Benci Yang Merindu

Benci Yang Merindu
kebingungan Darren


__ADS_3

"jadi, dia pergi dengan wanita? Dia sudah punya pacar? "


"katakan Darren, jangan diam saja, kalau begini paman mati penasaran nanti. "


"sayang, kenapa bicara kematian? Kau akan sembuh dan sehat lagi."


"si bodoh itu terus saja diam, memangnya aku akan tenang, setelah menolak beberapa perjodohan kini dia bilang Vano kita pergi bersama seorang wanita di perjalanan bisnisnya, hey.. Darren, kau tidak ingin bilang juga?. "


Hah, kenapa aku disni?


Ucapan Darren dalam hati, rasanya kakinya pegal sekali sejak datang tadi ia belum duduk ataupun bergerak sama sekali, masih menghadap ranjang tempat tidur rumah sakit yang kini sedang di isi oleh presdir sesungguhnya dari keluarga yang sangat di hormatinya.


"siapa wanita itu? ".


Darren menaikkan kaca matanya yang agak turun, ia menatap Nyonya yang nampak berharap pada dirinya, sedangkan suaminya duduk di tempat tidur itu dengan infus masih menggantung di tangan kanannya.


" Tuan Vano pergi dengan Nayyara nyonya, dia salah satu karyawan wanita di gedung agensi milik tuan Vano. "


Akhirnya, nama Yara di sebut, padahal Vano selalu melarangnya membawa-bawa nama Yara, kali ini Darren memang sudah tidak bisa mengelak, karna presdir yang ia panggil paman itu menunjukan foto-foto Yara bersama Vano, bisa-bisanya Vano tidak sadar kalau dia di mata-matai papahnya sendiri, fikir Darren dalam diamnya.


"pegawai? Maksudmu pegawai saja? Bukan dari keluarga yang...


" sayang...


Paman terdiam saat istrinya membentak halus dengan tatapan yang menghujam, Darren masih diam, ia harus bertahan dalam drama keluarga ini.


"maksudku kan hanya bertanya, aku cuma mau memastikan kalau Vano kita benar-benar memilih sesuai seleranya. "


"memangnya kenapa kalau seleranya hanya gadis kryawan pegawai biasa? Aku lihat di fotonya dia cukup cantik untuk ukuran wanita biasa. "


Si Nyonya melipat tangannya di dada, sedangkan Paman hanya bisa menghela nafas di hadapan istrinya yang pasti tidak pernah mau mengalah.


Setelah banyak menjodohkan anaknya pada putri-putri temannya dari kalangan konglongmerat, bukan tanpa tujuan kenapa Vano ia kirim untuk meeting kontrak satu ini, selain kerja sama yang sudah lama putus pada perusahan pengembang itu, demi memperbaiki tali silaturrahmi dan kerja sama yang sehat lagi, ia sengaja mengirim Vano agar di perkenalkan dengan putri teman bisnisnya itu, karna kecewa dengan pertemuan di rencanakan, sang papah ingin anaknya bisa bertemu dengan putri petinggi rekan bisnisnya itu secara kebetulan dan alami.

__ADS_1


Namun, khayalannya memudar, saat ia menerima laporan dari orang suruhannya, bahwa Vano pergi dengan gadis yang jauh dari ekspektasi dirinya, selama ini ia fikir Vano menyukai gadis yang namapak elegant atau sedikit setara derajatnya dengan kalangan pergaulan mereka, nyatanya, Vano punya selera yang sama dengannya, sederhana dan lugu.


Sambil berfikir begitu ia melirik istrinya, terbayang lagi pertemuan dulu dengan sang istri yang tidak di duga dan malah menjadi teman seumur hidupnya saat ini, si paman tersenyum samar, sampai pada kembali ke fikiran rasionalnya, ia masih tidak habis fikir, anaknya yang dulu pernah bilang kalau ia menyukai type gadis mandiri dan pekerja keras, kini memilih pada gadis yang memang sih tidak terlalu jelek jika di lihat.


"ayo kita undang dia makan malam. "


sura renyah Nyonya dengan mata berbinarnya membuat Darren mengernyitkan dahi, pasalnya ia tau maksud makan malam itu.


"tunggu Nyonya..tapi...


" shh.. Darren, kau ini berpa kali aku bilang, jangan penggil aku Nyonya, kau saja memanggil suamiku Paman, panggil aku bibi, dengar itu. "


Masalahnya wajah anda tidak cocok untuk saya panggil bibi, wajahnya masih terlihat sangat muda dan bersinar, ungkap Darren dalam hatinya.


"emm... Pokoknya maksud saya, Nayyara bukan wanitanya tuan muda Vano, mereka hanya berteman saja. "


Langsung bilang saja supaya nanti ia tidak di marahi Vano kalau ia disalah pahami orang tuanya sendiri.


Nyonya yang tidak ingin di panggil nyonya itu nampak tersenyum sarkas.


Yah.. Sebenarnya bukan Darren tidak faham maksud nyonya besarnya, hanya saja yang jadi bahan pembicaraanpun belum meresmikan perasaannya, apa lagi Vano memang nampak suka tapi benci begitu, jadi mana mungkin Darren berani mendahului perasaan Vano untuk bilang saling menyukai, lagi pula kalau salingkan harusnya mereka berdua, tapi entah mengapa Darren masih agak ragu dengan perasaan Yara sendiri terhadap Vano.


"jadwalkan saja pertemuan makan malamnya, sebaiknya lakukan di restoran yang mewah, kau yang urus ya ren. "


Perintah akhir keluar dari seorang pasien yang nampak sudah segar dan sehat,setelah mendengar anaknya membawa wanita, ia sedikit lega karna ternyata Vano masih jadi laki-laki yang normal dan mau membuka diri.


hal yang sangat merisaukan itu memang sudah berlangsung sangat lama, semenjak Devano kehilangan Brian, adik satu-satunya, ia selalu melihat Vano nampak berbeda, anaknya yang dulu nampak ceria sedikit menghilang, tatapan matanya yang selalu redup dan sendu dikala malam tertidur di kamar mendiang adiknya itu, sesekali menatap kosong pada jendela kaca di kamar yang lama sekali tak di ganti cat kayunya.


Mamahnya selalu tersenyum di hadapannya, meski nampak sendu jika menatap punggung anaknya, dan ia sebagai seorang ayah, rasanya sangat gagal di perlakukan sedemikiannya, mereka bertiga, selalu nampak baik-baik saja jika berhadapan, namun.. Dihati terdalam, luka kehilangan itu masih ada dan masih sama rasanya jika harus di ungkit kembali.


#


Darren meletakkan kaca matanya di atas meja kerja, di hadapannya Devano duduk menumpuk kakinya sambil merentangkan kedua tangannya dengan wajah nampak berseri.

__ADS_1


Setelah kepulangannya bersama Yara, orang ini memang agak sedikit aneh, sepanjang mereka bertemu Vano malah tidak banyak bicara, ia bersuara hanya jika Darren bertanya bagaimana bisnisnya kemarin? Dan Vano menjawab dengan kata-kata singkat yang entah artinya apa.


"ya begitulah. "


Hanya itu, membuat jidat Darren berkernyit sudah ratusan kali karna bingung mau mengartikannya apa.


"bagaimana Nayy? Kalian tidak bertengkarkan? ".


" hm? Emm.. Begitulah. "


Ekspresi ingin tersenyum tapi malu pada Darren yang menatapnya curiga, jadi dari tadi dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dan menatap Darren dengan netra tersembunyi.


"tolong jawab dengan benar tuan, karna saya harus mengkonfirmasi sesuatu. "


"apa? " masih berlagak tidak peduli


"Nyonya dan paman menyuruh saya mengundang Nayyara ke jamuan makan malam, sepertinya kalian ketahuan saat berlibur kemarin. "


"Apa? Kau.. Kenapa tidak bilang, tunggu.. Papah memata-mataiku? ".


Seketika berputar lagi kejadian di kolam renang itu, Vano refleks berdiri dari duduknya, ia membelalak panik karna takut orang tuanya tahu akan hal itu.


" papah bilang apa? Apa dia sudah keluar dari rumah sakit? Kapan? Kapan dia bilang mau bertemu Yara?. "


Mondar mandir tidak jelas di hadapan Darren yang semakin kebingungan, karna biasanya respon Vano tidak akan seperti ini, dulu, jika ada hal seperti ini, Vano akan merespon dengan santai.


"bilang pada papah kalau aku belum ingin menikah. " harusnya begitu, setelah itu pertemuan kencan buta atau semacamnya hanya akan jadi angin lalu untuknya.


Tapi, kali ini berbeda, Darren yang kebingungan, jika ingin menebak, ia pasti tau kalau terjadi sesuatu pada Yara dan Vano di tempat itu, tapi karna ia sangat tahu Vano yang tidak mungkin tidak membuat masalah pada Yara, ia jadi ragu menebak hal apa yang terjadi pada dua anak manusia itu, apakah hal baik atau buruk?


Vano yang nampak gelisah sekarang membuat Darren frustasi mengindentifikasi perasaan laki-laki itu, apa sebaiknya ia lihat sikap Yara saja ya? Kalau terjadi sesuatu pada merekakan harusnya Yara juga nampak aneh, Darren yakin ia akan segera tahu kalau ada yang berubah di antara mereka berdua,iya, begitu saja.


Bersambung😊

__ADS_1


__ADS_2