Benci Yang Merindu

Benci Yang Merindu
liburan


__ADS_3

Kemarin hujan yang mengguyur, sekarang gerimis belum pergi sejak subuh tadi, tapi Darren dan Devano tetap bertemu di tempat kerja mereka, diruangan yang beraroma maskulin, karna Darren suka dengan suasana nyaman, rapih dan menenangkan.


Namun, jika ada Devano, sepertinya separuh keinginan itu hilang entah kemana, seperti hari ini, tiba-tiba mengumumkan akan liburan dengan staf dan kru yang ada, bahkan artis merekapun akan mereka bawa, dalam artian jika tidak ada jadwal yang mendesak.


sungguh bukan hal yang besar memang, tapi dengan begitu Darren akan pusing dengan jadwal dan pekerjaan lain yang sudah ia susun sesuai jadwalnya, ia bahkan harus memeriksa apa ada kontrak yang di langgar atau tidak, karna meski Vano bilang hanya tiga hari, tetap saja, itu semua akan mengacak-acak jadwalnya.


"padahal akan ada liburan besar mendekati akhir tahun tuan, apa tidak sebaiknya di batalkan saja rencana berlibur ini?. "


Darren masih berusaha untuk meyakinkan yang terbaik pada Devano yang kini duduk di kursi kerja milik Darren, laki-laki itu menyandar pada bahu kursi dan memutar-mutar tubuhnya bersama kursi yang bergerak.


"mau bagaimana lagi, ini salah satu cara menghindari Yara dari undangan makan malam bodoh itu. "


Devano nampak memasang wajah kesal, terbayang lagi wajah papahnya yang tidak mau negosiasi tentang perjodohan konyol yang selalu direncanakannya.


"kenalkan ke mama papah atau papah sendiri yang datang padanya. "


Dih.. Vano mendapat ancaman yang sepertinya mungkin sebenarnya ia harapkan, kata-kata papahnya memang tidak main-main sepertinya, terlepas dari itu, sebenarnya bukan Vano tidak ingin mengenalkan Yara pada orang tuanya, tapi sepertinya moment dan waktunya tidak pas dengan situasinya saat ini, kadang keraguan itu datang menguat di hatinya, terkadang lagi datang keyakinan untuk melupakan semua yang ia rencanakan pada Yara sejak dulu.


kadang datang pemikiran yang berkata, sudahlah, toh itu semua sudah berlalu, Brian juga mungkin sudah tenang disana, dan saat pemikiran itu menguat, ia lalu bermimpi mendengar tangisan Brian yang sangat pilu, seolah memintanya jangan melupakan kesengsaraan yang menyakitkan itu, setelah itu wajah Yara yang muncul dengan senyum dan tawa di bibirnya, membuat amarah kebencian itu mendominsi semakin menggebu-gebu.


Darren tidak tahu, Vano tidak menceritakan hal itu padanya, ia memendamnya sendiri, karna hanya ia yang merasakan betapa malam-malamnya sangat tersiksa dengan mimpi sialan itu.


Devano menghela nafas, menyadari sikapnya pada Yara akhir-akhir ini memang membuatnya bersemangat, tapi jika malam datang, Vano berubah menjadi dingin,seolah ia takut untuk tidur dan bermimpi soal Brian lagi.


"kemana kita akan pergi? ".


Darren membawa ia kealam sadar setelah tadi ia tenggelam dalam perasaan dan fikirannya sendiri.


" ke kota B, aku sudah menyuruh Gun untuk menyiapkan semuanya disana, kita akan menginap di villa peninggalan kakek. "


"syukurlah, setidaknya anda tidak mengajak kami keluar negri. "


"apa perlu? ".


" tidak tuan, tidak usah, destinasi ke luar negrinya di pakai akhir tahun saja. "


Dengan wajah memohon Darren nampak berharap Vano mau memahami pekerjaannya yang juga banyak, bukankah kalau tidak beres atau berantakan dia juga yang akan kena marah?

__ADS_1


"baiklah, kau urus sisanya,aku datang lebih dulu kesana bersama Gun, pastikan kalian datang tepat waktu sebelum Yara di culik papah mamaku. "


#


selang beberapa hari sejak pengumuman liburan itu di kabarkan oleh Darren pada seluruh staf dan kru, orang yang paling bersemangat tentu saja Medina dan Alfian, karna berkat merekalah kata berlibur itu tercetus dari mulut Vano.


Yara, Mario, Moana dan Lisa menjadi team yang sangat berterimakasih pada Medi untuk terkabulnya liburan yang meski hanya tiga hari saja, setidaknya mereka bisa meregangkan sedikit otot-otot menegang karna stress dalam bekerja selama beberapa bulan ini.


Sisa artis yang tidak bisa ikut tentu saja karna jadwal dan beberapa masalah scandal yang belum rampung, Darren memberikan beberapa bonus untuk pengganti bagi mereka yang tidak bisa ikut di liburan kali ini.


Selama perjalanan menuju kota yang di tuju, walau menggunakan pesawat kelas mewah, Yara nampak mencari-cari seseorang di sekelilingnya, sosok yang tidak ia temukan sejak kemarin di kantor ataupun sampai keberangkatan ini, sosok Vano yang sepertinya sedikit ia ingin lihat walau hanya sekelebat wajah. Bilang saja rindu.


"Vano sudah disana, dia sudah disana sejak kemarin. "


Suara Darren yang duduk di sebelahnya membuatnya agak sedikit terkejut, lalu wajahnya nampak salting, seolah tau keresahan Yara, Darren tersenyum melihat tingkah gadis itu.


"tidurlah, supaya bisa bersemangat lagi jika sampai disana. "


"kakak juga istirahatlah, pasti lelah ya mengurus semua ini secara mendadak?. "


Yara sangat tahu situasinya, Vano bukanlah orang yang bisa menerima kata tidak jika keinginannya sudah ia ucapkan, jadi dari pada berdebat dengan orang itu lebih baik menurutinya semaksimal mungkin.


"aku bukan mengalah kak, hanya saja aku mengikuti saran kakak, untuk masuk kedunianya sedikit demi sedikit. "


"apa kau sudah menemukan sesuatu? Aku harap kau bisa menemukan sesuatu disana, agar Vano bisa berhenti menyakitimu dengan kata-katanya. "


Yara tersenyum pahit, mengingat memang akhir-akhir ini kata-kata kasar itu sudah jarang datang padanya, tapi..tetap saja ia tidak menemukan apa-apa pada dunia Vano yang masih nampak buram.


Sekarang ia malah bingung karna Vano seperti menyukainya tapi juga gengsi jika harus mengakuinya, namun Yara tidak ingin merasakan hal yang lebih dari itu, seperti pemikirannya di awal, ia tidak mau punya pendamping orang kaya, apa lagi setampan dan sekeren kak Vano, karna golongan kasta seperti mereka hanya akan menginjak-injak harga dirinya kelak.


Itulah yang Yara tanamkan pada fikirannya sekarang, ia tidak bisa menjabarkan sampai pada titik dimana nanti hatinya yang bicara, terkadang jika sudah cinta, bukankah rasa sakit seperih apapun akan sembuh jika sudah berbalut kasih sayang.


Darren merasa sangat mengerti posisi Yara, bahkan ia membayangkan mungkin jika dirinyalah yang ada di posisi Yara, tidak mungkin bisa ia bertahan sejauh ini.


"aku juga berharap begitu kak, menemukan apa yang bisa membuat aku bebas darinya. "


mata yang sendu itu terlihat lagi, Darren merasa bersalah karna mengingatkan Yara akan hal yang bisa saja ia tidak sukai, tapi kata-kata yang sudah keluar tidak bisa ia tarik kembali, selanjutnya ia hanya mengangkat tangannya, menyentuh puncak kepala Yara dan mengelusnya lembut, sentuhan hangat yang sering ia berikan, lalu senyuman di bibirnya merekah untuk menenangkan, tatapan mata yang seolah bicara semua akan baik-baik saja, Darren tidak menyadari perlakuannya yang seperti inilah yang membuat Yara selalu berdebar dan haru saat bersama laki-laki baik ini.

__ADS_1


#


mereka sampai tepat waktu, Medina, Alfian, dan rombongan yang lain nampak takjub dengan bangunan megah yang nampak didepan mata.


Bangunan yang di dominasi cat putih gading itu nampak elegant dan bersejarah, bentuknya seperti kastil tapi tidak bisa di bilang kastil karna luasnya memang tidak sebesar itu, dan mereka lebih terkejut lagi saat berada di dalamnya, luasnya yang tidak bisa mereka bisa hitung dengan beberapa lengan mereka, membayangkan bisa tibggal di tempat seklasik dan semewah ini bukankah impian semua orang.


Waahhh lihatlah, sekaya apa ketua team kita? Baru kali ini aku melihat kalau seorang presdir kalah telak kekayaannya dengan bawahannya.


Itulah yang sekarang ada di fikiran Alfian dan Medina, sambil menyeret kopernya, mereka masih berjalan menelusuri bangunan estetic yang mempesona mata mereka tanpa berkedip.


"kalian bisa bermain golf disini".


Darren menunjuk bagian belakang dari bangunan ini, seketika semua mata membelalak takjub melihat pemandangan lapangan hijau nan luas yang terhampar bak permadani padang gurun yang berbukit-bukit rendah bergelombang disana, bedanya gurun ini berwarna hijau yang sangat menyejukkan mata.


Medina sampai menjerit dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, matanya masih membelalak berbinar tak percaya apa yang ia lihat dan ia rasakan saat ini, bukankah seperti menjadi tamu VVIP, bisa merasakan kemewahan seperti ini.


"apa ada kolam renang juga disini pak? ".


Alfian bertanya, sebenarnya bukan karna tidak percaya kalau bangunan semewah ini tidak punya kolam renang, ia hanya penasaran di mana letak kolam biru yang selalu nampak menakjubkan itu.


" tentu, disana"


Darren menujuk arah yang bersebrangan dengan lapangn golf tadi, semua mata mengikuti arah tangan Darren yang menunjuk sepertinya agak jauh, mereka menangkap ruangan serba kaca di ujing sana yang luas, sepertinya itu dapur dengan sentuhan modern dan klasic, tapi dari ruangan itulah mereka bisa melihat kolam besar yang juga terhampar membiru seperti air laut berpantul langit cerah, entah sudah berapa kali mereka membelalakan mata karna takjub dan senang, Alfian yang jadi penanya tadi saja sampai mendesah saking terpesonanya.


Kata-kata Waahh selalu terdengar setiap kali mereka terkejut melihat sesuatu ditempat ini.


melihat kolam renang, Yara jadi teringat lagi liburan mendadaknya dengan Vano kala itu, sebuah pelukan hangat nampak terbayang di kepalanya, wajahnya tersirat malu dan buru-buru ia menatap kesegala arah untuk menghilangkan bayangan di fikarannya.


"WELCOME semua".


Suara menggema terdengar dari arah lantai atas, semua mata mendongak menatap asal suara itu, dan siapa lagi si pemilik suara bergema itu kalau bukan si tuan rumah yang nampak santai dengan balutan kaos putih polos dan celana jins berlubang di kedua lututnya, ia memakai kaca mata hitam mahalnya, jam tangan hitam bermerk yang jika orang tahu harganya pasti akan menelan liur sendiri saking tak terbayangnya.


Yara terpaku menatap seringai senyum Vano di atas sana, meski nampak pongah dan pamer dengan apa yang sedang ia tunjukan sekarang, entah kenapa pria itu selalu tampak keren dan bersinar di matanya.


"selamat datang di Villa menara kami".


Tangannya terbentang, senyumnya melebar, pesonanya yang tak hilang dimata bawahannya membuat siapa saja yang menatapnya takjub, sebuah tepukan di mulai dari tangan Alfian yang memang sangat gembira dan antusias dengan liburan ini, lalu Medi mengikuti lebih keras sambil teriak "anda sangat keren ketua team, hhhuuuuu".

__ADS_1


Dan semua akhirnya bertepuk tangan, semakin keras, semakin bersemangat, Darren hanya tersenyum, sedangkan Yara, masih terpaku pada sosok itu, pria di atas sana, meski tak terlihat jelas, mata Vano menatap Yara antusias, sebenarnya tatapan mereka bertemu dan saling mengunci, hanya saja kaca mata hitam itu menghalangi, membuat Yara tidak sadar kalau ia ketahuan sedang menatapi Vano saat ini.


Bersambung😊


__ADS_2