Benci Yang Merindu

Benci Yang Merindu
mengingat Brian


__ADS_3

Sore menjemput siapapun yang seharian ini sibuk di dunia bekerja, tidak hanya itu, anak sekolah dan pelajar lainnya juga ikut merasakan lelah di hari yang selalu mereka lewati dengan putaran yang sama, hanya akhir pekan menjadi pengobat bagi letih ini, setidaknya akan ada istirahat yang cukup menghilangkan penat yang terkumpul selama lima hari mereka berjibaku dengan kewajiban.


Yara tersenyum melihat Vano yang berdiri bersandar di samping mobilnya, dengan kedua tangannya dimasukan dalam kantung celana kerjanya, ia sudah di parkiran seperti janji yang mereka ucapkan saat makan siang tadi, berjanji untuk pulang kantor bersama, walau Yara bilang ia akan terlambat karna mengurus perkara Mario dengan beberapa wartawan majalah yang mengontrak artisnya, tapi pria itu setia menunggunya disana, hal itu membuat Yara nampak gemas dengan tingkah laku Vano yang tidak seperti biasanya itu.


"kakak !. "


Sambil berlari dan kedua tangannya mengulur seperti ingin meraih tubuh Vano yang terkekeh disana, menyambut tingkah konyol gadisnya, Vano langsung memeluk tubuh ringan Yara dan menggendongnya tanpa tenaga, memutar tubuh itu hingga gelak tawa Yara memenuhi ruangan parkiran tempat mereka berada.


hahaha


"kakak, apa aku tidak berat?. "


Tukas Yara, masih di pelukan Vano dengan tubuhnya yang terangkat sedikit, ia menunduk agar bisa melihat wajah Vano yang kini mendongak menatapnya dengan senyuman, sambil menggeleng, Vano mengeratkan kedua tangannya pada tubuh Yara.


"kau seringan bulu, aku bertanya-tanya bagaimana bisa tubuh ini punya tenaga sebesar itu untuk bisa berlari kesana kemari menyelesaikan pekerjaanmu, hm?. " tatapan bertanya-tanya dengan wajah yang nampak lucu dan menggemaskan.


"akukan punya vitamin. " satu tangannya menutupi mulutnya yang di buat malu-malu, dan itu membuat Vano nampak gemas ingin menggigit wajah berpipi tembam milik gadis menggemaskannya.


"benarkah? Vitamin apa yang kau makan? Beritahu aku agar aku bisa membelikan lebih banyak untukmu. "


Seketika Yara menatap wajah Vano yang masih mendongak di bawah wajahnya, ia menggigit bibirnya yang ranum, kernyitan halus mengundang tanya pada kening Vano.


"benar mau tau Vitaminku?. "


"apa? Cepat katakan. "


kedua tangan Yara meraih pipi Vano, memeluk wajah itu dan menundukkan kepalanya hingga bibirnya menyentuh bibir Vano yang nampak terkejut senang dengan perlakuan tiba-tiba itu.


Cup...


Kecupan singkat dari Yara membuat wajah Vano merekah, malah wajah gadis itu yang nampak memerah bak tomat matang karna salah tingkah sendiri dengan perbuatannya, namun ia tidak tahu, bahwa efek dari serangan tiba-tibanya itu membuat Vano jadi sangat bersemangat menyentuhnya, ia akan menyesali ini, karna Vano langsung menurunkannya dan mendekap tubuhnya dengan erat, hingga wajah mereka sejajar, tatapan yang saling bertemu, ada ketulusan disana, pancaran penuh bahagia dan cinta dari Vano.


"aku vitaminmu? ". Binar mata itu tak bisa berbohong, Vano full senyum, apa lagi saat melihat anggukan kepala Yara yang malu-malu namun tetap menatapnya dengan gemas.


" sini, akan aku berikan setiap hari untukmu, tidak, bahkan setiap jam kalau kau mau, kemari. "


ia memajukan bibirnya dengan lucu, tangannya yang mendekap erat, tapi Yara terkekeh dan mendorong wajah itu dengan tangannya sambil tertawa renyah.


"kakak nanti ada orang yang lihat. "


"biar saja, memangnya mereka mau apa kalau sudah lihat. "


Vano masih berusaha memonyongkan bibirnya untuk mendekat pada wajah Yara, sampai tubuh gadisnya menggeliat dengan tawa yang terdengar merdu di telinga Vano sendiri, mereka masih bermain-main dengan kecupan yang di bilang vitamin itu, tanpa menghiraukan kalau mereka masih di area parkir milik gedung kantor, yang bisa siapa saja melihat adegan mereka ini, tapi seperti kata Vano tadi, ia tidak peduli dan tidak mau tau apa kata orang nanti, ia hanya ingin mencium dan mendekap kekasihnya lebih erat lagi, karna ia sedang sangat bahagia, Yara menjadikannya vitamin dalam tubuhnya, itu artinya, gadis itu akan lemah jika tidak berada didekatnya.

__ADS_1


#


"kapan kau akan datang kerumahku?. "


Sambil mengunyah makanan yang baru saja ia suap dari tangan Yara, mereka sedang makan malam di restoran leseh sederhana dengan menu rakyat jelatah pilihan Yara.


Kenapa ia bilang menu rakyat jelatah, karna selama ini Vano hanya mengajaknya makan di resto yang bisa di bilang menengah keatas saja, bahkan Yara pernah di ajaknya makan dengan menu full di tempat private bersama chef yang masak langsung dihadapan mereka.


Jadi apa namanya kalau bukan menu rakyat jelatah yang menunya hanya ayam bakar atau ikan bakar dengan lalapan dan sambal seperti di hadapannya ini? Bagi Yara ini sudah sangat memanjakan perutnya yang seharian tadi kosong karna lupa makan siang, tapi Yara tersenyum haru pada Vano, lelaki itu tidak protes sama sekali saat di ajak masuk ketempat restoran kecil ini.


"nanti ya, kalau aku sudah siap. "


Yara nyengir, mengunyah lagi dan mencomot nasi dengan sambal di beri suiran ayam bakar di piringnya, lalu ia arahkan tangannya yang berisi kepalan kecil nasi ke mulut Vano.


Dengan mata yang mengerut menatap Yara tapi juga membuka mulutnya untuk menyuap makanannya, Vano menyunggingkan bibir atasnya untuk mengejek gadis itu dengan wajahnya.


"kemarin-kemarin sampai cuek padaku dan bersikap dingin, sekarang aku tantang malah menghindar, memangnya apa yang membuatmu tidak siap?. "


"eumm, kebenaran. "


"hm? Kebenaran?. " Vano sedikit bingung


Yara menelan makanannya, ia menghisap es jeruk peras miliknya, setelah merasa tidak ada lagi sisa makanan di mulutnya, ia menatap Vano yang menunggu kelanjutan penjelasan dari kata-kata Yara barusan.


"kebenaran tentang kakak yang membenciku selama ini, kebenaran kalau ternyata nanti benar aku yang bersalah, sebenarnya ini lebih pantas dibilang rasa takutku sih, tapi apapun nanti yang aku temukan soal alasan kakak membenciku, aku ingin kakak tetap bersamaku seperti sekarang, apa kakak bisa memaafkanku?. "


"apa aku sangat bersalah? Sampai sebesar itu kakak membenciku?. "


pertanyaan selanjutnya yang menyentak Vano, ia menyentuh tangan Yara yang satunya, me-re-masnya dengan hangat.


"tidak, aku hanya merasa bersalah pada...


Kata-kata Vano terhenti karna ponselnya berdering di atas meja dekatnya, ada panggilan masuk dari Gun, dan Yara juga melihat layar ponsel itu, ia tersenyum dan mengangguk untuk memberi isyarat kalau Vano boleh mengangkatnya.


"hallo Gun. "


Sapaan Vano setelah meletakkan ponselnya di telinga, suara Gun di seberang sana samar Yara mendengarnya, ia mencuci tangannya dengan air dalam wadah kecil yang sudah disiapkan bersama potongan jeruk nipis disana, sepertinya mereka membicarakan pekerjaan, karna Vano seperti menerangkan sesuatu tentang beberapa istilah job dan klayen dari perusahaan besar yang Yara tau.


tidak sampai 10 menit Vano bicara di ponselnya, benda pipih itu ia letakan kembali ke atas meja setelah mematikan layarnya, lalu ia menatap Yara yang menyambutnya dengan tersenyum, mereka sudah kenyang dan bisa mengobrol dengan bebas sekarang.


"dimana kakak menemukan Gun? Bukankah dia pria yang menyenagkan, aku mengenalnya sejak dia sekolah dasar kelas 5,saat itu aku SMP kelas akhir. "


Degh...

__ADS_1


Debar aneh muncul lagi, kali ini membuat Vano agak gelisah dan tidak nyaman, tapi untuk menghindar juga tidak bisa, karna ia juga penasaran apakah Yara mengingat adiknya juga seperti ia mengingat Gun?


"apa kalian dekat? Sepertinya kau cukup tau Gun jika sudah menilai dia orang yang menyenangkan".


Sebenarnya raut wajah Vano berubah sedikit keras dan menekan, tapi hal itu di artikan berbeda oleh Yara.


" apa kakak cemburu?. "


Senyum kekanakan yang selalu Vano sukai sebenarnya, tapi... ia membiarkannya untuk kali ini saja gadis itu salah faham pada sikapnya, demi mencari tahu yang ingin ia dengar dari mulut gadis itu.


Vano hanya diam dengan sedikit menunjukan senyum kecil di sudut bibirnya, walau menahannya sekuat tenaga, rasa marah dalam dadanya seperti menekannya untuk keluar, tapi ia benar-benar menahannya kali ini, karna tidak ingin mengeluarkan kata-kata yang bisa menyakiti Yara nanti.


"jangan cemburu begitu, aku hanya mengenal Gun karna dulu aku dekat dengan seseorang yang seusia Gun, malahan aku bisa kenal dengan Gun karna dia. "


Senyum Yara mengandung arti yang luas, antara kenangan yang indah bersama orang itu atau karna rasa bersalahnya pada orang itu, begitulah yang Vano tangkap, tapi debaran Vano akhirnya menguat, rasa takutnya semakin mendekat, jika benar Yara mengingat adiknya dengan segala kenangan mereka bersama dulu, itu artinya kemungkinan apa yang Vano yakini selama ini bisa jadi benar adanya, bahwa Yaralah yang membuat adiknya sampai mengalami nasib na-as seperti itu.


"siapa?". Mata Vano nampak membara api dalam sekam yang ia tahan, jemari tangannya ia kepal yang bersembunyi dibawah meja, sedangkan tangan yang satunya memainkan ponselnya diputar-putar tanpa arah, menyembunyikan gelisahnya yang tak menentu, ia menatap Yara sangat lekat " siapa orang itu? Orang yang dekat denganmu bersama Gun? Dan dimana orang itu sekarang?. "


Tukasan yang akhirnya keluar dengan tekanan panas dalam kepalanya, menjalar ketubuhnya yang semakin ingin melampiaskan kemarahannya yang tiada akhir ini, Yara di matanya kini terlihat seperti gadis berhati beku, karna ekspresi sendu dengan mata sedih itu, lalu samar senyum miring di sudut bibirnya yang seolah menertawakan masa lalunya yang ia anggap lelucon menjadi tragedi di masa lalu.


"untuk apa kakak ingin tahu itu? Kalaupun kakak marah karna cemburu dengan orang itu, percuma, dia datang jauh sebelum aku bertemu kakak, kakak bisa tanyakan Gun, dia saksi hidupku dengan orang itu. "


"KENAPA KAU MENYEBUTNYA ORANG ITU? BUKANKAH DIA PUNYA NAMA?. "


Yara membelalak, terkejut karna Vano tiba-tiba berteriak padanya, beberapa pengunjung dan pelayan di sanapun sempat menoleh pada mereka, membuat Yara malu dan menyentuh tangan Vano untuk menenangkan laki-laki itu, kenapa marah sih? Cemburu juga kan harus tau tempatnya. Fikir Yara.


Vano menarik nafasnya dalam, ia menenangkan dirinya sendiri, hampir saja ia menepis tangan Yara yang menyentuhnya tadi, tapi ia urungkan dan mencoba mengendalikan fikirannya, ia tidak boleh dikuasai amarahnya sekarang.


"kakak kenapa sih? Ini kan cuma cerita masa laluku, lagipula kami tidak pernah ada hubungan apa-apa, dia baru sekolah dasar dan aku juga masih kecil untuk mejalin hubungan saat itu, jadi kakak tidak usah cemburu berlebihan seperti ini tau. " sambil menunjukan kalau dirinya kesal.


"maafkan aku, aku hanya ingin tau namanya agar aku bisa bertanya dengan Gun nanti. "


Tukas Vano mulai bisa mengendalikan dirinya.


"Brian, namanya Brian. "


Vano menahan nafasnya beberapa detik, menatap Yara yang langsung menghisap lagi minumannya yang tinggal setengah gelas.


Jadi kau mengingatnya? Kau mengingatnya tapi tetap mengabaikannya?


Bicara dalam hati, wajah Vano nampak kecewa dan putus asa karna marah.


"jangan terlalu banyak ingin tau tentangnya kak, aku takut membuat Gun sedih karna mengingat sahabat lamanya, karna Brian hanya menjadi kenangan bagi kami, dia sudah pergi jauh dan tidak bisa kami gapai lagi. "

__ADS_1


Dia tau, dan dia mengingatnya, Brian, bagaimana ini, aku takut semakin membencinya lagi.


Bersambung😊


__ADS_2