Benci Yang Merindu

Benci Yang Merindu
ancaman Darren


__ADS_3

Brugh..


pukulan keras itu cukup membuat sudut bibirnya berdarah, ia merasakan rahangnya bergeser sedikit tadi, karna rasa nyerinya yang teramat sakit sampai membuat ujung matanya berair.


Tubuhnya merosot setelah menabrak dinding apartement di ruang tamu, lalu tubuh tegap tinggi berotot yang ada di hadapannya kini semakin mendekat dengan mata memicing, menyalang amarah kepadanya, sosok itu berjongkok mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan tubuh yang merosot lemas tadi.


Srek..


Bagian leher bajunya ditarik kuat, digenggamnya dengan tangan yang masih mengepal penuh emosi dan amarah. Darren benar-bnar meluapkan amarahnya pada Gun.


"entah apa rencanamu brengsek, tapi jika kau menghasut hal yang tak masuk akal lagi pada tuan Vano tentang aku dan Nayyara, orang yang pertama membunuhmu adalah aku, kau harus ingat itu. "


Ia hempaskan genggaman marahnya, Gun menyeka sudut bibirnya, bercak darah masih tertinggal disana, Darren bangkit hendak meninggalkan Gun yang tergeletak tak berdaya, pukulannya sepertinya lumayan keras tadi.


"apa benar tidak ada perasaan yang kakak rasakan pada kak Nayy? Heuh.. Rasanya mustahil sebagai laki-laki yang selalu bersamanya disaat dia dalam kesedihan terus menerus, kalau aku jadi kak Nayy, orang yang harusnya aku cintai itu kak Darren, bukan kak Vano, dia hanya bisa membuatnya menangis dan sakit hati. "


Langkah Darren berhenti, ia berbalik menatap Gun yang sudah duduk bersandar sambil memamerkan senyuman liciknya.


"jadi kau selama ini berfikir selicik itu? Makanya kau mengadu hal yang tidak-tidak pada tuan Vano, dengar Gun, kau tidak berhak ikut campur dalam masalah mereka, kau harus tahu batasanmu. "


"batasan apa? Aku yang bertemu dengan kak Vano lebih dulu, kau datang hanya pada saat kau di pungut oleh paman, kau bahkan tidak tau cerita kehilangan Brian seluruhnya, bukankah kau kak, yang harusnya mengerti batasanmu. "


Dengan marah, tapi juga ada rasa takut pada Darren, Gun bicara seolah ia lebih dekat dengan Vano dan keluarganya, padahal mereka di perlakukan sama, Gun dan Darren sudah di anggapa seperti keluarga dalam rumah besar itu.


heuh..


Darren menyunggingkan senyum sinisnya, dari awal bertemu dan di perkenalkan dengan Gun, Darren sudah bisa membaca kemana arah fikiran anak ini, ia juga tau kalau bocah itu menyukai Nayyara seperti Brian yang dia selalu ceritakan.


"Brian tidak cukup pintar kok, makanya paman dan bibi memberinya les tambahan, aku dekat dengannya karna dia suka bertanya soal pelajaran padaku. "


Teringat lagi Gun yang menceritakan sosok Brian padanya pada saat pertama kali mereka bergabung menjadi bagian dari rumah Vano, dan disetiap kalimat yang Gun selalu katakan, hanya rasa iri yang Darren tangkap disana, dulu, mungkin Darren akan membiarkannya karna keberanian Gun hanya sebatas itu, tidak sampai mengganggu Vano ataupun membuat mereka saling salah faham.

__ADS_1


Tapi kini berbeda, usia mereka telah dewasa dan sepertinya Gun sudah tidak bisa di nasehati dengan kata-kata, membuat Darren harus bersikap lebih keras padanya.


"dengar Gun, jika kau cemburu pada tuan Vano karna Nayyara lebih memilih bersama kakak dari teman yang kau bilang sahabat itu, bukankah itu salah, kelihatan sekalikan kalau sikap irimu pada dua orang itu membuatmu menjadi penghasut seperti ini, apa kau tidak malu pada Brian? Aku rasa dia juga telah salah menganggapmu sebagai sahabatnya. "


Ada hentakan ketersinggungan dihatinya yang menampar Gun, seolah Darren bisa menebak setiap ucapan yang tersirat pada mulutnya, iaingin menyangkalnya tapi tatapan Darren yang menusuk masih sangat menakutkan baginya.


"jika kau memang sahabatnya, bukankah respon yang harus kau perlihatkan saat tau Brian menyukai Nayy adalah mendukungnya dengan senang, masalah hatimu yang jatuh pada Nayy, harusnya menjadi urusanmu saja, kau bahkan tidak pernah menyatakannyakan? Sepecundang itu dirimu, dulu dan sekarang, sifatmu tidak akan berubah, karna kau menumpuk rasa iri dalam dadamu. "


Darren menghantamnya kembali dengan kata-kata, membuat Gun mengepalkan jari jemarinya, ia kesal dengan kenyataan dirinya yang tidak pernah mampu, ia bahkan menyalakan Brian yang terlahir dari keluarga yang lebih berada darinya.


"berhenti sampai disini Gun, atau kau berhadapan dengan kemurkaan tuan Vano yang tidak bisa kau bayangkan. "


Darren pergi menuju pintu keluar, membukanya dengan helaan nafas yang sangat resah, menutupnya kembali dengan lirikan terakhir melihat Gun yang menunduk lesu disana, mungkin ia sedang merenungi kata-katanya tadi, biarkan saja, biar dia sadar kalau sikapnya selama ini tidak benar dan buruk juga baginya.


#


Dirumah sakit


Dua orang yang habis perang dingin beberapa hari kemarin kini sudah bisa tersenyum berdua di atas tempat tidur bangsal rumah sakit,laki-laki yang katanya sakit itu tiba-tiba saja mengeluh ini itu pada Yara yang menemaninya disana, gadis itu di larang pergi dengan Vano yang ternyata bisa merengek seperti anak kecil kehilangan mainan.


"sakit tidak? ". Yara meringis saat ia membantu mebenarkan selang infusnya yang tadi sedikit macet karna Vano banyak bergerak.


" tidak, besok aku minta keluar karna sudah sembuh, kan sudah ketemu kamu. "


Senyum manis mengembang dibibirnya, ia meraih pinggang Yara yang tadi terduduk di pinggir tempat tidurnya, memeluknya erat seolah tidak akan lagi melepaskan tubuh itu dari dekapannya.


"kakak, nanti ada suster atau dokter yang lihat. "


Yara menggeliat ingin Vano mengendurkan pelukannya, ditambah ia juga sebenarnya malu di perlakukan manja begitu.


"tidak akan ada yang datang lagi, ini waktunya pasien beristirahat, tadikan sudah di periksa. "

__ADS_1


Sambil mengendus bahu Yara yang wangi, Vano merasa sangat nyaman bisa memeluk tubuh ini lagi, ia sampai memejamkan matanya saking hangatnya berada di dekapan Yara.


Gadis itu tersenyum hangat, mengelus rambut Vano yang sedikit berantakan dengan lembut, hingga pria itu membuka matanya dan mereka saling menatap karna rindu.


"temani aku ya, jangan pergi lagi. "


Tukas Vano dengan suaranya yang pelan dan lembut.


"ish.. Sejak kapan kaka punya sikap manja seperti ini? ". Yara menoel hidung Vano, mengejeknya dengan candaan.


" sejak tidak bertemu denganmu kemarin-kemarin, kau marah pada hal yang tidak jelas, membuatku pusing saja. "


"hah? Kan kakak yang membuat penyataan seperti itu, ditambah lagi kakak malah dekat dengan Anita, kakak tau kan bagaimana tidak pedenya aku jika soal membandingkan diri dengan wanita lain, kalau benar sainganku Anita mana berani aku mengejar kakak. "


"bodoh, siapa yang suruh kau mengejarku? Dari awal, aku yang berlari ke arahmu, jadi tidak usah merasa insecure pada siapapun, mengerti?. "


Yara menyentuh pipi Vano yang menatapnya dengan tegas, menyatakan kalau ia harus berdiri dengan tegak di sisi pria ini, pria yang memberinya banyak kebaikan dalam dirinya dan hidupnya.


"terimakasih kak, kakak selalu baik padaku. "


Vano mencium tangan yang ada di pipinya, lalu ia kembali menyembunyikan wajahnya pada pinggang gadis yang ia dekap sekarang, rasa hangat masih menjadi kenyamanan tersendiri bagi tubuh Vano dan Yara yang semakin menempel.


Di luar kamar, mama papanya yang memaksa datang jadi tertahan disana, sang mama yang menahan suaminya untuk masuk karna melihat Vano sedang bersama Yara yang sudah membuatnya senyum-senyum sendiri saking bahagianya karna anak semata wayangnya terlihat bahagia dan hidup kembali setelah kemarin seperti manusia tak bernyawa .


"sepertinya kita harus serius membicarakan pernikahan sayang. "


tukas wanita yang nampak cantik dengan balutan baju terusan yang meski sederhana tapi terlihat mewah saat dikenakan olehnya, di sampingnya suami tampan yang wajahnya sekilas mirip dengan Vano menghela nafas pasrah.


"semoga dia bisa bertanggung jawab sebagai laki-laki, aku agak kesal kemarin karna dia jatuh sakit hanya karna bertengkar dengan kekasihnya. "


"bukankah dia mirip seseorang. "

__ADS_1


Kecupan dipipi membuat pria itu memerah, istrinya selalu bisa jadi pereda amarahnya, mereka berjalan bergandengan tangan, obrolan ringan yang menghibur hati dan tawa yang sesekali terdengar, membuat iri siapapun yang melihatnya.


Bersambung😊


__ADS_2