Benci Yang Merindu

Benci Yang Merindu
ingatan yang ingin dilupakan


__ADS_3

Panas terik menampar wajah Yara dan Vano yang tengah berjalan menyusuri di jalan setapak, akhirnya mereka pergi berdua seperti yang di harapkan Darren, meski Vano dan Yara sendiri tidak tahu harus melangkah kemana untuk mencari sesuatu yang ia inginkan soal bayangan seblak dan ramen di kepalanya.


"harusnya kita pakai mobil saja, kau mau membunuhku ya berjalan di terik seperti ini?. "


Mengoceh karna kesal Yara tidak mau memakai mobil seperti yang dia rencanakan tadi, hanya dengan alasan ingin berjalan kaki supaya lebih menikmati pemandangan katanya.


Cih.. Pemandangan apanya? Sudah haus berkeringat, belum lagi kakinya yang pasti lelah berjalan tanpa tujuan seperti ini.


Ia melihat Yara tertawa, menertawainya sambil berjalan menggoyang-goyangkan tangannya, sebenarnya ia juga berkeringat, hanya saja Yara seperti sudah terbiasa dengan hal seperti ini.


"kakak pasti belum pernah berjalan sejauh ini ya? Rasanya memang sangat lelah, tapi tubuh akan terasa ringan jika di lakukan sesering mungkin, berjalan kaki jugakan termasuk olah raga kak. "


Vano menyebikkan bibir bawahnya, ia melangkah mensejajarkan langkahnya dengan langkah kecil milik Yara, meski begitu ia tersenyum samar karna melihat Yara tersenyum senang.


"jangan memintaku untuk menggendongmu kalau kau kelelahan nanti. "


"tidak akan, malah aku berani bertaruh kakak yang akan minta di gendong".


Cih, lihat bicaranya yang mulai sombong.


Tapi Vano akui kalau tenaga Yara memang bisa di andalkan, gadis itu pernah sangat bersemangat saat mengangkat tas-tas kantung belanjaan miliknya waktu itu, padahal sedang di kerjai, bisa-bisanya dia sepolos itu dan mau saja di saat disuruh-suruh ini itu olehnya.


"kemari". Tiba-tiba tangan Vano meraih tangannya, lelaki itu menggandeng tangan Yara tanpa permisi, lalu tatapannya tertuju kedepan melihat jalan lurus yang sudah mulai banyak di lalui orang, sepertinya sebentar lagi mereka akan sampai di tempat ramai penduduk.


Selama adegan itu, Yara terpaku menatap wajah di sebelahnya, ia melirik genggaman hangat di tangannya, dadanya berdebar lagi, seperti dulu, seperti saat-saat Vano bersikap manis sesekali padanya, seperti saat ini.


"sejak kapan kau kenal Gun? ".


Suara Vano mengembalikan keterpakuan Yara tadi pada kenyataan saat ini, meski begitu sepertinya ia senang sekali tangannya di genggam erat oleh jemari milik Vano.


" entahlah, sepertinya sebelum aku masuk sekolah menengah atas, oh.. Iya, dia sering kesekolahku dulu waktu SMP, dia datang selalu menungguku di halte, dulu dia sangat manis dan menggemaskan."


Vano menghela nafas, Yara tersenyum menceritakannya, ia malah tidak suka jika Yara menunjukan ekspresi seperti itu bila menceritakan lelaki lain.


"apa hanya Gun yang datang menemuimu sejak dulu? Tidak ada anak yang lain? ".


Yara berkernyit, mengingat-ingat lagi masa-masa dulu, dan sekelebat bayangan wajah itu muncul, sosok anak laki-laki yang selalu datang dengan tersenyum lebar menyambutnya di pintu gerbang sekolah, anak itu menggunakan sepedanya, melambaikan tangan padanya.

__ADS_1


Yara tiba-tiba berhenti melangkah, Vano yang sedang menggenggam tangannya otomatis ikut berhenti juga, ia menatap wajah Yara berubah sendu, kenangan menyedihkan itu, ia ingin melupakannya, ia tidak ingin mengingatnya lagi, karna sangat menyakitkan rasanya bila luka lama terkuak kembali.


" ada apa? ".


Vano bertanya dengan kata-kata penekanan, ia tahu Yara pasti sedang ingat sesuatu, yang ia tebak mungkin saja tentang adiknya Brian.


" tidak kak, kakak benar, sepertinya aku kelelahan dan ingin minta kakak menggendongku. "


Senyuman palsu yang terasa aneh terukir di wajah Yara, Vano melepaskan genggamannya, rasa kecewa dan sakit hati kembali muncul, ia menatap Yara benci, kenapa? Kenapa kau tidak berkata jujur? Kenapa menyembunyikan kenyataannya?


Benak Vano terus bertanya-tanya karna heran Yara lebih memilih menutup dirinya.


"aku fikir kau dan Gunazel punya cerita, kenapa? Tidak ingin memberi tahuku? . "


"apa maksud kakak? ".


kernyitan di wajah Yara yang bingung akan sikap Vano tiba-tiba kesal padanya, apa ia berfikir Gun dan dirinya ada sesuatu? Apa dia sedang cemburu seperti saat ia dekat dengan Mario?


" kau selalu begitu Yara, tidak tau posisimu, kau fikir kau wanita semenarik apa sampai bisa bersikap seenaknya begini? Senang ya? merasa semua pria menyukaimu? ".


Kata-kata menyakitkan itu keluar lagi, padahal baru saja Yara senang karna Vano sudah mau membuka dirinya untuk Yara, tapi entah apa yang menjadi keresahan itu? Yara juga tidak mengerti.


"jangan bicara seolah-olah aku cemburu padamu, kau memang tidak berhak menceritakan apapun tentang siapa saja lelaki yang dekat denganmu, dengar Yara, aku tidak sepeduli itu padamu, nanti..bisa saja aku membuangmu seperti yang kau lakukan pada seseorang di masa lalumu. "


Mulut Yara sudah terbuka ingin berkata-kata, tapi melihat tatapan kebencian yang sangat berapi-api di mata Vano, membungkamnya tak bisa bersuara, fikirannya terus menelaah dengan berat apa sebenarnya yang ingin kak Vano dengar darinya? ia tak bisa menebak jalan fikiran pria di hadapannya.


"kebencianku belum hilang Yara, aku masih ingin melihatmu terus sedih dan menderita seperti yang kau rasakan dulu, beberapa hari ini kau ku beri keringanan untuk bisa tersenyum dan tertawa, bukan berarti aku senang melihatnya. "


suara itu sangat tajam dan serius, Vano menatapnya tajam beberapa detik lalu pergi melangkah berbalik arah, ia meninggalkan Yara yang masih terpaku dengan mata sendu dan menyakitkan mendengar itu semua dari Vano, tubuh itu menjauh, tapi Yara hanya diam menatap punggung yang nampak membara oleh amarah padanya.


Sebenarnya apa yang ingin kau cari tahu kak? Kenapa tidak langsung kau katakan saja, agar aku tidak berharap banyak padamu, sebentar-bentar kau jadi baik dan sebentar lagi kau jahat sekali padaku,aku mulai sesak dengan jeratmu.


#


sebelum Yara dan Vano memutuskan untuk pergi berjalan kaki berdua keluar dari Villa.


"hallo kak, lama tidak bertemu, terimakasih kakak masih mengenaliku. "

__ADS_1


"kamu beneran Gunazel kan?".


Senyum sumringah pada bibir Yara dan uluran tangan yang disambut antusias itu nampak tulus dan bahagia, Gun mengangguk dan membalas senyum itu.


Sedangkan Vano melipat tangannya di dada memperhatikan dua orang saling menyapa dengan hangat di hadapannya.


"kakak apa kabar? ".


" baik, kenapa kamu bisa ada disini? Kamu bekerja dengan kak Darren? ".


" hm? Tidak kak, aku sekertarisnya kak Devano. "


Yara menutup mulutnya yang menganga kaget, ia meletakkan cangkir di tangannya yang telah kosong ke atas meja disana, lalu menatap Gun dan Vano bergantian.


"ya tuhan, dunia memang sangat kecil, aku senang bisa bertemu denganmu lagi, kau nampak hebat sekarang Gun. "


Dia lupa, padahal baru saja ia menangis di pelukan seseorang tadi, orang yang berfikir begitu sedang menatapnya dengan tatapan tajam tanpa disadari oleh sosok yang sedang ditatap.


"aku senang kakak terlihat baik-baik saja, kakak juga tidak banyak berubah. "


"benar, hanya kau yang berubah jadi setampan dan sebesar ini Gun. "


Yara memegang lengan Gun dengan kedua tangannya masih sambil tersenyum.


"sejak kapan kau sudah setinggi ini. "


Tangan itu sudah ingin menyentuh ujung kepala Gun saat tiba-tiba sebuah tangan menepisnya dan langsung meraihnya, Gun dan Yara nampak terkejut menatap Vano yang melakukannya dengan wajah menyebalkan.


"katanya mau cari seblak kan? Ayo pergi sekarang saja, dan kau, lakukan tugasmu, berkas di ruang kerjaku saja masih menumpuk seperti gunung mau meletus. "


Sambil melengos memelototi Gun yang terbengong-bengong karna kaget dengan sikap Vano yang tiba-tiba sekesal itu padanya, sepertinya benar yang di bilang Darren, ia memang harus lebih menjaga jarak untuk urusan Yara.


Dua sosok itu menghilang di balik pintu, Gun beranjak ingin masuk keruang kerja yang di maksud Vano, sebelumnya ia melihat dulu ke arah padang golf disana, matahari sudah sangat terik, ia lihat Darren dan beberapa orang staf pekerjanya yang sedang menikmati liburannya berlarian memukul bola, ada yang asik naik mobil-mobilan milik kedi, dan ada yang asik mengayun-ayunkan tongkatnya seperti seorang ahli padahal Gun tahu orang itu amatir, terlihat dari caranya memegang stik golfnya.


sudah lama sekali rasanya tidak seramai ini.


Gun berjalan menuju ruangan yang hanya ia dan Vano biasa masuki, ruang kerja yang sedikit berantakan karna sebagian pekerjaan yang mendesak memang Vano bawa kesini, ah.. Meski merepotkan, Gun tahu Vano rela membawa beban pekerjaannya ini demi bisa bertemu dengan Yara, padahal sebesar itu keinginannya untuk mendapatkan Yara, tapi kenapa masih saja ragu untuk mengatakannya? Gun berfikir keras, bagaimana sebenarnya Vano menahan perasaanya selama ini.

__ADS_1


Bersambung😊


__ADS_2