Benci Yang Merindu

Benci Yang Merindu
Bantuan Darren


__ADS_3

Di dalam kamar, Yara berbaring meringkuk dan menutup tubuhnya dengan selimut, sepulang kerja sejak tadi ia langsung masuk kamar dan tidak keluar lagi, ia juga tidak menunggu ayahnya, ia larut dalam kesedihan yang ia bawa pulang setelah pertemuannya dengan Devano hari ini.


Kata-kata itu sangat menyakitinya, tapi ia tidak ingin siapapun tahu kesedihannya yang mendalam, hanya kata-kata Vano yang terngiang sejak tadi, dan itu memicu air matanya yang tidak ingin ia tunjukkan pada siapapun.


Malam larut, jam menunjukan pukul 23.45 ketika ponselnya bergetar tidak berhenti sejak tadi, Yara memang belum menutup matanya, hanya memang ia tidak ingin mengangkat panggilan dengan nama Darren disana, kenapa? Kenapa selalu laki-laki itu yang menjadi jembatannya untuk selalu memaklumi kelakuan Vano padannya.


Bukankah ia juga boleh marah? Rasanya sakit sekali ditatap sebenci itu pada orang yang selalu membantunya di masa lalu, ada apa sebenarnya dengan perasaan Vano padanya? Yara ingin sekali tahu, agar ia bisa membalas kebaikan Vano di masa lalu.


Ddrrrt.. Benda pipih di atas nakas itu bergetar lagi, kali ini hanya pesan masuk, Yara meliriknya, lalu mencoba meraihnya dan melihat notic masih nama Darren disana.


Sejak tadi aku di dekat rumahmu Nayy, tapi sepertinya kau sangat kelelahan ya? Maafkan aku ya Nayy, aku akan pulang, beristirahatlah, selamat malam.


Yara bangun dari baringnya, ia melihat jendela kamarnya yang tersibak sedikit,tatapannya menelusuri sepanjang gank rumahnya, melihat sebuah mobil yang ia kenal dan hafal itu milik siapa.


Dengan cepat ia mengirim pesan, sambil melirik mobil di ujung sana yang sudah menyala tadi kini redup kembali, seketika ia meraih switer berkancingnya yang menggantung di balik pintu, Yara setengah berlari membuka pintu kamar dan segera meraih hendel pintu utama rumahnya, ia tidak tahu ayahnya dimana, mungkin sudah di dalam kamarnya dan beristirahat sejak tadi.


jangan pergi kak, temani aku makan mie ayam.


Itulah bunyi pesan Yara tadi, Darren tersenyum dan membatalkan menyalakan mesin mobilnya, dari dalam mobil ia menatap lagi ke ujung rumah Yara, seorang gadis sedang berlari menghampiri mobilnya saat ini.


kaca mobil diturunkan, Darren tersenyum lebar menyambut Yara.


"masuklah, kau pasti kelaparan".


Yara membuka pintu mobil, ia duduk disebelah Darren yang masih menatapnya hangat.


" maafkan aku kak, aku sedang merenungi diri tadi. "


Tukas Yara, menjelaskan kenapa ia tidak mengangkat panggilannya tadi.


"hm? Sekarang sudah kembali ke mode Nayyara yang selalu kelaparan ya kalau menjelang tengah malam?. " Darren meledek, sambil focus menyetir mencari pedagang mie ayam yang masih buka di jam seperti ini.

__ADS_1


"terima kasih karna tidak banyak bertanya kak, kakak masih sangat baik padaku sejak dulu. "


raut sendu menghiasi wajah Yara, Darren melihatnya sesekali, ia juga tidak tahu harus beri kata-kata penghiburan apa pada Yara, sudah terlalu banyak kata-kata menyakitkan Vano yang melukai gadis ini.


Tapi, disisi lain, Darren yang juga sangat tahu bagaimana Devano sangat terpuruk waktu kehilangan saat itu, ia jadi tidak bisa berpihak pada siapapun diantara sahabat yang sangat ia sayangi dari dulu, pribadi Yara yang menyedihkan namun tidak sadar telah membuat kesalahan besar pada Vano, tetap membuat Darren menjaga jarak halus agar Vano tidak salah faham dengan kedekatannya pada Yara, karna Darren sudah menganggap Yara seperti adiknya sendiri.


Sedangkan dengan Devano, jika ada pertanyaan ia harus memilih antara Yara atau Vano, manakah yang akan ia pilih,tentu saja tanpa ragu ia akan menjawab Devano.


Perjalanan panjang antara Darren dan Vano tidak cukup ia untaikan dengan kata-kata, baginya, Vano adalah tuan yang akan selalu ia patuhi sampai kapanpun.


#


"jangan terlalu membencinya Nayy, tetaplah berfikir kalau Devan melakukan itu karna ada alasan kuat di balik itu semua. "


Mie ayam yang masih enak di mulut Yara di kunyah dengan sangat menikmati, gadis itu sepertinya benar-benar kelaparan, fikir Darren.


"iya kak, aku tau, aku tidak akan protes seperti biasa, aku akan tahu diri dan introspeksi diri sendiri, aku akan sangat hati-hati dengan kak Vano sekarang. "


"anak baik, terimakasih ya sudah mau mengalah seperti biasa, jangan sungkan jika butuh teman atau kurir makanan bisa hubungi aku seperti biasa. "


"maafkan aku ya kak, aku sering buat kakak repot, padahalkan kakak presdir. "


Ada penekanan di kata presdir yang meluncur pada mulut Yara, Darren yang tersenyum kikuk merasa kalau Yara sebenarnya tau apa yang terjadi di perusahaannya.


"tidak apa-apa Nayy, kalau di luarkan aku sudah bilang kita ini sahabat seperti dulu, kalau di kantor baru kau boleh sedikit sungkan denganku ya. "


tukas Darren dengan cengiran


"aku malah berfikir kalian sedang main rumah-rumahan ya?. "


Uhuk.. Uhuk.. Darren tersedak kuah mie nya, ia meneguk es jeruk didekatnya dengan sekali teguk.

__ADS_1


"pelan-pelan kak". Yara menyodorkan tisyu di tangannya, tersamar senyum tipis di bibirnya.


" Nayy.. Kamu...


"sudahlah kak, aku kan bukan sehari kenal kalian, tidak mungkin juga dilihat dari sifat kak Vano yang suka perintah-perintah begitu tiba-tiba dia jadi ketua team di perusahan kita, pasti kakak dan kak Vano sedang bersandiwara karna perintah kak Vano supaya dia bisa menjeratku lagikan seperti dulu. "


"sejak kapan kamu sadar Nayy? Emmm maksudku kamu tau kalau Vano...


" sejak awal kak Vano datang, kakak tidak memperhitungkan bagaimana kinerja dia ya? dari awal dia selalu bertanya istilah ini itu apa, tidak menguasai jobdisk nya, selalu aku yang menjelaskan dan mengarahkan maksud dari pembahasan yang kita gunakan saat meeting, aku fikir itu karana dia mau mengerjaiku, tapi ternyata dia benar-benar bodoh dengan pekerjaannya. "


Darren menertawai ekspresi Yara yang sepertinya sangat kesal pada Vano yang bodoh itu, yah.. Sesekali boleh lah ya, memaki orang itu, toh dia juga sering berkata tidak mengenakan padamu Nayy.


"kau tau, Vano merencanakan ini sangat lama, dia sampai menghubungiku terus saat masih di Jerman. "


"aah, jadi selama ini dia berada di Jerman, tunggu.. jangan bilang kalau perusahaan kakak ternyata milik dia juga?. "


"memangnya kau percaya kalau aku punya perusahaan? ".


" tentu saja, kitakan pernah bicara soal cita-cita kita dulu kak, aku fikir kakak menekuni itu dan akhirnya berhasil, ternyata aku benar-benar tidak pernah keluar dari dunia kak Vano ya, aku harus bagaimana kak? Dia begitu membenciku tapi tidak mau melepaskanku. "


Yara tertunduk sedih, membuat Darren sedikit merasa bersalah karna telah mengecewakannya dengan kebohongan yang di buat Vano, tapi setidaknya Yara tidak marah padanya, seperti biasa, gadis itu sepertinya sudah tidak kaget lagi bagaimana Vano memperlakukannya.


"Nayy, apa kau tidak ingin dekat dengan Vano? ".


Tiba-tiba Darren memberi ide yang sejak dulu memang ia fikirkan, apakah ini bisa membantu Nayyara lepas dari Vano dan menyadari kesalahannya, tapi kemarin-kemarin Darren masih ragu, takut kalau Yara tidak mau karna risih.


Yara berkernyit, menatap Darren tidak mengerti maksud dari kata-katanya.


"maksud kakak dekat bagaimana? ".


" biarkan Devano masuk kedalam dunimu, jangan beri jarak antara kau dan dia, begitupun dirimu Nayy, masuklah kedunia Vano sedalam mungkin, temukan apa yang ingin kau ketahui dalam diri Vano, setelah itu, kau yang putuskan harus bagaimana dengan Vano. "

__ADS_1


Yara mengurai satu-satu kata demi kata yang Darren ucapkan, ia harus mengambil kesimpulan dari kalimat-kalimat itu, dan tersadar maksud dari kata-kata Darren adalah membiarka Vano masuk mengetahui semua sisi dari kehidupannya, apakah mungkin? apakah dia bisa? dunia sepinya yang ia simpan sejak dulu, dunia yang tidak menarik untuk disentuh siapapun, apakah Vano mau memasukinya?


Bersambung😊


__ADS_2