak mahal ini, fikiran Yara yang mulai berangan2 membuat cerita sendiri.
Hah, Devano menghela kesal, tatapannya langsung memicing menatap Yara yang semakin takut dan gelisah.
" eh tidak usah kak, baiklah aku akan turun. "
Secepat yang Yara bisa, ia sudah meloncat turun dari dalam mobil, ia lalu mengikuti langkah Devan yang tadi sempat menutup pintu mobil dengan keras masih sambil menatapnya.
Sambil berjalan di belakang Devano, Yara menoleh pada Pak Min yang ternyata tidak ikut turun bersama mereka, apa itu artinya ia dan kak Devano saja yang akan makan berdua?
Restorannya sangat luas dan nampak mewah, Devano duduk ditempat yang nyaman di lantai dua dekat jendela kaca yang besar, dari sini mereka berdua bisa melihat pemandangan di bawah sana, Yara melihat dengan takjub, indah sekali, fikirnya.
Devano menatapnya tersenyum samar, semenit kemudian pelayan datang, membawakan menu, ia lalu memesan makanannya, tanpa bertanya pada Yara, Devano memesankan menu yang sama seperti miliknya untuk gadis itu.
"kita akan ketempat latihan. "
Tukas Devan tiba tiba, Yara berkernyit bingung.
"maksud kakak tempat latihan apa? ".
" bela diri, tempat itu sanggar milik om Prama, adik papah ku. "
"oohh.. Kakak mau belajar bela diri ya. "
Terjeda karena makanan mereka datang, Yara masih berfikir keras setelahnya karan tidak mengerti kenapa Kak Devano harus mengajaknya ke sanggar milik om nya.
"bukan aku, tapi kamu".
" apa? " terkejut lagi, kenapa sih kak suka sekali bikin orang berdebar ketakutan begini.
"kau harus belajar bela diri, setelah aku dan Darren pergi karna lulus nanti, mereka mungkin akan kembali membullymu, jangan diam saja, sekali sekali mereka harus di beri pelajaran. "
"kak.. ".
__ADS_1
Mata Yara sedikit bekaca kaca, tidak tahu ingin menjawab apa, namun ia tahu Devano bermaksud baik padanya.
" bayarannya akan aku tagih saat kita bertemu kembali. "
Kenapa ya, terdengar seperti kata kata perpisahan, apa Devano akan melanjutkan sekolahnya ke luar negri setelah ini?
Yara masih diam, ia hanya menatap Devano yang sedang mengunyah makanannya.
"kenapa? Kau terharu, merasa aku baik padamu, heuh.. Jangan berfikiran aneh aneh, dengar Yara, kau harus mengingat semua kebaikan yang ku berikan padamu, termasuk makanan ini, aku anggap kau berhutang banyak padaku, sampai aku menagihnya nanti, aku harap kau sudah punya cukup banyak sesuatu yang kau kumpulkan untukku,mengerti? . "
Potongan daging besar di lahapnya, Yara belum bisa mencerna kata kata itu, baginya Devano adalah dua sisi manusia yang aneh, kadang sangat jahat, kadang sembunyi dalam kebaikannya.
Kalau di fikir fikir, yang berasumsi kalau ia hanya berlindung di balik punggung Devano juga benar adanya, mengingat setelah Devan menolongnya kala itu, ia memang tidak pernah lagi mendapatkan bulliyan apapun, yah.. Walau sesekali ada yang berkata ketus dan jahat, Yara rasa itu hal wajar, mungkin karna mereka merasa tidak bisa lagi menyentuhnya lantaran Devan dan Darren selalu ada di sekitarnya.
Walaupun perasaan Yara saat itu Devano sama saja dengan yang lain, sama-sama suka membullynya, berkata kasar dan suka ketus, tapi.. Yara sadar, hanya Devan yang tidak pernah menyentuhnya atau menyakiti dalam arti fisiknya, terakhir kali ia malah membiarkan seorang laki laki menyentuh wajahnya untuk bersikap kurang ajar terhadapnya, apakah hal itu ya yang membuat Kak Devan sangat kesal padanya?
Selanjutnya mereka malah semakin dekat, Kak Darren yang selalu tersenyum menyambutnya, memberikannya sarapan berbagai aneka rasa merk roti atau camilan lainnya, dan Kak Devan yang selalu bersikap kasar tapi ternyata perhatian padanya, ia sampai memikirkan hal ini jika mereka tak bersama lagi nanti.
Sampai saat inipun Yara masih selalu bertanya tanya, kenapa? Kenapa hanya dia yang sepertinya di benci oleh kak Devano, apa salahnya?, Darren sudah ia tanyai, tapi jawabannya hanya sesuatu yang ambigu.
"mungkin sebenarnya Devano tidak pintar mengungkapkan isi hatinya. "
Tidak, Yara langsung menampar diri sendiri untuk kesadarannya, jangana berfikir kalau ia menarik di mata kak Devano, laki laki itupun selalu berkata begitu bukan, lagi pula Yara sudah memantapkan hatinya tidak akan tersentuh oleh laki laki manapun jika ia belum selesai masa belajarnya, ia ingin kuliah di tempat yang setidaknya bisa membawanya kekehidupan lebih baik, ia ingin membahagiakan orang tuanya yang hanya tinggal ayahnya saja saat ini.
Mata Yara semakin berkaca kaca, makanannya belum di sentuhnya sejak tadi, mereka saling diam tanpa ingin merusak suasana aneh yang terasa dingin saat ini.
"terimakasih kak, tapi... apa boleh aku bertanya?,kali ini saja, tolong jawab dengan jujur dan benar. "
Tukasan Yara membuat Devano berhenti mengunyah, matanya focus menatap gadis di hadapannya, dengan wajah yang semakin sedih itu, Devano kalut dan rapuh, ia takut dengan pertanyaan yang akan keluar dari mulut berbibir ranum itu.
"kenapa? Kenapa kakak terlihat sangat membenciku? Tolong beri tahu aku agar aku memperbaiki kesalahanku pada kakak, agar aku bisa meminta maaf dengan benar pada kakak. "
Dengan suara bergetar, dan air mata yang sudah menganak sungai di pelupuk matanya, Yara sepertinya tidak bisa lagi menahan semua rasa penasarannya yang menyakitkan ini, namun laki laki dihadapannya hanya terdiam menatapnya, lalu tarikan nafas berat itu rasanya ingin meluapkan sesuatu yang akan sangat menyakitkan lagi untuknya.
"benar, tanam itu di kepalamu, aku MEMBENCIMU"
penekanan pada kata membenci itu sangat memukul hati Yara, tidak bisakah Kak Devan hanya memberi tahu alasannya saja agar ia tidak mati penasaran.
Tapi sepertinya ini akan menjadi hal yang sia sia, Yara hanya tahu Devano membencinya, tidak akan melepaskan jeratan yang menyakitkan ini, lalu sikap apa yang harusnya ia berikan pada laki laki itu?
"habiskan makananmu".
Kau fikir aku masih bisa menelan?, Yara hanya menyeka air matanya yang hampir jatuh, sedang Devano berdiri meninggalkannya melangkah keluar, tidak ada lagi kata kata yang keluar dari mulut mereka, sejak saat itu, Devano dan Yara hanya sesekali bertemu, Darren yang terus berusaha ada di tengah tengah mereka hingga akhirnya lelah dengan sikap tuannya yang tidak merespon apapun.
#
Disatu moment, sekolah Yara sedang mempraktekkan sebuah tata cara pernikahan, mereka melakukannya dengan sangat antusias karna biasanya akan ada pasangan pengatin yang mereka tunjuk untuk menjadi tumbal bahan ledekan yang pastinya akan menjadi sejarah sampai mereka lulus sekolah, beberapa bahkan ada pasangan pengantin jadi jadian yang mereka tumbalkan saat di sekolah dulu hingga menjadi alumni dan ternyata mereka beneran menikah di dunia nyata.
Kali ini Nayyara yang jadi tumbalnya, bukan karna mereka senang mendukung Yara yang akan jadi pengantin, melainkan banyak dari beberapa teman wanita di kelasnya memang hanya ingin mengolok2nya agar mendapat malu dimata teman temannya, karna apa?, karna sudah pasti tidak akan ada yang mau menjadi pengantin prianya.
Terlebih Darren dan Devano sedang sibuk untuk ujian kelulusan, sebagian besar anak-anak laki di kelas Yara tidak ada yang mau karna menurut mereka ini pelajaran praktek yang paling konyol, alhasil semua mata dan mulut mencibir Yara, menertawakan Yara yang pastinya sangat malu menerima ini semua.
"lihatkan, gak ada yang mau jadi pengantin pria, ganti aja pengantin wanitanya. "
"siapa yang mau gantiin posisi dia, selama ini dia kan sombong dan belagu, biarkan saja dia sendirian, menikah dengan batu saja sana. "
"kacungnya sendirian sekarang, karna tuan yang biasa bersamanya sedang repot mengurus diri sendiri. "
Sebagian adalah wanita2 pendengki yang mencibir Yara, sebagian lagi karna memang tidak ingin terlibat apapun pada gadis yang di kucilkan sebagian teman sekelasnya.
"aku yang akan menjadi pengantin prianya"
Bersambung😊
__ADS_1