Benci Yang Merindu

Benci Yang Merindu
ciuman Mario dan Lisa


__ADS_3

Sebenarnya yang terjadi hanyalah karana Lisa dan Mario sudah sangat dekat akhir-akhir ini, Mario yang berada di kubu Lisa untuk sepenuhnya mendukung gadis itu dalam kasusnya bersama Gea, meski media sudah sangat membidiknya melihat Mario yang tertangkap basah hadir dalam sidang penentuan pertarungan Lisa-Gea saat itu.


Nayyara sudah sangat mengingatkan, tapi Mario yang memang sedang free oleh jadwal manggungnya yang tercansel akibat promotornya sendiri, membuat ia dengan bangganya datang mendukung Lisa yang sama sekali tidak butuh untuk di semangati lagi, meski begitu Lisa sangat berterimakasih pada laki-laki itu.


Dan perjalanan panjang persidangan Lisa itu membuat Mario nampak simpatik secara tiba-tiba pada Lisa, apa lagi wanita itu type perempuan bebas yang mudah didekati, mereka banyak bertukar cerita dan Mario senang dengan Lisa karna ternyata gadis itu pendengar yan baik untuknya.


Banyak yang ia ceritakan pada Lisa, bagaimana perjalanan karirnya dulu yang sangat di bantu Yara, keluarganya yang memang mendukungnya dari awal karna ia lahir dari keluarga sederhana, sebenarnya berkecukupan, tapi tetap saja Mario ingin menjadi anak yang membanggakan dalam prestasi yang dikuasainya saat ini, yaitu bernyanyi.


Soal perasaannya yang tiba-tiba dalam pada Yara yang menganggapnya adik sedari dulu, sampai pada akhirnya ia bisa menerima Yara berdampingan dengan ketua teamnya yang sebenarnya tidak begitu ia sukai karna sering membuat Yara menangis, tapi itulah cinta, baginya kalau sudah cinta yang bicara, karang di lautanpun akan menjadi serpihan pasir di pantai.


Kedekatan itu berlanjut sampai sekarang, mereka sering duduk berdua di rooftop asrama milik Lisa sambil minum-minuman kaleng bersoda, sesekali Lisa merengek minta minuman beralkohol, meski dengan keras Mario melarangnya, tapi rengekan Lisa seperti anak kecil meminta permen padanya, sedikit meluluhkan hati Mario malam itu.


Entah mengapa ia membeli dua kaleng bir saat itu, membayangkan Lisa yang akan senang melihatnya memberikan sesuatu yang di inginkannya beberapa kali, lagi pula Lisa yang bilang kalau ia cukup kuat tahan minum alkohol, jadi jika hanya satu kaleng saja tidak akan membuatnya mabukkan? Fikir Mario.


Dan benar saja, wajah sumringah terpancar dari wanita berambut pirang itu, Mario sampai senyum sendiri saat melihat Lisa yang berloncatan di atas bangku lebar yang selalu mereka berdua duduki sambil menatap bintang atau gedung-gedung tinggi berlampu warna warni yang cantik di sana, dengan semangatnya gadis itu membuka kaleng birnya, langsung meminumnya dengan suara yang di buat sangat nikmat, meledek Mario yang menatapnya nampak ingin mencoba.


"cobalah, sedikit saja tidak akan membuatmu mabuk, ini akan membuat tubuhmu terasa hangat. "


Sambil menyodorkan kaleng bir ke arah Mario, tapi pria itu menggeleng, dan mengangkat minuman kaleng bersoda di tangannya.


"aku tidak kuat alkohol, sekali teguk saja aku akan mabuk. "


Tukasannya di tertawakan oleh Lisa, walau sebenarnya apa yang dikatakan Mario adalah bohong belaka, sesungguhnya ia pernah minum-minum tak sengaja di salah satu pab malam dulu, waktu itu pradebutnya yang di rayakan dengan teman-teman sesama artisnya termasuk seniornya yang blasteran bernama jerry, Mario di tantang minum sampai mabuk, dan yang membuat ia sendiri kaget adalah, lima botol anggur dengan campuran minuman keras lainnya masih belum membuatnya mabuk, ia sadar seratus persen tanpa oleng, padahal seniornya sudah ada yang sampai tumbang saat itu.


Dan karna kejadian itu ia dan temannya mendapat masalah soal kontrak, Nayyara marah padanya, itu pertama kali dan terakhirnya Mario berjanji tidak akan menyentuh minuman sialan itu lagi, karna ia menghormati Nayyara dan tidak ingin membuatnya kecewa.


"aku sudah boleh tanda tangan kontrak, kak Nayy memohon pada presdir dan katanya aku boleh menerima kontrak iklan untuk beberapa hari. "


Ucap Lisa, dengan senyum manis di bibirnya yang merekah, jujur dari hati Mario, sebenarnya sesekali ia terpana melihat Lisa dengan senyum itu, karna akan ada lesung pipi yang muncul di pipi seblah kirinya, membuat ia berdebar dan ingin sekali menyentuh pipi berlesung itu.


"syukurlah, kau tidak akan merasa bosan lagi berada terus di dalam asrama. "

__ADS_1


Mario meneguk minuman soda kalengnya, sesekali meringis karna dalam mulutnya ada sensasi menggigit.


"aku akan pindah ke apartement, setelah aktif lagi dan banyak permintaan kontrak yang berdatangan karna kasus yang ku menangkan kemarin, kata kak Nayy sebaiknya tinggal di apartement saja, aku akan sangat terkenal nanti. "


"hm, kau akan banyak fens dan heters, bersiaplah nanti, semoga kau kuat menghadapi mereka. "


"benar, kata kak Nayy, kau juga pernah sampai sakit ya menghadapi heters mu, ckckck... Kau lemah sekali jadi pria. "


Kekehan kecil Lisa di selingi tegukan minumannya meledek Mario yang sesekali meliriknya karna masih gemas dengan lesung pipi.


"saat itu aku kelelahan, jadwal manggung dan juga jumpa fens yang tiada habisnya. "


"wooaahh.. Sombong sekali. "


Lisa menyenggol bahu Mario, gadis itu tidak merasa canggung sama sekali, karna Mario kini baginya teman yang akan selalu mensuportnya.


"kau tidak pernah bercerita soal pria? Aku saja cerita soal kak Nayy, apa kau tidak pernah punya orang yang kau suakai?. "


Tiba-tiba Mario merasa penasaran pada gadis ini, karna seingat dia Lisa memang banyak bicara tapi satupun tidak ada nama pria yang ia sebut.


"apa kau pernah mencobanya? Kau bisa cari pria yang mendukung jiwa bebasmu itu, tapi bukankah sebebasnya wanita butuh bahu untuk tempatnya bersandar dikala lelah, kau itu wanita, semandirinya dirimu, kau tetap butuh tempat untuk pulang dan orang yang akan mendengarkanmu. "


"kau benar". Senyum sendu nampak di wajah Lisa, ah..sebenarnya ia tidak ingin menunjukan sisi lemahnya pada siapapun, tapi kenapa Mario seolah membawanya pada kenyataan dan keinginan terdalam hatinya " sepertinya aku belum menemukannya, tapi ku rasa tidak ada laki-laki seperti itu untukku. "


Lisa kembali meneguk lagi, Mario menatapnya lekat, ada perasaan halus menelusup hatinya, wajah wanita itu tersenyum menatap langit malam di ujung sana, entah apa yang ada dalam fikirannya, tapi itu yang membuat Mario terlihat penasaran pada Lisa.


"mau bertaruh?. "


Ucap Mario tiba-tiba.


"apa?. " Lisa berkernyit bingung

__ADS_1


"kau akan bertemu pria seperti itu, yakinlah. "


hahahaha


Tertawa geli karna Mario mengatakannya dengan sungguh-sungguh dan seperti yakin itu semua akan terjadi padanya, karna Lisa tidak akan berfikir sejauh itu untuk bertaruh demi seorang pria.


"kenapa tertawa?. "


"karna kau lucu. "


Hahaha, Lisa semakin keras menertawakan wajah Mario yang berkernyit bingung, sudut matanya sampai berair saking gelinya membayangkan jika ia benar-benar bertemu pria yang di maksud Mario.


Sedangkan Mario menatap serius Lisa yang sedang tertawa, seolah tak percaya bahwa keajaiban apapun pasti akan terjadi jika kita punya harapan dalam hati, ia percaya itu.


Seketika tangannya meraih kaleng bir di tangan Lisa, gadis itu terkejut karna miliknya direbut, tawanya berhenti seketika.


"hey...


Ia semakin membelalak melihat Mario yang langsung meminum bir miliknya, laki-laki itu menenggaknya sampai habis, membuat Lisa kebingungan dengan tingkah Mario.


" apa yang kau sedang lakukan? Kau bilang tidak bisa mineummmmmm....!. "


Mulut Lisa tertutup, tepatnya ditutup paksa oleh bibir Mario yang tiba-tiba menciumnya dengan secara mendadak, jantungnya berdebar kencang, sesuatu yang hangat tapi sedikit menggelitik perutnya seperti ada kupu-kupu bertebaran disana, Lisa menahan nafasnya, sentakan ingatan dan sadarnya mendorong tangannya untuk bergerak menjauhi Mario, tapi geliatan tubuhnya seolah tak berarti apa-apa pada pria itu, semakin ia bergerak, Mario semakin erat menekan belakang kepalanya membuat ciuman itu semakin menempel seperti lem.


Akhirnya, Lisa pasrah, ia hanya bisa menutup matanya, merasakan ciuman Mario yang semakin dalam dan menghangat.


Plak...


sebuah tamparan mengakhiri ciuman panjang yang dilepaskan Mario dengan perlahan, selanjutnya Lisa hanya menatapnya sebentar dengan sorot kecewa dan juga sedih, dengan nafas yang sesak memburu, Lisa berlari meninggalkan Mario sendirian, gadis itu menuruni tangga rooftop dengan perasaan gelisah tapi juga sedikit merasa bersalah pada Mario yang ia tampar tadi.


Kenapa kau merusak pertemanan kita? Aku baru saja mempercayaimu brengsek.

__ADS_1


Lisa memaki dalam hati, hingga tubuhnya hilang di balik pintu kamarnya yang berdebum dengan keras.


Bersambung😊


__ADS_2