Benci Yang Merindu

Benci Yang Merindu
kekhawatiran Yara


__ADS_3

sebenarnya kecelakaan di arum jeram tidak terlalu parah untuk beberapa orang, Dareen dan Gun hanya sesak karna kemasukan air dari hidung saja hingga membuatnya sedikit lemas saat di bantu Gun tadi, namun Vano cukup mengkhawatirkan karna ia jatuh terjungkal dengan perahu terbalik terbawa arus sampai ke bagian sungai yang landai, kepalanya terbentur batu besar sedikit keras sehingga membuat ia tidak sadarkan diri.


Ada klinik kecil yang di kelola bagian pihak pemilik wahana di dalam sana, Vano di bawa dengan sigap oleh kru dan langsung di tangani dengan baik, air yang masuk melalui hidung dan mulutnya sudah keluar dan ia segera siuman walau nampak lemas dan terbatuk-batuk, meski begitu tetap saja ia memarahi pihak staf wahana yang tidak memberi isyarat kalau akan ada air deras datang.


Padahal aliran sungai yang di pakai untuk arum jeram memang seperti itu, ditambah lagi habis hujan di hari kemarin, kalaupun datang arus deras tidak akan sampai memakan korban karna sungainya tidak terlalu dalam.


Devano masih di ruang rawat, berbaring dengan tubuh yang masih agak lemas, luka di dahinya telah di perban, matanya baru saja ingin terpejam sebentar saat terdengar suara pintu ruangannya dibuka oleh seseorang.


Ekor matanya menangkap sosok Yara yang nampak tergesa menghampirinya, gadis itu melangkah mendekatinya dengan mata yang sendu, sepertinya dia ketahuan habis menangis.


Vano tersenyum menyambutnya, ia bergerak bangun dan duduk di sisi tempat tidur yang mirip dengan rumah sakit itu, dihadapannya berdiri Yara dengan mata menelusuri tubuhnya seperti memeriksa sesuatu di sana.


"apa kakak tidak apa-apa? kakak baik-baik saja kan?. "


"apa kau melihatku nampak baik? Aku habis terbentur dan pingsan tau. "


suaranya tidak terdengar ketus, sambil menyentuh bagian keningnya yang di perban, pria itu hanya seperti sedang mengadu dengan gaya yang dibuat cool.


sekali lagi Yara memeriksa dengan matanya, masih mengkhawatirkan tubuh besar yang duduk tepat di hadapannya berdiri.


"kenapa kakak tidak berhati-hati, kalau kakak terluka lebih parah dari ini bagaimana? aku sempat berfikir kakak hilang tadi."


matanya berembun air mata yang menganak sungai di sudut-sudut matanya, Vano sedikit tersentuh, atas perhatian Yara yang ternyata memikirkannya juga sejak tadi.


Sedang bersedu sedan begitu tiba-tiba tangannya di tarik oleh jemari Vano yang meraihnya dengan lembut, membuat jarak antara mereka sangat dekat, bahkan hampir saja hidung mereka bersentuhan, mendapat perlakuan mendadak seperti itu, Yara bersemu di pipinya, ia tidak sadar kalau Vano sangat menyukai perubahan wajahnya itu.


"kalau aku hilang, apa kau akan mencariku seperti aku mencarimu kemarin?. "


"tentu saja, aku akan mencari kakak walau aku harus menyusuri sampai ke ujung sungai. "


"Yara, kau cukup tau diri juga ya rupanya".


Senyum miring yang menggoda terlukis di bibir Vano yang terlihat begitu dekat dengan mata Yara, seketika ia teringat lagi dengan ciuman kemarin, semakin membuat wajah Yara bersemu merah.


" aku akan bilang pada kak Darren dan yang lainnya kalau kakak baik-baik saja. "


Sebenarnya ia hanya ingin menghindar dari tatapan Vano dan ingatan ciuman kemarin, bila di ingat-ingat rasanya Yara sangat malu dan salah tingkah di hadapan pria ini.

__ADS_1


Tapi saat tubuhnya baru saja melakukan gerak halus untuk mundur selangkah dari hadapan Vano, laki-laki itu menggerakkan tangannya meraih pinggang ramping Yara, membuat tubuhnya jadi menempel sangat dekat pada Vano.


"kenapa secepat itu mau pergi, harusnya kau memeriksaku dulu, tidak ingin memeriksa tubuhku? siapa tau aku terluka di bagian dalam. "


suara itu, suara mnggoda yang di barengi dengan seringai nakal milik Vano, persis seperti senyuman semalam.


"kakak, eum.. Aku rasa kakak tidak terluka parah, jadi..


Dengan salah tingkah Yara mencoba melepaskan dirinya dari lengan Vano yang melingkar di pinggangnya, tapi semakin ia bergerak, Vano malah mencengkramnya lebih erat.


" Yara, maafkan aku jika selama ini kata-kataku sangat menyakitimu, ayo lakukan hubungan lebih baik denganku lagi, meski aku terlihat menyebalkan, jangan melihat pria lain selain diriku ya. "


Degh..


Debaran hangat dan kencang, menelusup keseluruh tubuh Yara yang tiba-tiba menegang, mendengar kata-kata Vano yang sangat jelas dan penuh tatapan tulus di matanya.


Seketika wajah itu mendekat perlahan menyentuh bibirnya yang ranum, sekali lagi, Vano menciumnya, kali ini lebih halus, lebih lembut, dengan mata terpejam dan nafasnya yang terasa menghangatkan sampai ke pipinya.


Yara di buat tidak sadar dengan hipnotis ciuman ini, dengan seiring gerakan bibir Vano di atas bibirnya penuh kelembutan, perlahan mata Yara ikut terpejam, merasakan sensasi menggelitik di dadanya yang masih berdebar, entah perasaan apa ini? Tapi Yara menyuakinya, perasaan yang membangkitkan kebahagiaan yang sepertinya sampai di puncaknya.


#


Dingin udara saat itu nampak menghangat di ruangan kecil tempat dua orang anak manusia yang sedang saling memeluk saat ini,dengan posisi Yara masih berdiri tegak tapi membelakangi tubuh Vano, dan Vano yang masih duduk di tepi tempat tidur ala rumah sakit dengan kedua kaki yang menggantung,kedua tangannya melingkar di leher Yara dan dagunya tertumpu di ujung kepala gadis itu.


Debaran di dada belum berhenti, masih mengusik ketenangan Yara yang kini berwajah penuh tanya, apa arti dari semua ini? Apa kebencian Vano berakhir? Atau ini hanya awal mula penghancuran untuk dirinya agar benar-benar lebur tak tersisa?


Anehnya, Yara malah mengikuti semua perasaan ini, meski ia sudah tahu konsekuensinya, meski ia mungkin akan hancur dan tidak bisa kembali nanti, walau fikirannya berperang dengan perasaannya, ia tetap mengembangkan senyum bahagia, ia ingin waktu berhenti sejenak saja, berpihak pada perasaannya yang gembira dengan debaran menyenangkan yang sedang timbul pada dirinya saat ini.


"kak, apa kakak sudah baikkan? Kalau sudah aku harus keluar untuk memberi tahu kak Darren dan yang lain, mereka semua pasti khawatir. "


Sunyi di antara mereka memecah karna Yara bersuara, meski tanpa menatap Vano ia bisa merasakan kalau laki-laki itu bernafas agak keras, lagi-lagi ia mengganggu moment yang disukai kak Vanonya.


"Darren sudah tau kalau aku baik-baik saja, jadi berhenti menyebut namanya. "


Ternyata yang membuat ia kesal adalah nama Darren, bukan karna Yara tiba-tiba bicara di saat ia sedang menikmati pelukan yang menenangkan ini.


"sampai kapan aku disini? yang lain pasti curiga aku sudah terlalu lama disini. "

__ADS_1


"apa yang kau khawatirkan? Gosip antara kita? Memangnya kenapa?, kau takut si bocah ingusan itu kecewa padamu?. "


"namanya Mario kak, berhenti memanggilnya bocah. " sambil bergerak memutar tubuhnya dan menatap Vano dengan senyum manis merekah. "lagi pula aku dan Mario memang hanya sebatas artis dan managernya, dia terlalu menggemaskan untukku makanya kami sangat dekat. "


Vano merekatkan pelukannya membuat Yara menempel di dadanya.


"apa aku tidak menggemaskan di matamu?. "


Mencuri satu kecupan di bibir Yara, membuat Yara tersentak kaget.


"kakak, nanti ada yang lihat. "


Usel-usel menyembunyikan wajahnya di dada Vano, kedua tangannya melingkari pinggang laki-laki itu.


Yang baru saja di lakukan Yara malah membuat Vano yang gemas dengan gadis itu sendiri, rasanya ingin melakukan hal yang sama lagi agar melihat reaksi yang sama pada wajah itu.


"Yara! ". Panggilan halusnya membuat Yara mendongak, tatapannya langsung menemukan wajah Vano yang tepat berada di atas kepalanya tadi.


" lupakan apa yang pernah aku perbuat padamu, kamu mau kan, berdiri di sebelahku saat ini?. "


Netra mata mereka saling menyalurkan ketulusan, pelukan erat hangat di bahunya membuat hati Yara ikut menghangat karna Vano mengatakan hal yang sama sekali tak terbayangkan akan di ucapkan oleh seorang Vano di mata Yara dulu.


Senyum itu terurai, ah.. Kenapa kau securang ini kak? Sepertinya sejak dulu hatiku memang lebih memilihmu dari semua laki-laki yang pernah aku bayangkan. Fikirnya.


"aku tidak berdiri di sebelahmu kak, aku di hadapanmu sekarang. " tukasnya malu


"benar, kau di hadapanku, jadi kapanpun aku bisa memelukmu seperti ini, awas kalau berani-berani kabur dariku. "


Ia menjatuhkan keningnya di kening Yara, sambil terpejam dan terus memeluk gadis itu erat, dalam fikirannya terus berucap pada wajah yang terus menatapnya dalam gelap.


Sorry Bri, aku mengambil milikmu.


Bersamaan dengan itu, seseorang masuk dan terpaku disana, menatap Yara dan Vano dengan penuh raut kecewa, nafasnya menghela lemas, Moana nampak murung, kedatangannya tak disadari dua orang itu, ia berbalik arah, kembali menutup pintu perlahan keluar dengan wajah lesu dan sedih.


Belum memulai, baru ingin mencobanya, ia sadar kalau ia sudah kalah sebelum berperang.


Bersambung😊

__ADS_1


__ADS_2